
'Mungkin aku memang tak pantas. Tak pantas bahagia, juga tak pantas bersanding dengan kalian semua. Aku memang jahat, aku jahat karena tak bisa melakukan apapun seperti yang kalian ingin. Maafkan aku jika itu masih bisa di maafkan.'
#Kanaya Setya Ningrum
...****************...
Berita tentang Kanaya yang menerima Dirga sampai juga di telinga Hani. Dia begitu tak percaya, bagaimana mungkin Kanaya menerima begitu saja.
Bukan apa-apa, tetapi Kanaya selalu cerita juga selalu meminta pendapatnya terlebih dahulu sebelum menerima semua keputusan, tapi sekarang?
"Kamu harus memberikan keterangan yang sangat jelas padaku, Ayy. Aku harus tau alasan apa yang membuat kamu menerimanya. Padahal beberapa saat lalu kamu begitu yakin menolaknya karena kamu menunggu Kak Yuan," gumam Hani yang duduk sendiri di rumahnya.
Hani diam sesaat, membayangkan bagaimana hati Yuan, bagaimana perasaannya jika dia tau akan apa yang telah menjadi keputusan Kanaya saat ini, yaitu menikah dengan orang lain.
"Ayya, apa kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan Kak Yuan?" gumam Hani lagi yang merasa frustasi sendiri.
"Assalamu'alaikum, Han!" seru Kanaya. Orang yang tengah di bicarakan oleh Hani datang sendiri rupanya tanpa di panggil.
"Panjang umur," gumam Hani seraya beranjak untuk berdiri menghampiri Kanaya, "Wa'alaikumsalam," begitu tak semangat Hani menjawab setelah sampai di hadapan Kanaya dia malah berbelok arah dan duduk begitu saja di kursi dengan begitu acuh pada Kanaya.
Tentu, apa yang menjadi tingkah Hani saat ini menimbulkan tanya besar pada Kanaya. Kenapa sahabatnya begitu mengacuhkan dirinya seperti sekarang?
"Han, kamu kenapa sih?" Kanaya menyusul duduk di kursi dengan Hani. Menatap lekat sahabatnya itu yang terdiam juga memalingkan wajah dengan malas.
Hani tak menjawab, dia masih diam tak menanggapi.
"Hani, kamu ada apa sih?" kini Kanaya berpindah duduk di sebelah Hani. Memandangi dengan lekat wajah sahabatnya yang masih saja terus mengacuhkannya.
"Han, kamu marah padaku?" pertanyaan itu terlontar dari Kanaya. Bagaimana tidak! biasanya Hani begitu heboh saat kedatangannya dan sekarang? bahkan dia hanya menjawab salam saja lalu tak menggubrisnya lagi.
__ADS_1
"Hani, jangan seperti ini. Kalau ada masalah kita bisa selesaikan bersama-sama kan. Kalau aku ada salah katakan saja. Aku juga minta maaf. Tetapi jangan diemin aku seperti ini. Nggak enak, Han?" begitu memohon Kanaya pada Hani. Memohon di jelaskan apa yang menjadi kesalahannya.
Memang benar, di diamkan itu sama sekali tidak enak rasanya. Apalagi itu oleh sahabat yang selalu bersama. Sahabat senyum, ketawa, sedih juga sahabat air mata.
Terlihat Hani menghela nafas panjang kemudian duduk menghadap Kanaya. Kedua tangan Hani terangkat dan langsung berada di kedua bahu milik Kanaya.
"Kamu masih menganggap aku sahabat kan, Aya?" jelas Kanaya mengangguk dan menatap Hani dengan serius, "kalau begitu jelaskan padaku, kenapa kamu menerima lamaran tuan Dirga itu. Kamu tidak bercerita padaku, Ay! bahkan berita itu juga aku dengar dari mulut orang lain. Aku jadi ragu, sebenarnya kamu benar-benar menganggap aku sebagai sahabat tidak sih!?" Hani kembali menjatuhkan kedua tangannya juga kembali memalingkan wajah dengan sangat kesal.
Memang, mereka tak memiliki ikatan persaudaraan tetapi ikatan persahabatan mereka bukankah melebihi itu saat kemarin. Tapi apa ini sekarang? Bahkan Kanaya menyembunyikan semuanya dari Hani jelas saja Hani terlihat sangat kesal juga marah.
Kanaya terdiam. Sejatinya dia datang saat ini juga untuk menceritakan semua pada Hani, tetapi sahabatnya itu sudah kadung kesal.
"Maafkan aku karena terlambat bercerita, Han. Tetapi bukan seperti itu. Aku sangat mengakui kamu sebagai sahabat, bahkan aku mengakui kamu sebagai saudara sendiri. Tapi..?"
"Tapi apa, Ayy?" Hani hanya menoleh sebentar lalu berpaling lagi.
"Sepertinya kamu benar-benar sudah ngebet banget ya pengen nikah? Kenapa kamu tidak memikirkan perasaan orang-orang yang sayang padamu, contohnya Kak Yuan."
Seketika jantung Kanaya berdegup saat Hani mengucapkan nama Kak Yuan di hadapannya. Hatinya terasa sakit namun tak berdarah. Sakit tapi Kanaya tak tau karena apa. Kemungkinan semua itu karena pengaruh dari apa yang Dirga lakukan padanya.
Kanaya seolah tak peduli dengan yang lain, yang dia pedulikan untuk saat ini hanyalah dia akan menikah dengan Dirga dengan waktu yang tak lagi lama.
"Ayya, apakah kamu tidak berpikir kalau kamu yang menerima tuan Dirga akan membuat Kak Yuan sakit hati. Di mana Kanaya ku kemarin, Ayya. Kemana!?" berkali-kali Hani menoleh saat bicara tapi selalu kembali lagi memalingkan wajahnya lagi dan lagi.
Kanaya diam menunduk. Dadanya terasa sesak, bahkan air mata juga sudah mengalir begitu saja. Tetapi dia tak tau kenapa dan apa sebabnya, dia juga tidak bisa menjelaskan apapun.
"Setidaknya kamu pikirkan Kak Yuan sebelum menerimanya. Kamu katakan padanya jika kamu memang sudah ingin menjadi pengantin. Aku yakin Kak Yuan pasti akan berusaha untuk bilang dengan orang tuanya dan segera melamar mu. Tapi apa sekarang , Ayya? bahkan kamu sama sekali tidak memikirkan itu kan? Kamu tega sama kak Yuan, Ayya."
"Atau kamu menerima tuan Dirga karena dia lebih kaya dari kak Yuan? dan kamu merasa terjamin dalam segalanya jika menerimanya?"
__ADS_1
"Ada apa ini, Ayy? kenapa kamu menjadi seperti ini?"
Semakin sakit hati Kanaya. Dia terus menangis dengan menunduk dan terus mendengar semua kata yang Hani ungkapkan.
"Perjuangan kak Yuan begitu besar untuk mu, Ayy. Dia selalu berusaha membuatmu bahagia, selalu berusaha ada di sisimu dan di saat kamu butuh. Tapi apa sekarang balasan mu, bahkan kamu akan meninggalkannya pergi dengan orang lain. Kamu tega, Ayya."
Semakin sesak dan sesak jati Kanaya. Dia ingin menolak tapi dia sendiri juga tak bisa melakukan itu. Tubuhnya seperti terkunci untuk seorang saja, yaitu Dirga.
"Kamu tega, Ayy," sekali lagi Hani menekankan tanpa dia melihat bagaimana hancurnya Kanaya sekarang. Tak melihat bagaimana Kanaya yang seperti orang yang tersesat dan tak tau arah jalan untuk pulang.
Bukan tubuh Kanaya yang tersesat, melainkan hatinya yang tersesat. Di sesatkan dari dari jalan menuju hati yang sebenarnya menjadi tujuannya.
"Tidak tau apa yang akan Kak Yuan rasakan jika mengetahui semua ini, Ayy. Aku sangat kasihan padanya. Tapi kamu begitu tega padanya, Ayy. Kamu sangat tega."
"Kau berikan sebuah harapan untuknya, namun sekarang kamu jatuhkan begitu saja hatinya saat harapan itu sudah berkembang di sana. Kamu jahat, Ayya."
Begitu banyak Hani berbicara. Mengatakan apapun yang ingin dia katakan tanpa mau mendengar lebih dulu penjelasan dari Kanaya. Tapi mungkin untuk saat ini Kanaya sendiri juga tidak akan bisa menjelaskan apa yang menjadi penyebabnya.
"Aku memang jahat, Han. Aku jahat, aku jahat..." Kanaya beranjak dari duduknya, berjalan mundur dan menjauh dari hadapan Hani. Menatap satu tempat yaitu Hani yang kini terdiam melihatnya yang begitu hancur juga penuh dengan air mata.
"Aku jahat, Han. Aku tak akan pantas bersama orang-orang yang baik seperti kalian. Aku memang jahat," berderai air mata Kanaya, hingga akhirnya dia gak mampu lagi menatap wajah sahabatnya dan berlari pergi. Keluar dari rumah Hani dengan kehancuran yang tak di ketahui oleh siapapun.
"Ayya, Ya!" Hani beranjak, kini dia sadar akan kesalahannya. Tak seharusnya dia mengatakan semua itu.
"Astaghfirullah hal azim... apa yang telah aku lakukan," Hani mengusap wajahnya kasar, dia sangat menyesal. Mulutnya terlalu ember dan tak mau mendengar apapun lebih dulu apa yang ingin sahabatnya katakan.
"Kanaya!" cepat Hani berlari, mengejar Kanaya yang sepertinya lari ke kebun. Menuju kebun yang sangat dekat dengan rumah Yuan.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....