Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kejutan Kecil


__ADS_3

...*********...


Toko kain yang begitu besar. Bermacam-macam kain dari warna juga model apa saja semuanya ada. Kanaya di buat bingung harus memilih yang seperti apa, apalagi dia belum benar-benar paham dengan jenis-jenis kain.


Di temani Dirga Kanaya masih terus berputar-putar dan terus berkeliling di dalam toko. Mencari-cari kain yang mungkin cocok dan pas jika di pakai oleh Dirga sang suami.


"Mas, mas mau yang warna apa?" Tanyanya dengan menoleh ke arah Dirga.


Dirga memang sengaja tidak memilih karena dia ingin Kanaya sendiri yang memilihkan untuknya.


"Mas, kok malah diem aja. Mas mau yang seperti apa? Maksudnya yang model kayak bagaimana dan warna apa?" Kanaya sampai membalik karena Dirga sengaja diam tak menjawab.


"Terserah kamu saja, Naya sayang. Seperti apapun yang kamu pilih akan mas pakai. Mas akan dengan senang hati menerimanya," Jawab Dirga yang memang sangat pasrah.


"Bener ya," Kanaya menegaskan.


"Iya Naya sayang," Sengaja Dirga mencolek hidung Kanaya dan membuat Kanaya mundur dan malah hampir terjatuh, "akk!" Teriak Kanaya.


Dengan sigap Dirga langsung menangkap punggung Kanaya hingga membuatnya tak jadi jatuh.


Sangat beruntung Kanaya karena ada Dirga entah bagaimana kalau tidak ada mungkin dia sudah terjengkang kebelakang dan punggungnya terbentur lantai.


"Hati-hati, Naya," Ucap Dirga dan perlahan menarik Kanaya untuk berdiri.


Wajah Kanaya sudah memerah lagi saat ini. Kenapa, hanya perbuatan Dirga yang kecil saja mampu membuat hatinya bergetar. Apakah mungkin karena Dirga benar-benar melakukannya dengan cinta dan ketulusan? Mungkin.


"Hem, te_terimakasih," Kanaya melepaskan diri dengan rasa gugup yang begitu menguasai.


Mungkin kemarin-kemarin Kanaya juga gugup saat berada di hadapan Dirga tapi kenapa sekarang terasa lebih besar. Kenapa? Apa perbedaannya dengan yang kemarin?


"Tidak usah berterima kasih, itu sudah menjadi kewajiban mas untuk selalu melindungi mu," Jawab Dirga seraya membenarkan hijab Kanaya yang sedikit tertarik kebelakang.


Begitu manis dan selalu manis perlakuan Dirga. Semua yang dia lakukan selalu saja membuat kesan yang indah bagi Kanaya.


Di pandangnya wajah Dirga sejenak suaminya itu terus saja tersenyum manis. Tak bosan-bosannya dia berusaha terlihat enak saat di lihat. Apa itu tidak terbalik?


"Lanjut cari kainnya?" Dirga mengayunkan tangan meminta Kanaya untuk berjalan lebih dulu untuk mencari kain yang dia ingin.


Kanaya mengangguk dengan rasa malu. Dia sembunyikan semua perasaan yang kini tengah menerjang hatinya dan terasa semakin menggebu-gebu. Ternyata seindah ini rasanya berpacaran dengan halal.


Ya! Kanaya langsung berpikir kalau kali ini mereka tengah menjalani masa-masa pacaran dengan cara halal. Masa-masa memperkenalkan diri sendiri dengan pasangan sah.

__ADS_1


Ternyata kata Kyai Achmad Sholeh benar. Berpacaran dengan pasangan halal itu lebih indah dan tentu tidak akan ada ketakutan karena dosa yang mengalir. Tapi malah sebaliknya, pahala lah yang akan terus mengalir di tengah-tengah hubungan mereka.


Bahkan hanya sebuah senyum manis yang di keluarkan untuk pasangan saja sudah menjadi pahala bagaimana dengan yang lainnya.


Begitu mudah untuk mendapatkan pahala dalam sebuah hubungan halal. Semua yang di lakukan dengan ikhlas dan ridho akan mengalirkan pahala yang tiada habis.


"Bagaimana kalau ini saja?" Kain berwarna biru muda Kanaya pilih. Warnanya sangat bagus, kalem.


"Boleh," Dirga langsung menyetujuinya karena warnanya juga sangat bagus dan bahannya juga lembut dan pasti akan enak jika di pakai.


"Mbak, bisa minta ibu enam meter?" Pinta Kanaya.


"Nggak kebanyakan kalau enam meter, Nay?" Tanya Dirga. Untuk satu kemeja saja tidak butuh sebanyak itu juga kan?


"Hem, Aya pengen buat seragam. Nanti tinggal di tambah sedikit kain brokat untuk gamis. Kayaknya akan bagus," Jawab Kanaya.


"Sama jangan lupa kain hitam untuk bikin celananya," Imbuhnya.


Dirga pikir hanya untuk dia saja tapi Kanaya malah mau bikin seragam untuk mereka. Dirga begitu senang hatinya begitu berbunga-bunga. Meski hanya sebuah baju couple saja itu sudah menjelaskan kalau Kanaya sangat menginginkan keduanya terlihat lebih serasi.


"Baikkah. Tapi, apakah kamu sudah bisa bikinnya?" Kanaya menggeleng karena Kanaya memang belum bisa hanya kemeja saja yang sudah di ajarkan. Tapi pasti semua akan di ajarkan kan?


"Tidak masalah, kamu bisa mempelajarinya pelan-pelan," Dirga mengelus puncak kepala Kanaya dengan pelan. Bahkan sebenarnya hanya membelai rambut sang istri pahala pun juga mengalir untuk suami. Tapi tidak mungkin Dirga akan mengelus rambutnya sekarang. Dengan puncak kepala saja yakin sudah mewakili.


"Ini, Mbak," Dirga yang membayarnya dengan cepat padahal Kanaya sudah mau mengeluarkan uangnya.


"Saat kamu bersamaku jangan pernah keluarkan uang sepersen pun. Gunakan uang mu ketika aku tidak bersamamu," Kata Dirga.


"Tapi, Mas. Kalau begini terus uang Kanaya mau buat apa?" Kanaya bingung karena Kanaya juga tidak suka beli-beli apapun. Dia tidak terbiasa untuk menghambur-hamburkan uang.


"Kamu bisa tabung, atau terserah mau kamu buat apa. Pokoknya kalau kamu bersama ku uang mu tidak boleh di gunakan," Katanya lagi.


"Baiklah," Kanaya pasrah.


Biarlah uangnya tidur manis di dalam dompetnya saja. Kalau perlu besok Kanaya akan bawa ke bank biar lebih aman. Suatu saat bisa dia gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat.


...**************...


Mobil terparkir di depan rumah. Hari ini bukan lagi siang mereka pulang tapi sudah menjelang sore menjelang asar.


Dirga terus tersenyum entah apa yang membuatnya terlihat begitu bahagia. Ini sangat berbeda dari tadi.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," Keduanya masuk ke dalam rumah. Meski tak ada orang di dalam tapi keduanya tetap mengucapkan salam.


Kanaya yang merasa lelah dan tubuhnya yang terasa sangat lengket ingin pergi ke kamar namun Dirga menghentikannya.


"Nay, sini sebentar," Pintanya.


Kanaya tetap menghampiri meski dia terlihat sangat bingung, "ada apa, Mas?"


"Ikut mas sini," Ajak Dirga.


Dirga mengajak Kanaya ke salah satu ruangan. Entah ruangan apa itu tapi kemarin itu adalah kamar tamu.


Kanaya begitu was-was pastilah ada pikiran melenceng yang singgah di kepalanya. Ke kamar?


Meski ke kamar tamu tapi tetap saja kamar kan?


Kanaya begitu gugup, Jangan-jangan Dirga menginginkan hak nya di berikan di kamar tamu itu. Tapi masak iya di kamar tamu, kenapa tidak di kamarnya sendiri?


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Dirga mengernyit, mata bulat Kanaya sangat aneh tapi Dirga tau sebabnya.


"Jangan berpikir yang macam-macam dulu, Nay. Lihat dulu baru kamu bisa berkomentar. Jangan selalu berpikir sesuatu yang buruk pada suamimu," Kata Dirga.


Perlahan di buka pintu, sangat pelan hingga Kanaya sudah tidak sabar ingin melihat isi di dalamnya. Apa coba?


Kanaya di buat terperangah setelah pintu terbuka begitu lebar dan terlihat jelas apa yang ada di dalamnya.


"Ini untuk mu. Semoga kamu bisa menggunakannya dengan baik," Kata Dirga.


Sebuah kamar tamu kini sudah di sulap menjadi ruangan jahit oleh Dirga. Semua perlengkapan jahit ada di sana. Tiga mesin sudah berjajar rapi dengan semua perlengkapan yang juga sudah tersusun sangat rapi.


Ini adalah kejutan paling terindah untuk Kanaya. Dia mendapatkan kejutan ruang jahit dari Dirga. Pantes saja Dirga mengulur-ulur waktu untuk pulang dan ternyata semua itu karena apa yang ada di hadapannya sekarang.


"Loh, kok malah nangis. Apa kamu tidak suka?" Jelas Kanaya langsung menangis tapi sebenarnya itu adalah tangis bahagia.


"Terima kasih, Mas. Ini sangat indah." Kanaya langsung memeluk Dirga dengan tangis bahagianya.


Alhamdulillah, Dirga bernafas lega karena Kanaya menyukai kejutannya.


"Manfaatkan dengan baik ya," Kata Dirga seraya membalas pelukan Kanaya.


"Hem," Kanaya hanya mampu mengangguk tak mampu berkata-kata lagi. Dia sangat bahagia.

__ADS_1


...***********...


Bersambung.....


__ADS_2