
...*******...
Tak ada kecurigaan yang ada di kepala Dirga meski sampai di tempat kerjanya yang ada di rumah. Dia tetap biasa-biasa saja dan berpikir kalau Zein memang hanya ingin menanyakan tentang pekerjaan.
Keduanya duduk di sofa saling berhadapan dengan meja yang ada di depan mereka berdua yang menjadi pembatas.
"Hem, mas Zein mau tanya apa?" Dirga memulai dia penasaran seperti apa yang ingin Zein tanyakan. Benar seperti kemarin atau hal lain?
Kalau melihat dari wajah Zein memang sepertinya ada hal lain yang tengah ingin dia tanyakan.
Selembar kertas Zein keluarkan dari saku dan dia ulurkan pada Dirga.
"Maaf, Mas. Saya telah lancang mengambil beberapa obat mas saat kita makan siang kemarin. Dan ini adalah hasilnya."
Zein menunduk, ada rasa menyesal karena telah lancang tapi juga ada rasa lega karena dengan itu dia bisa tau apa yang sebenarnya tengah di alami oleh Dirga.
Dirga terpaku diam dengan tangan bergerak mengambil lembaran dari Zein tersebut. Dia telah syok karena itu artinya Zein sudah tau apa yang dia rahasiakan dari semuanya.
"Jadi kamu sudah tau?" ucapan Dirga terlihat dingin dan juga kecewa. Tentu seperti itu karena dia memang menganggap kalau Zein memang terlalu lancang karena berani mengambil obatnya.
"Kenapa mas sembunyikan semua ini pada kami semua. Bahkan mas juga menyembunyikan ini pada Naye. Dia istri mas, dia berhak tau semuanya."
"Meski Naye akan sedih tapi dia akan lebih sedih jika mas bohongi seperti ini dan suatu saat tau dari orang lain."
"Saya juga tau, mas pergi bukan untuk pekerjaan tapi untuk berobat kan? Saya mohon, Mas. Katakan pada Naya. Jangan sampai dia akan sedih di kemudian hari. Dia harus tau dan bisa selalu menemani dan mendukung mas Dirga."
__ADS_1
Begitu banyak Zein bicara tapi Dirga masih terus diam dalam kebingungan. Kenapa Zein harus tau, semakin banyak yang tau mana dia tidak akan mungkin bisa menyembunyikan semuanya kepada semua anggota keluarga.
Meski sebenarnya Dirga sudah berjanji akan mengatakan kepada Kanaya tapi setelah dia pulang keraguan itu kembali datang.
"Saya memang akan katakan kepada Naya, Mas Zein. Tapi bukan sekarang."
"Kenapa, sampai kapan mas Dirga akan menyembunyikan semua ini pada Naya."
"Saya tidak tau, tapi yang jelas bukan sekarang. Dia sedang hamil dan saya tidak mau sampai sesuatu terjadi pada kehamilannya."
Dan kehamilan Kanaya lah yang di jadikan alasan oleh Dirga. Dia selalu mengatakan itu entah pada Zein sekarang atau mungkin pada dirinya sendiri.
"Tidak mas, mas harus tetap mengatakannya pada Naye. Dia berhak tau."
Begitu tak percaya kalau Dirga akan melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi, semuanya memang benar kan?
"Saya akan katakan, tapi tidak sekarang," Dirga tetap kekeuh sementara Zein juga kekeuh ingin mengatakan pada Kanaya.
"Kalau mas Dirga tidak bisa mengatakan biar saya yang mengatakannya. Bagaimanapun caranya Kanaya harus tetap tau," Zein sudah kembali beranjak dia ingin keluar dan ingin mengatakan kepada Kanaya.
"Mas Zein, mas Zein!" panggil Dirga tapi Zein seolah gak peduli dan terus melangkah untuk kembali ke ruang tamu dan ingin mengatakan kepada Kanaya.
Sementara Kanaya, dia yang mendengar ada perdebatan Dirga dan Zein sangat khawatir dan bergegas untuk menghampiri mereka. Jelas Kanaya sangat takut kalau mereka berdua akan berbuat nekat setelah perdebatan mereka yang tidak Kanaya tau apa yang mereka perdebatkan.
"Mbak, mbak mau kemana?!" Muna juga mengikuti Kanaya.
__ADS_1
Kanaya tidak menjawab tapi dia terus berjalan menuju ruang kerja Dirga.
Tetapi, Kanaya yang sudah sangat khawatir dan terlihat buru-buru tidak bisa fokus hingga dia tergelincir lalu terjatuh.
"Aww!" Pekik Kanaya yang kesakitan.
"Mbak Naya!" Muna langsung berlari menghampiri Kanaya yang sudah terduduk di lantai dengan kesakitan.
"Aww, sakit," gumam Kanaya yang terlihat begitu kesakitan.
"Mas Dirga! Mas Zein!" teriak Muna begitu lantang.
"Astaghfirullah, Nay!" Dirga yang tau langsung berlari dan mendahului Zein yang malah terlihat terpaku melihat apa yang terjadi kepada Kanaya.
"Mas, sakit," Kanaya menangis, dia terus memegangi perutnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang," Meski sangat takut tapi Dirga harus sigap dan secepatnya membawa Kanaya ke rumah sakit.
"Astaghfirullah, Nay!" Wak Ami juga berteriak setelah melihat Kanaya yang kesakitan dan sekarang sudah ada di gendongan Dirga.
Dirga seolah tidak peduli dan terus berlari membawa Kanaya keluar. Jelas dia ingin membawa Kanaya pergi ke rumah sakit.
*******
Bersambung....
__ADS_1