Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Rindu Hani


__ADS_3

*********


Begitu ragu Hani untuk mampir di rumah Yuan ketika dia lewat dan ibu Yuan melihatnya. Dia sangat enggan untuk mampir tapi ibu Yuan begitu memaksa.


"Mampir dulu lah, tuh kamu kelihatannya sangat lelah, sini-sini," Bahkan bu Yuan sampai menghampiri Hani dan menarik tangannya.


"I_iya, Bu," Dengan gugup dan penuh keraguan Hani mengikuti hingga dia benar-benar masuk ke rumah Yuan atas kemauan dari ibu Yuan.


"Duduk sini. Bentar, ibu ambilkan minum dulu," begitu baik Ibunya Yuan memperlakukan Hani. Bahkan dia juga dengan senang hati akan mengambilkan minum untuk Hani.


"Tidak usah, Bu. Tidak usah repot-repot," Hani jelas merasa tak enak karena karena diperlakukan begitu baik dari ibu Yuan. Memang semua anggota keluarga Yuan terkenal sangat baik tetapi Hani merasa begitu tidak enak.


"Ahh, Tidak kok. Hanya air minum saja tidak akan merepotkan ibu," ibu kembali menghampiri Hani dengan membawa satu cangkir yang berisi teh hangat untuk Hani.


Dengan begitu antusiasnya dan begitu bahagia Ibu Yuan menyodorkan minum untuk Hani. Bukan itu saja tetapi Ibu Yuan kembali melangkah masuk ke dapur dan tidak lama dia keluar lagi dengan membawa piring yang berisi kue.


"Ini di makan, masih anget loh ibu baru selesai bikin, nih," Ibu Yuan menyodorkan piring tersebut untuk Hani dan sangat menginginkan kalau Hani akan mencicipinya.


"Terima kasih, Bu. Tapi nanti saja ini sudah cukup," Hani ingin menolak dia masih sangat tak enak karena di ambilkan minum tapi kini malah bertambah lagi dengan kue.


"Oh ya, besok Yuan pulang loh. Kamu akan main kan?"


Hani menoleh saat Ibu membicarakan tentang Yuan dengan tiba-tiba. Sebenarnya Hani tidak mengerti kenapa kedua orang tua Yuan semakin hari semakin baik kepadanya, bahkan mereka selalu menginginkan Hani untuk bermain di tempatnya. Tentu itu sangat membuat Hani tidak nyaman karena banyak orang yang terus membicarakannya.


Hani terdiam, namun perlahan kembali minum teh yang tadi dengan perlahan untuk menutupi rasa tidak nyaman. Namun tiba-tiba Ibu Yuan kembali berbicara dan membuat Hani sampai tersedak hingga membuat dia batuk.


"Ibu berharap kamu dan Yuan benar-benar memiliki hubungan dan kalian bisa menikah," ucapnya.


Uhuk... uhuk...


"Astaghfirullah, Han! Kamu nggak apa-apa kan?" ibu Yuan begitu khawatir karena itu, dia langsung menoleh dan memijat tengkuk Hani.


"Tidak apa-apa, Bu," jawab Hani.


"Beneran kan kamu tidak apa-apa?" tetap tak percaya si ibu Yuan tidak mungkin tidak ada apa-apa dan tidak kenapa-napa tapi sampai membuat Hani batuk-batuk seperti itu.


"Beneran, Bu. Saya tidak apa-apa," Hani semakin tidak nyaman, dia merasa sangat tak enak dengan pemikiran dari ibunya Yuan.

__ADS_1


Ada sebuah mimpi untuk semua itu bisa terjadi. Bisa memiliki hubungan dengan Yuan dan bisa menjalin ke jenjang yang lebih serius lagi hingga sampai ke pernikahan, tapi Hani sadar, apakah dia akan bahagia nantinya?


Seandainya semuanya terjadi Hani akan bisa memiliki tubuhnya, tapi bagaimana dengan hatinya? Apakah dia bisa mendapatkan hati Yuan yang hanya di peruntukan untuk sahabatnya saja, Kanaya?


Perempuan seperti apapun pasti akan mau dengan Yuan, dia bisa di katakan sempurna. Hatinya sangat tulus dan juga baik, dia selalu bisa menjaga hati siapapun meski kadang dia mengorbankan hatinya sendiri. Tapi, apakah dia akan sanggup kalau hidup dengan Yuan tapi hati Yuan yang di korbankan untuknya?


Hani hanya tersenyum begitu canggung dengan keadaan yang sekarang di hadapan ibunya Yuan. Dia tak mampu untuk berkata-kata apapun dia tidak mau karena dia tak ingin memiliki mimpi yang tidak akan mudah untuk di jadikan nyata.


*********


"Nay, sudahlah kamu duduk saja biar Wak yang mengerjakan ini. Jangan sampai kamu terus bergerak dan akan kelelahan nantinya," cegah wak Ami.


Sebenarnya Kanaya merasa bosan karena apa yang ingin dia lakukan selalu saja di halangi. Dia tidak boleh ini itu dan semua yang mengerjakan wak Ami juga asisten baru yang datang beberapa hari yang lalu.


Bukan hanya wak Ami saja yang akan begitu posesif pada Kanaya tapi Dirga lebih lagi bahkan kedua mertuanya juga sama. Meski hanya lewat video call tapi mereka berdua juga begitu banyak memberikan wejangan pada Kanaya.


"Tapi, Wak. Naya hanya hanya mau bantu kupas bawang saja masak nggak boleh sih," bibir Kanaya sudah mengerucut dia begitu tak ingin kalau apa yang ingin lakukan di halangi seperti ini. Dia ingin bergerak selama dia masih bisa.


Lagian Kanaya juga tidak mengalami gejala-gejala yang aneh hanya sewajarnya saja yang seperti biasa para ibu-ibu muda alami ketika hamil.


Kanaya ingin hal-hal kecil untuk menghilangkan rasa bosannya juga untuk membuat ototnya tidak kaku berdiam diri.


Semakin malas kalau hanya berdiam diri seperti ini.


"Baiklah, Naya akan istirahat saja," Kanaya cepat beranjak, menuju ke kamar sendiri namun ternyata setelah sampai bukan yang istirahat Kanaya malah mengambil buku gambar dan juga pensil.


"Lebih baik menggambar desain baju daripada tidak ngapa-ngapain bisa-bisa aku sangat bosan seperti ini terus."


Begitu serius Kanaya dengan semua desain yang ada di hadapannya. Mungkin itu akan lebih berguna daripada dia diam dengan bosan dan tak melakukan apapun.


"Alhamdulillah," beberapa Desain telah rampung di gambar dan kembali Kanaya merasa sangat bosan.


Kring...


Ponsel yang ada di hadapannya berdering seketika tangan Kanaya meraih dan melihatnya.


"Mas Dirga," Kanaya tersenyum, dia begitu bahagia ketika yang menghubungi adalah suaminya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Mas..." sapanya.


"[Wa'alaikumsalam... Sedang apa nih]?"


"Habis gambar."


"[Oh... Ingat ya, jangan ngelakuin pekerjaan yang bikin capek kamu harus istirahat.]


"Iya Mas. Mas pulang jam berapa? Hem... bisa beliin mangga muda bisa kan?"


"[Bisa, nanti mas beliin. Sekarang kamu tidur siang gih. Eh, sudah makan kan?]"


"Sudah kok, Mas. Baik deh, Naya akan usahakan tidur tapi nggak yakin sih."


"[I love you, Nay. Assalamu'alaikum.]"


"Love you to, Mas. Wa'alaikumsalam..."


Kanaya memang lebih susah untuk tidur sekarang kala tak ada Dirga. Meski tidak mengantuk kalau ada Dirga dan di temani pasti Kanaya akan bisa tidur tapi kalau tidak ada Dirga itu akan sangat susah.


"Tapi aku tidak ngantuk," gumam Kanaya."


Iseng Kanaya membuka-buka ponsel dan ternyata ada pesan dari Hani. Bukan pesan yang serius hanya pesan yang menanyakan kabar saja.


"[Wa'alaikumsalam, Han. Alhamdulillah aku dalam keadaan baik-baik saja. Bagaimana keadaan mu, kamu dan keluarga sehat juga kan?]"


Balasan Kanaya kirim sudah masuk tapi begitu lama tak ada jawaban.


"Hem, mungkin Hani tengah sibuk." gumam Kanaya dan memilih meletakkan kembali ponselnya.


"Aku merindukan kamu, Han."


"[Kalau pas senggang fon ya, Han. Aku kangen nih.]"


Kembali Kanaya mengirim pesan dan itu untuk untuk yang terakhir.


********

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2