Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Mengantarkan Ke Rumah Sakit


__ADS_3

'Ketabahan, kesabaran juga ketulusan dapat aku lihat dengan sangat jelas darinya. Tak ada keraguan yang ada hanya doa untuk kebahagiaan kalian. Biarkanlah cinta hadir dengan sendirinya. Seiring berjalannya waktu aku yakin kalian akan saling membutuhkan.'


#Savira


...************...


Sesuai perjanjian kini Kanaya benar-benar mengantarkan Dirga untuk menemui dokter yang di sarankan oleh Savira. Di rumah sakit Medika keduanya melangkah bersamaan dengan bergandengan tangan.


Tak ada yang tau jika masalah Dirga sangatlah serius karena dia terlihat baik-baik saja dan tidak ada gejala yang terlihat.


Hingga akhirnya mereka berdua langsung sampai di tempat yang menjadi tujuan. Di ruang tunggu itu keduanya bertemu dengan Savira karena dia memang menunggu kedatangan keduanya.


"Bagaimana, Ga. Kamu sudah siap kan?" Tanya Savira.


Sempat Dirga menoleh ke arah Kanaya sebelum dia menjawab setalah melihat Kanaya tersenyum juga mengangguk Dirga langsung menjawab pertanyaan Savira.


"Ya, saya sudah sangat siap," Jawabnya.


Senyum Kanaya seolah menjadi kekuatan untuk Dirga. Seolah mendatangkan tenaga baru untuk Dirga bisa melalui semua ini dengan mudah.


"Baiklah. Dia adalah dokter Rendra. Dia yang akan membantu kamu untuk mengatasi semua masalahmu. Aku sudah jelaskan padanya dan dia menyambut baik kedatangan mu. Semoga saja kamu cocok dengan nya dan kamu segera sembuh," Terang Savira.


"InsyaAllah, semoga saja Allah memberi ridho untuk usahaku," Jawab Dirga.


Dirga terus menggandeng Kanaya, rasanya tak ingin melepaskan diri darinya. Dari sumber kekuatan juga sumber kehidupannya.


"Tenang, Tuan. Semua akan baik-baik saja," Seulas senyum keluar dari bibir Kanaya meluruhkan rasa gelisah yang hadir di hati Dirga.


Siapa yang tidak takut juga gelisah jika menghadapi masalah yang seperti ini. Masalah yang seolah menjadi aib jika ada orang yang tau. Tak sedikit orang yang memiliki masalah seperti Dirga mereka di kucilkan dari semua orang.


Mereka di jauhi karena di anggap berbahaya. Tapi beruntungnya Dirga yang memiliki Kanaya yang tidak menjauh meski tau. Dia malah menjadi motivasi terbesar dan pendukung terbesar untuk kesembuhannya.

__ADS_1


Kanaya tidak takut, dia tetap teguh pada pendirian juga apa yang sudah menjadi prinsip-prinsipnya.


"Tuan Dirga Gantara!" Seorang perawat keluar dari ruangan dan langsung memanggil Dirga yang semakin gelisah.


"Tuan pasti bisa, semangat!" Lagi-lagi Kanaya tersenyum dan memberikan semangat dengan menaikan tangannya juga.


"Bismillah," Hembusan panjang keluar dari hidung Dirga. Memantapkan hati sebelum dia berdiri dan melangkah perlahan. Melepaskan tangannya dengan tangan Kanaya dengan sangat pelan hingga akhirnya benar-benar terlepas. Dirga masuk seorang diri meninggalkan Kanaya di luar di temani Savira.


Savira yang menggantikan tempat Dirga, dia duduk di tempat itu dan memberikan kekuatan juga untuk Kanaya. Kanaya menoleh setelah Dirga benar-benar hilang di balik pintu yang sekarang sudah tertutup.


"Mbak, semua akan baik-baik saja kan?" Meski berusaha tegar dan kuat tetaplah ada rasa takut yang muncul di hati Kanaya.


"Yakinlah, Dirga akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja. Masalah seperti itu hal besar yang di butuhkan adalah dukungan orang terdekat juga iman yang kuat. Dan Dirga memiliki keduanya. Dia pasti akan segera sembuh," Ucap Savira.


Kanaya diam dengan rasa gelisah. Doa dan dzikir terus berseru di dalam hati juga lisannya. Sementara Savira dia terus menemani dan mengelus punggung Kanaya untuk menguatkan.


...**********...


Di hadapkan dengan seorang dokter besar yang luar biasa membuat Dirga merasa gugup. Tapi bukan hanya karena itu masalahnya melainkan karena ragu untuk memberitahukan masalahnya.


"Saya, Dok," Jawab Dirga dengan tertunduk. Biasanya dia akan duduk dengan tegas dan tegar tapi kali ini dia merasa sangat malu.


"Dokter Savira sudah menjelaskan semuanya. Jadi, jangan merasa sungkan lagi untuk menceritakan semuanya. Berbicaralah sejujur-jujurnya saya akan bantu masalah Anda," Ucapnya.


Bukan hanya seorang dokter saja Si Rendra ini tapi juga seorang psikiater. Dirga bukan hanya membutuhkan obat saja, tapi dia juga membutuhkan saran-saran terbaik yang akan menjadi jalan keluar di setiap masalahnya.


Dan dokter Rendra punya hal itu. Karena itu lah Savira percaya bahwa di tangan Rendra Dirga akan secepatnya pulih dan bisa normal seperti orang-orang pada umumnya.


"Apa yang Anda rasakan?" Tanya Rendra. Sekecil apapun yang Dirga rasakan Rendra harus tau karena dia tak bisa memberikan apapun kalau tidak mengetahui bagaimana dan apa yang terjadi pada Dirga sekarang.


"Dok, saya..."

__ADS_1


...************...


Senyum kemenangan hadir di bibir wak Tejo saat melihat hamparan kebun yang begitu luas milik kedua orang tua Kanaya. Dengan menikahkan Kanaya itu sama saja dia mengusir Kanaya dengan halus dan akhirnya dia bisa menguasai tanah yang begitu luas itu.


Kanaya yang tidak tau menahu berapa banyak lahan yang di tinggalkan orang tuanya hanya bisa diam. Dia juga tak berani mengungkit-ungkit masalah warisan dari kedua orang tuanya.


Kini berbahagia wak Tejo juga Arifin. Bapak dan anak itu sama-sama mempunyai sifat yang sama. Ingin menguasai milik orang tua Kanaya yang seharusnya milik Kanaya.


"Pak, semua ini kelak bisa menjadi milik Arifin kan, Pak?" Tanya Arifin yang berdiri di belakang wak Tejo. Ikut mengamati lahan yang juga sudah tertanam beberapa jenis sayur mayur.


"Bisa lah, Fin. Suatu saat pasti akan menjadi milik mu. Bapak pastikan Kanaya tidak akan bisa mengambilnya, dia tak punya hak untuk ini. Dia sudah menumpang hidup dengan kita bertahun-tahun dan semua itu tidaklah gratis," Wak Tejo hanya menoleh sebentar ke arah Arifin dan setelahnya dia kembali berjalan.


Mata keduanya begitu di manjakan dengan sayur mayur yang begitu hijau dan tumbuhnya sangat baik. Sebentar lagi mereka akan panen besar dan bisa di pastikan mereka akan mendapatkan keuntungan yang juga sangat besar.


"Syukurlah," Jawab Arifin dan mengikuti langkah wak Tejo.


"Sebentar lagi kita panen besar, Fin. Lihatlah hasil kerja bapak, semua terlihat subur punya semua orang tak bisa menandingi punya bapak," Ucapnya bangga.


Memang kalau untuk pertanian keahlian wak Tejo tidak bisa di ragukan lagi, dia selalu berhasil dalam berbagai tanaman. Tapi untuk sifat buruknya juga tak bisa di kalahkan, bahkan semua orang juga tau kalau kebun itu adalah hak Kanaya.


Semua orang tak berani mengatakan secara langsung, mereka akan lebih memilih diam. Tapi doa mereka selalu mengalir untuk Kanaya. Mereka hanya bisa mengandalkan doa dan berharap kebaikan akan di limpahkan untuk Kanaya gadis yang mereka anggap teraniaya.


Bukan hanya wak Tejo yang merasa begitu senang tapi Arifin terlebih lagi. Tak usah berjuang keras untuk memilikinya dan semua sudah ada di depan mata.


"Bapak benar, sebentar lagi kita akan mendapatkan keuntungan besar, Pak. Pak, kalau ada uang Arifin pengen bapak lamarin Susan," Ucap Arifin begitu berharap.


Entah cewek yang mana lagi yang di inginkan oleh Arifin. Kemarin siapa dan sekarang siapa.


"Tenang, kalau ini berhasil panen melimpah dan harganya masih sama seperti ini bapak akan lamarin kamu ke perempuan manapun yang kamu mau. Setelah itu kita adakan mantu besar-besaran," Begitu semangat Wak Tejo mengatakan itu.


Bagaimana mungkin tidak akan dia turuti. Arifin adalah anak satu-satunya pastilah apapun yang di ingin akan selalu di berikan.

__ADS_1


...***********...


Bersambung....


__ADS_2