Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Jalinan kasih


__ADS_3

'Ikhlas dan sabar adalah jalan dari semua masalah. Dua hal yang harus aku jalani meski dengan cara yang seperti apapun. Kuatkan aku Ya Allah. Izinkan aku bisa berguna untuknya dan menjalani tugasku dengan baik.'


#Kanaya Setya Ningrum


...****************...


Meskipun sudah berusaha untuk mengendalikannya Dirga tetap tidak bisa. Meski Kanaya juga sudah meminta untuk di lanjutkan dan menerima semua rasa sakitnya tapi Dirga tak mau melanjutkan.


Tangisan Kanaya yang tertahan sudah berhasil melumpuhkan gairahnya dan benar-benar anjlok begitu saja dan berubah menjadi rasa bersalah.


"Maafkan aku, Nay. Lagi-lagi aku telah menyakitimu," katanya sembari mengelus lembut pipi Kanaya.


Meski menyakiti tapi tak sampai parah seperti waktu itu, bahkan Dirga juga tidak sampai memukul Kanaya hanya menjambak rambutnya saja setelah melepaskan hijab Kanaya dengan paksa.


"Tuan tidak salah. Aku yang minta maaf karena tidak bisa kuat menahan rasa sakitnya," Kanaya pun ikut menangis karena Dirga juga sama.


Kehangatan yang seharusnya mereka berdua rasakan harus tertahan karena sebuah ujian besar yang Allah berikan. Mungkin ini adalah ujian pertama untuk rumah tangga mereka.


"Sekarang tidurlah, ini sudah sangat malam," pinta Dirga dan menghapus air mata Kanaya dengan jari-jarinya.


"Tuan juga harus istirahat," pinta Kanaya juga yang langsung di angguki oleh Dirga.


Keduanya perlahan merebahkan tubuhnya. Ada rasa saling bersalah satu sama lain.


Dirga meminta Kanaya memunggungi nya, dengan itu pasti tak akan ada lagi gairah yang muncul untuk malam ini.


"Tuan, jika ada cara apapun supaya tuan bisa terpuaskan tanpa menyakitiku, aku ikhlas meski itu dengan cara apapun," ucap Kanaya.


Dirga terdiam. Dia juga menginginkan hal itu tapi dia belum menemukan cara itu. Kalau ada Dirga pasti akan melakukannya karena dia juga sangat ingin memenuhi nafkah batin sebagai suami.


"Boleh saya memelukmu?" izin Dirga dan mengalihkan pembicaraan.


"Hem," Kanaya mengangguk mengizinkan dan akhirnya Dirga menyingkirkan guling yang ada di tengah-tengah mereka tadi dan langsung memeluk Kanaya dari belakang.


Aroma khas yang ada di rambut Kanaya membuat Dirga merasa sangat nyaman. Hatinya juga masih terus beristighfar begitu juga dengan bibirnya yang terus merapalkan pujian untuk Sang Tuhan.


Dalam kenyamanan malam di temani hembusan angin yang masuk melalui celah-celah lubang ventilasi Kanaya mulai menutup mata.


Mimpi akan segera di jemput oleh Kanaya, berharap mimpinya adalah mimpi yang paling indah dari mimpi-mimpi sebelumnya.


"Nay," panggil Dirga tapi Kanaya sudah tak menyahuti lagi.


Kenapa lagi?


Kenapa di saat melihat Kanaya pulas begini gairah Dirga kembali bangkit. Sempat ragu karena takut kembali menyakiti.

__ADS_1


Dirga membalikkan tubuh Kanaya hingga menjadi terlentang, bibirnya begitu indah. Masih sangat merah karena bekas ulahnya yang tadi.


Bukan menginginkan Kanaya merasakan sakit hingga membuat gairahnya semakin memuncak, tapi melihat mata Kanaya yang terpejam damai membuat Dirga semakin bergejolak untuk menyentuhnya.


Apakah ini adalah satu cara untuk bisa menyentuh Kanaya tanpa menyakitinya? Tapi bagaimana mungkin dia akan menyentuh Kanaya di saat dia tertidur pulas begini?


Dia akan terpuaskan tapi bagai dengan Kanaya. Iya kalau dia sadar kalau tidak?


Tapi Gairah Dirga semakin besar sekarang, dan tak bisa dia tahan lagi.


"Maafkan aku, Nay. Mungkin ini adalah caranya. Aku akan mengatakan jujur besok, itupun kalau kamu tidak bangun saat ini."


Perlahan Dirga mulai menyentuh Kanaya tekatnya sudah sangat bulat. Dirga ingin menuntaskan gairahnya malam ini.


Hingga akhirnya Dirga benar-benar melakukannya dalam keadaan Kanaya tertidur.


Kanaya diam, seolah dia tak tau apapun padahal sejatinya dia sadar sepenuhnya. Dia merasakan semua yang Dirga lakukan. Kanaya sengaja tidak membuka matanya karena tak mau Dirga kehilangan pelepasannya lagi.


'Maafkan Nay, Tuan. Aku ikhlas jika memang harus seperti ini jalannya. Aku yakin suatu saat nanti Aku Kamu akan sama-sama menikmati jalinan kasih dengan nyata dan sadar sepenuhnya,' batin Kanaya.


Meski masih sakit Kanaya terus menahannya, tentu tak mau membuat Dirga sadar kalau dia tau.


Hingga akhirnya Kanaya merasakan tubuh Dirga bergetar hebat seiring dengan nafas yang memburu dengan cepat. Ya! Akhirnya Dirga mendapatkan pelepasannya.


Dikecup lah kening Kanaya dengan rasa berterima kasih tapi juga rasa bersalah.


"Terima kasih, Nay. Tapi juga maaf," ucap Dirga.


Ternyata Dirga menemukan cara untuk bisa mendapatkan semua tanpa menyakiti. Tapi entah kalau Kanaya tau, mungkin dia akan merasa dirinya di sakiti. Bukan lahirnya tapi batinnya yang dia siksa. Pikir Dirga.


...****************...


Kanaya bangun lebih dulu dia juga langsung pergi ke kamar mandi. Tentu dia akan mandi besar.


Sementara Dirga juga langsung terbangun setelah Kanaya masuk ke kamar mandi. Dirga merasa sangat heran, tumben Kanaya bangun lebih dulu daripada dirinya.


"Kaya mandi?" jantung Dirga berdegup dengan kuat. Apakah dia ketahuan semalam? lalu apa yang akan dia katakan nanti. Apakah Kanaya akan marah? itulah yang Dirga takutkan.


Dirga masih menunggu, dia sudah bangun dan berpindah duduk di sofa dengan was-was.


Tak lama Kanaya keluar, tentu dia juga sudah berpakaian lengkap juga rambut yang di tutup oleh handuk.


Dirga langsung berlari, apalagi dia melihat Kanaya yang juga keramas.


"Nay, ka_kamu? kamu keramas?" hal ini yang sedari semalam mengganggu pikiran Dirga.

__ADS_1


Setelah bangun dia harus mengatakan pada Kanaya dan harus mandi besar. Kalau tidak ibadah apapun juga tidak akan di terima karena dalam keadaan ber_hadas besar.


"Iya, emang kenapa?" tanya Kanaya pura-pura tidak tau. Kanaya hanya ingin tau apakah Dirga akan jujur padanya atau tidak.


"A_apakah kamu u_udah niat mandi...? Hem?" Begitu ragu Dirga bicara.


"Niat mandi apa?" tanya Kanaya.


Di pegangnya tangan Kanaya, ingin Dirga jujur dengan apa yang sudah dia lakukan. Dia tidak ingin jadi pembohong besar.


"Sini," Dirga menarik Kanaya untuk duduk di sofa setelah duduk Dirga masih terus memandangi Kanaya dengan tangan yang tidak terlepas.


"Nay, sebenarnya. Sebenarnya aku telah melakukannya," Dirga menunduk.


"Melakukan apa?"


"A_apa kamu tidak merasakan apapun semalam?" benarkah Kanaya tidak merasakan apapun? pikir Dirga.


Wajah Dirga sudah memucat dia takut kalau Kanaya akan marah padanya.


"Aku telah melakukannya saat kamu tertidur. Aku minta maaf, Nay. Maafkan aku. A_aku tidak bisa menahan semuanya, Aku minta maaf," Dirga beralih berlutut di hadapan Kanaya. Memohon belas kasih untuk di maafkan.


Kedua tangannya sudah menyatu di hadapan Kanaya dengan wajah yang mendongak memandangi wajah Kanaya.


"Kalau kamu mau marah marahi saja aku. Kalau kamu mau pukul pukul aja aku sesuka mu. Tapi aku mohon maafkan aku," Dirga begitu ketakutan.


Bukan maksud Kanaya untuk merendahkan Dirga dengan membiarkan Dirga seperti sekarang ini. Kanaya hanya ingin kejujuran Dirga. Dan sekarang dia sudah dapatkan.


Kanaya ikut luruh duduk di hadapan Dirga. Memisah kedua tangan Dirga dan memeluknya.


"Aya sudah maafkan, Aya tau segalanya, Tuan. Aya tau. Jika memang itu adalah jalan satu-satunya maka lakukanlah, Aya ikhlas."


"Tapi Tuan harus berjanji pada Aya. Hari ini kita pergi ke dokter. Tuan harus sembuh," pinta Kanaya.


Bukan apapun yang Kanaya ingin, hanya sebuah kesembuhan Dirga saja.


Dirga mengangguk pasrah padahal kemarin Dirga ingin menentang Savira untuk berobat. Dia yakin dengan caranya sendiri dia bisa sembuh. Tapi ternyata tidak, dia akan selalu kalah. Dia membutuhkan orang yang benar-benar tau akan permasalahannya.


"Ya, aku akan ke dokter," Dirga mengangguk mantap dan itu membuat Kanaya senang.


Kewajiban, juga tugas sebagai istri harus tetap Kanaya jalankan dengan baik meski dalam hatinya belum ada cinta. Kanaya akan tetap belajar dan berusaha untuk menggeser posisi Yuan dan menggantikan dengan Dirga, Suaminya.


...****************...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2