Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Move-on Dong


__ADS_3

'Bisa cepat aku mencintaimu, tapi akan membutuhkan waktu lama untuk aku melupakanmu. Kenangan mu, senyum Indah di bibirmu tak akan mudah aku memendamnya. Bantu aku Ya Allah, biarkan hati ini tenang dan bisa melupakannya."


#Yuan Prayoga


...****************...


Kamar yang sangat mewah yang sudah di siapkan oleh Umi, sebenarnya itu juga kamar Dirga dahulu tapi sekarang sudah di benahi dan juga di ganti-ganti dengan yang baru.


Semua itu juga di sediakan untuk kenyamanan Dirga dan Kanaya saat datang ke rumahnya.


Keduanya benar-benar sangat nyaman tapi hal itu malah membuat Kanaya gugup juga tak enak hati.


"Nay, kamu kenapa?" Dirga begitu penasaran, pasalnya dari awal masuk kamar Kanaya terus diam namun terus memperhatikan kamar itu.


Dia duduk anteng tapi tidak dengan matanya yang terus berkeliaran kesana kemari.


"Ti_tidak apa-apa," Tak percaya saja bagi Kanaya bisa merasakan kamar yang luas, nyaman dan kasur luas dan empuk yang selalu dia lihat hanya di televisi saja. Dia pikir hanya ada di film-film saja dan dia tak akan bisa merasakan tapi ternyata? Allah memberikan semuanya pada Kanaya, bahkan lebih dari apa yang pernah dia lihat.


Kanaya juga tidak menyangka kalau dia akan masuk ke dalam keluarga yang sangat kaya raya. Bahkan jika menginginkan sesuatu saja semua terasa mudah dan hanya seperti menjentikkan jari tangan.


"Kamu yakin?" Dirga menyusul duduk Kanaya di pinggiran ranjang, menarik tangan Kanaya dan dia bawa di atas pangkuannya.


Jelas, hal itu membuat Kanaya langsung menoleh ke arah Dirga.


"Tidak usah merasa sungkan atau apapun, di sini juga di rumah kita keduanya juga rumah kamu. Kamu jangan merasa minder atau tak enak hati, Hem?"


Seperti tau apa yang Kanaya pikir dan Dirga mengatakan itu.


Kanaya masih diam, dia terus mengamati suaminya itu dengan sangat lekat.


"Kenapa Tuan mencintai saya begitu besar? Saya tidak punya apapun, saya juga tidak bisa apapun?"


Pertanyaan yang akan sangat sulit di jawab oleh Dirga sendiri. Bahkan dia sendiri juga tidak tau kenapa cintanya begitu besar kepada Kanaya bahkan semakin besar dengan berjalannya waktu.


"Dan, kenapa Tuan selalu memberikan apapun pada saya, padahal Tuan tau saya tidak bisa membalasnya," imbuhnya.


"Dalam cinta tidak membutuhkan apapun, Nay. Juga tidak mengharapkan imbalan apapun. Bagiku, asal kamu selalu bahagia bersamaku itu sudah lebih dari cukup untukku," jawab Dirga yakin.


"Hanya itu?" setengah tak percaya, karena Kanaya sudah sangat jarang menemukan orang yang begitu tulus padanya.

__ADS_1


Tapi Kanaya benar-benar merasakan ketulusan dari Dirga dan juga keluarganya.


"Ya! hanya itu," tak pernah Dirga seyakin ini sebelumnya.


Di angkatnya tangan Kanaya, di kecup dengan begitu mesra. Tak hanya itu, Dirga juga merengkuh Kanaya lalu memeluknya.


"Kamu adalah kebahagiaanku, Nay. Jadi apapun yang membuat kamu bahagia akan aku berikan. Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak."


"Sekarang istirahatlah, ini sudah malam," pinta Dirga.


"Hem," Kanaya mengangguk patuh.


...****************...


Ikhlas juga ikhlas yang terus Yuan pupuk dalam hatinya. Perlahan melupakan dan menyibukkan diri dengan semua tugas-tugas kampusnya.


Semua kegiatan kampus Yuan ikuti demi bisa sibuk dan bisa melupakan Kanaya. Tapi ternyata tak semudah itu. Sangat susah untuk bisa mengikhlaskan.


Malam yang semakin larut tapi Yuan masih saja berada di kampus, mengikuti kegiatan di sana. Dengan kesibukan dia bisa lupa, tapi dengan dia berdiam diri semua kenangan akan kembali berputar dalam pikirannya.


"Yuan," panggil seseorang dan Yuan cepat menoleh.


"Terima kasih, Shof," Yuan begitu berterima kasih dan menerima minuman itu dari Shofi.


Shofi adalah teman Yuan teman sekelas satu jurusan. Gadis asli Jogja.


"Hem... bagaimana skripsinya, apa udah selesai?" tanya Shofi.


"Bentar lagi," jawab Yuan. Matanya hanya sebentar memandangi Shofi tapi setelahnya kembali lagi beralih ke tempat yang tadi.


"Yuan, kamu kenapa sih. Beberapa hari ini kamu tidak bisa serius. Kamu tidak bisa fokus dalam hal apapun. Kamu itu seperti banyak pikiran gitu." Shofi penuh selidik.


"Tidak apa-apa," tidak mungkin Yuan akan jujur apa yang terjadi padanya.


"Bener?" tak mungkin Shofi percaya begitu saja.


"Hem," Yuan hanya tersenyum di susul dengan menyeruput minuman pemberian Shofi tadi.


"Ekhm!" dekheman Angga mengejutkan keduanya dan langsung menoleh. Angga langsung meringis manis melihat keduanya yang duduk dengan berjarak.

__ADS_1


Sebenarnya Angga senang jika Yuan bisa cepat melupakan Kanaya dan jadian dengan Shofi atau siapapun. Tapi hati Yuan ternyata begitu teguh.


Tapi sebenarnya bukan soal gagal move-on tapi Yuan ingin menata hati dan memperbaiki diri. Soal jodoh biar Allah yang tentukan. Karena Yuan tak mau fokus dengan masalah hati dia ingin sukses dulu sesuai dengan yang kedua orang tuanya ingin.


Satu mimpi sudah tidak bisa dia gapai maka Yuan harus bisa menggapai mimpi yang lain yaitu bisa sukses.


"Makasih minumnya, Shof. Aku ke sana dulu," pamit Yuan. Seolah dia menghindar dari Shofi yang sepertinya ingin mendekatinya.


"Lah! mau kemana, Yuan!" teriak Angga. Sedikit kecewa karena dia datang tapi Yuan malah pergi.


Angga tau benar, sebetulnya bukan dia yang ingin di hindari tapi Shofi.


Shofi hanya diam mengamati kepergian Yuan yang semakin jauh. Dia ingin dekat dengan Yuan tidak harus berpacaran tapi Shofi ingin dekat dengan Yuan.


"Shof! aku pergi juga ya!" Angga juga langsung pergi dengan rasa sedikit tak enak. Tapi mau bagaimana lagi bukan Angga yang menyuruhnya pergi tapi Yuan sendiri.


Cepat Angga mengejar Yuan dan sampai juga di samping Yuan. Susah menyamakan langkah Yuan tapi tetap di usahakan.


"Yuan, kamu kenapa sih? setiap Shofi ingin dekat kamu malah menjauh. Move-on bro, move-on!" jelas Angga.


Yuan tak menggubris apa yang Angga katakan dia terus melangkah.


"Astaghfirullah, Yuan! kamu itu kenapa sih!" heran dan selalu heran Angga pada satu temannya ini. Dia masih berpikir kalau Yuan tak bisa melupakan Kanaya.


Jujur, Yuan belum bisa melupakannya. Tapi dia masih terus berusaha untuk itu. Bertahun-tahun mereka bersama tak mungkin akan hilang begitu saja dalam hitungan hari.


Semua butuh waktu butuh proses dan tak bisa instan. Bahkan bisa saja sampai bertahun-tahun Yuan akan tetap mengingatnya meski hanya tinggal sebuah kenangan yang indah dan mimpi pahit yang tak bisa dia capai.


"Bisa diem nggak! kalau tidak mending kamu pergi. Atau mungkin kamu yang mau dekat dengannya, maka temui dia," ucap Yuan.


Yuan kembali berjalan meninggalkan Angga yang melongo. Mungkin Yuan terlalu lelah mendengar semua ocehan dari Angga yang tidak ada henti-hentinya dan selalu itu-itu saja yang dia katakan.


"Lah, kenapa jadi begini? Kenapa jadi aku yang salah, apakah aku memang keterlaluan?" bingung Angga pada dirinya sendiri.


"Yuan, tunggu!" teriak Angga dan kembali mengejar Yuan.


...****************...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2