Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kemarahan Dirga


__ADS_3

'Apakah memang tak ada kesempatan untukku meminta maaf, menjelaskan semua yang terjadi? Tak ada niat untuk mengkhianati. Maaf, caraku memang salah."


#Kanaya Setya Ningrum


...****************...


Begitu kasar Dirga menarik tangan Kanaya, hingga sampai di mobil pun dia juga terus kasar. Sampai-sampai dia mendorong Kanaya untuk masuk ke mobil dengan kasar juga.


"Masuk!" suaranya juga terdengar sangat marah. Dirga langsung ikut masuk dan menutup pintu dengan kasar. 'Brak!'


"Jalan, Pak!" titah Dirga. Suaranya semakin tak bersahabat sekarang. Matanya membulat juga berwarna merah menahan amarah yang sangat besar.


Bagaimana mungkin dia tidak marah. Jelas-jelas Kanaya sudah sah menjadi istrinya tetapi di dalam hatinya terdapat orang lain. Sakit.


Sementara Kanaya, dia terus menangis dan tak berani mengatakan apapun. Dari tadi dia juga sudah minta maaf tapi Dirga juga gak menggubrisnya.


"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya sang sopir.


"Kembali ke Semarang," jawab Dirga.


"Tapi, Tuan?" Sopir Dirga sangat ragu untuk menjalankan mobilnya ke arah Semarang. Pasalnya kedua orang tua Dirga juga masih ada di sana. Apa yang akan di katakan pada orang tuanya nantinya.


"Kalau kamu tidak mau menjalankan mobilnya turunlah, aku bisa menyetir sendiri."


Begitu besar amarah Dirga sampai-sampai dia tak ingin mendengar penjelasan apapun dari sopir.


Tak lagi mengatakan apapun lagi sopir, dia langsung menjalankan mobilnya. Titahnya tak akan bisa di langgar lagi kalau sudah seperti itu.


"Tu_tuan. Jangan bawa aku pergi sekarang," Kanaya memberanikan diri untuk bersuara. Dia tidak mau pergi dengan cara seperti ini. Paling tidak dia bisa berpamitan dengan orang-orang yang selalu bersamanya.


Dirga terus diam, dia sama sekali tak menghiraukan kata-kata dan keinginan Kanaya.


"Tuan, saya mohon. Izinkan saya berpamitan dulu dengan orang-orang," kata Kanaya lagi.


Kini mata Dirga melotot ke arahnya. Dia terlihat semakin marah.


Kanaya begitu takut, tak dia sangka kalau Dirga akan menakutkan seperti ini jika sedang marah. Dimana kelembutan juga kata-kata dan tingkah laku yang penuh dengan kasih sayang seperti kemarin. Kemana perginya semua itu?

__ADS_1


Tangan Dirga malah terangkat dan mencengkram dagu Kanaya dengan kuat, tentu membuat dia meringis kesakitan.


"Tu_tuan. Le_lepaskan, sakit," keluh Kanaya yang semakin takut. Tubuhnya gemetar seiring dengan wajah yang mendongak karena di paksa juga di hiasi dengan air matanya.


"Kenapa, Naya. Apa kamu tidak mau di sentuh suamimu sendiri? kenapa, apakah kamu hanya menginginkan Yuan saja yang menyentuhmu?" ucap Dirga begitu angkuhnya.


Kanaya berusaha menggeleng, tapi tak bisa karena jari-jari Dirga begitu kuat menahannya.


"Kenapa, apakah kamu mau pamit pada laki-laki itu? dan saat itu kamu bertemu dengannya kamu akan mengatakan kalau kamu mencintainya dan menyesal menikah dengan ku begitu?" tuduh Dirga.


Tak ada niat Kanaya untuk seperti itu, bahkan jika bertemu dengan Yuan dia hanya ingin mengatakan maaf. Tapi Dirga sudah menuduhnya yang bukan-bukan. Bukan hanya dagu juga tangan Kanaya yang sakit, melainkan hatinya juga.


"Ti_tidak seperti itu, Tuan. Sa_sa..."


"Diam, dan jadilah istri yang baik, Ka_na_ya." Dirga menegaskan. Doa sama sekali tak mau mendengar kata apapun dari Kanaya. Semua penjelasan yang Kanaya akan katakan juga mungkin akan sia-sia.


Kanaya semakin menangis setelah Dirga melepaskan tangannya dari dagu dan mendorongnya hingga punggungnya terbentur pintu mobil. Untung saja pintu itu di tutup dengan benar, jika tidak mungkin Kanaya akan jatuh keluar dari mobil.


"Akhh..." keluh Kanaya yang merasa kesakitan.


"Ke penginapan, Pak!" titah Dirga yang belok dari tujuh sebelumnya.


Kanaya masih terus menangis, dia tak berani mengatakan apapun lagi. Toh yang dia katakan juga tak ada gunanya sama sekali di mata Dirga.


Dirga sudah di penuhi dengan kemarahan yang sangat besar. Kecemburuan menutup akal sehatnya juga menutup hatinya. Entah apa yang ingin Dirga lakukan pada Kanaya.


Setengah jam mobil sampai di penginapan yang biasa Dirga jadikan tempat untuk menginap setiap dia datang ke Magelang. Para petugas pun juga sudah hafal betul dengannya. Apalagi Dirga meminta kamar terbaik untuknya. Dan itu di salah satu bangunan yang tak ada yang bisa masuk kecuali dirinya dan para petugas penginapan.


Lebih tepatnya, Dirga sudah seperti menyewa tempat itu meski dia hanya akan datang sesekali dia kali saja.


"Turun!" sentak Dirga setelah dia sudah turun lebih dulu.


"Ti_tidak, Naya ingin pulang," Kanaya semakin ketakutan.


"Turun!" kesal karena tak di indahkan permintaannya Dirga meraih pergelangan tangan Kanaya. Menariknya dengan paksa lalu menyeret Kanaya masuk ke penginapan.


"Tuan, lepasin! sakit!" Kanaya berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Dirga tapi tak semudah itu, Dirga begitu kuat.

__ADS_1


"Tuan, lepasin!" teriak Kanaya dengan terus berontak. Tapi Dirga tak mau tau. Dia tak peduli dengan ketakutan juga sakit Kanaya saat ini.


Hingga sampai di kamar yang cukup besar Dirga membanting Kanaya hingga tersungkur di ranjang. Kanaya semakin takut karena itu.


Dirga kembali, menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya.


Mata Kanaya membulat dengan ketakutan yang semakin besar. Dia terus naik menjauh saat Dirga mendekatinya dan mulai melepaskan jaketnya.


"Tu_tuan, Tuan mau apa?" Kanaya begitu ketakutan.


...****************...


Di tempat yang berbeda di ruang tengah rumah Wak Tejo semua tengah berkumpul. Minum, makan, mengobrol dan menikmati kebersamaan sebagai besan. Itulah keluarga sak Tejo juga keluarga Abi Hasan.


Begitu akrab mereka semua padahal belum lama mereka saling mengenal. Tapi kedekatan mereka sudah seperti kerabat yang dekat.


"Assalamu'alaikum," Arifin masuk rumah seorang diri, jelas dia akan seorang diri. Karena Dirga tengah membawa lari Kanaya.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua serentak juga dengan menoleh.


"Loh, Fin! Nak Dirga mana?" tanya wak Tejo pada anaknya.


"Dirga?" wak Tejo mengangguk dengan mata terus mengamatinya, " Biasalah, Pak. Namanya saja pengantin baru, pastilah mau menghabiskan waktu bersama dengan istrinya," terang Arifin.


"Hahaha, Nak Dirga sudah tidak sabaran ternyata. Bagus deh kalau begitu, biarkan mereka lebih dekat dan melakukan kewajiban mereka masing-masing. Toh mereka sudah halal jadi tidak perlu lah dicari," begitu bahagia wak Tejo.


Sementara Arifin tersenyum puas. Dia tau apa yang akan terjadi karena dia sempat menyalahkan api kecemburuan dalam diri Dirga sebelum bertemu dengan Kanaya tadi. Apalagi saran terbaik Arifin kalau bukan mengatakan pada Dirga supaya menjadikan Kanaya miliknya seutuhnya.


Kalau Dirga tidak cepat melakukannya Kanaya tidak akan bisa mau bersanding dengannya karena di hatinya ada Yuan. Dan terus berharap akan bersama Yuan.


"Bapak benar. Aku juga sudah tidak sabar pengen gendong ponakan," gurau Arifin yang sudah bergabung duduk.


"Hahaha, kamu mendahului keinginan kami, Nak. Sebelum kamu menggendong ponakan mu, maka kami dulu yat akan menggendong cucu kami," kata Abi Hasan.


'Hahaha....!" tawa menggelegar dari semua orang.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2