Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Melalui Waktu Bersama


__ADS_3

...****************...


Dirga terus menggandeng Kanaya dengan perasaan yang sangat bangga masuk ke dalam rumah dengan bibir yang terus tersenyum juga wajah yang begitu bersinar.


Hari-hari terasa semakin istimewa, dengan perlahan-lahannya mimpi-mimpi Kanaya mulai terwujud satu persatu. Berawal dari kursusnya saat ini dan satu minggu lagi pengumuman kelulusan paket C dan entah apalagi yang akan dia dapat.


Semoga hari ini menjadi gerbang kesuksesan untuk Kanaya yang akan selalu membuat semua orang bangga terlebih Dirga.


Seharian mereka pergi, mulai dari acara penerimaan sertifikat acara makan bersama keluarga dan juga jalan-jalan untuk benar-benar merayakan hari yang paling bahagia ini.


Hingga mereka berdua pulang setelah malam hari. Perut yang sudah kenyang juga sudah merasa sangat lelah mereka berdua langsung menuju ke kamar setelah sebelumnya Dirga mengunci pintu terlebih dahulu.


Kanaya meletakkan sertifikat juga penghargaan yang dia dapatkan di dalam lemari kaca yang ada di dalam kamar, memandangnya dengan penuh kebahagiaan dan juga dengan rasa yang masih tak percaya bahwa dia benar-benar mendapatkan hal yang dulu hanyalah sebuah mimpi yang dia pikir tidak akan pernah menjadi nyata.


Dirga menyusul Kanaya dan berdiri di sebelahnya ikut melihat sesuatu yang membuat dia bangga.


"Mas begitu bangga kepada kamu, Nay. Semoga ini bukanlah akhir tapi ini adalah awal dari pintu-pintu yang akan membawamu kepada kesuksesan. Mas bermimpi kalau kamu juga akan sukses sama seperti Mas kita akan sukses bersama dalam hal apapun." ucap Dirga ya langsung merangkul pundak Kanaya dan menariknya hingga Kanaya langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya tersebut.


"Terima kasih, Mas," hanya itu yang bisa Kanaya ucapkan. Dia seakan kehabisan kata dan tak mampu untuk berbicara apapun lagi sebagai ucapan terima kasihnya kepada Dirga yang selalu memberikan semua untuk dirinya dan membuat dia memperoleh hal yang dulunya tidak mungkin dan sekarang semuanya menjadi mungkin.


Dirga hanya tersenyum lalu menghujani kecupan di puncak kepala Kanaya.


"Bukankah Mas sudah selalu bilang kalau semua yang Mas lakukan hanya untukmu saja?" ucap Dirga kembali mengingatkan hal itu.


Bucin. Ya! mungkin Dirga sangat bucin kepada Kanaya sampai dia melakukan semua untuk Kanaya. Dia selalu melakukan sesuatu yang kadang dirinya menganggap tidak akan mungkin terjadi tetapi ternyata dengan usaha semua itu bisa terjadi.

__ADS_1


Kanaya mengangkat wajahnya melihat wajah Dirga hingga mata mereka saling bertemu dan saling bertatap. Perlahan Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya dan menyatukan bibir mereka.


Perlahan namun pasti namun sentuhan keduanya semakin dalam dan keduanya begitu menikmati.


Semua terasa nikmat karena penuh dengan kelembutan dan juga tidak ada penghalang apapun untuk mereka melakukannya dengan cara yang benar, bahkan hal-hal yang ditakutkan sama sekali tidak hadir di dalam benaknya.


Kata dokter Rendra Dirga sudah sembuh dan kemungkinan besar hal itu tidak akan kembali lagi kepadanya.


Kini Dirga benar-benar sangat yakin bahwa ini saatnya mereka berdua melakukan program untuk mendapatkan seorang buah hati yang akan selalu menjadi Pelita untuk mereka berdua.


Terlepas_lah hijab Kanaya dengan sangat pelan oleh Dirga dilemparkan ke arah sofa kemudian Dirga mengangkat Kanaya dan menurunkannya di ranjang dengan sangat pelan.


Kanaya begitu pasrah menyerahkan semuanya kepada Dirga. Dia diam menunggu sesuatu yang akan dilakukan oleh Dirga entah akan dia mulai dari mana Kanaya benar-benar menyerahkan semua untuk Dirga.


Bahkan mungkin hidup dan matinya pun juga akan dia serahkan untuk suami yang selalu ada untuknya dan selalu berusaha membahagiakan dan mewujudkan semua cita-citanya.


Peluh, terus keluar dan membanjiri hubungan mereka yang kini berdasarkan Dengan Cinta. Tak ada keraguan untuk memulai dan melakukannya hingga akhir hingga puncak kenikmatan benar-benar mereka berdua dapatkan.


Keduanya terasa begitu melayang terbang begitu tinggi melalui gerbang kenikmatan dan hingga mereka berdua menyelam di surga dunia yang kini menjadi ladang pahala untuk mereka.


Kecupan di kening Kanaya menjadi akhir dari penyaluran cinta di antara mereka berdua. Keduanya saling berpelukan seolah tak ingin melepaskan meski dalam keadaan tubuh yang sama-sama tidak terbalut oleh sehelai benang pun. Namun tetap tertutup oleh selimut berwarna putih yang menjadi pelindung dari hubungan mereka supaya tidak dicampuri oleh setan yang berniat ingin mengganggu sesuatu yang mungkin akan tumbuh.


"Terima kasih," ucap Dirga disambung dengan kecupan yang kembali diberikan kepada Kanaya.


Kanaya tersenyum dia juga merasa sangat berterima kasih karena Dirga melakukannya penuh dengan kasih sayang tentu juga dengan kelembutan.

__ADS_1


Pelukan semakin erat diantara keduanya. Rasa lelah memang begitu mendominasi di antara mereka namun rasa kantuk belum juga datang hingga membuat mereka berdua menghabiskan waktu dengan mengobrol dan masih bersenda gurau.


"Villa di Merbabu sudah jadi, bagaimana kalau kita honeymoon nya ke sana saja. Kita juga bisa melihat tempat-tempat wisata yang baru di sana. Bukan itu saja tetapi kita bisa ziarah ke makam ibu dan bapak. Bagaimana, apakah kamu setuju?"


Jelas, apa yang dikatakan oleh Dirga membuat Kanaya sangat bahagia sudah sangat lama dia tidak pulang dan tidak ziarah ke makam kedua orang tuanya. Dia juga sangat merindukan tempat kelahirannya yang sekarang entah seperti apa masih sama_kah atau mungkin sudah berubah semakin maju dengan pembangunan pembangunan yang terus dilakukan oleh pemerintah maupun oleh warga sekitar dengan cara gotong royong.


"oleh, Naya juga sudah sangat penasaran dengan villa. Pasti sangat bagus, ya kan Mas?" tanya Kanaya dengan begitu antusias dia ingin cepat melihat bangunan yang dulu hanya dilihat gambarnya saja di ruang kerja Dirga dan sebentar lagi Kanaya akan melihat bagaimana bangunan yang sebenarnya.


"Baiklah, setelah pengumuman kita berangkat ke Merbabu. Kita nikmati kebersamaan kita bersama." Dirga juga lebih antusias lagi.


Memang di rumah pun mereka berdua akan selalu bersama dan terus menghabiskan waktu penuh dengan cinta. Tapi kalau di rumah ada kerjaan yang selalu membayangi keduanya. Tapi kalau di sana, mungkin mereka akan melupakan pekerjaan dan benar-benar bisa fokus untuk program kehamilan.


Dirga terus saja bicara, menceritakan ini itu dengan sangat senang. Namun, tak lama setelah Kanaya merasakan kantuk yang sangat besar hingga perlahan matanya mulai tertutup.


Nafas yang teratur sudah Dirga dengar dan Dirga menyadarinya karena Kanaya juga gak lagi ada kata-kata lagi sekedar menjawab.


Dirga melirik kecil dan ternyata benar, Kanaya sudah berada di dunia mimpinya.


Dirga tersenyum, mengelus pipi Kanaya dengan lembut.


"Jadilah permata ku untuk selamanya, Nay." kembali Dirga mengecup kening Kanaya dan menarik tubuh polos Kanaya semakin erat padanya.


Tak butuh waktu lama Dirga juga mendapat rasa kantuknya dan menyusul Kanaya ke dunia mimpi.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2