Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Sama-sama Terluka


__ADS_3

'Luka tak berdarah namun begitu menyakitkan, itulah rasa yang kau berikan. Tapi, aku juga tak bisa menyalahkan mu. Bukan murni kesalahanmu, ini adalah takdir ku, kamu dan dia. Biarkan semua terjadi sesuai takdir, meski takdirku tak bisa memiliki mu, tapi takdir cintaku ada padamu.'


#Yuan Prayoga


...****************...


Petikan gitar menemani Yuan yang duduk seorang diri di tengah-tengah kegelapan malam. Meratapi kesedihannya yang terasa begitu menyayat hatinya.


Sakit. Yah! hatinya sangat sakit akan takdir yang tak sejalan dengan apa yang dia inginkan. Dia kehilangan gadisnya yang kini sudah menjadi milik orang lain.


Pura-pura bahagia di hadapan semua orang, Pura-pura tegar meski sebenarnya hatinya tak sanggup untuk sekuat itu.


'Saatnya tidur oh mata, usah di kenang yang tiada


Pejamkan, pejamkan hingga mata terlelap


Usah di ingat bayang_nya


Hanya menyiksa....'


Tak sanggup hatinya meski berusaha tegar. Hembusan angin malam terasa semakin melukainya. Kenapa begitu sakit? hingga untuk memejamkan mata saja rasanya tak sanggup.


Jujur, memang sudah begitu dalam perasaan Yuan. Sudah begitu besar juga mimpi yang sudah dia rajut-rajut dalam kesehariannya untuk menjalin masa depan dengan Kanaya. Tapi, dia terlambat. Dia kalah cepat dengan Dirga.


Dia pikir, semua kebersamaan semua wujud kasih sayang yang dia lakukan setiap saat sudah cukup tapi ternyata salah. Cinta bukan hanya dengan perilaku saja, tapi juga dengan pembuktian dengan kata-kata.


'Ku mohon tolong lepaskan, rasa rindu di dada


Kar'na sesungguhnya ku tak mau lagi terluka...'


Semakin malam, Yuan semakin larut dalam irama yang penuh dengan luka. Tak peduli dengan semua orang yang sudah istirahat malam karena Yuan yakin suara gitarnya tak akan terlalu mereka dengar.


Plukkk...


"Sabar, Bro. Yakinlah, ini adalah jalan yang terbaik."


Seketika Yuan menghentikan petikan gitar juga menoleh. Dia melihat satu teman sekampung yang ternyata datang lalu ikut duduk di sampingnya.


"Aku hanya tak habis pikir, Surya. Bertahun-tahun kami bersama, bertahun-tahun aku berusaha menjaga dan membahagiakannya, dan ternyata? semua yang aku lakukan itu terasa sia-sia," Yuan kembali memalingkan pandangan.


"Semua tak ada yang sia-sia, Yuan. Pasti ada sesuatu hikmah yang tidak kita ketahui."


"Hanya ikhlas, Bro. Itu yang bisa kamu lakukan. Rejeki maupun jodoh tak akan pernah tertukar. Jika dia memang jodoh mu suatu saat akan kembali. Tapi aku harap, kamu bisa sedikit mengurangi atau mungkin menghilangkan keinginan itu. Aku hanya tidak mau kamu semakin hancur karena tak bisa melupakan." ucap Surya.


"Hem," Yuan mengangguk, memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan sahabatnya meski sebenarnya bibirnya terasa sangat kelu.


...****************...

__ADS_1


Meski sedih dan berada dalam penyesalan hidup Yuan harus tetap berjalan. Meski dia tak bisa melupakan Kanaya dan masih ada harap tapi mimpi yang lainnya juga tak bisa di abaikan begitu saja.


Yuan harus tetap berjuang menjadi yang lebih baik lagi. Cita-cita yang sebelumnya menjadi keinginan Kanaya juga membuat Yuan lebih semangat. Yuan harus buktikan kalau dia bisa sukses dan dia akan bangga di saat mereka bertemu suatu saat nanti.


Tak ada mimpi terlalu muluk-muluk dari Yuan sekarang, dia hanya menginginkan Kanaya selalu bahagia dan di jauhkan dari semua mara bahaya dan semua masalah yang akan membuat dia menangis. Sadar, Yuan tak bisa lagi menghibur Kanaya seperti dulu lagi.


"Semoga suamimu benar-benar baik dan bisa membahagiakan mu, Aya." harapnya. Kakinya perlahan melangkah keluar dari rumahnya di saat pagi-pagi sekali seusai subuh.


Yuan harus berangkat pagi-pagi ke Jogja. Mimpinya tengah menunggunya di sana.


Motor sudah menyala dan saat itu juga kedua orang tuanya keluar untuk mengantarkan kepergian anaknya dalam menimba ilmu.


"Hati-hati yo, Nak. Jangan ngebut-ngebut biar selamat sampai tujuan," ucap emaknya Yuan.


"Iya, Mak." jawab Yuan.


"Ingat,Nak. Belajar yang benar." ucap ayahnya.


"Iya, pak," Yuan menyalami kedua orang tuanya lalu bergegas menjalankan motornya menuju Jogja.


...****************...


Perlahan Kanaya semakin tenang. Tak begitu takut seperti kemarin.


Dari kemarin Dirga juga tak terlihat. Dia tak mendatangi Kanaya saat tersadar, tapi tidak semalam saat Kanaya tidur. Dirga mendatanginya.


"Aww!" pekik Kanaya saat dia ingin beranjak dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Nay!" pintu terbuka dan Savira berlari setelah mendengar teriakan Kanaya barusan.


Demi memastikan keadaan Kanaya Savira tidak pulang, dia menginap di sana sesuai permintaan Dirga.


"Ada apa, apakah ada yang sakit?" Savira langsung duduk di depan Kanaya yang sudah duduk. Sakit? Jelas Kanaya merasakan sakit karena semua lukanya.


"Hem," Kanaya mengangguk, "eh! mbak mau ngapain!" teriak Kanaya saat Savira hendak melihat lukanya.


"Hanya mau melihat lukanya, Nay." jawabnya.


"Oh," akhir Kanaya tau dan setelahnya dia membiarkan Savira melihat lukanya.


Mata Savira begitu nanar melihat semua luka yang ada pada Kanaya. Bagaimana bisa Dirga melakukan semua itu.


Perlahan Savira mengoleskan salep dan Kanaya nampak meringis. Mungkin rasanya yang sangat perih.


"M_mbak, Di_dia di mana?" tanya Kanaya dengan suara sedikit gemetar. Jelas, dia yang Kanaya maksud adalah Dirga yang dari kemarin tak terlihat lagi.


"Siapa?" Savira pura-pura tidak tau.

__ADS_1


"Hem, Tu_tuan Di_Dirga," mengucapkan namanya saja semua seolah kembali lagi dalam ingatan. Semua perlakuan yang berbanding terbalik dengan sebelum saat mereka menikah.


"Apakah kamu merindukannya?" Savira menghentikan tangan dan kini menatap intens ke wajah Kanaya.


"Sa_saya?" mana mungkin ada kerinduan untuk saat ini, yang ada hanya Kanaya merasa di abaikan.


"Mbak, a_apakah dia benar menyukai sa_saya?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, apakah kamu meragukan cintanya?"


"Ka_kalau dia cinta ti_tidak mungkin dia menyakitiku kan, Mbak?"


Savira terdiam. Memang benar tak mungkin ada orang yang mencintai namun tega menyakiti seperti apa yang Dirga lakukan pada Kanaya.


Bagaimana jika Kanaya tau apakah dia akan tetap berpikir kalau Dirga tidak mencintainya? Bahkan di setiap nafasnya Dirga sekarang hanya ada Kanaya bagaimana mungkin dia tidak cinta.


Savira tau benar akan hal itu, meski Dirga tidak mengatakan tapi dia bisa melihat bahkan di dalam tatapan matanya terdapat Kanaya juga di sana.


Bukan itu saja, dalam tidur pun Dirga juga tak bisa melupakan Kanaya semua hanya ada Kanaya dan Kanaya.


"Apa yang hatimu katakan? apakah hatimu bilang kalau dia membencimu, atau dia mencintaimu? jangan terlalu cepat menyimpulkan dengan apa yang sudah dia lakukan padamu, cari tau lebih dulu kebenarannya apa yang telah membuatnya melakukan itu."


"Selama aku kenal dia, dia belum pernah menyakiti orang lain. Bahkan sekedar berbicara kasar pun tidak. Aku yakin, ada alasan di balik perlakuannya yang seperti itu."


Kanaya terdiam, mencerna semua kata dari Savira.


'Apakah dia melakukan itu karena aku yang telah berbuat kesalahan kemarin? apakah dia marah karena kejadian di kebun Wak kemarin?' pikir Kanaya.


Jika yang di pikirkan Kanaya benar berarti dia sendirilah sumber dari kemarahan Dirga.


"Apakah kamu ingin bertemu dengannya?"


Seketika Kanaya menoleh, dia menggeleng ragu karena merasa belum siap. Bayangan itu masih saja menakutinya.


"Aku tau, tak mudah untuk memaafkan orang yang telah menyakiti. Tapi setidaknya, pikirkan hatinya. Mungkin dia juga sama tersiksanya seperti apa yang kamu rasakan."


Kenapa Savira tak mengatakan langsung apa yang terjadi pada Dirga. Kenapa harus dengan teka-teki yang membuat Kanaya semakin bingung.


Mungkinkah Savira sudah terikat perjanjian dengan Dirga?


Sementara di sisi tembok di kamar yang berbeda Dirga tengah tersedu kala mendengarkan percakapan keduanya. Masih berbalutkan baju koko putih juga sarung hitam dia berdiri dan menempelkan telinganya di dinding.


Dia kembali duduk di atas sajadah hijau bergambar Mekah dengan tangannya masih memeluk Al-Qur'an yang tadi sempat dia baca setelah subuh.


"Maafkan aku, Nay. Aku telah begitu menyakitimu. Aku Ikhlas jika kamu membenci ku, mungkin aku memang pantas mendapatkannya," jatuh lagi air penyesalan Dirga.


"Seberapa lama pun kamu meminta waktu aku akan berikan, aku akan tunggu hingga kamu sendiri yang meminta untuk bertemu denganku. Maafkan aku, Nay. Maaf."

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2