
...****************...
Dirga begitu khawatir, dia terus bertanya pada Kanaya apakah ada yang luka atau tidak setelah tadi di kerjain Zein. Dirga sangat takut kalau sampai Kanaya kenapa-napa.
Di mobil yang masih terus berjalan keduanya terus berbicara. Dirga yang masih merasa khawatir sementara Kanaya malah begitu antusias menunjukkan baju buatannya.
"Nay, kamu beneran tidak apa-apa kan?" tanya Dirga. Sesekali dia menoleh ke arah Kanaya dan kembali lagi fokus ke arah jalan raya karena tak mau terjadi sesuatu pada mereka berdua.
"Tidak apa-apa, Mas. Nih, Mas. Lihat baju buatan ku, bagus nggak?" Kanaya begitu antusias bahkan dia terus melebarkan baju itu dan dia tempel pada tubuhnya sendiri.
"Nay sayang kamu beneran baik-baik saja kan? dia tidak berbuat macam-macam padamu kan?" sekali lagi Dirga menekankan.
"Hadeuh, Mas. Aya kan sudah bilang tidak apa-apa. Tadi kan mas langsung datang sebelum dia berbuat yang macam-macam." Kanaya juga menjelaskan dia benar-benar tidak kenapa-napa.
"Beneran kan?" Dirga kembali menoleh.
"Iya, Mas. Ih, kalau lagi gini bikin gemes deh," cubitan gemas Dirga dapat di pipinya tentu pelakunya adalah Kanaya sang istri.
"Nay, bagaimana kalau kamu pindah saja dari sana. Atau mungkin, biar mas cari guru saja yang bisa ngajarin kamu dan kamu bisa belajar di rumah. Mas khawatir, Nay."
Terlihat jelas ada ketakutan pada Dirga. Semua itu gara-gara Zein. Dirga tidak
ingin Kanaya terus di ganggu oleh Zein apalagi dia begitu terobsesi pada Kanaya dan itu sudah Dirga lihat dengan matanya sendiri.
Dirga tidak meragukan Kanaya dia sangat percaya padanya. Tapi Dirga tidak percaya pada Zein, bisa saja dia akan berbuat nekat saat dia kesal karena selalu di tolak.
Semua orang bisa saja melakukan apapun di luar dugaan jika sudah menyangkut urusan cinta. Apalagi cinta Zein adalah cinta buta dia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya.
Orang yang di kendalikan oleh cinta buta dia akan melakukan apapun yang sesuai dengan apa yang hadir di pikirannya, mereka tidak akan melihat atau mendengar kata hatinya.
Cinta buta akan selalu bertindak di luar nalar. Asalkan dia senang dan bahagia dia akan lakukan. Orang yang sedang seperti itu tidak akan berpikir apakah orang yang di kejar-kejar itu bahagia atau tidak, nerima atau tidak. Karena menurut mereka asal mereka bahagia.
Dan Dirga sangat takut akan hal itu. Takut kalau Zein akan melakukan sesuatu pada Kanaya demi bisa merebutnya dari Dirga.
"Tidak usah, Mas. Aya bisa jaga diri kok. Lagian kan ada mas yang akan selalu jagain Aya."
__ADS_1
"Tapi, Nay. Mas tidak bisa selalu ada untukmu. Kadang mas akan ke kantor dan kamu? tak ada yang bisa jaga kamu selama mas tidak ada, Nay."
"Allah yang akan menjaga Nay, Mas. Juga ada doa mas yang akan selalu menjaga Nay," Kanaya berbicara dengan begitu lembut.
Berusaha untuk bisa membuat Dirga mengerti dan berusaha memastikan bahwa dia akan baik-baik saja. Tapi, seandainya Dirga tetap bersikeras Kanaya bisa apa, dia akan menurut apa yang menjadi katanya.
"Baiklah, untuk kali ini Mas bisa izinkan kamu tetap di sana. Tapi kalah Zein berbuat yang terlalu jauh maka kamu harus nurut apa kata mas," Dirga menegaskan.
"Baiklah, dengan senang hati Nay akan laksanakan," Kanaya memberikan hormat pada Dirga membuat sang suami itu kini tersenyum seraya menggeleng dengan pelan.
...****************...
Kemeja yang sangat pas, buatan Kanaya dan kini baru saja selesai di pakai Dirga. Di depan kaca yang ada di dalam kamar Dirga terus melihat pantulan dirinya.
Dirga terus tersenyum melihat dirinya sendiri, kemejanya sangat indah menurutnya. Tak seperti jahitan tangan yang baru belajar tapi jahitan tangan yang sudah ahli. Ternyata Kanaya begitu mudah mempelajari semuanya.
Dirga semakin semangat untuk terus melakukan apapun yang bisa mengasah kemampuan Kanaya, dengan itu Kanaya akan semakin maju dan kelak akan sukses.
"Bagaimana, Mas. Apakah kekecilan atau kebesaran?" Kanaya masuk dan langsung melihat Dirga yang masih mengagumi buatan Kanaya itu.
"Alhamdulillah, ini sangat pas. Kamu sangat pintar membuatnya," jawab Dirga dia membalik dan menunjukan pada Kanaya dengan sedikit merentangkan tangan.
"Mas beneran mau pakai ini untuk ke rumah umi?" tanya Kanaya.
"Kenapa tidak, mas ingin memamerkan ini sama umi dan abi. Dan mas akan mengatakan kalau mulai sekarang mas tidak butuh beli baju lagi kan udah ada yang buatin."
Di tarik tangan Kanaya setelah Kanaya berdiri tepat di hadapannya Dirga malah berjalan dan memutar lalu berdiri di belakang Kanaya.
"Terima kasih ya, Nay sayang," dipeluknya Kanaya dari belakang menempelkan dagunya di atas bahu Kanaya sebelah kanan.
Kanaya mematung, dia begitu deg-degan saat ini.
"Kenapa?" tanya Dirga dengan posisi yang tetap sama.
"Ti_tidak," Kanaya begitu gugup. Meski sudah biasa mereka selalu dekat tapi ini sangatlah dekat.
__ADS_1
Wajah Kanaya terlihat sangat menggemaskan dimata Dirga memang tak melihat secara langsung tapi terlihat dari pantulan cermin yang ada di hadapan mereka berdua.
"Aku sangat mencintai mu, Sayang,"
"Lihatlah," kalung berlian sudah menggantung di hadapan wajah Kanaya. Sangat indah membuat Kanaya terdiam dengan penuh takjub.
"Sangat cantik bukan?" tanya Dirga.
"I_iya, sa_sangat cantik."
"Apanya yang cantik?"
"Ka_kalungnya," jawab Kanaya masih saja gugup.
"Bukan, tapi kamu yang sangat cantik. Kamu lebih cantik dari apapun, Nay sayang."
Di lepaskan hijab Kanaya dengan sangat pelan kemudian Dirga memakaikan kalung di leher Kanaya.
"Luar biasa, sempurna," di tatapnya dari pantulan cermin melihat kesempurnaan sang kekasih halal dengan kalung berlian di lehernya.
"Hem," tatapan Dirga yang terlihat dari pantulan cermin membuat Kanaya semakin gugup gak karuan kini dia memilih menunduk dan tak melihat pantulan mereka berdua.
Dirga berjalan ke hadapan Kanaya kembali mengambil hijab Kanaya dan memakaikannya.
Perlakuan yang sangat lembut lagi dan lagi Dirga berikan, bagaimana mungkin cinta Kanaya tidak akan hadir begitu saja.
"Ini lebih sempurna. Istri sholehah ku," kecantikan dengan harta benda memang akan terlihat sangat indah di semua mata yang melihat, tapi tidak! kecantikan Kanaya lebih indah dengan hijab yang menutupi seluruh kecantikan tubuhnya.
Dan sempurnalah Kanaya di hadapan Dirga, dengan balutan gamis berwarna biru juga hijabnya yang baru saja di pakaikan.
"Semoga Allah selalu menjaga istri ku dan selalu membuatnya bahagia," harapan terbesar Dirga.
"Selalu mewujudkan apa yang menjadi impiannya dan menjadikan wanita yang sukses dalam semua hal. Amin," imbuhnya.
"Amin..." Kanaya pun juga mengamini apa yang menjadi harapan Dirga.
__ADS_1
...****************...
Bersambung.....