
...****************...
Kemarahan Dirga begitu besar kala dia melihat istrinya yang terus menjerit meminta di ampuni dan minta untuk tidak di sentuh. Tangan Dirga sudah mengepal sangat kuat dan siap menghantam kedua orang yang kini masih berusia untuk membuka hijab yang Kanaya pakai. Bahkan dengan tak ada rasa kemanusiaan sama sekali mereka terlihat senang dan terus tertawa tiada henti.
Bukan hanya sendiri Dirga datang ke sana ada beberapa orang laki-laki yang juga datang dengan masing-masing membawa balok kayu, hanya Dirga saja yang bertangan kosong.
Kosong tak berarti tak bisa mengalahkan, karena kini otot-otot Dirga seakan berkembang mencuat keluar dan siap menghancurkan orang yang telah membuat istrinya ketakutan bahkan menangis, apalagi mereka ingin menyentuh istrinya. Tidak akan dia biarkan begitu saja.
Dengan mata melotot tajam seolah ingin keluar, langkah kaki yang begitu secepat kilat Dirga langsung menghampiri kedua orang itu, menarik salah satu dari mereka dengan tangan yang begitu kuat itu dan menghantam wajahnya dengan cukup kuat hingga membuatnya langsung tersungkur.
"Kalian pikir bisa menyentuh istri saya, hah! langkahi dulu mayat saya!" ucap Dirga yang begitu membabi buta.
Yang satu sudah tersungkur dan Dirga menarik yang satunya dan memberikan berkali-kali pukulan kepadanya dan berhasil terus melangkah mundur. Tetapi Dirga tak membiarkan begitu saja, dia terus memukul dan mengejar orang itu hingga benar-benar terjatuh.
Itulah kekuatan yang akan muncul di setiap seolah laki-laki. Selemah apapun di mata dunia tetapi ketika ada orang yang menyakiti orang tercintanya dia akan menjelma menjadi orang paling kuat.
"Beraninya kamu memukuli kami, rasakan ini!" kedua orang itu mendekat dengan bersamaan, berniat untuk memberikan pelajaran untuk Dirga yang telah berani memukuli mereka dan mengganggu kesenangan mereka.
Tapi tak mudah mengalahkan Dirga yang memang di tuntut untuk bisa memiliki ilmu bela diri semenjak dia remaja. Kata sang guru, laki-laki itu harus punya kemampuan bela diri. Tapi bukan berarti untuk menggunakan dengan semena-mena melainkan untuk melindungi diri dan juga keluarga. Apalagi Dirga adalah seorang pengusaha.
Pertarungan sengit terjadi antara Dirga dan dua orang itu. Tak lama pertarungan berlangsung karena kedua orang itu kembali terjengkang setelah mendapatkan tendangan dari Dirga. Dan jatuhnya mereka tepat berada di depan para pria yang tadi datang bersama Dirga.
Sebenarnya mereka ingin membantu Dirga, tapi Dirga tak mengizinkan karena dia ingin puas menghajar kedua orang itu.
Keduanya langsung di tangkap dan di ikat kedua tangan ke belakang dengan menggunakan tambang.
"ini nih yang selalu meresahkan masyarakat Selalu saja membuat masalah dan melakukan kejahatan sesuka hatinya. Lebih baik kita bawa mereka ke kantor polisi," ucap salah satu dari para pria itu setelah benar-benar memastikan kedua orang itu tak bisa bergerak lagi.
Begitu geram mereka semua melihat kedua pria itu, ingin rasanya mereka juga menghakimi dan menggunakan tangan atau balok yang mereka bawa untuk membalas perbuatan mereka, tapi salah satu di antara mereka mencegahnya dan tak mengizinkan ada menghukum dengan brutal. Biarkan hukuman untuk keduanya menjadi urusan polisi.
"Bawa mereka," salah satu memberikan instruksi dan menarik paksa keduanya yang sudah tak berdaya itu untuk berdiri. Keduanya di bawa pergi oleh para pria-pria itu dan hendak di serahkan di kantor polisi.
Sementara Dirga sudah berlari menghampiri istrinya yang masih ketakutan. Dia duduk dengan memeluk kedua kakinya dan menahan erat hijabnya. Wajahnya dia sembunyikan di dalam kakinya.
__ADS_1
Begitu sedih Dirga melihatnya, dia menyesal karena terlambat menjemput hanya karena ada meeting mendadak.
dipungutnya satu persatu sepatu Kanaya lalu Dirga berjongkok di sampingnya.
"Nay Sayang. Nay," tangan Dirga mencoba meraih Kanaya. Tubuh gemetar Kanaya juga isak tangisnya membuat Dirga ikut merasakan sakitnya.
"Jangan sentuh saya, jangan sentuh saya!" teriak Kanaya dengan histeris. Jelas dia takut, dia trauma karena perlakuan kedua pria tak punya hati tadi.
"Nay sayang, ini aku, Dirga suamimu," ucap Dirga memberitahu.
Tapi ucapan Dirga seolah tak dapat di dengar oleh Kanaya. Suara yang terus terngiang-ngiang adalah suara tawa penuh n*fsu dari kedua orang tadi.
"Jangan sentuh saya, jangan sentuh saya!" hanya kata-kata itu yang terus terlontar dari bibir Kanaya.
Tak tega melihat Kanaya yang seperti itu Dirga langsung merengkuh dengan paksa karena kalau tidak Kanaya selalu menolak tangan Dirga saat menyentuhnya.
"Jangan sentuh saya, hiks hiks hiks..." tangisan Kanaya kembali pecah.
"Tenang, sekarang kamu aman. Ini mas, Nay. Suami mu." di dekapnya dengan sangat erat dan membuat Kanaya tak bisa lagi berontak.
Kanaya masih terus menangis sementara Dirga, dia juga sudah duduk begitu saja di atas tanah dan mendekap Kanaya dalam posisi yang paling nyaman.
Hingga akhirnya, perlahan Kanaya mulai tenang dan sadar kalau suaminya lah yang sekarang bersamanya dan terus memeluknya.
"Mas, Nay takut," ucapnya dan kembali terisak.
"Cup-cup, jangan takut. Kamu aman sekarang ada mas di sini yang akan selalu menjaga kamu. Maafkan mas ya. Mas gagal, mas hampir saja terlambat hari ini menjaga kamu." sesal Dirga.
Kanaya masih sangat syok dan tak banyak bicara, dia juga masih sesekali sesenggukan.
"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Dirga dan Kanaya hanya mengangguk.
"Mau jalan sendiri atau gendong?" tanya Dirga tapi Kanaya tak menjawab lagi.
__ADS_1
Dirga mengambil tas Kanaya dan mengalungkannya pada lehernya sendiri, dia lalu berjongkok di hadapan Kanaya.
"Naik," pinta Dirga. Meminta Kanaya naik ke atas punggungnya.
"Ta_tapi?" Kanaya ragu, dia takut kalau dia berat dan Dirga akan keberatan nantinya.
"Kalau tidak mau di belakang berarti gendong di depan, bagaimana? mau yang mana, depan atau belakang?" Dirga menoleh ke belakang.
Terlihat Kanaya sedikit berpikir tapi itu tak lama karena dia langsung berdiri dan naik di punggung Dirga. Sebelum Dirga benar-benar berdiri dia juga menyempatkan diri mengambil kedua sepatu Kanaya dan membawanya juga.
"Nay, kamu benar-benar tidak apa-apa kan?" Dirga sembari berjalan.
Kanaya sudah mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirga dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Dirga posisi itu begitu membuat dia merasa sangat nyaman dan merasa aman.
"Alhamdulillah, Allah selalu melindungi, Nay. Doa mas juga selalu di kabulkan oleh Allah," jawab Kanaya.
Suara Kanaya masih terdengar parau, bahkan sesekali juga masih sesenggukan.
"Alhamdulillah," lega rasa hati Dirga. Alhamdulillah Allah masih melindungi kehormatan istrinya dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Sejenak keduanya hening, kaki Dirga terus melangkah menuju jalan raya. Dirga sangat yakin, pak Danu akan segera menjemputnya setelah dia mengantarkan Zein ke rumah sakit.
"Astaghfirullah hal 'azim, Mas! tadi mas Zein terluka apakah dia baik-baik saja?" ternyata Kanaya ingat juga dengan Zein meski Dirga belum mengatakannya.
"Pak Danu sudah membawanya ke rumah sakit. Kita pulang dulu kalau kamu benar-benar sudah tenang baru kita menjenguknya," jawab Dirga.
Keduanya terus bicara, Kanaya juga terus menceritakan kejadian demi kejadian hingga dia sampai di tempat dimana Dirga menemukannya.
Ada sedikit rasa panas di hati karena Zein masih saja mengganggu Kanaya, tapi ada rasa terimakasih karena ada Zein hingga dia bisa menemukan Kanaya, juga ada rasa bersalah karena dia telat datang dan membuat Zein seperti sekarang ini dan Kanaya harus mendapatkan perlakuan tidak baik.
'Maafkan mas, Nay. Mas akan selalu berusaha untuk selalu ada untukmu mulai sekarang. Tak akan mas biarkan ini terjadi lagi. Cukup sekali, tidak lagi,' batin Dirga.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....