Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Positif


__ADS_3

**********


Kanaya begitu tak sabar menunggu hasil dari testpack yang ada di ditangannya. Dia juga menutup mata dan sesekali mengintip dan berharap akan ada garis dua di sana.


Rasanya sangat tidak tenang dia terus berharap dan semoga penantian ini akan berakhir dan bisa mendapatkan hasil positif.


"Ayo ayo," ucapnya begitu tak sabar.


Perlahan matanya terbuka hingga akhirnya senyum itu mengembang begitu indah di bibirnya. Dia garis itu tercetak jelas di testpack yang ada di tangannya.


Satu tangan terangkat dan menutup mulutnya yang tiba-tiba menganga karena saking bahagianya. Ingin dia berteriak karena kegirangan tapi nyatanya itu tak dia lakukan karena dia hanya bisa tertawa namun tertahan, tak ada suaranya.


Begitu bersyukur Kanaya saat ini mendapat hasil yang sangat luar biasa yang akan menghadirkan kebahagiaan di tengah-tengah rumah tangganya. Sebentar lagi rumah tangganya akan sempurna, kebahagiaannya juga semakin sempurna dengan kehadiran buah hati yang sudah di tunggu-tunggu sejak lama.


Kanaya menyentuh perutnya yang masih rata, dia tersenyum tapi air matanya mengalirkan air mata. Ini adalah air mata kebahagiaan.


"Selamat datang sayang. Baik-baik ya di dalam, sehat selalu ya sampai kita benar-benar bisa berjumpa di dunia yang sama," Gumamnya.


Perasaannya begitu campur aduk sekarang. Bahagia, haru dan juga gak percaya karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Kodrat sebagai wanita akan sempurna dengan menghadirkan buah hatinya ke dunia.


Perlahan Kanaya keluar dari kamar mandi membawa hasil testpack yang ingin dia perlihatkan kepada Dirga. Suaminya itu pasti akan sangat senang setelah mengetahui bahwa dia akan menjadi seorang ayah.


Kanaya menoleh kemana-mana tapi gak dapat menemukan Dirga, entah di mana suaminya saat ini tapi Kanaya yang sudah sangat tidak sabar dia keluar kamar karena harus mengatakan kepada suaminya saat ini juga.


"Mas Dirga kemana? Dia tidak mungkin sudah berangkat kerja kan? Ini masih sangat pagi, lagian mas Dirga juga tidak mungkin pergi tanpa pamit padaku."


Kaki Kanaya terus melangkah, berkeliling ke semua ruangan hingga akhirnya dia berhenti di ruang kerja Dirga yang sedikit terbuka. Kanaya sangat yakin kalau suaminya pasti ada di sana.


"Assalamu'alaikum, Mas." Sapa Kanaya tapi tak ada jawaban dari Dirga padahal Kanaya melihat jelas kalau Dirga ada di sana dan tengah berdiri mengarah ke rak buku dengan memunggungi pintu.


Tak sabar menunggu jawaban Kanaya langsung masuk, dia langsung memeluk Dirga dan berhasil mengejutkannya.


"Eh, ada apa nih. Kok masuk-masuk langsung peluk. Kenapa nggak ucap salam?"


Dirga menutup buku dia menoleh ke belakang dan melihat Kanaya yang sudah memeluknya.


"Mas, mas harus memberikan Naya yang besar." ucapnya.


"Hem, hadiah? Hadiah untuk apa bukannya ulang tahun mu masih lama?" Dirga menaruh buku yang di baca di dalam rak dan membalikkan tubuhnya membuat pelukan Kanaya terlepas.


"Ya, pokoknya harus." Kanaya bertingkah seperti anak kecil yang begitu imut di hadapan Dirga, kedua tangannya di gendong di belakang dengan tubuh yang bergerak kanan kiri.


"Sini, katakan pada Mas sebenarnya ada apa. Kamu tidak biasanya minta hadiah begini. Kalau mas tau alasannya mas akan berikan apapun yang kamu mau."


Di tarik tangan Kanaya di ajak untuk duduk di sofa lalu Kanaya di minta duduk di pangkuannya.


"Sekarang katakan pada, Mas. Sebenarnya ada apa."

__ADS_1


Dirga juga sudah tak sabar ingin menunggu cerita dari Kanaya, entah apa yang membuat dia meminta hadiah dan juga terlihat begitu bahagia seperti saat ini.


"Hemm... Kasih tau nggak ya?" Kanaya pura-pura berpikir seolah enggan untuk bercerita kepada Dirga.


"Kalau nggak di kasih tau berarti hadiahnya nggak di kasih," Jawab Dirga.


Begitu manis perlakuan Dirga, dia memperlakukan Kanaya seperti anak kecil, seperti anaknya yang duduk di pangkuannya dan terus di elus puncak kepalanya penuh dengan kasih sayang.


"Hem, mas tutup mata dulu," Pinta Kanaya.


Bukannya menutup mata Dirga malah membulatkan matanya.


"Tutup mata, Mas," Protes Kanaya.


"Emangnya harus?" Dirga mengernyit. Dia sangat penasaran kenapa harus tutup mata juga.


"Harus dong, sekarang tutup mata atau tidak di kasih tau."


"Iya deh, mas tutup mata nih ya," Segera Dirga menutup mata dengan begitu kuat.


"Jangan ngintip ya sebelum Naya bilang buka."


"Iya sayang ku," Dirga benar-benar mengikuti apa yang di inginkan oleh Kanaya. Menutup mata dengan erat dan tak mengintip sama sekali.


Kanaya tersenyum, perlahan tangannya mengambil testpack yang ada di saku. Tangannya mengangkat tangan Dirga dan menaruh di atas telapak tangannya.


"Beneran sudah boleh buka?"


"He'em, buka sekarang," Kanaya begitu tak sabar ingin melihat ekspresi wajah Dirga ketika mengetahui kalau dia akan menjadi seorang ayah sebentar lagi.


"Mas suka dengan hadiah Naya?" Tanyanya.


Dirga melihat telapak tangannya terdapat testpack bergaris dua.


Mata Dirga memicing dia belum tau apa maksud dari benda itu, dia mengambilnya dan menoleh ke arah Kanaya untuk meminta penjelasan.


"Ini maksudnya apa?" Tanya Dirga.


Benarkah Dirga tidak tau dengan benda tersebut?


"Hem," Kanaya tersenyum membuat Dirga semakin tambah penasaran.


Tangan Kanaya meraih satu tangan Dirga dan dia letakan di perutnya yang masih ramping.


"Assalamu'alaikum, Abi.." Kanaya tersenyum semakin lebar.


"Wa_wa'alaikum_salam," Jawaban Dirga tergagap, matanya membulat begitu tak percaya.

__ADS_1


"Ka_kamu hamil?" Mata Dirga seketika berkaca-kaca. Dia juga masih terus tercengang seolah tak mampu untuk terus berkata-kata.


Hatinya semakin tak karuan ketika Kanaya menjelaskannya dengan dia mengangguk.


"Iya, selamat untuk mu, Mas. Sebentar lagi mas akan jadi Abi," Ucap Kanaya lagi.


Air mata kebahagiaan juga lolos dari mata Dirga dia sangat bahagia namun juga sama dengan campur aduk dengan perasaan yang lain.


Dirga membungkuk berhenti tepat di depan perut Kanaya.


"Assalamu'alaikum, Baby. Te_terima kasih sudah hadir di tengah-tengah abi dan umi. Sehat-sehat selalu ya di dalam, jangan bikin umi capek ya, harus jadi anak baik," Ucap Dirga.


Kecupan untuk pertama kali di perut Kanaya Dirga berikan kemudian kembali duduk tegak dan melihat wajah Kanaya.


Alhamdulillah, penantian mereka berdua telah berakhir mereka akan lebih lengkap sekarang dengan kehadiran buah hati.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih," Diapitnya wajah Kanaya di hujani kecupan yang begitu banyak hingga yang terakhir Dirga langsung memeluk Kanaya.


Hadiah yang Kanaya berikan tentu begitu besar bahkan jika Kanaya minta apapun tak akan bisa menandinginya. Kebahagiaan ini benar-benar sangat besar dan juga tak akan bisa tertandingi oleh hadiah apapun.


"Mas, Naya nggak bisa nafas," ucap Kanaya.


Cepat Dirga melepaskan saking bahagianya dia sampai lupa dan terlalu erat memeluk Kanaya.


"Maaf maaf," Perasaan Dirga masih tak karuan. Dia begitu syok tapi dalam hal kebaikan.


Ingin Dirga bicara meluapkan semua yang ada di dalam hatinya mengatakan semuanya tapi rasanya sangat susah, dia begitu terlena dalam kebahagiaan hingga dia menjadi tak mampu untuk berkata-kata apapun lagi.


"Apa mas sangat senang dengan hadiah Naya?"


"Tentu, mas sangat sangat bahagia," Jawabnya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah hadir di kehidupan mas, dan terima kasih telah menyempurnakan kebahagiaan mas. Terima kasih."


"Nay yang berterima kasih."


Mata Dirga terpejam kepalanya kembali merasa pusing.


"Mas, mas kenapa?"


"Tidak, mas tidak apa-apa," Kembali Dirga membuka mata dan bertingkah biasa-biasa saja supaya Kanaya tidak panik karena dia mengalami pusing.


"Oh," Kanaya kembali tersenyum, dia sangat bahagia dengan hasil ini.


***"**"***


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2