
****************
Larut malam Dirga sampai rumah. Rumah sudah terlihat sangat sepi dan lampu-lampu utama sudah di matikan itu pertanda kalau sang penghuni sudah terlelap di alam mimpi.
Dirga tidak berniat membangunkan Kanaya karena dia tau istrinya pasti sangat lelah dengan kegiatannya hari ini. Untung saja Dirga selalu membawa kunci cadangan jadi dia bisa masuk tanpa harus meminta di bukakan oleh orang lain dari dalam.
Perlahan dia masuk. Sangat pelan bahkan langkahnya pun seolah tak mempunyai suara.
Dirga ragu untuk menuju kamarnya karena dia percaya saat ini pasti Kanaya tidur bersama Muna. Tapi dia ingin sekali melihat wajah istrinya dia sangat rindu.
Tangannya perlahan membuka pintu kamar tapi belum juga tersentuh pintu sudah terbuka dari dalam. Tidak Dirga, tidak orang yang keluar dari kamar sama-sama terkejut.
Dia adalah Muna yang keluar karena merasa haus dan ingin mengambil minum. Tidak dia sangka kalau akan bertemu Dirga.
"Mas," Muna menoleh ke arah Kanaya yang tertidur pulas.
"Tidak usah bangunkan, dia pasti lelah. Hem, kamu tidur di kamar sebelah nggak apa-apa kan?" tanya Dirga.
Muna tersenyum jangankan di minta tidak di minta pun Muna akan memilih menyingkir dari pasangan yang ingin temu rindu. Nggak ingin jadi menghalang pasangan yang ingin memadu masih kan?
"Tenang, Mas. Jangankan tidur di sebelah tidur di ruang tamu juga oke," Mata Muna mengerling nakal. Ada-ada saja nih sepupu satu.
"Tidak usah di ruang tengah tuh ada dua kamar nganggur kamu bisa pilih terserah kamu."
"Aku pilih yang lebih jauh saja deh, takut nggak kuat dengerin kalian berdua."
"Dengerin apa maksudmu?"
"Dengerin ngobrol lah, Mas. Emang mau ngapain lagi? apa mau gas pol karena libur hampir satu minggu?" Muna terkekeh.
"Mun," sungguh geram rasa hati Dirga melihat itu Muna juga malah semakin terkekeh dan kabur begitu saja.
"Pesan satu yang cewek ya, Mas!" teriaknya.
__ADS_1
'Hufff,' hembusan nafas Dirga terasa begitu berat semua itu gara-gara perilaku sepupunya itu. Mudah sekali mengatakan pesan cewek emang pesan anak sama seperti pesan rujak!
Perlahan Dirga masuk, menutup pintu dengan pelan juga. Menaruh barang-barang di atas sofa dan setelahnya mendekati Kanaya yang begitu pulas.
Dirga terduduk di sebelah Kanaya, melihat betapa damainya dia tidur. Rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya dia singkirkan dan kini benar-benar terlihat wajah ayu Kanaya yang beberapa hari ini dia rindukan.
Tak ada kata-kata yang keluar yang ada hanya sebuah kecupan lembut penuh kasih di kening Kanaya sebelum Dirga beranjak untuk bersih-bersih dan mengganti bajunya dengan yang lebih nyaman untuk tidur.
Alhamdulillah, akhirnya tidak sampai satu minggu dia bisa melihat istrinya lagi. Begitu bahagianya Dirga.
Tak butuh waktu lama untuk Dirga bersih-bersih di kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan kaus rumahan juga melilitkan sarung.
Cepat dia menyusul istrinya, dia merebahkan tubuhnya di sebelah Kanaya. Menarik kepala Kanaya dan mengganti tangannya sebagai bantal. Satu tangannya juga langsung memeluk Kanaya yang tetap bergeming. Sama sekali tak ada respon apapun mungkin Kanaya memang sangat lelah.
Dikecupnya kening Kanaya berkali-kali, menyalurkan kerinduan yang sangat mendalam di dalam hatinya.
'Benarkah cintaku ini egois?' batin Dirga kembali mengingat akan kata-kata Yuan yang mengatakan kalau cintanya egois.
'Maafkan aku jika benar ini cinta yang egois, Nay. Tapi aku janji, tidak akan ada keegoisan untuk selalu membahagiakan mu. Tak akan setengah-setengah untuk ku berjuang untuk kebahagiaan mu. Itulah janji ku,' imbuhnya membatin.
'Sabar, Ga. Sabar.' batinnya lagi.
Hingga akhirnya memilih untuk secepatnya memejamkan mata daripada nanti akan kehilangan kendali.
****************
Suara alarm membangunkan Kanaya di jam tiga pagi. Selama Dirga pergi dia memang selalu bangun di jam segitu. Jelas untuk melaksanakan shalat sunnah, mengaji sebentar lalu beres-beres kamar sembari menunggu subuh datang. Dan setelah subuh baru dia keluar dan mengerjakan yang lainnya.
Perlahan matanya terbuka, terasa ada sesuatu yang berat yang berada di atas perutnya. Apakah ini tangan Muna? pikir Kanaya yang langsung menjurus ke Muna.
Jelas Kanaya langsung berpikir seperti itu, itu karena mereka berdua tidur bersamaan semalam. Kalau bukan Muna lalu siapa lagi?
Di sentuh tangan itu, perlahan ingin menyingkirkan karena Kanaya ingin bangun.
__ADS_1
"Kok tangan Muna lebih besar?" ucapnya bingung.
Cepat Kanaya membuka matanya menyadarkan diri hingga benar-benar sadar.
Pandangannya masih tak jelas karena dia yang baru bangun tidur juga dengan pencahayaan yang kurang. Tangannya langsung menyalakan lampu utama dan akhirnya terlihat jelas siapa yang ada di sebelahnya dengan tangan yang memeluknya.
"Mas Dirga? aku nggak salah lihat?" tangannya terangkat lalu mengucek matanya berulang. Dia buka lagi matanya dan jelas itu memang suaminya.
"Ini beneran Mas Dirga?" Kanaya masih memastikan padahal dia sudah jelas melihat itu adalah suaminya.
"Ada apa, Nay? apakah kamu lupa wajah suamimu, Hem?" ternyata Dirga sudah bangun sedari tadi dia hanya ingin menunggu reaksi Kanaya saja saat melihatnya.
"Ka_kapan Mas pulang?" tiba-tiba saja Kanaya menjadi gugup karena keberadaan Dirga. Tidak bertemu hampir satu minggu membuatnya kembali gugup lagi seperti dulu.
"Kenapa tidak bangunin Aya?" imbuhnya.
"Bagaimana mungkin mas tega membangunkan kamu yang terlihat sangat lalap dalam tidur mu, Naya sayang."
Bukannya melepaskan pelukannya tapi Dirga malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Kanaya hingga benar-benar menempel.
Kanaya melongo. Semakin bertambah gugup Kanaya saat berada dalam jarak semakin dekat dengan Dirga. Apalagi ini dengan jelas bagaimana keadaan Kanaya yang tak memakai hijab.
Meski sudah menikah tapi Kanaya memang lebih sering memakai hijab dan sangat jarang Dirga bisa melihat kecantikan istrinya yang sebenarnya.
Di tambah dengan pakaian Kanaya yang hanya memakai daster lengan pendek saja membuat Kanaya merinding saat Dirga menyentuhnya.
Terkadang ingatan akan hari itu masih saja datang, ketakutan acapkali selalu menghantuinya saat berdekatan dengan Dirga. Padahal dia sendiri yang selalu mengatakan akan berusaha untuk bisa bertahan.
Semakin gugup saat tiba-tiba saja Dirga menempelkan bibirnya di bibir Kanaya. Dia terdiam tanpa kata dengan mata membulat dengan jantung yang terus berdetak dengan kuat.
"Hem, aku sangat merindukan mu, Nay," di peluknya semakin erat seolah tak mau melepaskan. Jelas Dirga tidak mau melepaskan, dia benar-benar takut kehilangan.
'Mas Dirga kenapa?' batin Kanaya bingung.
__ADS_1
****************
Bersambung....