Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
LDR


__ADS_3

'Sepi. Itulah hariku tanpa kehadiran mu. Semua terasa hambar, tak ada rasa juga tak ada warna. Cepatlah kembali, Mas. Aku merindukan setiap detik kebersamaan kita.'


#Kanaya Setya Ningrum


...****************...


Kanaya menata semua baju-baju miliknya juga punya Dirga setelah dia gosok sebelumnya. Dia terlihat loyo karena kini dia sangat kesepian.


Ya! tadi pagi-pagi sekali Dirga berangkat ke Jepara untuk pekerjaan dan dia kini hanya di rumah sendiri karena Muna juga belum datang. Tentu dia masih ada kuliah.


Sementara Kanaya sendiri, dia sudah pulang kursus dari tadi dan kini tengah selesai beres-beres pakaiannya dan tinggal memasukkan di lemari.


Perlahan Kanaya beranjak, dia mengambil pakaian Dirga dan berniat untuk menaruhnya di lemari, selesai dengan kepunyaan Dirga dia kembali dan mengambil punyanya sendiri.


Pekerjaan yang tidak terlalu banyak nyatanya tetap membuat seorang Kanaya merasa lelah, mungkin karena dia kesepian jadi dia tak semangat sama sekali.


Ting...


Terdengar notif pesan masuk di ponsel Kanaya yang tertidur manis di atas ranjang, baru saja Kanaya ingin mengangkat hijab-hijab yang sudah di lipat kini dia urung dan kembali duduk.


Tangannya cepat mengambil ponsel dan segera membuka pesan yang tadinya tidak tau entah pesan dari siapa. Tapi setelah melihat nama yang tertera Kanaya tersenyum sumringah.


"Mas Dirga kirim pesan?" tanyanya pada diri sendiri. Tapi hatinya sangat berbunga-bunga.


Benarkah sudah ada cinta di hati Kanaya untuk Dirga hingga dia begitu bahagia hanya karena sebuah pesan saja? mungkin.


Terlihat sebuah foto Dirga yang tengah menenteng tasnya dengan pakaian lengkap ala pengusaha muda yang dengan setelan jas berwarna krem juga dasi berwarna cokelat.


"Tampan," pujinya tanpa sadar. Melihat wajah Dirga yang terlihat sempurna di layar belakang sebuah menara yang menjulang tinggi.


"Assalamu'alaikum,Nay. Sekarang Mas sedang berada di alun-alun Jepara. Sebentar lagi mau otewe ke tempat pertemuan dengan klien. Doakan mas semoga lancar," kata Kanaya membaca pesan dari Dirga.


Alun-alun yang terlihat ramai meski bukan hari libur. Bahkan terlihat banyak sekali anak-anak yang juga ikut masuk ke dalam foto Dirga.


"[Wa'alaikumsalam, Mas. Amin, semoga semua pekerjaan mas di lancarkan dan bisa cepat selesai. Cepat pulang, Mas,]"


Kanaya langsung membalas pesan dari Dirga dengan tangan mengetik beberapa kata bibirnya terus tersenyum. Kenapa sekarang Kanaya jadi seperti orang yang kehilangan kewarasan seperti ini?


Apakah ini yang dinamakan dengan cinta yang sudah mulai bersemi?


"Pasti, Mas akan segera pulang. Tunggu Mas ya," Kanaya kembali membaca sesuatu dia langsung mendapatkan jawaban dari Dirga sepertinya Dirga benar-benar tengah menunggu.


"[He'em,]"


Kanaya menjadi malu sendiri, dia memeluk hijab yang ada di pangkuannya dan langsung ambruk begitu saja di kasur. Perlahan dia guling-guling, dia bahagia tapi juga malu. Yakin, bahwa sekarang pipi Kanaya sudah begitu merona.


Ting...

__ADS_1


"Kok singkat banget balasnya. Nggak mau tanya kangen atau nggak, begitu?"


Mata Kanaya membulat begitu juga dengan mulut yang menganga lebar. Bisa-bisanya Dirga malah ngegombal seperti ini. Pastilah Kanaya akan mendapatkan cubitan gemas jika sekarang ini tengah berhadapan dengan Dirga, tapi tidak! Dirga tidak tau apa yang tengah terjadi padanya.


Kanaya malu dan membuat dia tak membalas pesan dari Dirga. Lagian dia sangat bingung mau menjawab apa.


Kanaya mengambil bantal dan dia gunakan untuk menutupi wajahnya sendiri yang terasa sangat panas. Sungguh, Dirga sangat pintar menerbangkan kebahagiaan Kanaya sampai ke tingkat paling tinggi.


Ting...


Kembali pesan itu datang dan tetap saja dari Dirga.


"Kok nggak di bales, kamu nggak pingsan kan?"


Kanaya hanya membaca saja karena dia juga bingung mau menjawab apa. Jantungnya sudah berdebar tidak karuan hanya karena sebuah pesan.


Yakin, di jauh sana Dirga pasti tengah tersenyum karena menebak-nebak apa yang kini tengah Kanaya lakukan. Kanaya pasti sangat malu dengan terus tersenyum dan pipi merona dan itu adalah benar.


...****************...


Malam semakin larut tapi Kanaya tak bisa tidur. Sementara Muna? Muna sudah tidur pulas di sebelahnya setelah tadi menghabiskan cemilan yang Kanaya buat. Mungkin dia terlalu kekenyangan jadi ya begitu akhirnya.


"Astaghfirullah, kenapa aku tidak bisa tidur begini?" gumamnya. Kanaya beranjak dia berdiri dari tempat tidur nya lalu mengambil ponsel.


"Tidak ada pesan?" wajah langsung muram karena tak mendapati satu pun chat dari Dirga. Entah sedang apa suaminya sekarang tapi Kanaya sangat gelisah. Entah sebuah rasa gelisah atau rasa Rindu Kanaya masih belum bisa membedakan rasa itu.


Kanaya keluar dari kamar dengan membawa ponselnya siapa tau nanti Dirga akan menghubunginya meski dia sendiri tidak yakin karena waktu sudah sangat malam.


Kanaya beralih duduk di ruang tengah, sengaja dia tidak menyalakan lampu utama dan hanya lampu kecil-kecil saja yang berwarna kuning.


Diseruput nya cokelat hangat buatan sendiri, dari awal membuat Kanaya langsung menyukainya dan itu adalah resep pertama yang Dirga ajarkan. Entah apalagi yang suaminya itu bisa.


Berkali-kali Kanaya melihat ponsel membuka aplikasi berwarna hijau untuk melihat ada pesan atau tidak. Dia benar-benar menginginkan ada pesan datang meski hanya menanyakan sebuah kabar.


Kanaya hanya ingin, tapi dia malu jika harus mendahului mengirim pesan. Kanaya sangat malu untuk itu.


"Mas Dirga pasti sudah tidur. Biasanya jam segini kan sudah tidur," gumamnya. Satu tangan memegangi cangkir sementara satunya memegangi ponsel.


Kanaya yang sedikit kecewa karena tidak ada pesan apapun dia hendak meletakkan ponsel di sebelahnya tapi belum juga sampai ponselnya kembali menyala dan berdering.


Kring... kring...


Cepat Kanaya mengangkat lagi. Dan tertera nama suaminya di sana dengan dengan sebutan 'Imam_ku' dan ada foto dirinya juga Dirga saat bersama.


Ternyata Dirga menjadikan foto mereka sebagai profilnya. Kanaya tersenyum setelah melihatnya tentu dia juga cepat-cepat membuka karena itu adalah panggilan yang dia tunggu-tunggu.


"Assalamu'alaikum, Mas." sapa Kanaya.

__ADS_1


"[Wa'alaikumsalam, Nay sayang. Sudah malam kok belum tidur?]"


"Tidak bisa tidur," jawab Kanaya cepat.


"[Video call ya,]"


Belum juga Kanaya menjawab di layarnya sudah ada permintaan pengalihan untuk video call sepertinya Dirga benar-benar menginginkannya.


"[Loh, kok gelap-gelapan?]"


Jelas Dirga tanya seperti itu karena hanya lampu kecil saja yang menyala dan itu membuat wajah Kanaya tidak jelas di matanya.


"Hehe," Kanaya meringis lalu dia berjalan untuk menyalakan lampu utama. Jelas sekarang terlihat dengan jelas bagaimana wajah Kanaya.


Kanaya kembali duduk dia tersenyum tanpa kata membuat Dirga di buat bingung. Atau mungkin istrinya itu tengah malu?


"[Sudah malam kok belum tidur, tidur gih! besok kesiangan loh.]"


"Belum ngantuk, Mas."


"[Kenapa?]" jelas Dirga heran karena Kanaya tidak biasa seperti ini. Atau mungkin ini terjadi karena tidak adanya Dirga, mungkin?


"Nggak tau," kedua bahu Kanaya juga ikut terangkat seiring dengan jawaban singkatnya.


Keduanya terus mengobrol sampai tidak sadar Kanaya sudah mengganti posisinya dengan tidur miring di sofa dan meletakkan ponselnya di meja. Dengan seperti itu dia tidak perlu memeganginya.


"[Tidur ya,]" suruh Dirga tapi Kanaya menggeleng padahal sudah jelas kalau matanya sudah memerah.


"[Mau dengerin mas ngaji?]" tanya Dirga dan Kanaya mengangguk. "[Sebentar.]"


Sejenak tak ada suara apapun bahkan Dirga juga tidak terlihat. Dimana dia?


Tak lama Dirga kembali dan sudah rapi dengan baju koko dengan wajah juga rambut yang basah mungkin dia tidak terlihat karena tengah mengambil wudhu dan mengganti baju.


Kanaya terdiam dengan mata yang menatap kagum pada Dirga, suaminya itu terlihat tampan dan wajahnya nampak bersinar karena basah dan terkena pantulan sinar lampu.


"[Kenapa, apakah mas terlihat aneh?] tanya Dirga dan Kanaya menggeleng. Dia juga langsung tersadar dari rasa kagum akan suaminya.


Ternyata sesepi ini jika Dirga pergi, ternyata semuanya menjadi tidak enak dan terus saja gelisah. Apakah benar sudah ada cinta atau hanya rasa khawatir saja dari seorang istri? Kanaya masih belum tau kebenarannya.


Perlahan Dirga mulai melantunkan ayat demi ayat surat Al-Baqarah. Kanaya terus mendengar dengan begitu menikmati dan meresapi. Hatinya sangat tenang dan begitu damai hingga akhirnya perlahan rasa kantuk semakin besar dan mata juga perlahan terpejam.


Dirga tersadar karena tak mendengar suara kehidupan di seberang, dia melihat Kanaya dan ternyata sudah pulas.


"[Astaghfirullah, Nay. Kenapa malah tidur di ruang tamu. Kamu pasti akan kedinginan di sana.]"


Jelas tak ada jawaban apapun lagi karena Kanaya sudah benar-benar tertidur dengan sangat pulas.

__ADS_1


...****************...


Bersambung.....


__ADS_2