
...****************...
Alhamdulillah, Dirga juga Kanaya ucapkan setelah akhirnya mereka bisa sampai di rumah mereka. Di Semarang. Setelah melalui perjalanan yang melelahkan alhamdulillah mereka sampai dan kini sudah sangat malam karena mereka juga mampir ke beberapa tempat wisata untuk menghabiskan waktu berdua.
Kepulangan mereka tentu di sambut baik oleh Muna yang langsung keluar setelah mendengar suara mobil masuk ke tempat parkir. Alangkah bahagianya Muna bisa melihat Kanaya lagi.
"Assalamu'alaikum," ucap Kanaya juga Dirga bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, Mbak Naya!" begitu heboh Muna setelah Kanaya dekat dengannya. Dengan cepat Muna juga langsung memeluknya. Begitu eratnya hingga membuat Kanaya merasa sesak bahkan Muna yang menggoyangkan tubuhnya membuat dia tak nyaman tapi Kanaya tetap diam dan membiarkan itu terjadi.
"Kalian ini ya, kenapa perginya lama sekali. Seharusnya satu minggu lagi dong biar kalian puas dan membuat aku jadi tukang jaga di sini sendiri," Pastilah yang Muna katakan adalah sebuah keluhannya pada Dirga dan Kanaya kan?
"Mas, besok-besok kalau mau ke tempat mbak Naya mbok saya di ajak to Mas, Saya penasaran dengan tempatnya yang katanya sangat indah juga masih sangat sejuk," ucap Muna.
"Iya, kapan-kapan kwmu ikut kalau pas kebetulan kami ke sana dan kamu libur kuliah."
"Benar ya, Mas!" jawaban Dirga benar membuat Muna merasa sangat bahagia sepertinya dia sangat tidak sabar ingin bisa melihat ke tempat Kanaya.
Bagaimana keindahan alamnya, bagaimana orang-orang yang katanya begitu ramah, bagaimana udaranya yang begitu sejuk, pokoknya Muna sangat ingin ke sana.
"Masuk yuk, Mbak. Muna sudah buatin makan malam loh," dengan semangat Muna menggandeng Kanaya sementara Dirga dia berjalan di belakang dengan keduanya dengan dengan santai sementara semua barang-barang mereka tentu pak Danu yang membawanya.
Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian mereka kembali berkumpul di meja makan, menikmati hidangan makan malam yang dia buat oleh Muna.
Sebenarnya Dirga sudah mengatakan untuk Muna tidak perlu repot-repot menyiapkan makan malam mereka bisa beli di luar dan tetap bisa makan bersama tapi Muna tak menerima saran itu, dia malah masak beberapa menu istimewa.
"Mas, setelah makan aku mau pulang ya. Ada tugas yang belum selesai di rumah dan aku lupa bawa," Ucap Muna.
"Kenapa tidak nginap saja di sini kamu bisa pulang besok pagi setelah subuh."
"Tidak bisa, Mas. Tugas Muna banyak sekali kalau su kerjakan besok tidak akan selesai."
"Baiklah, nanti biar pak Danu yang mengantarkan mu," tak dapat menghalangi lagi Dirga karena semua itu juga sangat penting untuk Muna.
...****************...
__ADS_1
Kanaya begitu merindukan semua mesin yang ada di rumah jahitnya. Tiga hari tidak melihatnya membuat Kanaya langsung melihatnya, memastikan semua baik-baik saja juga sebentar dua di sana untuk membersihkan.
"Sudah malam, istirahat yuk! Kamu bisa kesini lagi besok."
Kanaya menoleh dan melihat Dirga yang sudah semakin dekat dan akhirnya Dirga berdiri di belakang Kanaya, ikut melihat apa yang ada di hadapan Kanaya.
"Coba mas lihat," sebuah buku yang besar dan di dalamnya terdapat gambar-gambar dari tangan Kanaya. Semua adalah desain yang mungkin akan di wujudkan oleh Kanaya kelak jika dia sudah menjadi penjahit yang mahir.
"Hem, ini sangat indah. Sepertinya istriku ini memang sangat berbakat," pujian Dirga berikan setelah melihat satu persatu hasil tangan Kanaya.
Semua terlihat sangat indah benar kata bu Annisa kalau Kanaya sudah seperti orang yang biasa melakukannya dia sangat pintar dan sangat luwes melakukan semuanya.
"Tapi, sudah untuk malam ini semua bisa di lanjutkan besok," kembali buku itu Dirga tutup lalu meletakkannya di depan Kanaya.
"Ini juga sudah, Istriku sayang," di ambil pencil yang juga ada di tangan Kanaya juga di letakan di tempat yang sudah tersedia sejak awal.
"Tapi, Mas. Ini hanya tinggal menyelesaikan saja. Sedikit lagi," keinginan Kanaya tetap tidak di sambut baik oleh Dirga dan dia malah bergerak dengan cepat membopong Kanaya.
"Besok lagi, Sayang," ucapnya lagi. Kakinya sudah mulai melangkah keluar dari ruangan itu menuju kamar untuk istirahat.
Di rebahkan Kanaya di ranjang secara perlahan setelahnya Dirga juga ikut menyusul menyelimuti mereka berdua dan menarik Kanaya kedalam dekapannya. Menjadikan tangannya sebagai bantal untuk Kanaya dan yang satunya melepaskan hijab Kanaya.
Perasaan Dirga sudah sangat plong sekarang, dia bisa mengetahui semuanya dan sudah membereskannya meski dia belum memberikan pelajaran untuk Arifin tapi tak lama pasti semua akan dia dapatkan.
"Nay, mas dengar satu bulan lagi akan ada pendaftaran paket C untuk ijazah SMA. Kalau mas sih maunya kamu ikut mendaftar juga dan setelah kamu mendapatkan ijazahnya kamu bisa kuliah seperti Muna," ucapan Dirga membuat Kanaya tak jadi memejamkan mata.
Kanaya masih terdiam.
"Tapi itu hanya maunya mas. Mas tidak akan memaksa kamu, kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Bagi Mas kamu yang seperti ini pun juga sudah saya sangat membuat Mas bahagia tapi Mas ingin kamu juga memiliki gelar dan semua orang tidak akan bisa merendahkan kamu lagi," imbuh Dirga.
"Lalu kursusnya?" kini Kanaya bersuara.
"Kamu tetap bisa kursus setelah belajar. Jika kamu mau mas akan mendatangkan bu Annisa ke sini jadi jamu tidak perlu datang ke tempatnya tapi kamu tetap bisa kursus. Kamu juga tetap bisa mendapatkan ijazah kursusnya, bagaimana?"
Kanaya masih diam dan terus berpikir, menimang-nimang semua yang Dirga katakan.
__ADS_1
"Tapi mas tidak memaksa, semua terserah kamu saja karena kamu yang akan menjalani segalanya. Mas tidak mau semuanya malah menjadi beban untukmu."
Tak ada tujuan tertentu selain hanya kebaikan untuk Kanaya saja, semua yang Dirga ingin lakukan adalah demi masa depan untuk Kanaya. Bukan karena Dirga malu memiliki istri yang tidak memiliki gelar apapun, tidak! Dirga ingin masa depan Kanaya bisa terjamin karena kemampuannya sendiri.
Seberapapun harta yang di butuhkan Kanaya Dirga buda memberikannya, dia bisa memberikan limpahan materi untuk Kanaya tapi bukan hanya itu keinginan Dirga. Buka juga Dirga tidak mau atau eman mengeluarkan semua hartanya pada Kanaya tapi juga bukan itu.
"Tidak usah di jawab sekarang. Kamu bisa menjawabnya kapan-kapan lagian masih ada waktu satu bulan. Sekarang tidurlah ini sudah sangat malam kamu pasti sangat lelah kan?"
Dikecupnya kening Kanaya dielus pipinya namun Kanaya masih saja diam. Mungkin dia sangat bingung dengan keputusan apa yang ingin dua ambil.
"Naya ikut mas saja. Kalau mas maunya Kanaya ikut paket C Kanaya akan terima," akhirnya Kanaya buka suara.
"Tidak, Nay. Semuanya kanu yang akan menjalaninya jadi bukan kamu yang ikut dengan keputusan mas, tapi mas yang ikut keputusan mu. Kalau kamu setuju mas akan daftarkan kalau kamu tidak setuju maka tidak akan mas lakukan," jawab Dirga.
Tentu Dirga mengatakan itu karena jawaban Kanaya terdengar sangat pasrah pada Dirga dan terkesan menyerahkan semua pada Dirga tentu Dirga tidak mau seperti itu.
Semua keputusan ada di tangan Kanaya bukan di tangan Dirga. Dirga hanya mendukung dan juga menanggung semua biayanya bukan beserta memutuskannya. Kalau Dirga yang memutuskan bukan kah itu sama seperti Dirga memaksa.
"Bagaimana kalau Naya tidak lulus?" Kanaya sudah merasa pesimis lebih dulu sebelum memulainya.
"Kita akan ulangi lagi dan lagi sampai kamu lulus," jawab Dirga.
"Bagaimana?"
"Hem, mas yakin?"
"Sangat yakin. Bahkan Mas sangat yakin kamu akan lulus dalam sekali ini saja. Kamu hanya harus optimis dan berusaha, semua pasti akan di mudahkan," bahkan Dirga sudah begitu yakin.
"Hem, Naya akan berusaha untuk membuat mas bangga. Naya akan ikut paket C besok," kini Kanaya sudah sangat yakin dengan keputusannya, memutuskan karena keinginannya sendiri bukan hanya karena pasrah pada Dirga.
"Alhamdulillah, semoga Allah membuat mu sukses di kemudian hari," kembali Dirga mengecup kening Kanaya lalu semakin erat memeluknya.
'Takdir-Mu memang begitu indah Ya Allah. Terimakasih telah Engkau jadikan mas Dirga suami ku, Alhamdulillahirobbil'alamin,' batin Kanaya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....