
**********
Begitu menyedihkan keadaan Wak Ami saat ini. Dia terus menangis setelah sampai di villa milik Kanaya juga Dirga. Tak pernah dia sangka sebelumnya kalau suaminya yang selama ini selalu dia hormati dan dilimpahi kasih sayang ternyata telah tega mengusirnya dari rumahnya sendiri.
Padahal jika di telisik secara benar Wak Tejo juga tak punya hak apapun sama sekali. Bahkan dia tinggal saja sebenarnya harus sesuai dengan izinnya kenapa dengan begitu kasar dan begitu tega dia malah mengusirnya?
''Nay, sekarang Wak harus bagaimana? Wak harus gimana Nay?'' begitu bingung Wak Ami saat ini. Memang dia bisa minta tolong pada Kanaya dan juga Dirga tapi bagaimana mungkin dia akan sampai mengatakannya.
Wak Ami sangat tidak mau merepotkan Kanaya ataupun Dirga. Mereka sudah cukup dengan semua yang sudah di lakukan oleh Wak Tejo juga Arifin dan Wak Ami tidak ingin semua menjadi beban untuk mereka berdua.
Mereka mempunyai kehidupan sendiri dan tentu sudah sangat bahagia, semua bisa saja akan hancur jika bertambah dengan kedatangan Wak Ami dalam kehidupan mereka berdua.
''Wak jangan bingung. Ada Nay, Wak. Lebih baik wak ikut kami saja ke Semarang. Di sini wak tidak akan pernah bisa bahagia. Wak Tejo juga kedua istri mas Arifin pasti juga akan selalu membuat wak menderita,'' jawab Kanaya.
''Iya wak, kalau wak ikut Naya juga akan ada teman di sana saat aku bekerja jadi tidak akan kesepian lagi. Jadi lebih baik Wak ikut kami saja, ya?'' imbuh Dirga.
''Tidak Nay, nak Dirga. Kalau wak ikut itu akan sangat merepotkan kalian. Wak juga akan menjadi beban untuk kalian berdua,'' jawab Wak Ami yang sangat tak mau menjadi beban untuk mereka berdua.
''Tidak wak. Wak tidak akan menjadi beban untuk kami. Kami akan lebih tidak tenang kalau Wak terus berada di sini bersama mereka. Wak tidak pantas hidup dengan orang-orang yang seperti itu.''
Kanaya masih saja terus membujuk hingga akhirnya wak Ami bersedia ikut dengan mereka berdua.
Sungguh Dirga maupun Kanaya merasa sangat senang dan juga sangat tenang jika wak Ami ikut dengan mereka. Kanaya juga akan ada teman, apalagi wak Ami sudah seperti ibu sendiri bagi Kanaya pasti akan sangat menyenangkan kan untuk Kanaya.
***********
__ADS_1
Tak hanya Kanaya juga Dirga saja yang ada di villa sekarang, tentu bertambah wak Ami juga.
Mereka tengah menikmati makan malam bersama, melupakan semua perasaan kacau yang tadi terjadi oleh wak Ami. Sebisa mungkin Kanaya juga Dirga selalu membuat wak Ami tersenyum supaya bisa melupakan semuanya, ya meski kadang masih sesekali melamun.
Begitu gembira Wak Ami bisa bersama mereka berdua, kehangatan bisa di rasakan keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan saling menghargai satu sama lain.
Cinta dan kasih dari Dirga begitu besar pantas saja Kanaya bisa langsung bahagia dan selalu tersenyum. Akankah wak Ami juga akan bisa seperti Kanaya kedepannya? Menerima hal baru yang benar-benar sangat asing.
"Wak, wak pasti akan sangat betah tinggal di Semarang. Di sana juga hampir sama di sini kok udaranya. Ya hanya lebih hangat sedikit sih," Kanaya mulai berbicara.
"I_iya, Nay," Meski wak Ami akan bisa terbiasa dan akan mendapatkan kebahagiaan di sana tapi sejatinya wak Ami ingin tetap tinggal di sana. Di rumah yang sudah menjadi teman hidupnya selama ini.
Tapi harapan dan inginan harus putus karena wak Tejo yang tak memperbolehkan lagi doa tinggal di sana.
"Sudah lah, Wak. Jangan di pikirkan lagi kalau wak terlalu memikirkan semuanya nanti wak bisa sakit," Dielus nya pundak wak Ami yang kembali terdiam itu.
Kanaya mendekat dan memeluknya lewat samping.
"Wak jangan merasa sendiri, ada Nay yang akan selalu ada untuk wak."
"Sekarang wak istirahat saja, tenangkan hati wak," Kanaya melirik kecil ke arah wajah wak Ami yang segera mengangguk.
Wak Ami benar-benar beranjak dari sana bergegas pergi ke kamar yang tadi sudah di tunjukan oleh Kanaya dan Dirga.
"Saya juga pamit, Tuan, Nona," Pak Danu pun juga ikutan pergi dari sana.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Kanaya dan Dirga yang masih tinggal, sama-sama memandangi kepergian wak Ami yang perlahan jauh dan akhirnya hilang di balik pintu.
Niatnya datang untuk bersenang-senang, menikmati waktu berdua saja dengan bahagia siapa tau kalau akhirnya akan seperti ini.
Mereka tidak hanya berdua saja dan bisa bersenang-senang, ada wak Ami yang sangat membutuhkan mereka berdua dan butuh kekuatan.
Dirga menghampiri duduk di sebelah Kanaya dan mengelus pundaknya.
"Kamu juga tidak boleh sedih, kalau jamu sedih itu tidak akan berakhir baik untuk kita. Ingat tujuan kita datang, hem?"
"Iya, Mas," Kanaya mengangguk membenarkan apa yang Dirga katakan padanya.
"Sekarang kita istirahat?" Tanya Dirga. Dirga sudah bersiap, dia sudah berdiri dan menyingkir kursi yang dia duduki barusan.
"Hem," Kanaya juga beranjak memasukkan kursi ke meja lalu dia siap untuk berjalan. Dia pikir hanya akan saling bergandengan tapi ternyata Dirga langsung bergerak dan mengangkat tubuh Kanaya tanpa aba-aba.
"Mas," Cepat kedua tangan Kanaya melingkar di leher Dirga dia memandangi wajahnya dan wajah itu tersenyum dengan tatapan mata yang sudah penuh dengan gairah.
"Kita ibadah lagi sayang?" Bisik Dirga.
Kanaya tidak menjawab tapi menunduk dengan malu. Dirga benar-benar semangat melakukan ibadah bersama, tentu tujuannya supaya di salah satu ibadah yang mereka lakukan akan tumbuh benih yang akan menjadi sumber kebahagiaan.
***********
Bersambung...
__ADS_1