
...****************...
Begitu senang rasanya setelah selesai bersiap untuk ke tempat acara pernikahan Muna dan Zein. Kanaya terus saja tersenyum seperti seorang anak kecil yang akan bertemu dengan temannya atau mungkin akan mendapatkan hadiah.
Mungkin itu karena pengaruh hormon kali ya, jadi bawaannya pengen tersenyum melulu dan begitu mudah dia mendapatkan kebahagiaan.
Kanaya juga tak sensitif, dia gak mudah menangis karena permintaannya yang tak belum terkabul tapi dia terus bersabar hingga dia benar-benar bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Mungkin, kesabaran anaknya kelak akan sama seperti dirinya. Dan semoga kebaikannya bisa mengikuti jejak abi_nya yang begitu baik pada semua orang dan juga begitu dermawan.
Semoga semua sifat baik dari kedua orang tuanya akan ada di dalam diri anaknya dan semoga malah lebih baik. Itulah harapan setiap orang tua, termasuk keinginan Kanaya dan Dirga juga.
Dirga menghampiri Kanaya yang tengah mengambil kado yang akan dia berikan untuk Muna nantinya, namun belum juga Kanaya sampai mengangkatnya Dirga sudah lebih dulu mengambilnya. Tentu, Dirga tidak mau sampai Kanaya membawa barang besar juga berat.
Tapi, sebenarnya tua berat sih Kanaya kuat membawanya tapi Dirga tetap tidak akan mengizinkan untuk itu.
"Biar mas saja yang bawa," Dirga tersenyum setelah berhasil mengangkat dan Kanaya menoleh ke arahnya.
"Naya saja, Mas. Naya kuat kok," Kanaya sangat ingin sebenarnya memberikan jadiannya langsung pada Muna tapi Dirga pasti tetap tidak akan mengizinkan.
"Sudah, biar mas saja yang bawa. Ini sangat berat kamu tidak akan kuat membawanya."
Tetap Dirga tidak akan mengizinkan bahkan dia mengatakan berat padahal tidak seperti itu kenyataannya. Entah apa sebenarnya hadiah di dalamnya itu.
"Ya sudah deh, Naya ikut aja," akhirnya Kanaya mengerti dan dia juga langsung tersenyum tapi hanya sebentar itupun juga terkesan sedikit di paksakan.
Keduanya berangkat dengan mengendarai motor sekarang, meski tidak terlalu jauh tapi akan sangat meringankan mereka yang membawa hadiah untuk Muna.
Kalau mereka berjalan pasti akan sangat lama nyampenya dan Dirga akan kesusahan membawanya.
"Hati-hati saja ya, Mas," kata Kanaya memperingatkan. Jalanan desa tidaklah begitu mulus terdapat lubang dan juga benjolan bahkan juga ada polisi tidur yang begitu tinggi tidak akan baik untuk kehamilan di semester pertama kan?
"Pasti lah, Nay sayang. Mas pasti akan sangat hati-hati mas tidak akan membahayakan kamu dan juga calon anak kita. Kalian harus baik-baik saja."
Dirga tersenyum sembari terus fokus ke arah jalan. Menghindar dari semuanya akan membuat resiko yang besar.
Tak hanya mereka saja yang bergegas ke tempat pernikahan Muna, tapi semua orang-orang desa juga berbondong-bondong datang. Mereka tentu sudah dengan pakaian-pakaian yang indah dan sangat terpilih.
...****************...
Sudah beberapa hari Yuan tidak berangkat ke kampus karena tak enak badan. Untung dia tengah pulang dan ada orang tuanya yang akan merawatnya kalau tidak, entah akan bagaimana keadaan Yuan.
Ibunya Yuan juga begitu telaten merawat Yuan dan terus membuatkan makanan hangat supaya Yuan bisa secepatnya pulih lagi.
Semua ini terjadi karena Yuan kehujanan pas pulang. Sudah tau hujannya begitu deras tapi Yuan tetap menerjang hujan karena ingin bisa cepat sampai ke rumah. Dia juga sudah sangat rindu dengan rumah dan penghuninya jadi mana mungkin dia akan bisa berlama-lama di jalan raya.
__ADS_1
Kali ini Yuan masih ada di kamar, bermalas-malasan untuk ngapa-ngapain dan terus berselimut tebal karena tubuhnya juga merasa sangat dingin.
Ibunya datang dengan membawa minuman jahe asli buatannya sendiri. Dengan itu pasti akan membuat Yuan semakin hangat dan dinginnya akan secepatnya menghilang.
"Di minum dulu, Nang. Supaya kamu cepat pulih." pinta Bu Denok.
Tangannya cepat memberikan gelas itu kepada Yuan yang sudah beralih duduk. Tangannya juga langsung menerima dan perlahan mulai meneguknya.
"Kan ibu sudah selalu katakan to, Nang. Kalau pas berantakan atau pulang kalau hujan lebih baik berteduh dulu sampai hujannya reda. Kalau sudah seperti ini siapa yang rugi coba."
Seperti biasa bagi seorang ibu, dia pasti akan selalu mengatakan itu kepada sang anak ketiga mereka melanggar apa yang selalu di katakan.
"Mana kamu kalau sakit susah minum obat maneh, bikin lama aja sembuhnya."
"Bagaimana kalau Ibu kerokin yo? siapa tau dengan kerokan bisa menambah cepat jamu sembuh," ingin ibu Denok melakukan apapun yang dia bisa tapi Yuan_nya yang memang susah.
Dulu akan selalu ada Kanaya yang terus mengomel saat Yuan sakit. Dia akan terus memaksa Yuan hingga akhirnya mau minum obat meski sangat terpaksa, tapi sekarang?
Seseorang yang selalu saja membuat dia melakukan apapun yang dia minta itu sekarang sudah bahagia dengan kehidupannya.
"Tidak usah, Bu. Nanti juga bakal sembuh sendiri," jawab Yuan setelah meneguk jahe angetnya dan kini hanya tinggal separuhnya saja.
"Seharusnya kamu cepat menikah to Nang Nang, kalau kamu sudah menikah kan ada istrimu yang akan merawat mu." kata bu Denok lagi.
Menikah?
Kalau sudah sukses dan mendapatkan pekerjaan pasti tidak akan susah untuk memberikan nafkah kepada istrinya, tapi kalau belum? masak iya semuanya di tanggung oleh kedua orang tuanya.
"Seandainya bu, sekarang Yuan sudah ada yang ngerawat. Tapi bapak kan tidak boleh, sementara ibu dulu juga hanya diam saja."
"Yo wes, sekarang kamu cepat nikah wae yo. Bapak sama ibu boleh kok kamu nikah," bu Denok begitu antusias.
Yuan curiga, kenalan Ibunya begitu semangat seperti ini. Dia juga menyuruh Yuan untuk cepat-cepat menikah apa mungkin karena mereka sudah ada pandangan perempuan yang akan di jodohkan kepadanya?
"Opo sih, Bu. Yuan kan belum sukses. Belum memiliki pekerjaan tetap besoklah kalau Yuan sudah sukses dan sudah lulus kuliah."
Kalau sudah lulus dan juga sudah bekerja fokus Yuan tidak akan terlalu terbagi. Kalau menikah sekarang Yuan takut tidak akan bisa memberikan waktu yang cukup untuk istri. Dan tentunya juga belum bisa memberi nafkah untuknya."
"Halah, gampang kalau masalah nafkah. Bapak karo ini bisa kok menanggung kebutuhan istrimu selama kamu belum bekerja."
Semakin penasaran si Yuan. Sebenarnya siapa yang membuat ibunya begitu semangat seperti ini apakah dia benar-benar sudah menemukan gadis yang baik untuk Yuan?
"Kemarin Hani mampir ke rumah. Dia sangat baik yoh. Dia dan kamu juga sudah sangat dekat dan sudah saling mengenal. Bagaimana kalau kamu nikah dengan Hani saja."
Uhuk uhuk uhuk...
__ADS_1
Yuan tiba-tiba tersedak minuman jahe nya setelah mendengar penjelasan dari ibunya.
"Hani?" Hani memang sangat baik. Dia juga sangat pintar juga dari orang tua yang juga terbilang berada, Tapi?
Yuan tidak siap jika harus Hani yang menikah dengannya. Yuan sudah menganggap Hani seperti adiknya sendiri bagaimana mungkin Yuan akan menikah dengan adiknya?
"Apa sih, Bu. Yuan dan Hani itu hanya berteman saja, kami tidak ada hubungan apapun.
"Halah, nggak ada hubungan apapun pada awalnya juga tidak opo-opo. Lama-lama juga akan terbiasa dan kalian akan saling suka.
"Ibu karo bapak sudah Berembuk masalah ini. Dan bapak mu jiga sudah setuju."
Kenapa baru sekarang mereka menyetujui pernikahan untuk Yuan, kenapa tidak dulu ketika Yuan menginginkan Kanaya dan ingin menikah dengannya.
Dulu Yuan begitu berharap namun tetap tidak mendapat izin tapi sekarang? bahkan dia tidak menyinggung masalah pernikahan malah mereka sendiri yang sudah merencanakan.
"Untuk sekarang Yuan belum bisa, Bu. Bilang sama bapak kakak Yuan akan menikah setelah lulus kuliah dulu. Setelah selesai baru Yuan akan menerimanya.
" Kenapa harus nunggu kamu lulus Nang. Bapak dan ibu sudah tidak sabar ingin kamu menikah dengan Hani."
"Atau begini saja, kita ikat dulu si Hani. Dengan itu tidak akan ada yang bisa melamarnya. Kamu dan dia akan bisa menikah setelah kamu lulus nanti. Piye saran ibu, bagus toh."
Begitu antusias bu Denok, dia bahkan memberikan saran tersebut pada Yuan.
Kenapa tidak saat dulu Yuan minta mengikat Kanaya. Kenapa?
Yuan jadi yakin kalau kedua orang tuanya memang tidak pernah menyetujui hubungan Yuan dengan Kanaya. Jadi merasa menolak dengan berbagai alasan tapi sekarang?
Apa yang membuat Kanaya dan Hani berbeda, apakah soal harta? ataukah soal Kanaya yang seorang yatim piatu?
"Maaf, Bu. Yuan ingin istirahat. Yuan pusing," ucap Yuan.
Tangannya langsung menyerahkan gelas yang dia bawa dan sudah kosong kepada ibunya. Dia juga langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Piyo toh, Nang nang..., lagi di ajaki rembukan kok malah turu," setengah tak terima bu Denok dengan apa yang Yuan katakan.
Kasih sayang ibu memang sangatlah besar. Apapun akan merasa lakukan untuk membuat anaknya bahagia. Tapi terkadang orang tua sering egois dengan memaksa anak untuk melakukan apa yang mereka ingin tanpa mendengar apa yang menjadi keinginan anak-anaknya.
Begitu juga bu Denok dan juga sang suami. Mereka sangat menginginkan kebahagiaan pada Yuan tapi niat mereka ternyata malah menjauhkan kebahagiaan dari anaknya.
Seandainya mereka dulu mengizinkan Yuan mengikat Kanaya mungkin dia sekarang masih bisa merasakan bahagia. Tapi biarlah, semua sudah berlalu Yuan tidak ingin menyalahkan siapapun.
Yuan hanya berharap kebahagiaan akan benar-benar dia dapatkan bersama dengan wanita yang benar-benar di pilihkan oleh Tuhan untuknya.
Hanya berserah diri yang bisa Yuan lakukan meski harus tetap di dampingi dengan usaha.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....