
...****************...
50 juta Dirga membayar ganti lagi kepada Arifin atas semua yang sudah dikeluarkan oleh keluarganya untuk Kanaya. Dirga tahu mungkin uang segitu belum seberapa dari semua yang telah mereka berikan tetapi kenyataannya Arifin sudah sangat bahagia.
Jelas Arifin akan bahagia karena dengan uang itu apa yang dia inginkan akan segera terwujud, melamar sang kekasih dan langsung menikahinya.
Bukankah itu hal yang sangat membahagiakan?
Sementara wak Ami dia menangis karena melihat kelakuan anaknya yang terus memaksa Dirga untuk memberikan uang itu kepadanya padahal wak Ami terus menentangnya, tapi itulah Arifin.
Tentu Arifin tidak sendiri karena ada awak Tejo yang juga bahagia karena mendapatkan uang tersebut dengan cuma-cuma padahal mereka juga tidak mengeluarkan sesuatu yang pantas kepada Kanaya apalagi ketika Kanaya berada bersama mereka Kanaya juga dipaksa untuk bekerja, jadi sebenarnya itu impas bahkan Kanaya yang dirugikan karena bekerja tanpa mendapat apapun.
"Nak, kenapa harus buru-buru pulang," dengan wajah sedih wak Ami mengikuti Kanaya yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
Kanaya juga Dirga memutuskan untuk pulang ke Semarang hari ini, lebih tepatnya Mereka ingin keluar dari rumah itu saat itu juga.
Padahal sebenarnya rencana awal mereka berdua akan pulang besok tapi ternyata mereka memilih pulang lebih cepat karena Dirga merasa urusannya sudah beres.
Untuk siapa yang telah mengirimkan surat kepada Kanaya tidak perlu dibongkar sekarang juga Dirga masih ada kesempatan lain karena dia juga memikirkan wak Ami yang sedari tadi terus bersedih.
Hanya wak Ami sangat tulus kepada Kanaya dan itu terlihat jelas di mata Dirga. Dirga tidak mau kesedihan wak Ami akan semakin besar apalagi setelah kepergian mereka berdua.
"Maafin Kanaya, Wak. Kanaya harus pulang sekarang. Wak jaga kesehatan ya dan jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting. Kanaya janji akan sering datang ke sini untuk menjenguk," ucap Kanaya dengan sangat lembut.
Meski Kanaya sudah menyatakan hal yang seperti itu tetapi tetap sedih bahkan air matanya terus mengalir deras. Begitu sedih rasanya ditinggalkan Kanaya seperti ditinggal seorang putri sendiri.
"Nay, maafkan wak mu dan mas mu ya?" tentu wak Ami sangat menyesalkan itu, dia juga sangat sedih karena tak bisa melakukan apapun.
Kembali wak Ami dengan air matanya tak mampu menatap wajah Kanaya yang sekarang sudah mulai menjadi wanita yang selalu tegar.
"Naya sudah memaafkan mereka, Wak." Kanaya langsung memeluk wak Ami, sedih juga karena hal itu. Seandainya bisa, pastilah Kanaya akan mengajak wak Ami untuk ikut dan tinggal bersamanya, tapi dia tak bisa melakukannya.
__ADS_1
"Nay, ayo," ajak Dirga.
Keluar Dirga dari kamar dan langsung mengajak Kanaya untuk segera pulang. Semua barang-barang sudah ada di tangan Dirga begitu juga dengan tas Kanaya semua Dirga yang telah membereskan.
"Wak, maaf kami harus segera pergi. Jaga wak baik-baik," ucap Dirga.
Pelukan Kanaya juga wak Ami pudar keduanya saling melepaskan dengan rasa sangat berat.
Sedih, itu jelas mereka rasakan biar bagaimanapun mereka sangat dekat dan kini mereka akan kembali berpisah. Waka Ami tahu kalau Kanaya juga Dirga tidak marah padamu mereka juga tidak membencinya tetapi wak Ami tidak enak karena semua perbuatan yang dilakukan suami dan anaknya.
"Hati-hati ya di jalan. Nak Dirga, titip Aya ya. Jangan pernah menyakitinya dan tolong selalu bahagiakan dia." ucap wak Ami.
"Pasti, Wak." Dirga juga Kanaya menyalami wa Ami dengan pergantian dan setelahnya mereka pergi dengan meninggalkan salam.
"Assalamu'alaikum, Wak," Dirga maupun Kanaya langsung melangkah untuk keluar dari rumah tersebut.
Wak Ami terus melihat keduanya yang semakin jauh, hatinya begitu sedih. Seharusnya kepergian mereka meninggalkan kebahagiaan tetapi ternyata tidak! kepergian keduanya meninggalkan luka yang disebabkan oleh anak dan suaminya sendiri.
"Pak, Arifin bisa nikah pak!" Arifin begitu bahagia sehingga dia menerbangkan begitu banyak di hadapannya.
Arifin terus bersorak dan tertawa dengan wajah mendongak ke atas menghadang uang-uang yang jatuh di wajahnya.
"Pak, Arifin akan menikah!" teriaknya lagi yang semakin girang.
"Ya, kamu akan menikah!" bukan hanya Arifin saja yang bahagia tetapi Wak Tejo juga sangat bahagia.
Wajahnya juga mendongak ke atas sementara kedua tangannya memakan uang yang semua berwarna biru, jelas itu sangat banyak.
Tak pernah keduanya melihat uang sebanyak itu di depan mata, biasanya mereka akan melihat uang yang segitu banyak hanya di siaran televisi saja tetapi sekarang semua jelas-jelas ada di depan matanya.
Arifin masih tidak percaya, Apakah semua uang itu nyata? uang itu bukan uang palsu kan?
__ADS_1
Arifin masih tidak percaya kalau Dirga memiliki uang sebanyak itu bahkan begitu mudah Dia memberikan kepadanya. Apakah itu semua sudah dia rencanakan sebelum datang?
"Pak, aku sangat penasaran dengan pekerjaan Dirga. Bagaimana kalau suatu saat aku mendatangi rumahnya, siapa tahu kita masih bisa mendapatkan sesuatu darinya."
Niat yang tidak baik sudah Arifin rencanakan. Awalnya dia tidak percaya bahkan sampai sekarang pun tidak, tetapi jika sampai dia melihat sendiri bagaimana rumah Dirga yang seperti istana juga apa yang menjadi pekerjaannya mungkin Arifin akan syok.
Semoga saja tidak ada niat buruk Arifin yang berhasil, dan jika ada semoga Dirga juga Kanaya bisa menghadapinya.
Setelah kepergian Kanaya juga Dirga wak Ami langsung masuk ke dalam kamar di mana suami dan anaknya berada. Waka Ami dibuat peperangah melihat keduanya yang begitu membangga-banggakan uang.
"Kalian berdua benar-benar keterlaluan!" wak Ami sangat marah.
Kenapa sifat dari suami dan anaknya benar-benar sama, sama-sama gila harta dan selalu mengagungkan harta benda apalagi uang.
"Bu, sinilah! dan kita nikmati uang yang sangat banyak ini!" teriak Arifin saat melihat ibunya yang datang.
Dia sama sekali tidak menghiraukan dan mendengarkan kemarahan ibunya yang dia pedulikan adalah uang dan uang.
Arifin berdiri menarik tangan wa Ami dan mengajaknya bergabung untuk bersenang-senang dengan uang mereka, jelas wak Ami langsung mengibaskan tangannya karena tak menerima ajakan dari Arifin.
"Lepasin, Arifin! jangan ajak-ajak ibu menjadi gila seperti mu dan bapakmu. Ibu tidak tertarik dengan kesenangan yang kalian buat. Silakan bersenang-senang sendiri dan Jika ada masalah kelak jangan sangkut pautkan dengan ibu, ibu tidak sudi."
Wak Ami kembali keluar mana mungkin dia akan mau bergabung dengan mereka.
"Hahaha! jangan munafik Bu! semua orang membutuhkan uang begitu juga dengan ibu. Apa Ibu benar-benar tidak menginginkan uang ini? oke saya anggap Ibu tidak membutuhkannya!" teriak Arifin dan kembali dengan kesenangannya.
"Sudahlah, Fin. Jangan hiraukan ibumu dia kan memang seperti itu. Yang terpenting sekarang kita bersenang-senang," ucap Wak Tejo girang dengan semua uang yang ada di tangan.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1