
'Benarkah aku akan pantas bersanding dengan Tuan Dirga dengan segala perbedaan juga kekurangan ku ini? Bagaimana jika kelak akan terjadi masalah? Ya Allah, berikan takdir terbaik untuk ku.'
#Kanaya Setya Ningrum
...****************...
Begitu lemas Kanaya sekarang. Keinginan untuk bisa berbicara dengan Yuan terasa musnah karena Yuan tak mengangkat telfonnya. Entah sedang apa Yuan sekarang sampai-sampai tak menjawab panggilan telfon dari Hani.
Di tambah lagi dengan kedatangan Arifin yang memaksanya untuk pulang karena ada Dirga juga orang tuanya yang datang. Pastilah kedatangan mereka karena untuk menyeriuskan hubungan Dirga padanya.
"Aya! kalau nggak cepat beranjak dari situ aku akan seret kamu sekarang juga! udah di bilang ada Dirga dan orang tuanya kamu malah duduk terus di situ, apa sih yang kamu tunggu!?" seru Arifin dengan suara melengking juga sangat menakutkan.
Jelas Kanaya maupun Hani langsung bergidik, mereka tau kalau apa yang Arifin katakan itu tak pernah main-main. Kalau Kanaya tidak cepat datang bisa jadi Arifin akan menyeretnya beneran.
"Aya, cepatlah kamu pergi sekarang. Aku tidak mau kamu di apa-apain oleh Mas Arifin. Soal Kak Yuan aku akan terus mencoba menghubunginya. Aku akan katakan semua padanya. Kamu jangan khawatir," ucap Hani dengan serius.
"Beneran ya, Han. Jangan lupa bilang ke Kang Yuan ya. Dan ya! tolong kirimkan salam dariku kalau sudah bisa tersambung ya," Kanaya cepat beranjak.
"Tenang, aku akan mengatakannya."
Kanaya beranjak dengan mantap, dia juga berlari dengan cepat untuk mendatangi Arifin. Tak mau sampai Arifin berbuat macam-macam padanya.
Hani masih terdiam di tempat, dia juga memandangi kepergian Kanaya yang sudah semakin jauh.
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Hani berdering setelah kepergian Kanaya. Hani melihatnya dan ternyata Yuan lah yang menghubungi. Cepat Hani ingin mengangkatnya, namun tiba-tiba saja ponselnya mati karena kehabisan baterai.
"Yah, kenapa bisa tiba-tiba habis begini?" Hani jadi bingung sendiri dengan HPnya. Padahal tadi dia lihat masih ada masak habis begitu saja sekarang.
"Maaf ya, Kak Yuan. Nggak bisa jelaskan sekarang. Aku akan pulang dan cas dulu ponselnya, semoga nanti bisa menghubungi lagi dan bisa menjelaskan. Amin," gumam Hani.
Hani beranjak, sekali melihat ponselnya yang sudah mati lalu memasukkannya ke dalam kantong. Setelahnya dia pergi dari sana dan bersiap untuk pulang.
...****************...
__ADS_1
Begitu banyak tugas Yuan saat ini, tugas dari kampus juga persiapan untuk ujiannya. Rasanya sangat melelahkan karena dia begitu kepontang-panting untuk mencari segalanya hingga dia tak sempat untuk sekedar membuka ponsel saja. Bahkan supaya dia bisa lebih fokus dia menonaktifkan dering di ponsel.
Yuan yang juga ada acara dengan para mahasiswa lain membuatnya semakin sibuk. Tapi tidak untuk saat ini, ini adalah jam istirahat dari kuliahnya dan dia tengah duduk di bawah pohon di sekitaran kampus.
"Yuan, kau ini ya! dari tadi ngapain aja sih? di hubungi nggak pernah di angkat, di chat juga nggak di bales!" seru Angga dengan dongkol.
Yuan seketika menoleh, mengabaikan sejenak buku yang ada di atas pangkuannya untuk melihat kedatangan Angga yang sudah dekat.
"Ada apa sih, Ga. Tau sendiri kan aku lagi sibuk ini." jawab Yuan dengan pelan.
"Sesibuk-sibuknya masak iya hanya mengangkat telfon daja nggak bisa. Dari tadi aku nyariin kamu loh! itu kamu di panggil sama asisten dosen," Angga duduk di sebelah Yuan masih saja dengan kesal.
"Untuk apa mencari ku?" Yuan kebingungan.
"Mana aku tau," kedua bahu Angga terangkat dengan sangat acuh.
Cepat Yuan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. bergegas untuk pergi ke tempat asisten dosen. Mungkin ada hal penting yang akan di tanyakan padanya.
Setelah semua beres Yuan melihat ponselnya sejenak, melihat benarkah Angga memanggilnya dan ternyata benar.
"Hani, ada apa?" dengan kening yang mengkerut Yuan langsung menghubungi balik ke nomor Hani.
Panggilannya tersambung namun belum juga bisa terangkat. Yuan masih setia menunggu hingga akhirnya panggilan itu tak tersambung lagi.
Yuan berusaha menghubungi lagi, dia pikir mungkin hanya masalah jaringan namun tetapi saja tidak bisa.
"Ayolah, Yuan. Kalau kamu tidak datang ke Asdos bisa-bisa aku yang kena marah. Cepat pergi sana!" usir Angga membuat Yuan menjadi urung untuk melakukan panggilan lagi. Lagian panggilannya juga tidak tersambung barusan.
"Iya-iya, dasar bawel!" Yuan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, dia beranjak dan cepat pergi dari sisi Angga.
"Dasar," hanya sepatah kata saja yang di ucapkan oleh Angga seiring kepergian Yuan. Dia juga langsung beranjak pergi ke arah yang berlawanan.
...****************...
Begitu buru-buru Kanaya pulang dari kebun, hingga dia sampai di rumah dengan nafas ngos-ngosan juga dengan kaki yang seakan-akan ingin patah.
__ADS_1
Berbeda dengan Kanaya yang terlihat kelelahan tapi tidak dengan Arifin yang berjalan di belakang Kanaya. Dia terus saja menyerukan suaranya dengan melengking saat Kanaya berhenti berjalan karena lelah.
Bahkan sekedar mengatur nafasnya saja Kanaya tidak di izinkan. Sungguh kejam emang si Arifin.
Jantung Kanaya semakin bekerja dengan sangat keras saat melihat mobil baru berwarna putih sudah terparkir manis di depan rumah. Kanaya yakin, itu pasti dari keluarga Dirga.
Begitu kaya_kah Dirga dan keluarganya itu sampai-sampai mereka udah ganti lagi dengan mobil yang baru. Tapi itu malah membuat Kanaya semakin minder. Kanaya hanya gadis yatim-piatu tang tak punya apapun, apakah benar tidak akan apa-apa kalau menikah dengan orang kaya raya? apakah tidak akan berpengaruh pada kehidupannya di masa mendatang?
"Kenapa berhenti? cepat masuk dan sapa calon suami juga mertuamu!" seru Arifin. Jelas suara itu membuat Kanaya terperanjat. Dia sangat terkejut.
"I_iya, Mas," jawab Kanaya. Kakinya perlahan kembali melangkah, berjalan masuk ke rumah dengan sangat ragu.
Kedua tangannya terus melintir ujung bajunya, dia sangat grogi sekaligus takut. Bertemu dengan kedua orang tua Dirga sangat membuatnya menjadi tidak tenang.
"Assalamu'alaikum," sapa Kanaya dengan suara yang gemetar.
Seketika semua yang ada di sana menoleh seraya menjawab salam dari Kanaya, "Wa'alaikumsalam," mereka semua begitu kompak menjawab.
Bukan hanya ada kedua orang tuanya Dirga saja, melainkan ada Dirga sendiri juga kedua wak_nya.
Perempuan yang berhijab syar'i berwarna cokelat muda itu begitu terpana melihat Kanaya. Bahkan dia sampai berdiri dan menyambut kedatangannya.
"Subhanallah, ayu_ne," pujinya setelah sampai di hadapan Kanaya.
Kanaya terus menunduk, dia sangat malu tapi juga takut. Benarkah pujian itu untuknya? pertanyaan itulah yang muncul dalam benak Kanaya.
"Sini, Nduk," ajaknya, menarik tangan Kanaya dan di ajaknya duduk satu kursi dengannya.
"Kamu pinter, Ga. Umi sangat menyukainya. Sangat cocok dengan mu. Iya kan, Abi?" perempuan itu melirik ke arah pria yang mungkin hampir seumuran dengannya. Abi? berarti itu adalah suaminya, Abi dari Dirga. Sementara yang duduk di depan Kanaya adalah Umi_nya Dirga.
"Iya, Umi. Sangat cocok dengan Dirga. Kayaknya sama-sama pemalu ya," jawabnya.
"Apa sih, Abi. Jangan begitu dong," protes Dirga.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....