
'Perlahan namun pasti, kamu pasti akan memahami. Akan menerima ku. Aku akan berusaha meski susah, akan berusaha meski tak semudah membalikkan telapak tangan.'
#Dirga Gantara
...****************...
Tak tau apa yang membuat Dirga begitu betah di rumah wak Tejo, tetapi sangat di percayai semua itu karena adanya Kanaya. Jika saja tidak ada gadis yang di puja-puja mungkin Dirga sudah memilih pulang.
Kanaya juga merasa tak bebas seperti hari-hari biasanya. Dia terus berada di dalam, padahal dia ingin sekali keluar menemui Hani atau Wati yang kemungkinan besar juga sudah pulang, tetapi wak Tejo melarangnya untuk pergi.
"Kanaya, sini! mbok di temani nih nak Dirga_nya!" teriak Wak Tejo.
Kanaya yang berada di dalam bersama wak Ami hanya saling pandang memandangi. Dia sangat malu, juga tidak ada alasan untuk menemaninya. Kanaya bukan siapa-siapanya.
"Wak, apa Aya harus banget ke sana?" tanya Kanaya kepada wak Ami.
"Ya, itu terserah kamu. Kalau kamu merasa harus ke sana yang mangga. Tetapi kalau tidak ya di sini juga nggak apa-apa. Tetapi menurut Wak, memang kamu harus ke sana, biar bagaimana pun dia tertahan di sini karena mengantarkan kamu," jawab wak Ami.
Begitu bingung Kanaya sekarang, apa yang harus dia lakukan. Dia tak ada niat untuk ke depan tetapi apa yang di katakan wak Ami benar adanya.
"Kalau kamu mau ke depan, nih bawa sekalian mendoan_nya. Mumpung masih anget. Jangan lupa bawa cabe rawit hijaunya juga. Siapa tau Nak Dirga suka pedas," pinta wak Ami.
"Hem," meski awalnya ragu tapi akhirnya Kanaya ikut juga saran dari wak Ami. Mulai beranjak dan membawa sekalian mendoan juga cabe ada di sebelahnya.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, akhirnya Kanaya sampai di ruang tengah. Membawa piring yang di atasnya ada mendoan anget.
"Nah, gitu loh. Temenin nak Dirga nya. Wak mau ke belakang sebentar," baru juga sampai wak Tejo malah beranjak. Sepertinya wak Tejo memang berniat untuk meninggalkan Kanaya hanya berdua saja dengan Dirga.
"Wak mau kemana?" Kanaya menoleh namun wak Tejo hanya menoleh sebentar lalu tersenyum lalu kembali berjalan lagi.
"Hem," Kanaya duduk, dia sangat canggung berdua saja dengan Dirga.
Sementara Dirga yang merasa sangat kedinginan hanya mengangguk di hiasi senyum kecil. Kedua tangannya juga terus bergesekan untuk bisa menghilangkan rasa dinginnya.
"Me_mendoan, Tuan. Mumpung masih anget," ucap Kanaya menawarkan.
"Te_terima kasih," jawab Dirga terbata. Bukan karena dia gugup. Melainkan karena dia sangat kedinginan. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke Merbabu pas dalam keadaan hujan lebat seperti sekarang ini. Mana dia juga lupa membawa baju hangat.
Tangannya meraih satu mendoan yang paling atas, dia terus melihat Kanaya yang menunduk sampai-sampai dia tak melihat kalau tangannya ternyata juga mencepit satu cabai. Tak sadar Dirga langsung memakannya. Mengunyah perlahan hingga akhirnya, dia sadar kalau ternyata satu cabai utuh masuk semua ke mulutnya.
"Hah hah hah!" tangan Dirga terus mengipas-ngipasi mulutnya sendiri yang kepedesan, mengambil teh dan langsung meminumnya dan ternyata teh juga masih panas. Astaghfirullah!
"Tuan, Tuan kepedesan!" Kanaya terperanjat karena melihat Dirga yang begitu kalang kabut. Ternyata Dirga sama sekali tidak suka pedas.
Tak menunggu dapat jawaban Kanaya langsung lari masuk dan tak lama dia kembali keluar dengan membawa air putih yang hanya hangat-hangat kuku saja.
"Di minum, Tuan," Kanaya duduk di sebelah Dirga.
__ADS_1
Saat tangan menyodorkan tangan Dirga juga reflek menerimanya dan meneguknya. Tak sadar kalau ternyata tangan Kanaya masih berada di gelas dan ikut membantu Dirga meminumnya. Bahkan tangan keduanya saling bersentuhan.
"Kalau tidak suka pedas jangan makan cabe dong, Tuan. Kepedesan kan jadinya," omel Kanaya yang masih saja tak sadar.
Hingga akhirnya Dirga yang sadar lebih dulu kalau tangannya ada di atas tangan Kanaya dan bersamaan memegangi satu gelas.
"Oh, ma_maaf," Dirga yang sontak melepaskan. Dan ketika itu baru Kanaya sadar kalau tangan mereka juga bersentuhan.
Kanaya diam menunduk, dia juga tidak sadar akan hal itu jadi ini bukan kesalahan Dirga.
"Hem," Kanaya mengangguk kecil tampa melihat Dirga. Pipinya sudah terasa panas sekarang ini. Gugup juga canggung langsung menguasai keduanya.
"Sa_saya memang tidak suka pedas. Tapi saya juga tidak sengaja memakannya tadi. Sa_saya terlalu terpana melihat wajahmu yang terlihat sangat cantik saat ini," kata Dirga. Entah benar atau hanya sebuah gombalan semata.
Wajah Kanaya semakin memerah, dia malu. Jelas. Tetapi kenapa sama sekali tidak ada getaran apapun yang ada di dalam hatinya?
"Ma_maaf, saya pikir Tuan suka dengan pedas. Makanya saya taruh cabe di piring," sesal Kanaya. Eits..., kenapa harus menyesal, Kanaya kan tidak tau?
"Bukan kesalahan mu. Semoga perlahan-lahan kamu tau mana yang aku suka dan tidak."
"Hah!" Kanaya tersentak, menatap Dirga yang kini hanya tersenyum sembari menikmati mendoan lagi tanpa cabe.
...****************...
__ADS_1
Bersambung......