Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Derita Dirga


__ADS_3

'Kenapa harus seperti ini jalannya. Penderitaan batin yang begitu menyiksa melebihi rasa sakit yang terjadi pada fisik. Sampai kapan ini akan berakhir? Ya Allah, Kuatkan aku dalam menjalankan takdir Dari-Mu ini.'


#Dirga Gantara


...****************...


Tak mudah untuk Kanaya bisa melawan rasa takut yang ada dalam dirinya akibat kejadian saat itu. Dia masih tetap gemetar saat Dirga mendekat, tapi dia berusaha keras untuk tetap meminta Dirga tidak pergi.


Kanaya hanya ingin dia bisa terbiasa dengan kehadiran Dirga dan semoga traumanya akan secepatnya hilang.


Sudah beberapa hari Kanaya terus membiasakan diri, belajar menerima semua kekurangan Dirga dan juga berusaha untuk menjadi istri yang baik.


Dirga juga cukup tau diri, dia juga tak pernah memaksakan Kanaya untuk terus menerima kedatangannya, jika Kanaya benar-benar tak bisa sanggup menahan ketakutan maka Dirga meminta untuk dia mengatakannya.


Tapi, kebersamaan mereka menjadi canggung. Keduanya sama-sama takut akan melukai hati pasangannya. Dirga juga takut, jika dia terlalu dekat dengan Kanaya dia takut gairahnya akan tiba-tiba datang dan dia bisa menyakiti Kanaya lagi.


Itu sebabnya, Dirga masih tidur di sofa di kamar yang sama meski Kanaya meminta untuk tetap tidur di kasur bersamanya.


Seperti saat ini, keduanya sama-sama canggung saat masuk ke kamar setelah malam dan ingin istirahat. Tanpa bicara Dirga langsung menuju sofa dan duduk di sana. Sementara Kanaya lebih dulu ke kamar mandi untuk sikat gigi sebelum tidur.


Tak lama Kanaya keluar, terlihat wajahnya juga sudah segar. Kanaya melirik ke arah sofa dan ternyata sudah melihat Dirga merebahkan tubuhnya dengan posisi miring.


"Tu_tuan ti_tidurlah di kasur. Badan, Tuan akan sakit nanti," ucap Kanaya.


Sudah syah menjadi suami istri, tetapi Kanaya masih saja memanggil Dirga dengan panggilan Tuan. Tapi Dirga tak mempermasalahkan itu, mungkin Kanaya masih butuh waktu untuk terbiasa. Menerima perlahan akan kedatangannya juga kebersamaannya, termasuk dengan mengganti panggilannya.


"Ti_tidak usah, Nay. Aku akan tidur di sini saja. Sekarang tidurlah, ini sudah malam," ucap Dirga.


Kanaya tak lagi bicara, dia tau kalau Dirga tidak akan tidur di ranjang bersamanya meski Kanaya yang memintanya.


Perlahan Kanaya berjalan menuju kasur, dia duduk sebelum akhirnya dia perlahan merebahkan tubuhnya.


"Tolong lampunya di ganti, Nay." pinta Dirga.

__ADS_1


"I_iya," tangan Kanaya langsung bergerak mencari saklar yang ada di belakang nakas, mematikan lampu utama dan menggantikan lampu kecil yang ada di dua sisi ranjang.


Hening...


Keduanya hening dalam pikirannya masing-masing, keduanya sama-sama tak bisa langsung tertidur. Kanaya memandangi langit-langit, sementara Dirga langsung memunggungi ranjang karena tak mau Kanaya melihat wajahnya dan akan ketakutan.


'Ya Allah, aku ikhlas dengan seperti ini sampai waktu yang tak bisa aku tentukan. Aku akan mendekat jika Naya sudah benar-benar menerimaku dan hilang traumanya. Dengan seperti ini saja aku sudah bahagia Ya Allah, asalkan aku selalu bisa melihatnya,' batin Dirga yang tetap tak bisa tidur.


Malam semakin larut, tapi keduanya sama-sama tak bisa memejamkan mata. Kanaya bisa melihat Dirga yang dia pikir sudah tertidur. Tapi Dirga? dia tidak bisa.


Krekk...


Kanaya duduk, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Matanya fokus melihat Dirga yang tak lagi bergerak.


'Ya Allah, maafkan aku yang belum bisa benar-benar menghilangkan rasa ketakutan ku. Dan kini malah membuat tuan Dirga menjauh. Tapi mau bagaimana, aku sudah berusaha keras. Ya Allah, apapun dengan yang tuan Dirga lakukan, berikanlah aku keikhlasan. Tuntun hubungan kami menjadi hubungan yang engkau Ridhoi. Hilangkan ketakutan ku, dan sembuhkan tuan Dirga ya Allah.' batin Kanaya.


Kaki Dirga yang bergerak untuk meringkuk terlihat jelas di mata Kanaya. Dia pikir Dirga pasti kedinginan karena tak menggunakan selimut dengan benar. Kanaya turun perlahan.


Meski tetap dalam keraguan Kanaya semakin dekat dan menyelimuti Dirga. Dirga yang mendengar langkah Kanaya semakin dekat terpaksa pura-pura menutup mata. Dia tidak mau ketahuan kalau dia juga tidak bisa tidur.


Kanaya kembali lagi ke ranjang kini dia harus berusaha keras untuk tidur karena Dirga juga sudah tidur.


Dan benar saja, tak butuh waktu sepuluh menit sejak Kanaya merebahkan tubuhnya dan melantunkan doa dia sudah berhasil menjemput mimpinya.


Kini Dirga yang duduk setelah melihat Kanaya yang sudah tertidur. Dirga tersenyum, dia yakin perlahan Kanaya akan terbiasa dan akan menerimanya.


Mungkin cara Dirga untuk memiliki Kanaya salah, tapi cintanya tidaklah salah. Cintanya benar-benar adanya dan dia akan berjuang untuk mendapatkan balasan dari cintanya.


Tiba-tiba saja ada perasaan aneh yang muncul dalam diri Dirga, tubuhnya memanas seiring dia melihat wajah damai Kanaya. Ya! ada gairah yang muncul dalam dirinya untuk menyentuh Kanaya lagi.


"Astaghfirullah hal azim. Tahan, Ga. Kamu pasti bisa menahannya. Kendalikan dirimu dan isi waktumu dengan hal positif. Buang jauh-jauh pikiran kotor mu yang menginginkan untuk menyakitinya. Tahan, Ga. Tahan."


Mati-matian Dirga melawannya, hingga akhirnya keringat terus mengalir di seluruh wajah dan tubuhnya. Tubuhnya gemetar, keinginan untuk menyentuh Kanaya kembali datang dan semakin besar.

__ADS_1


Otaknya terus memutar kesenangan yang akan dia dapat dengan menyakiti Kanaya, bagaimana tangisan juga rintihan dan jeritan itu terus melayang-layang di kepalanya.


Hati juga bibirnya terus beristighfar dia terus menahan semua rasa itu. Dia ingin bisa mengendalikan kelainan itu bukan kelainannya yang mengendalikan dirinya.


Hingga akhirnya Dirga tak kuat lagi menahan semua itu dan memilih keluar dari kamar. Jika dia terus di kamar itu pasti dia tidak akan bisa mengendalikan diri lagi.


Dirga berlari keluar ke belakang rumah, setelah sampai di sana dia langsung terjun begitu saja di kolam renang tanpa melepaskan semua pakaiannya.


Byurr....


Dengan itu mungkin otaknya akan kembali bekerja dengan baik dan akan hilang keinginan-keinginan tak biasa untuk menyentuh Kanaya dengan cara yang kasar.


"Arghhh!" teriaknya.


Tangannya mengusap wajahnya kasar di sambung dengan tangan yang memukuli air. Air matanya mengalir menahan dukanya.


"Kenapa harus seperti ini, apakah ini adalah karma? Arghhh!" Kedua telapak tangan beralih menutup wajahnya rapat. Menekannya dan berharap saat membukanya dia akan baik-baik saja. Tapi ternyata tidak, dia tetap tidak baik.


Kebahagiaan yang seharusnya di jalaninya sebagai pengantin baru kini semua itu telah di hancurkan dengan apa yang menimpanya. Dia ingin bisa normal, bisa seperti suami-suami pada umumnya yang menyentuh istrinya dengan kelembutan dan penuh kasih.


Membuat istrinya mendapatkan kebahagiaan juga kenikmatan yang sama dia dapat, bukan seperti apa yang terjadi padanya, dia akan mendapatkan kenikmatan tapi istrinya sebaliknya dia akan menderita.


Terus Dirga menenggelamkan kepalanya dan menyembulkan lagi menenggelamkan dan menyembulkan lagi hingga berkali-kali. Dia tidak akan naik sebelum semua pikiran kotor itu hilang dari kepalanya.


Bintang-bintang, bulan dan dinginnya malam di tengah kegelapan menjadi saksi penderitaan seorang Dirga. Menyaksikan bagaimana derita Dirga yang sebenarnya ingin dia sembunyikan dari semua seisi dunia.


Begitu lama Dirga di sana, setelah dia tenang baru dia naik dan perlahan meninggalkan kolam. Untung di belakang rumah itu juga ada kamar mandi dan selalu ada handuk di sana. Dirga melepaskan semua baju basahnya di sana sekaligus kembali melunturkan semuanya dengan mandi.


Mengisi waktu dengan hal yang positif, Dirga memutuskan untuk melaksanakan shalat sunnah di kamar yang tadi, dan dia kembali ke sana.


Melaksanakan shalat dengan khusuk, berdzikir berdoa menjadikan Allah tempat dia mengadu akan semua yang dia alami sekarang. Di sambung dengan melantunkan Al-Qur'an dengan sangat pelan karena tak mau membuat Kanaya bangun.


Perlahan-lahan rasa kantuk Dirga dapatkan dan dia menaruh Al-Qur'an di meja. Dia merebahkan tubuhnya di atas sajadah begitu saja. Dia lebih tenang dan merasa nyaman di sana. Dirga tertidur di atas sajadah dengan menahan dingin akibat berendam di kolam hingga cukup lama.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2