
'Terima kasih telah Engkau satukan anak kami dengan wanita yang sangat baik. Wanita yang mampu menjadi penyenang kami, wanita yang akan menjadi penerang rumahnya juga rumah kami.'
# Umi Uswah
...****************...
Sebelum Kanaya akan aktif dalam kursusnya Dirga lebih dulu mengajak Kanaya ke rumah Umi juga Abi_nya. Itupun juga yang sudah di inginkan oleh Umi.
Umi ingin Kanaya tau di mana rumahnya yang sebenarnya juga tak begitu jauh. Hanya dalam waktu dua puluh menit saja perjalanan maka mereka sudah sampai.
Kini ke-duanya sudah ada di perjalanan. Dengan beberapa oleh-oleh yang Kanaya juga Dirga beli di toko oleh-oleh. Juga beberapa buah-buahan.
"Tuan, beneran Umi suka dengan anggur?" tanya Kanaya. Dia sangat was-was kalau sampai Umi tidak menyukainya.
"Kamu tidak usah takut, Umi juga Abi bukan orang yang pilih-pilih. Apapun merdeka akan memakannya," jawab Dirga menenangkan Kanaya yang was-was juga sangat gugup.
Meski ini bukan pertemuan pertamanya tapi Kanaya masih merasa sangat gugup. Jelas saja, siapapun pasti akan merasakan hal yang sama seperti Kanaya apalagi baru sekali dua kali bertemu saja.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai," rumah sederhana berwarna cokelat muda sudah ada di hadapan mereka, mobil pun juga sudah berhenti di pelataran.
"Kita turun," Dirga sudah melepaskan sabuk pengaman tapi Kanaya masih saja diam dengan mata yang terus mengamati rumah itu yang pintunya sudah terbuka lebar.
kabut gelisah terlihat jelas di wajah Kanaya, semua itu juga di perjelas dengan kedua tangan yang saling bertautan satu sama lain.
"Kenapa?" Tangan Dirga terulur, menyentuh tangan Kanaya yang terus bergerak tak tentu.
Kanaya menoleh dan Dirga sudah mendekat juga tersenyum menatapnya.
"A_aku?" bahkan untuk bicara saja rasanya sangat susah untuk Kanaya.
"Tidak apa-apa, Umi dan Abi yang menginginkan kamu datang. Mereka sudah menunggu sejak tadi, yuk," ajak Dirga.
Dirga turun lebih dulu dia berjalan memutar dan membukakan pintu di samping Kanaya. Dan saat itu juga terlihat Umi keluar dari rumah.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian sampai juga. Sudah dari tadi Umi nunggu kalian," Umi terlihat senang dengan kedatangan Dirga juga Kanaya. Umi juga langsung menyambut Kanaya.
Tentu Kanaya akan langsung menyalami Umi, "A_assalamu'alaikum, Umi," sapa Kanaya dengan sangat sopan dan mendapatkan pelukan hangat oleh Umi setelah itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Nduk. Bagaimana kabarmu, sehat to?" tanya Umi seraya melepaskan pelukannya dengan perlahan.
"A_alhamdulillah, Umi. Aya sehat," Kanaya masih saja gugup membuat Umi tersenyum melihatnya.
Tak mau lama-lama di luar Umi menggandeng Kanaya dan mengajaknya masuk, sementara Dirga yang membawa semua oleh-oleh dan berjalan di belakang keduanya.
"Assalamu'alaikum," salam di ucapkan oleh semuanya saat masuk ke rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Abi yang tengah duduk dan membaca kitab tebal dan di depannya terlihat masih ada kopi yang juga masih mengepul.
"Akhirnya, kalian datang juga," di tutup kitab yang Abi baca langsung di taruh di meja. Abi juga berdiri menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Keduanya langsung menyalami Abi secara bergantian kemudian semuanya duduk di ruang itu.
"Mbok, tolong buatkan minum," seru Umi.
"Baik, Bu," jawab mbok yang menjadi asisten rumah di rumah Umi.
"Tidak usah repot-repot, Umi," Ucap Kanaya.
"Tidak kok Nduk," jawabnya.
Penyambutan yang sangat baik dari Umi juga Abi, mereka sangat senang karena kedatangan Kanaya yang baru pertama ini.
Pantas saja Dirga juga sangat baik hatinya karena kedua orang tuanya juga sangat baik. Penuh kasih sayang. Rumah menjadi terasa nyaman dan damai.
Ternyata bukan hanya minum saja yang di bawa oleh mbok tadi tapi juga ada camilan yang terlihat sangat enak. Yang pasti Kanaya juga belum pernah merasakannya.
Semua terlalu banyak yang baru untuk Kanaya, makanan, tempat, hawa panas yang tidak seperti desanya juga masih banyak lagi tentunya.
Tapi meski awal-awal tidak nyaman tapi Kanaya bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Kanaya juga mudah berbaur dengan orang-orang yang baru dia kenal. Meski sebenarnya dia tak banyak bicara sih.
"Ga, kamu benar sudah mendaftarkan Kanaya kursus? kenapa tidak kamu daftarkan paket C supaya dia memiliki ijazah SMA," ucap Abi.
Deg...
Jantung Kanaya berdegup, apa maksud dari pertanyaan itu, apakah ijazah begitu penting untuk semua orang, juga untuk orang tuanya Dirga?
__ADS_1
Apakah Kanaya terlihat kecil dan tak ada apa-apanya jika tak memiliki ijazah?
Kanaya tertunduk mendengar itu lebih tepatnya dia merasa minder saja karena Dirga ataupun kedua orang tuanya adalah orang-orang terpelajar dengan ijazah tinggi, sementara dia? dia hanya memiliki ijazah SMP saja.
"Untuk sekarang belum Abi, lagian belum ada pembukaan untuk paket C. Jadi lebih baik Naya kursus dulu kalau sudah ada pendaftaran paket C nanti bisa Dirga urus," jawab Dirga.
Dirga menoleh ke arah Kanaya, melihat ada sesuatu yang Kanaya pikir karena dia terus menunduk.
Sekuat apapun sebuah hati tapi kalau di singgung masalah seperti itu siapa sih yang tidak akan merasa sedih. Apalagi Kanaya orangnya begitu peka dan mudah menyadari akan semua kekurangannya.
"Tapi bagi Dirga Naya mau punya ijazah atau tidak itu tidak akan mempengaruhi apapun. Karena bagi Dirga Kanaya sudah lebih dari segalanya, Abi," mata terus menatap Kanaya namun bibirnya terus berkata.
"Kamu memang anaknya Abi. Abi bangga sama kamu, Ga. Kamu benar. Bukan ijazah yang membuat rumah tangga tentram dan bahagia. Tapi saling mengerti juga saling mendukung itu juga bisa sangat membahagiakan. Bisa selalu ada saat di butuhkan dan bisa selalu menjadi penyemangat saat kita lemah," ucap Abi.
Sedikit hati Kanaya lega, setidaknya ijazah tidak begitu di agungkan di keluarga Dirga. Tidak di permasalahan entah Kanaya punya atau tidak.
"Tapi ingat ya, Nduk. Meski kamu kursus kamu harus tetap jaga kesehatan, kamu tidak boleh terlalu capek. Kalau bisa, misalnya tak bisa mengurus rumah mending cari asisten rumah saja. Supaya kamu bisa fokus dengan kursus mu nanti dan Dirga bisa serius dengan pekerjaannya," begitu lembut Umi berbicara.
"I_iya Umi. Aya akan selalu ingat nasehat Umi. Tapi untuk mengurus rumah Aya masih bisa kok," jawab Kanaya yakin.
Semua semakin merasa beruntung bisa memiliki Kanaya. Perempuan yang tak mudah tergantung kepada semua orang. Bisa mandiri dan bisa selalu tegar dan sabar meski begitu banyak ujian yang datang padanya. Mereka semua begitu salut dengan kedewasaan Kanaya.
"Hem, bagaimana kalau malam ini kalian menginap dulu di sini. Ya, biar sesekali kita bisa makan malam bersama. Bisa kan, Ga?" Umi terlihat sangat berharap untuk itu.
Dirga menoleh lagi ke arah Kanaya dan hanya di balas dengan senyum pasrah karena Kanaya tak akan bisa memutuskan, semua Dirga yang memutuskan meski keputusan Dirga juga selalu melihat bagaimana keinginan Kanaya lebih dulu.
"Baiklah, tapi hanya malam ini ya Umi. Karena besok Dirga ada kerjaan."
Terlihat Umi sangat bahagia, dia terus mengelus punggung Kanaya dengan penuh kasih.
Tidak ada yang tau, kalau pekerjaan yang di maksud Dirga adalah janji temu dengan dokter Rendra untuk pengobatannya.
"Alhamdulillah!" seru Umi dan Abi bersamaan.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1