
'Izinkan aku membahagiakan mu, izinkan aku menebus kesalahan ku dengan membuat kamu nyaman dan selalu tersenyum.'
#Dirga Gantara
...****************...
Menghilangkan rasa bosan juga melunturkan rasa gugup yang terus datang pada Kanaya Dirga berinisiatif untuk mengajaknya jalan-jalan, berkeliling Kota Semarang yang jelas-jelas belum pernah Kanaya lihat sebelumnya dengan nyata.
Biasanya dia hanya akan melihat bagaimana indahnya melalui televisi saja tapi sekarang dia bisa melihat dengan mata terbuka lebar tanpa perantara televisi.
Dirga memang sengaja mengajak Kanaya pas malam hari, karena kalau siang Kanaya sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai istri yang selalu dengan segudang pekerjaannya.
Tetapi kalau malam, Kanaya menjadi diam dan gugup karena keduanya benar-benar akan bersama dalam satu ruangan.
Tak mengendarai mobil, tapi Dirga sengaja mengendarai motor matic berwarna hitamnya. Sementara Kanaya duduk di belakang dengan miring.
"Nay, kita ke mau kemana?" tanya Dirga.
"Terserah Tuan saja. Aku tidak tau daerah sini," jawab Kanaya.
Begitu malu Kanaya saat ini, bahkan dia hanya berpegangan kecil saja pada jaket Dirga.
"Bagaimana kalau kita nonton bioskop?" tawar Dirga.
"Nonton bioskop?" Kanaya begitu terkejut, seumur-umur belum pernah dia merasakan nonton bioskop. Entah seperti apa di dalamnya dan apa yang di tayangkan.
"Bagaimana, kamu mau?" Dirga begitu memastikan lebih dulu sebelum benar-benar pergi untuk nonton seperti yang di inginkan.
"A_apa boleh?" Kanaya takut.
"Kenapa tidak boleh, kan kamu nonton dengan suamimu bukan dengan orang lain," Dirga menggeleng juga tersenyum.
"Kita berangkat sekarang," Kanaya tak menjawab dan Dirga sudah langsung melajukan motornya.
Rasa penasaran terus berkeliaran di kepala Kanaya. Nonton? apa yang akan mereka tonton. Jangan sampai itu adalah film horor karena Kanaya sangat takut. Tapi juga jangan sampai film mafia karena dia begitu ngeri melihat orang yang bertarung hingga banyak orang yang menjadi korban.
"Tu_tuan. Kita akan nonton apa?" Tanya Kanaya gugup.
"Kenapa, apa ada film yang membuat kamu takut? jangan khawatir, kita nonton yang bikin melow saja biar nggak takut," Dirga kembali tersenyum.
Motor sudah berhenti di salah satu gedung yang begitu menjulang tinggi, benarkah mereka akan nonton di sana?
"Turun," pinta Dirga dan Kanaya langsung turun melihat betapa indah dan kokohnya bangunan yang begitu tinggi itu.
Kanaya begitu takjub, baru kali ini dia melihat bangunan yang seperti itu.
__ADS_1
"Sini biar aku lepasin," belum mendapatkan izin dari Kanaya Dirga sudah langsung melepaskan helmnya. Tentu membuat Kanaya terkejut hingga membuat mata Kanaya membulat ke arahnya. Dirga hanya tersenyum melihatnya, "sudah," helm Dirga letakkan di atas motor dia juga membantu Kanaya membenarkan hijabnya yang sedikit berantakan.
Sebisa mungkin Dirga ingin membuat Kanaya nyaman dan bisa selalu bahagia saat bersamanya. Bukan hanya dia harus berusaha sembuh saja, tapi dia juga harus berusaha untuk membuat Kanaya juga mencintainya.
"Te_terima kasih," Kanaya tetap saja gugup apalagi di perlakuan manis seperti sekarang ini oleh Dirga.
"Hem," Dirga mengangguk dan setelahnya dia menggandeng tangan Kanaya mengajak masuk.
Kanaya hanya diam dan menurut apa yang Dirga lakukan, matanya melihat tangannya juga Dirga yang sudah bertemu dan bergandengan.
Ada rasa bahagia yang muncul, perilaku manis Dirga membuat Kanaya benar-benar menjadi wanita spesial. 'Semoga ini tidak akan pernah berubah, Tuan. Semoga bisa selalu istiqomah,' batin Kanaya.
Keduanya terus berjalan hingga akhirnya berhenti untuk membeli tiket juga minuman dan popcorn.
"Ini apa?" Kanaya masih tak mengerti.
"Popcorn dan minuman teman kita nonton. Sebenernya aku nggak butuh teman karena udah ada kamu yang menemaniku, tapi takut kamu yang bosan," Lagi-lagi Dirga hanya tersenyum.
Wajah Kanaya langsung memerah karena sedikit gombalan Dirga. Tersipu dengan rasa malu hingga membuat Kanaya tak berani melihat ke arah Dirga.
"Yuk," ajak Dirga lagi.
Lagi-lagi Kanaya di buat terperangah dengan keadaan bioskop, deretan kursi duduk dengan manis juga dengan layar lebar yang ada di hadapan semua orang.
Ruang hampir saja penuh dan mungkin film juga akan segera di putar.
Kekaguman Kanaya membuat Dirga yakin kalau dia tak pernah datang ke tempat seperti saat ini. Mungkin memang belum pernah karena Kanaya juga bukan gadis yang suka penasaran lalu harus lihat langsung.
Penasaran ada, tapi tak harus langsung melihat. Kalau di kasih kesempatan untuk bisa melihat juga Alhamdulillah kalau tidak memang bukan rezeki. Itulah prinsip Kanaya.
"Tu_tuan, kita mau nonton apa?" rasa gugup sudah mulai mencair. Mulai membuat Kanaya terbiasa. Mungkin memang itu yang harus dia lakukan dia harus membiasakan diri untuk menjalani status istri dan juga harus berusaha menumbuhkan cinta hanya untuk Dirga saja.
"Hem, Ayat-ayat Cinta," jawab Dirga.
Mata Kanaya langsung sumringah, benarkah dia akan melihat film yang selama ini membuat Kanaya begitu penasaran. Dia sudah baca semua jalan ceritanya di buku tapi dia belum pernah melihat filmnya.
"Bagaimana, apa kamu suka?" Jelas Kanaya suka, dia sangat menyukai film itu. Tapi dengan cerita itu membuat Kanaya harus lagi mengingat kenangan dengan Yuan.
Tapi tidak! dia harus menyembunyikan segalanya dari Dirga. Kini hanya Dirga yang wajib ada di semua ingatannya, kesehariannya bahkan juga mimpinya.
"Hem," Kanaya mengangguk cepat. Menyembunyikan rasa yang sempat hadir. Menyembunyikan kenangan yang datang yang mungkin bisa di lihat oleh Dirga.
"Nih untukmu," terlihat Kanaya mengernyit saat Dirga menyodorkan sesuatu padanya, "sapu tanganku, siapa tau kamu akan mewek nanti. Ada adegan yang bikin nangis loh," Dirga menyeringai tapi bukan meledek.
"Ih, apaan sih, Tuan. Masak Kanaya akan nangis!" suara Kanaya yang terdengar keras membuat semua yang ada di sekitar menoleh padanya.
__ADS_1
Tak tau jika di sana harus diam demi kenyamanan bersama. Supaya semua bisa fokus. Ada kalanya mereka akan tertawa tapi ada kalanya juga mereka akan menangis.
"Tuan," Kanaya meringsuk di lengan Dirga, bersembunyi dari semua orang yang melihatnya.
"Sudah, tidak apa-apa," Dirga melirik, dia bahagia Kanaya dekat begini. Tangannya sudah memegangi baju di lengannya. Tak masalah bukan lengannya tapi kening Kanaya sudah menempel di sana. Hati Dirga sudah berbunga-bunga hanya dengan hal seperti itu.
Perlahan Kanaya membuka mata, melihat tangan yang ada di lengan Dirga. Perlahan dia melepaskan dan berakhir menjadi gugup sendiri.
Sudah yang kesekian kalinya Dirga di buat tersenyum karena kepolosan Kanaya, tingkah malu-malunya itu membuat cinta Dirga semakin besar.
Menyembunyikan rasa gugup Kanaya memakan popcorn, dan saat itu film juga mulai di putar.
Begitu fokus Kanaya pada filmnya sementara Dirga lebih fokus kepada Kanaya yang kadang tersenyum, terkadang sedih.
Mulutnya terus sibuk mengunyah popcorn bahkan tak terasa popcorn satu yang ada di tangannya sudah habis.
Dengan sengaja Dirga menyodorkan miliknya membuat Kanaya makan kepunyaannya.
Begitu menggemaskan.
Itulah yang ada di pikiran Dirga. Dia begitu bahagia bisa membuat Kanaya bahagia meski dengan cara-cara kecil namun akan sangat berkesan.
Begitu lama mereka menonton, Kanaya yang begitu menghayati dan ikut larut di dalamnya membuat Dirga tak tega mengajaknya pulang. Sepertinya wanitanya masih belum puas.
Hiks hiks hiks....
Tiba-tiba saja Kanaya menangis, terbawa akan cerita yang begitu menyedihkan kala melihat adegan dari Maria yang sakit setelah Fahri menikah.
Meski akhirnya Maria juga menikah dengan Fahri namun Maria yang akhirnya tiada membuat Kanaya juga ikut sedih hingga dia tak henti-hentinya menangis.
Kanaya yang menangis namun Dirga yang mengeringkan air matanya dengan sapu tangan miliknya.
Tak kuat dengan kesedihan itu Kanaya tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahu Dirga dan tangannya sudah masuk di lengan Dirga.
"Sedih ya?" tanya Dirga, jelas Kanaya langsung mengangguk namun tetap dalam posisi bersandar pada Dirga.
"Apa kita pulang saja?" tanya Dirga lagi namun Kanaya menggeleng.
"Belum selesai," jawab Kanaya sembari sesenggukan.
Dirga tidak bicara lagi, dia akan membiarkan Kanaya melihatnya sampai selesai. Lagian, Dirga juga begitu menikmati kebersamaan ini. Meski di sana
bukan hanya berdua saja tapi Dirga merasa begitu dekat.
...****************...
__ADS_1
Bersambung.....