
...****************...
Dirga tersenyum namun sekaligus merasa sangat sedih ketika mendapatkan pesan dari Yuan yang berupa foto pernikahannya dengan Hani.
Sekarang, Dirga sangat bingung. Dengan siapa dia akan menitipkan Kanaya kalau dia benar-benar telah pergi seperti apa yang terus dia pikirkan.
"Mas, ada apa?" tanya Kanaya.
"Lihatlah," ponsel itu Dirga sodorkan pada Kanaya. Betapa terkejut bercampur senang karena melihat sahabatnya telah menikah.
"Alhamdulillah..." ucapan Kanaya lirih di bagian akhir setelah melihat dengan jelas siapa mempelai prianya.
"Kenapa, apakah kamu tidak bahagia dengan pernikahan mereka?" kini Dirga yang bertanya.
"Bu_bukan seperti itu, Naya sangat bahagia. Tapi, kenapa mereka tidak memberi kabar bahagia ini pada Naya?" ucap Naya.
"Mungkin mereka sedang sibuk." jawab Dirga sekenanya. Padahal dia sendiri juga tau tapi dia tidak mengatakannya. Buat apa di katakan kalau mereka sendiri saja tidak memberitahu Kanaya.
"Mereka sangat cocok," Kanaya terlihat sangat senang, akhirnya Yuan bisa menikah dengan perempuan yang sangat baik seperti Hani.
"Tidak, menurut mas Yuan lebih cocok dengan mu," kata Dirga.
"Apa sih, Mas. Kanaya ya cocoknya sama mas Dirga lah, masak sama kang Yuan." elak Kanaya.
Dirga tersenyum tapi hatinya sangat bercampur aduk dengan perasaan-perasaan cemas.
"Mas, mas kenapa?" Kanaya panik ketika melihat Dirga yang mengernyit seolah menahan rasa sakit di bagian kepalanya.
"Naya panggilkan dokter," Kanaya beranjak dan ingin bergegas pergi namun tangannya di hentikan oleh Dirga.
"Tidak apa-apa, Mas hanya butuh kamu. Nay, kita belum shalat isya kan? Mas ingin shalat berjamaah dengan mu," kata Dirga.
"Tapi, Mas. Tidak sebaiknya mas di periksa dulu oleh dokter?"
"Ayolah, Nay. Allah sudah menunggu Mas," katanya.
Allah menunggu??
Kanaya tidak curiga apalagi bertanya tentang kata-kata itu tapi Kanaya langsung menurut dan mengambil wudhu, sementara Dirga? Dia bersuci dengan tayamum.
__ADS_1
Dengan sedikit kesusahan Dirga berdiri, memakai koko berwarna putih juga sarung yang berwarna putih juga, bahkan kopyah yang dia pakai juga berwarna putih.
Shalat berjamaah mulai di laksanakan oleh mereka, Dirga yang sebenarnya tidak tahan untuk berdiri lama tetap kekeuh ingin berdiri. Selama mas masih bisa berdiri kenapa harus duduk? Itulah yang dia katakan sebelum shalat di mulai.
Tubuh Dirga terus gemetar seakan ingin jatuh tapi dia tetap bertahan. Dia yakin dia bisa menghadap Allah dengan dia yang masih mampu untuk berdiri.
Dengan selang infus di tangan juga oksigen yang masih menempel di bawah hidungnya Dirga menjadi imam untuk Kanaya. Melaksanakan shalat dengan khusyuk hingga sujud terakhir di shalat isya berjamaah mereka.
Allahu akhbar....
Suara Dirga sudah sangat lemah di saat menuju sujud terakhirnya meski akhirnya dia tetap berhasil melakukan sujud_nya yang terakhir.
Allah berkehendak lain, Allah benar-benar menunggunya hingga itu adalah menjadi sujud yang terakhir Dirga dalam kehidupannya.
Dirga tak kunjung bangun menjemput tasyahud akhirnya. Allah sudah mengajaknya kembali bersama_Nya.
Kanaya terus menunggu Dirga untuk bersuara tapi hingga cukup lama Kanaya tak kunjung mendengar. Perasaan Kanaya benar-benar sudah tak bisa di artikan lagi hingga akhirnya Kanaya tetap menyelesaikan shalatnya hingga salam.
Tangis pecah dengan Kanaya yang langsung menghampiri Dirga setelah shalat di akhiri dengan dua salam.
"Ma_mas..." Tubuh Kanaya gemetar, suaranya juga seolah tak mampu untuk keluar dengan Kanaya yang merangkak mendekati Dirga.
"Mas, mas..." Kanaya menyentuh leher Dirga, menempelkan tangan di hidungnya namun Dirga sudah tak lagi bernafas.
"Mas! Mas! Mas!"
"Mas, bangun mas, Mas!"
Air mata membanjiri pipi Kanaya dan tak sedikit yang menetes pada wajah damai Dirga yang berpulang dalam keadaan tersenyum.
"Dokter! Dokter!"
"Mas, bangun. Naya mohon bangunlah. Mas!"
Lemas, itulah yang Kanaya rasakan. Tubuhnya seakan tak kuat untuk menyingkir pada Dirga dan tangan terus menepuk wajahnya dengan rasa tak percaya.
Bukan hanya dokter dan perawat saja yang masuk tapi juga kedua orang tua Dirga beserta wak Ami ikut masuk.
"Dirga!" Tangis juga pecah dari semua keluarga. Semua ambruk di hadapan Kanaya yang masih tak percaya akan kepergian suaminya.
__ADS_1
"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Suami anda sudah meninggal."
"Tidak tidak, ini tidak mungkin. Mas, bangun mas, bangun! Mas!"
Wak Ami langsung memeluk Kanaya, dia menangis melihat kejadian ini. Kepergian Dirga jelas akan sangat menyakitkan bagi Kanaya.
"Tidak, jangan sentuh suami saya! Dokter bohong, suami saya masih hidup. Dia sudah berjanji pada saya!" Teriak Kanaya ketika dokter dan perawat laki-laki akan menaikan Dirga ke ranjang.
Kanaya terus berontak, tangannya terus mendekap erat kepala Dirga ke dalam dekapannya.
"Mas, ayo bicara mas. Bicara dengan anak kita. Dia masih membutuhkan mas. Mas," Katanya dengan menunduk dan juga memandangi wajah Dirga yang tetap diam.
"Mas, buktikan pada dokter. Dia salah. Mas masih hidup. Mas.."
"Aww!" Di saat Kanaya terus berusaha untuk membangunkan Dirga tiba-tiba perutnya merasa sakit luar biasa.
"Mas, Naya sakit mas, Mas ak akk!" Kanaya masih berusaha, berharap Dirga akan membuka matanya saat dia kesakitan.
Semua panik, pastilah sakit yang Kanaya alami karena Kanaya ingin melahirkan.
Kanaya ambruk, dia tak mampu lagi memeluk Dirga, sakit luar biasa yang membuatnya melepaskan Dirga.
"Nay Nay!" Wak Ami pun panik.
"Nak." Umi Uswah pun juga sama. Semua panik di tengah-tengah duka dan air mata.
"Cepat bawa ke ruang persalinan!" titah sang dokter.
"Tidak, tidak, aku mau bersama suami ku.. Akk!" Kanaya menggeleng, dia menolak untuk di angkat padahal sudah jelas-jelas darah sudah keluar begitu juga dengan ketubannya yang sudah pecah.
"Nay, ayo Nak." Abi Hasan membujuk Kanaya. Meski dia juga sangat berduka tapi keselamatan Kanaya juga cucunya tidak boleh di abaikan.
"Tidak, Abi, Kanaya ingin di sini bersama mas Dirga, akk!"
Semua tak mengindahkan perkataan Kanaya dan langsung mengangkat Kanaya.
"Tidak, tidak... Mas.. Buka matamu... Mas!!"
********
__ADS_1