Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Apakah Salah?


__ADS_3

****************


Malam semakin larut kini Yuan pulang namun dia lebih dulu mengantar Hani. Bukan hanya karena atas permintaan dari Kyai Ahmad tetapi juga keinginannya sendiri karena Hani hanya sendiri dan jalannya juga searah jadi sekalian untuk pulang.


Di bawah rembulan malam keduanya berboncengan namun tetap tidak saling menempel Hani begitu menjauh sampai bajunya pun tidak menyentuh Yuan.


Semilir angin malam menemani kepulangan mereka berdua bunyi hewan malam begitu menguasai ruang yang begitu luas namun tetap malam itu seakan sunyi.


Tidak ada perbincangan dari keduanya hanya diam namun pikiran mereka saling berperang dengan angan-angan yang berbeda. Ingin sekali Hani mengatakan sesuatu kepada Yuan memberi kekuatan untuk bisa melewati hidupnya yang sekarang tetapi Hani tidak memiliki keberanian itu hingga dia hanya diam.


"Han, apa kamu selalu berkirim pesan dengan Kanaya, bagaimana dia sekarang. Sudah sangat lama dia tidak pulang juga tidak ada kabar. Bahkan dari awal pembangunan Villa sampai kini hampir selesai mereka sama sekali belum pulang," ucap Yuan memecah keheningan.


Ada sedikit rasa tak suka di hati Hani saat Yuan berbicara tentang Kanaya. Apakah dia salah, apakah dia berdosa jika memiliki sebuah rasa dan sebuah mimpi bersama Yuan?


Bukan keinginan Hani akan datangnya perasaan itu tetapi perhatian juga kelembutan dari Yuan yang membuat rasa itu hadir dalam hatinya. Lalu, apakah Hani salah jika dia tidak menyukai setiap kata-kata mengenai Kanaya.


Hani tidak membenci Kanaya tetapi dia tidak menyukai semua kenangan di hati Yuan yang tidak bisa dia lupakan. Yah! Mungkin memang terselip rasa egois dari perasaan yang dia miliki.


"Pernah, meski tidak setiap hari tetapi kami sering bertukar kabar. dia baik. Sekarang dia tengah mengikuti ujian paket c, dan juga minggu depan dia juga ada acara penerimaan sertifikat dari tempat dia kursus menjahit. Alhamdulillah dia sudah menyelesaikan kursusnya di kelas dasar, dan katanya setelah selesai ujian dia akan kembali kursus di kelas mahir."


Penjelasan dari Hani membuat Yuan begitu senang, semua yang tidak bisa dilakukan olehnya kini bisa dilakukan oleh Dirga. Mimpi yang dulu ingin diwujudkan untuk Kanaya perlahan juga diwujudkan oleh Dirga. Meski ada rasa menyesal karena bukan dia yang mewujudkannya tetapi Yuan tetap bahagia karena mimpi Kanaya satu persatu akan terwujud.


"Katanya dia juga akan pulang setelah villanya jadi, karena kata dia Mas Dirga tidak mau pulang ke tempat wak Ami," ucap Hani lagi.


Meski Kanaya tidak menjelaskan apa alasannya mereka tidak mau kembali ke tempat wak Ami tapi mereka berdua sangat tahu kenapa itu bisa terjadi.


Setelah pernikahan Arifin yang gagal keluarga itu seperti dikucilkan oleh semua orang, kedua orang tua Arifin harus menanggung malu karena perbuatan Arifin yang telah terbukti dan dia benar-benar menikahi kedua wanita yang telah dihamili.


Sekarang keluarga itu terlihat semakin runyam dengan kehadiran dua wanita di rumah itu sementara Arifin sendiri sekarang tidak ada di rumah dia pergi entah ke mana dengan alasan ingin merantau untuk mencari pekerjaan supaya bisa menghidupi kedua anaknya.


"Alhamdulillah kalau dia baik-baik saja entah kenapa hari-hari ini aku selalu merasa dia adalah masalah dia selalu muncul dalam mimpi dengan wajah yang begitu sedih. Semoga saja semua itu hanyalah bunga tidur." ucap Yuan.


Hani terdiam tak lagi mengatakan apapun lagi, ternyata bukan hanya di dalam sadar saja Yuan masih mengingat Kanaya dan kenangannya bahkan dalam mimpi saja Kanaya masih selalu hadir. Apakah memang Hani hanya akan memiliki rasa yang sepihak yang tidak akan pernah terbalas?


Yuan benar-benar mengantarkan Hani sampai depan rumah. Sudah malam, bahkan sangat malam.

__ADS_1


Kedua orang tua Hani masih belum tidur, bahkan ayahnya duduk di bangku yang ada di emperan karena menunggu Hani pulang.


"Mampir dulu, Kak?" tawar Hani.


"Tidak usah, Han. Sudah malam. Kapan-kapan saja kalau siang," jawab Yuan yang menolak. Waktu sudah malam tidak baik jika bertamu juga kedua orang tua Hani juga harus istirahat.


"Mampir dulu, Nak!" suara ayahnya Hani sedikit berteriak.


"Terima kasih, Pak lik. Tapi nggak usah, udah malam," jawab Yuan.


"Ya sudah, terima kasih sudah mengantarkan Hani dan hati-hati di jalan. Gelap!"


"Iya Pak lik. Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam," jawab Hani dan ayahnya bersamaan.


Motor langsung pergi dari halaman rumah Hani. Sejenak ayah dan anak itu melihat kepergian Yuan lalu masuk.


"Bagaimana hubungan mu dengan Yuan, Han?" pertanyaan itu membuat langkah Hani terhenti.


"Kenapa dia kesal?" gumam sang ayah.


Sementara Yuan, kini malah berhenti di depan lahan yang dulunya ladang yang sebentar lagi akan menjadi villa.


Di tempat itulah tempat yang biasanya menjadi tempat pertemuan mereka. Di sanalah Yuan selalu memberikan bunga mawar kesukaan Kanaya.


"Semua hanya tinggal kenangan, Aya. Tapi kenangan ini tak bisa aku lupakan. Bahkan perasaan ini juga sangat susah untuk tergantikan."


"Kenapa rasa ini semakin besar bahkan setelah kamu tak bisa aku miliki," gumam Yuan.


Bangunan yang begitu indah yang sudah kokoh dan hanya tinggal finishing saja.


Memang tak bisa di lihat dari jalan karena tertutup oleh beteng-beteng juga gerbang besi yang tidak akan bisa mudah di buka.


Senyum pilu keluar dari bibir Yuan kala mengingat semua kenangan itu.

__ADS_1


"Semoga kamu selalu bahagia, Ay. Dan doakan aku juga semoga bisa bahagia seperti dirimu," imbuhnya lagi.


****************


Hingga malam hari Kanaya juga Dirga baru pulang. Ternyata benar, bukan hanya singgah ke masjid saja tapi juga berhenti di pasar malam yang kebetulan tengah di mulai malam itu.


Seperti anak kecil Kanaya memegangi jajanan gula kapas yang di belikan oleh Dirga. Menikmatinya dengan sesekali menyuapi Dirga.


"Sudah, kamu daja yang makan," ucap Dirga setelah kembali Kanaya suapi.


"Nggak lah, ini begitu banyak. Aku tidak akan habis jadi mas juga harus makan. Kalau hanya aku sendiri nanti hanya aku yang terlihat manis," Kanaya terkekeh.


"Nggak apa-apa dong kalau manis. Mas kan jadi betah di rumah."


Kanaya menggeleng tidak setuju dia kembali menyuapi Dirga lagi dan itu harus tidak boleh tidak.


Dengan terus fokus menyetir Dirga menerima suapan demi suapan dari tangan Kanaya. Sungguh nikmat.


Tiba-tiba saja tangan Kanaya terhenti di tengah-tengah antara mereka berdua. Ada sesuatu yang terjadi di hatinya.


Tiba-tiba ada rasa gelisah yang datang yang tidak tau apa sebabnya. Bukan hanya sebatas gelisah saja, tetapi tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca dan satu persatu lolos air matanya. Aneh, ya! itu sangat aneh karena Kanaya sendiri tidak tau kenapa.


"Loh, kok nangis ada apa?" mobil langsung Dirga hentikan, Dirga sangat bingung.


Kanaya menggeleng, dia tidak tau. Tapi ada satu yang jelas, ingatannya tiba-tiba mengarah ke Yuan.


"Hey, kenapa?" tanya Dirga semakin bingung.


"Nggak tau," tak ingin Kanaya menjelaskan apa yang ada di ingatannya. Ingin dia tetap menjaga perasaan Dirga. Jika Dirga tau pastilah dia akan sangat kecewa bukan? pasti dia akan mengira kalau Kanaya masih punya harapan pada Yuan.


Kanaya yang terus tersedu langsung di peluk oleh Dirga.


****************


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2