Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Mendekati Perlahan


__ADS_3

'Kedatanganku bukan membawa hati yang kosong. Tetapi kedatanganku membawa sejuta cinta juga harapan besar untuk mu. Untuk kita. Terima lah cinta yang ku bawa, meski sedikit demi sedikit aku yakin cintaku akan menempati hatimu seutuhnya, Naya_ku.'


#Dirga Gantara


...****************...


"Dirga, Buka Yuan," ucap orang itu yang tak lain adalah Dirga.


Kanaya terdiam, kecewa karena bukan orang yang di rindukan yang datang, tetapi orang lain yang tadi mengatakan cinta kepadanya.


"Ke_kenapa anda datang lagi?" Kanaya begitu bingung. Pasalnya dia pikir kalau Dirga pergi dan kembali lagi pulang ke rumahnya.


"Tadinya saya memang berniat untuk pulang. Tetapi saya mengingat mu. Jadi saya kembali," jawab Dirga yakin.


Kanaya mengernyit, apa yang bisa di ingat dari dirinya bahkan tadi dia sudah menolaknya. Jelas-jelas Kanaya tak menerima pernyataan cinta dari Dirga. Apakah Dirga mengingat kata-kata itu sebagai yang mempermalukan?


"Apakah anda datang untuk marah pada Saya, ataukah Anda ingin membalasnya?" begitu serius Kanaya bertanya tetapi Dirga hanya menanggapi dengan santai. Bahkan aura wajahnya tidak seperti orang yang marah ataupun kesal.


Fuhh....


Tiba-tiba Dirga malah meniup wajah Kanaya. Meniup mata Kanaya yang membulat sempurna menatapnya. Setelahnya Dirga juga malah tersenyum melihat Kanaya yang terkejut juga mulai kesal.


"Tuan apa-apaan sih!" protes Kanaya.


"Kamu semakin menggemaskan kalau sedang kesal seperti ini, Naya. Aku suka melihatnya," Dirga terkekeh meski wajah Kanaya berubah-ubah.


"Mau pulang jalan kaki atau naik mobil, atau...?" Dirga terdiam.


"Atau?" Kanaya menirukan kata terakhir Dirga.


"Atau naik punggung ku. Aku gendong, hehehe," Dirga terkekeh sendiri karena perkataannya. Menggoda Kanaya ternyata semakin menyenangkan. Apalagi melihat Kanaya yang semakin kesal namun malah terlihat semakin menggemaskan.


Perlahan-lahan Dirga mulai mendekati Kanaya, mendekati hatinya dengan kebersamaan juga perlakuan kecil. Membiasakan Kanaya akan kehadirannya, dan berharap Kanaya akan terbiasa dan bisa menerima cintanya.


Tak ada yang tidak mungkin meski di dalam hati Kanaya sudah ada orang lain. Tetapi bukankah secara status Kanaya masih sendiri? siapapun bebas kan untuk mendekatinya.


'Semoga cara ini bisa berhasil, aku tidak mau dekat dengan mu, mendapatkan cintamu dengan cara yang salah. Aku ingin kebersamaan kita abadi, Naya. Selamanya kita bahagia,' batin Dirga.


Matanya menatap lekat wajah Kanaya yang sedikit basah. Dirga mengambil sapu tangan dan perlahan mengusap wajah Kanaya tanpa minta persetujuan. Tentu Kanaya sangat terkejut.

__ADS_1


"Tu_Tuan, apa yang anda la..."


"Aku hanya mau mengeringkan wajahmu saja," jawab Dirga sebelum Kanaya selesai bicara.


Kanaya tetap menjauhkan wajahnya meski Dirga sudah menjelaskan. Kanaya terus saja menjauh. Bukan apa-apa, tetapi Kanaya takut akan ada omongan miring dari orang lain juga melihat mereka berdua.


"Tolong ya, Tuan. Jangan dekati, Kanaya." pinta Kanaya.


"Baiklah. Saya akan menjauh darimu kalau lagi di rumah. Kalau sedang berada di sini ya aku akan terus mendekat," kekeuh nya.


"Saya mau pulang," Kanaya memalingkan wajah.


"Tolong pegang sebentar," Dirga menyodorkan payung sebelum Kanaya melangkah. Tentu Kanaya langsung menerimanya namun tetap dalam kebingungan.


Kanaya berdiri menunggu apa yang akan Dirga lakukan dan ternyata Dirga melepaskan jasnya. Entah apa yang dia inginkan.


"Nih, kamu yang pakai. Aku sudah kebal dengan air hujan. Tapi kamu pasti kedinginan kan?" Dirga langsung memakaikannya kepada Kanaya.


Begitu bekerja keras Dirga untuk bisa mengambil hati Kanaya. Hal-hal kecil dia lakukan.


"Ti_tidak usah, Tuan. Saya sudah terbiasa seperti ini. Anda saja yang pakai," Kanaya ingin melepaskan jas Dirga namun tangan Dirga menahannya.


"Tidak usah. Kamu yang lebih pantas memakainya. Katanya mau pulang, yuk aku antar. Takut hujannya lebih lebat lagi. Hem, atau mau pulang ke Semarang?" gurau Dirga.


"Iya, Semarang! rumah ku." Dirga terlihat serius.


Kanaya tidak menjawab dia langsung berjalan.


"Tuan, bisakah Anda menjauh sedikit dari saya?" pinta Kanaya.


"Bagaimana bisa saya menjauh, Naya. Payungnya hanya satu. Kecil lagi. Kalau saya menjauh nanti kehujanan."


"Hem, atau kita naik mobil saja supaya kita tidak terlalu dekat? Tetapi kalau aku lebih baik seperti ini saja. Lebih romantis," Dirga mengedipkan matanya.


Kanaya diam berpikir, namun tak lama akhirnya Kanaya langsung berlari tanpa menghiraukan Dirga. Dirga terdiam melihat Kanaya dan ternyata gadis itu lari ke arah mobilnya yang berhenti.


"Tuan jadi anter saya atau tidak! kalau tidak Kanaya pulangnya lari saja!" teriak Kanaya.


Hati Dirga bersorak penuh kemenangan. Akhirnya gadis itu mau juga naik mobilnya. Meski harus dengan drama kecil tetapi tak masalah.

__ADS_1


'Saya yakin perlahan-lahan kamu akan terbiasa akan kedatangan ku, Naya. Cepat atau lambat aku yang akan ada di hatimu, bukan laki-laki itu.' batin Dirga.


"Jalan, Pak," pinta Dirga setelah mereka berdua masuk.


Sama seperti tadi pas pergi ke kebun Kanaya begitu menjauh. Dia tak mau sampai menempel sedikitpun pada Dirga. Bahkan sekedar bajunya saja tidak!


...****************...


"Assalamu'alaikum," salam Kanaya setelah sampai rumah.


"Wa'alaikumsalam!" mendengar suara Kanaya datang dengan mengucapkan salam Wak Ami langsung datang menghampiri. Dia yang sedang berada di depan tungku untuk menghangatkan tubuh langsung berlari.


Sedari tadi Wak Ami begitu mengkhawatirkan Kanaya apalagi setelah tau kalau Kanaya tidak jadi pergi ke desa Lembayung.


"Ya Allah, Nduk. Kamu dari mana wae toh!"


"Heh, Aya... Aya dari makam emak dan bapak, Wak."


"Oalah, seharusnya kamu ngomong kalau mau ke sana, Aya. Kan wak bisa ikut juga. Wak juga udah lama nggak nyekar," jawab wak Ami.


"Assalamu'alaikum, Bu." sapa Dirga yang ternyata juga ikutan masuk.


"Wa'alaikumsalam. Eh, ada nak Dirga juga. Sini nak masuk." ajak wak Ami yang begitu ramah.


"Tidak usah, Bu. Saya langsung pulang saja." Dirga hendak bergegas pergi.


"Eh, ada nak Dirga juga." baru saja Dirga mau keluar wak Tejo datang, membuat Dirga kembali urung dan lebih menyapa dan menyalami wak Tejo.


"Iya, Pak. Ta_tadi saya lihat Naya kehujanan dan kebetulan saya sedang lewat jadi sekalian mengantarkannya pulang. Maaf jika saya tidak izin lebih dulu pada bapak dan ibu." jawab Dirga yang terlihat begitu tak enak. Dirga takut kalau sampai wak Tejo marah padanya.


"Sudah, nggak perlu izin untuk itu. Kapanpun kamu mau kamu bisa ajak Ayya kemanapun. Saya izinkan untuk itu." jawab Wak Tejo begitu sumringah.


Ada angin segar untuk Dirga. Akhirnya dia mendapatkan izin dari wak Tejo selalu wali Kanaya. Berarti dia akan bisa leluasa untuk menemui Kanaya kapanpun di manapun.


"Hem," hanya senyum kecil yang keluar dari bibir Dirga padahal sejatinya di dalam hati dia tengah bersorak-sorai dengan girang.


"Sini-sini duduk dulu," ajak wak Tejo yang tak bisa di hindari oleh Dirga. Hingga akhirnya Dirga menurut, "Aya, buatin teh hangat untuk nak Dirga!" pinta wak Tejo.


"Iya, Wak." jawab Kanaya. Sebenarnya malas Kanaya untuk itu, tetapi dia lebih menghargai tamu. Juga Dirga telah mengantarkannya pulang dan Dirga juga terlihat kedinginan. Hitung-hitung sebagai balas budi.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2