
**********
Begitu buru-buru Kanaya saat ini. Dia begitu tak sabar ingin secepatnya melewati hari ini dan bisa bertemu hari esok. Jelas Kanaya sudah sangat tidak sabar untuk bisa bertemu besok karena besok dia akan kembali ke Magelang.
Bertemu dengan orang-orang yang sangat sayang padanya dan tentu sangat dia rindukan. Salah satunya adalah sahabatnya, Hani.
Kanaya tau, pastilah Hani sangat kesepian sekarang setelah tak ada Wati juga tak ada dirinya yang harus ikut dengan suami mereka masing-masing di tempat suaminya.
Kanaya berjalan dengan girang saat masuk ke LPK, dia terus berwajah berbinar.
Begitu senangnya sampai-sampai dia begitu fokus pada jalan dan tak melihat seseorang yang sudah menunggu kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan sang pengganggu yang begitu terobsesi padanya, Zein Andriawan.
"Pagi cantik, seneng banget hari ini sampai-sampai tak melihat ku yang sudah menunggu di sini," Zein langsung melompat dari tempat duduknya dan cepat menghampiri Kanaya.
Wajah berbinar Kanaya seketika berubah senyumnya seketika hilang. Dia tidak mau sampai Zein berfikir kalau dia bahagia karena ingin bertemu dengannya. Tidak mungkin kan?
"Cerita dong, ada apa kok seneng banget?" Zein terus melangkah mengejar Kanaya yang juga tak berhenti. Meski tau di acuhkan tetap saja si Zein tak peduli. Atau mungkin tak tau diri atau tak tau malu?
"Bukan urusanmu," Hanya itu yang Kanaya katakan itupun juga tanpa menoleh ke arah Zein.
"Kenapa, apakah semalam kamu mendapatkan jackpot?" Bisik Zein.
Tentu pertanyaan ini sekarang langsung menghentikan Kanaya. Kalau ditanya mendapatkan hadiah besar maka Kanaya mendapatkannya. Kanaya mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sangat besar dari suaminya.
Hadiah yang lebih besar dan indah yang tak bisa di banding-bandingkan dengan apapun.
"kalau iya kenapa, apakah itu juga menjadi masalah untukmu?" Begitu sinis Kanaya menjawab.
Kanaya tidak akan sesinis ini kalau yang bertanya tidak selalu ikut campur dan juga tak terus mengganggunya. Kanaya benar-benar sangat kesal pada Zein.
"Kenapa kamu menerimanya?" Zein begitu tak suka. Dia tau hadiah yang di dapat Kanaya adalah dari suaminya.
__ADS_1
Lagi-lagi Kanaya berhenti karena pertanyaan Zein. Emangnya ada masalah apa sampai-sampai Zein seperti tak rela Kanaya menerima sesuatu dari orang lain apalagi yang memberikannya adalah suaminya sendiri.
"Itu juga bukan urusan mu," Lagi Kanaya menjawab lalu kembali berjalan.
Kanaya begitu bingung, dengan apa dia bisa menghentikan Zein yang begitu terobsesi padanya. Meski Kanaya tidak tau sebenarnya maksud dari Zein tapi setiap hari yang selalu mengganggunya ini pastilah ada niat tertentu. Benar begitu kan?
"Naye! Astaga nih cewek susah bener di deketin," Gumam Zein dan kembali berlari.
Dengan langkah cepat Kanaya menghindar dari Zein tapi dengan cepat pula Zein mengejarnya. Sepertinya tak akan menyerah begitu saja si Zein itu.
Mendapatkan Kanaya benar-benar menjadi sebuah tantangan untuknya. Tak peduli Kanaya menolak dan gak peduli dia sudah bersuami. Zein senang melakukannya dan itu yang akan terus dia lakukan.
**********
Dirga begitu sibuk di kantornya. Perusahaan kecil-kecilan di bidang manufaktur. Perusahaan yang memproduksi bahan baku mentah hingga menjadi setengah jadi atau sudah jadi baru akan di jual pada konsumen.
Sebenarnya pekerjaan Dirga begitu banyak bahkan sangat banyak tapi dia selalu bisa menggunakan waktu dengan baik. Dia juga sangat pintar membagi waktu, waktu bekerja, istirahat juga waktu yang memang harus dia gunakan untuk bersama dengan keluarga.
Itulah roda. Dia biasa fokus dengan pekerjaan hingga kini bisa sukses dan menjadi pembisnis muda. Dan sekarang dia sudah bisa menikmati bersama keluarga juga dengan istrinya.
Tak mudah untuk Dirga memberikan apapun yang menjadi keinginan atau mimpi Kanaya karena Dirga memang memiliki segalanya.
"Pak. Ini berkas yang anda minta," Seorang masuk ke ruangan Dirga dan langsung menyerahkan berkas pada Dirga.
"Terima kasih, Pak Andi." Dirga menerimanya dengan bibir yang tersenyum.
"Oh iya, Pak. Besok saya akan libur selama tiga hari. Tolong untuk semua berkas yang harus aku tanda tangani langsung kirim ke e-mail saja. Atau mungkin yang bisa menunggu tunggu sampai saya kembali masuk," Ucap Dirga.
Yah! Pak Andi adalah sekretaris Dirga. Sengaja Dirga memilih sekretaris laki-laki karena dia tak mau sampai ada fitnah yang terjadi.
"Baik, Pak. Apa masih ada lagi?" Tanya pak Andi.
__ADS_1
"Sepertinya tidak. Saya akan katakan jika ada. Pak Andi bisa kembali bekerja," Ucap Dirga.
"Baik, Pak. Saya permisi," Pamitnya.
Setelah kepergian pak Andi Dirga malah membuka semua surat yang sudah menumpuk di dalam laci nya. Entah surat dari siapa itu Dirga tidak tau.
Karena itulah Dirga ingin mencari tahu sendiri dan datang ke Magelang. Dirga sangat yakin dia akan menemukan jawabannya di sana.
"Siapapun kamu, aku pasti akan menemukan mu. Entah kamu masih keluarga Kanaya atau tidak tapi kamu harus tetap mendapatkan hukuman yang setimpal karena berusaha untuk memisahkan aku dengan Kanaya."
Begitu kekeuh Dirga untuk bisa secepatnya mengetahui siapa yang memberikan surat itu. Tapi Dirga sangat yakin, pasti masih berbau keluarga Kanaya. Karena hanya keluarga yang tau alamat Dirga.
Dirga mengambil pigura yang ada di hadapannya. Ternyata adalah foto Kanaya yang tengah lari-larian di taman waktu itu. Yang tengah tersenyum kala menoleh ke arahnya.
Senyumnya mampu membuat Dirga juga ikut tersenyum, dia sangat bahagia bisa memilikinya. Dirga merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung karena memiliki Kanaya yang seperti sebuah permata yang indah.
"Kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku, Nay. Dan senyum mu juga akan menjadi senyum ku. Semua akan aku lakukan demi kamu, demi kita. Keluarga kecil kita yang sudah kita awali dengan bahagia." Gumamnya.
Senyum Dirga semakin lebar kala mengingat kejadian semalam, akhirnya dia bisa menahan semuanya dan memberikan apa yang seharusnya dengan cara yang benar.
"Bukankah aku harus ke dokter Rendra?" Dan baru ingat kan sekarang.
Dirga mengemasi semua barang-barangnya, bersiap untuk ke tempat dokter Rendra. Semua harus di jelaskan.
Bukan niatnya Dirga membicarakan hubungan di atas ranjang pada orang lain. Dirga tau Allah sangat membenci itu. Entah istri ataupun suami tidak boleh membicarakan urusan ranjang yang di lakukan pada pasangan kepada orang lain. Tapi apa yang di alami Dirga sangat berbeda.
Dirga harus tau. Dirga juga tidak mungkin membicarakan secara terperinci karena itu artinya dia membuka aib sendiri. Dirga hanya ingin menceritakan tentang masalah kelainannya saja.
Dirga cepat keluar dari sana bergegas pergi ke dokter Rendra. Dia juga harus menjemput Kanaya juga jadi dia harus bergerak cepat. Semoga saja di rumah sakit dia tidak antri, pikirnya.
*******
__ADS_1
Bersambung....