
...Playlist: Yours (JIN BTS)...
"Syahdu."
Syahdu tersadar dari lamunannya. Dia menoleh kebelakang dan mendapati Adina berdiri dibelakangnya.
"Ini, pulanglah duluan." Adina menyerahkan payung lipat pada Syahdu.
"Lho, kamu gimana?" Tanya gadis itu bingung.
"Gue ntaran aja. Bentar lagi juga reda. Lo kan, harus ke rumah sakit." Dalam hatinya, Adina hanya ingin Syahdu pergi cepat supaya tidak menjadi tatapan orang-orang, supaya gadis itu tak mendengar gosip yang pasti menyakitkan baginya.
"Bener nih, ngga apa-apa aku pake dulu?"
Adina mengangguk pasti. Lalu, Syahdu pun mengambil payung itu dari tangan Adina.
"Hati-hati, Syahdu." Ucap Adina pada Syahdu yang tengah membuka lebar payung biru Adina.
"Iya. Aku duluan, ya, Din. Baaii." Syahdu melambaikan tangan. Lalu melangkahkan kakinya keluar. Dia berjalan cepat menerobos hujan, sampai saat ia menyadari sesuatu.
Syahdu menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap Adina yang sudah berjalan kembali ke kelas.
"Dia.. manggil aku Syahdu?" Gadis itu terus menatap punggung Adina yang perlahan menghilang diantara orang-orang yang berdiri di koridor.
Bukan masalah jika Adina memanggilnya Syahdu. Toh, Adina juga sudah tahu masa lalunya. Tapi, kenapa berubah? Bukankah tadi di kelas Adina masih memanggilnya dengan sebutan Laras?
Syahdu menggeleng kecil. Bukan hal besar dan dia tak perlu mempermasalahkan hal itu. Syahdupun melanjutkan langkahnya, pergi ke rumah sakit untuk menemui neneknya.
...π...
Arga menghentikan langkahnya saat mendengar tawa Awan. Padahal wajah lelaki itu sudah penuh luka. Dia juga tidak bisa lagi bergerak akibat serangan membabi buta dari Arga. Lalu, apa yang membuatnya tergelak.
"Lo sampe ngelakuin ini.." Awan menjeda kalimatnya. Dia menelan darah yang masuk akibat luka dari bibirnya.
"Secinta itu sama pelacur lo?" Awan terkekeh lagi. Tawa yang sebenarnya terdengar terpaksa.
"Percuma.. haha.. percuma." Awan dengan susah payah berdiri. Dia sempoyong, tapi masih menatap punggung Arga dengan tawa kecilnya.
"Sampe matipun, dia ga akan cinta sama lo."
Arga enggan menoleh kebelakang. Dia membiarkan saja Awan berceloteh disana.
"Dia.. udah cinta mati sama cowoknya. Dan lo cuma jadi badutt. Badut yang mau ngelakuin apa aja asal pelacur lo senang." Awan tertawa lagi. Namun tawanya berhenti saat wajah berang Arga kembali mendekatinya dengan kepalan tangan yang siap menghajarnya.
Dia tersungkur. Tubuhnya tersandar pada tembok kokoh. Awan tak lagi tertawa, dia terbatuk akibat hantaman keras pada dadanya.
"Gue nggak segan bunuh lo, kalo sekali lagi lo usik hidup Syahdu!" Teriak Arga supaya Awan mendengar ancamannya.
Awan mendengar itu dengan sangat jelas walau suara hujan juga mendominasi. Tapi dia tahu ancaman Arga benar adanya.
"Terserah, mau lo percaya atau nggak. Yang jelas, gue ngga nyebar apapun ke kampus soal Syahdu. Dan biar lo tau, tanpa gue pun, hidup anak itu bakalan hancur! Aaakhh!"
Satu tendangan keras Arga luncurkan pada Awan, sampai lelaki itu mengerang memegangi perutnya.
"Lo yang buat dia hancur! Brengsek!!" Awan terbatuk. Wajahnya berang pada Arga, namun dia tak bisa melakukan apa-apa. Dia sudah kalah.
__ADS_1
Arga pergi tanpa menghiraukan ucapan Awan. Dia masuk ke dalam mobil dalam keadaan basah kuyup, dan langsung mencari ponselnya.
Arga menelepon Syahdu. Ingin tahu kabar gadis itu. Tapi, Syahdu tak mengangkat teleponnya.
Dia kembali mengetik satu nama, Adina.
'Halo.' Suara Adina terdengar lemah disana.
"Syahdu, dia dateng?" Tanya Arga langsung.
'Iya. Dia dateng.'
"Trus, dia gimana?"
'Belum tau sampe sekarang. Dia buru-buru ke rumah sakit.'
Arga diam. Tak ada lagi yang bisa ia tanyakan pada Adina. Mendengar itu, dia sedikit lega.
"Oke. Thanks." Ucapnya kemudian menutup ponsel.
Arga mencengkram erat kemudi. Jari-jarinya terluka akibat ia menghantam tembok saat Awan mengelak tinjuannya.
Tetesan air dari rambut Arga membuat kemudi ikut basah. Tapi Arga tak peduli sedikitpun. Yang dia khawatirkan hanya Syahdu.
Apa yang dibilang Awan benar. Bagaimana pun hidup Syahdu akan berubah sekarang. Tersebarnya berita itu pasti membuat Syahdu menderita. Arga juga khawatir jika Awan nekat menyebarkan berita tentang dirinya dan Syahdu yang punya hubungan kontrak.
Dia berharap, semoga saja dengan kejadian hari ini, Awan bisa berbikir tentang efek yang akan ia terima jika berani mengganggu Syahdu.
...π...
Hari mulai gelap. Syahdu pun mempercepat langkahnya memasuki kosan Wicak. Walau dia agak ragu, aneh rasanya jika ia masuk ke dalam seperti tadi karena ini kosan laki-laki. Tapi tak ada cara lain. Dia ingin memastikan sendiri keadaan Wicak.
"Eh, Syahdu."
Syahdu menoleh. Itu lelaki yang kamarnya disebelah Wicak baru datang dengan motornya. Namanya siapa, Syahdu lupa.
"Mau ketemu Wicak, ya?"
"I-iya, kak."
"Dia masih sakit, ya? Soalnya susah banget diajak ke dokter."
"Udeeh, ngapain lu ajak ngobrol." Teman diboncengannya mengeplak pelan kepalanya. "Masuk aja, mbak. Dorong aja pintunya, sekalian bukain ya, hehe."
Syahdu mengangguk lalu membuka lebar pintu utama supaya motor mereka masuk.
Dia segera mengetuk kamar Wicak saat tiba di depannya.
Tak lama, lelaki itu mmebuka pintu masih dengan pakaian yang tadi. "Syahdu, masuk."
"Eh, Cak, dah sembuh lo?" Tanya Khairul.
"Mayan." Jawabnya.
"Iya deh, Lumayan ya, ada cewek lo langsung sembuh." Sahutnya.
__ADS_1
"Eh, Rul. Tadi lo mau bilang apa? Katanya kelas gempar. Emang gosip apaan?"
"Eee...." lelaki itu menggaruk pilipisnya.
"Alah, gosip ga penting, Cak. Kayak gatau Semprul aja lu." Sambung temannya yang lain. Lalu masuk ke dalam kamarnya yang terletak di depan kamar Wicak.
"Hehe. Iya. Gue masuk dulu, dah." Khairul langsung menutup pintu kamarnya.
"Masuk, yuk." Wicak menarik tangan Syahdu masuk kedalam kamar.
Setelah menutup pintu, tangannya yang menggenggam Syahdu terasa masih panas.
"Kakak udah makan?"
Wicak menggeleng lemah. Wajahnya masih pucat.
"Kita makan dulu, ya. Setelah itu, minum obat."
Wicak malah menarik Syahdu dalam pelukannya. Dia memejamkan matanya yang terasa panas sejak tadi. Memang dia juga merasa suhu tubuhnya kian naik.
"Kak.."
"Sebentar, Syahdu." Wicak menahan tubuh Syahdu yang hendak melepaskan diri.
"Kakak harus makan dulu. Badan kakak panas banget."
Wicak tak lagi menjawab. Dia hanya merasakan Syahdu dalam pelukannya. Gadis itu pula semakin mengeratkan pelukannya. Dia bisa merasakan debaran jantung Wicak. Bahkan panas tubuhnya pun terasa di pipinya.
"Syahdu.." Wicak melepaskan pelukannya.
"Iya."
Lelaki itu menangkupkan kedua tangannya ke pipi Syahdu. "Janji sama aku. Jangan tinggalin aku apapun alasannya."
Syahdu melihat mata Wicak yang cukup dalam menatapnya. Lelaki itu meminta untuk tetap berada di sisinya, sesuatu hal yang sangat ingin Syahdu lakukan dari lubuk hatinya yang terdalam. Walau sebenarnya dia ingin melarikan diri dari Wicak, supaya lelaki itu bisa hidup dengan baik tanpa dirinya.
"Syahdu.." Wicak mencari bola mata yang enggan menatapnya. "Kamu.."
Syahdu menggenggam tangan hangat Wicak yang berada di pipinya. "Memangnya aku terlihat mau pergi dari kakak?" Tanya Syahdu, berupaya menahan air matanya, berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Lelaki itu menunduk. Entah apa yang yang pikirkannya saat ini, Syahdu tidak tahu. Belakangan, Wicak sering sekali melakukan hal aneh secara tiba-tiba seperti ini.
"Aku sangat-sangat menyayangi kakak. Aku bahkan ga bisa bayangin gimana kehidupanku tanpa kakak." Syahdu akhirnya melepaskan air matanya. Dia tak bisa melanjutkan kata-katanya, dia tak mau berjanji apapun saat ini. Karena dirinya juga masih bimbang.
Syahdu menarik tangan Wicak untuk duduk di atas kasur. Dia mendekatkan meja kecil dan membuka makanan yang ia beli tadi.
"Makan dulu, ya, kak. Aku udah makan. Abis ini kakak minum obat, aku gabisa liat kakak sakit."
Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum. Dia mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.
Sementara Syahdu merasa hatinya sesak. Padahal tadi nenek sudah sembuh dan infusnya juga sudah dibuka. Baru saja dia mencari jalan untuk lari, tapi ucapan Wicak membuatnya dalam kebimbangan.
Syahdu menatap lagi kertas berisi kata pengantar yang tadi pagi ia baca. Dia benar-benar tahu bagaimana perasaan Wicak padanya. Tapi yang ia lakukan hanya sebuah kesakitan.
Syahdu memalingkan wajahnya. Dia tak bisa menahan air mata yang menetes. Jangan sampai Wicak melihatnya menangis, jangan sampai Wicak tahu semua rahasianya bahkan sampai ia mati. Jangan sampai suatu hari Wicak bersedih atas kesalahannya dalam memilih pasangan hidup. Syahdu tak ingin semua itu terjadi. Tidak.. Syahdu menghembuskan napas perlahan. Dia menghapus air mata. Lalu menyahut pada Wicak yang meminta untuk disuapi. Syahdu segera mengambil sendok dan menyuapi Wicak dengan hati-hati.
__ADS_1
TBC