
"Syahdu."
Arif berdiri di depan pintu rumah Nani. Dia ingin mengetuk tadinya, tapi ternyata Syahdu sudah membuka pintu duluan.
"Arif.."
Arif memindai Syahdu dari atas sampai bawah. Perempuan itu tampak rapi dan cantik. "Apa mau pergi?" Tanya Arif kemudian.
Syahdu mengangguk. "Ke rumah kak Septi."
Arif mengangkat alisnya. "Mau ke salon, ya?"
Syahdu memilih tak menjawab, lalu mempersilakan Arif duduk. Nampaknya lelaki yang masih berpakaian batik itu langsung ke rumahnya sepulang dari mengajar.
"Ada yang mau dibicarakan, ya?" Tanya Syahdu saat Arif baru duduk di kursi sebelah Syahdu. "Mau kubuatkan teh?"
"Engga usah, aku cuma sebentar. Hm.. sebenarnya aku mau nanya sesuatu. Entah ini benar atau tidak, aku ingin mendengarnya langsung darimu."
Syahdu menunggu Arif menyelesaikan ucapannya. Nampaknya memang ada hal serius menyangkut dirinya saat ini.
Arif mengeluarkan selembar foto dan meletakkannya diatas meja sebelah mereka.
"Itu.. aku dapat dari Tari."
Syahdu menatap foto itu cukup lama. Ya, Tari memang mengambil foto itu kemarin. Tapi tak sangka bisa sampai ke tangan Arif.
Syahdu menghela napas. Nampaknya memang dia harus mengatakannya pada Arif. Apalagi lelaki itu sudah berulang kali menyatakan keseriusannya pada Syahdu.
"Kata Tari, kamulah orang yang dicari Arga selama ini. Kamu lari 7 tahun yang lalu, begitu juga lamanya perempuan yang dicari Arga menghilang."
Padahal Syahdu hendak berbicara duluan, tapi kalimat yang didulukan Arif justru membuat lidah Syahdu kelu.
"Apa benar begitu, Syahdu?" Arif menatap kesampingnya, tepat dimana Syahdu mematung, memilih kata yang tepat untuk ia ucapkan.
__ADS_1
Syahdu menarik napas panjang. Nampaknya memang dia harus jujur dan berterus terang saja pada Arif.
"Aku juga nggak tau, apa yang dimaksud Arga aku, atau orang lain." Jawab Syahdu pada Arif yang hanya menunduk, mendengar jawaban Syahdu yang mungkin akan membuat hatinya berdenyut.
"Tapi aku memang mau balik ke kota lamaku. Aku ingin menemui Arga, dan meluruskan beberapa hal yang perlu keselesaikan padanya."
"Berarti benar, kalau kamu dan Arga punya hubungan di masa lalu. Apa laki-laki yang bernama Wicak itu juga kekasihmu?" Tanya Arif penasaran. Kenapa Arga bisa mencari dan menunggu Syahdu selama itu. Lalu sebagai apa posisi Arga jika ada laki-laki yang katanya kekasih Syahdu yang telah meninggal dunia?
"Itu..." Syahdu menggantung kalimatnya. Sejujurnya ia tak ingin membahas lagi masa lalunya pada siapapun termasuk Arif.
"Aku ngga bisa jelaskan banyak. Tapi memang, aku dan Arga punya hubungan yang sulit dijelaskan."
Arif diam saja. Dia juga tak bisa mengorek banyak hal pada Syahdu yang jelas-jelas tak nyaman membahas itu padanya. Hanya saja, kenapa seorang seperti Arga yang dikagumi banyak perempuan sampai menunggu seorang Syahdu sampai bertahun-tahun lamanya?
Ya, memang Arif akui. Syahdu begitu cantik dan wajahnya membuat siapapun tahu dia gadis polos dan baik hati. Terlihat pula bagaimana cara bicara dan tingkah lakunya selama ini. Tak ayal Arif pun jatuh cinta dibuatnya.
"A-apa.. kamu kembali kesini lagi?" Tanya Arif. Dia harus tahu apakah Syahdu kembali lagi atau menetap disana dan kembali bersama Arga, setelah ia tahu lelaki itu mencarinya.
Arif mengangguk paham. Syukurlah, kalau Syahdu benar-benar hanya meluruskan permasalahannya. Mungkin supaya lelaki terkenal bernama Arga itu tak lagi mengusik lewat lagu-lagunya.
Setelah percakapan bersama Arif usai, Syahdu menuju tempat yang sejak awal ia ingin tuju. Disana ia memotong rambut panjangnya sampai punggung. Jangan ditanya, Syahdu sendiri tidak tahu kenapa dia memilih rambutnya yang pendek sebelum bertolak ke kota lama. Padahal ia selalu memanjangkan rambut dan sekarang, dia tersenyum di depan cermin saat Septi selesai memangkas rambutnya.
"Kelihatan lebih segar ya, Du. Awas digoda anak SMA. Dikira sebaya. Hihihi..." seloroh Septi dan Syahdu hanya tertawa pelan.
"Mau balik kampung ya, Du?" Tanya Septi, sembari membereskan sisa rambut dibawah lantai.
"Iya, kak."
"Wah, baru kali ini pulang kampung. Selama pindah kemari ngga pernah, ya. Rindu juga ya, kan, sama kampung halaman."
Syahdu diam. Sebab dia sebenarnya melarikan diri dulunya, bukan pindah.
...🍁...
__ADS_1
Syahdu berdiri di sisi sebuah makam yang tampak rapi meski sudah tujuh tahun berlalu. Dia tersenyum, akhirnya bisa berkunjung ke makam yang sudah lama sekali membuatnya bersedih.
Gadis itu menabur bunga. Sesuatu terjadi dalam batinnya, tentu saja kesedihan yang enggan memudar.
Kematian itu semengerikan apa? Tujuh tahun berlalu tapi rasa sakitnya masih sama. Sungguh luar biasa.
Syahdu berjongkok, mengusap batu nisan beratas namakan Aditya Wicaksana. Tadi, dia sudah ke makam neneknya, karena setiba di bandara Syahdu langsung datang ke makam dua orang kesayangannya dengan koper yang berdiri tak jauh darinya.
"Kak.. apa kabar.." Tanya Syahdu pada batu nisan.
"Maaf, kak.. aku baru datang. Aku selama ini jadi pengecut. Lari bertahun-tahun karena ngga mau ngerasain sakit hati lagi. Pengennya hidup tenang tanpa beban dan masalah. Rupanya ngga kesampaian karena luka masa lalu yang nggak bisa tertutup rapat. Padahal kalau aja aku sabar sedikit lagi, aku mungkin aja nemuin kebahagiaan disini."
Mendengar ucapannya sendiri membuat Syahdu tersenyum kecut. Kebahagiaan apa? Memangnya bahagia itu apa? Dia belum pernah merasakannya.
"Makasih banyak udah jagain aku. Kakak baik-baik aja kan, sama nenek?"
Gadis itu mengelus rumput hijau yang tumbuh cantik diatas pusara Wicak. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia teringat ucapan Nani, yang sepertinya itu benar bahwa Syahdu sudah berpaling hati.
"Ternyata.. selama ini kakak tau aku suka sama orang lain. Itukah sebabnya kakak terus minta aku untuk ngga tinggalin kakak? Itukah sebabnya kakak berubah dari Wicak yang cuek menjadi Wicak yang romantis dan penuh cinta?"
Entah untuk yang keberapa juta kali, air mata Syahdu menetes ke pusara Wicak.
Syahdu baru saja menyadari, dulu dia melihat Wicak menatap tak suka pada Arga yang tengah menunggu untuk pergi naik gunung bersama. Juga Wicak yang bertanya soal apapun tentang hubungannya sama Arga. Wicak begitu pintar menyembunyikan perasaannya, membuat rasa bersalah Syahdu kian bertambah.
"Kenapa ya kak, aku ngga sadar sama perasaanku sendiri? Sebenarnya perasaanku ke kakak kayak apa, ke Arga bagaimana? Aku ngga tau, kak. Aku ngga tau..." Tiba-tiba saja air matanya tumpah. Buru-buru Syahdu menghapus air matanya dan menarik napas guna menenangkan hatinya.
"Aku udah datang, kak. Jadi kumohon, jangan datang ke mimpiku dengan nuansa pedih seperti itu. Datanglah baik-baik. Kita bisa mengobrol seru di dalam mimpi, kan? Bisa kan, kak? Aku rindu.." Syahdu kembali mengusap nisan Wicak. Dia berharap, semoga kehadirannya tak lagi membuat mimpi tersedih selama 7 tahun itu hadir. Sungguh, Syahdu tak kuat jika mimpi itu datang dan perasaannya kembali remuk seperti saat pertama kali mendengar kabar Wicak meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Syahdu."
Syahdu segera menoleh kebelakang saat mendengar suara laki-laki yang ia sangat kenali. Dia berdiri, ditatapnya lekat-lekat lelaki yang pernah dekat dengannya itu. Kenapa dia disini? Dia mau mendatangi makam siapa? Syahdu bertanya-tanya dalam hatinya.
TBC
__ADS_1