SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Aku pemenang?


__ADS_3

...PoV Arga Alexander...


Setelah Syahdu turun, aku pun melepaskan tawaku yang langsung pecah teringat ekspresinya tadi. Padahal aku cuma bercanda, tapi dia menanggapinya dengan serius. Lagi pula, mana mungkin melakukan itu disini. Aku juga ngga gila!


Aku masuk ke dalam apartemen dan mendapati Syahdu tengah bersenandung merdu di dalam walk in closet.


Akupun diam di depan pintu, mendengarkan suaranya yang indah itu. Tapi setelah kuperhatikan, dia tampak sangat bahagia. Memilah-milih pakaian dengan bibir yang merekah. Ada apa anak itu? Kesambet apa dia?


Aku mendekatinya, bersandar di pintu penghubung sembari melipat tangan di dada. Memperhatikan perilaku yang jarang sekali terjadi pada wanita sewaanku itu.


Dia menggantungkan tiga buah dress dan memperhatikan dress itu dengan seksama.


"Mau kemana lu?" Tanyaku sekalian melirik jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Memangnya dia mau kemana lagi.


Syahdu menoleh ke belakang. "Eh, Ga. Bagusan yang mana, ya?"


Dia malah bertanya. Baju-baju itu aku yang beli. Jelas bagus semua.


"Semua bagus." Jawabku malas.


"Iya, maksud aku, diantara tiga ini, mana yang paling bagus? Paling cakep, gitu."


Aku memperhatikan dress itu satu persatu. Jika dilihat dari wajah Syahdu saat ini, sepertinya.. "Yang denim." Aku menunjuk dress pendek berbahan denim yang ada aksen mutiara di kancing-kancingnya.



Syahdu mengangguk sambil tersenyum lebar. "Aku juga mikirnya yang itu, sih."


Ckck. Heran. Memangnya perempuan seribet ini, ya? Padahal udah tahu jawabannya, kenapa malah membandingkan lagi? Kalau memang suka yang itu, pakai saja. Memangnya siapa yang peduli dengan apa yang kau pakai?


"Mau kemana lu?" Sekali lagi aku bertanya. Kalau tidak dijawab lagi, aku akan menyeretnya ke atas ranjang.


"Eng..." dia menjeda kalimatnya. Nampak berpikir sejenak lalu menggelengkan kepala. "Nggak kemana-mana."


Terserahlah. Aku membuka laptop melanjutkan pekerjaanku yang sudah menumpuk. Kulihat dia masuk ke dalam kamar mandi dan bertahan di dalamnya selama tiga puluh menit.


Dia keluar dengan harum yang kini membuatku sulit berkonsentrasi. Syahdu lagi-lagi bersenandung. Dia mulai mengusap tubuhnya dengan body lotion. Bagian tangan, leher, lalu dia mengangkat satu kaki ke atas tempat tidur, mengusapkan body lotion secara merata ke paha dan kakinya, membuat handuk itu tersingkap ke atas memperlihatkan seluruh paha mulusnya.

__ADS_1


Tanpa sadar, aku bertopang kepala menatap ke arahnya. Syahdu pula juga melihat ke arahku dan langsung membalikkan tubuh. Hah, apa maksudnya itu.


Sudah palang berdiri, aku pun masuk ke dalam walk in closet, memilih satu lingerie berwarna hitam. Dia belum pernah memakai ini, kan? Pasti karena ini terlalu seksi. Aku tersenyum kecil dan mengambil lingerie itu.


"Pake ini."


Matanya membulat melihat apa yang kusodorkan padanya.


"T-tapi, biasanya juga ngga pernah pakai begituan lagi, kan.."


Banyak alasan. Aku mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi bersama lingerie itu. Memberinya waktu untuk memakai lingerie hitam yang kini menjadi kesukaanku.


Akupun duduk melanjutkan kerja, aku tahu dia butuh waktu untuk memakai itu.


Setelah beberapa menit, aku mendengar suara pintu terbuka. Tak sabar aku langsung menoleh. Syahdu berdiri canggung dengan berusaha menutupi bagian bawah dirinya dengan tangan.


Aku mendekat, memindai tubuhnya dari atas sampai bawah. Memang melebihi harapanku, body Syahdu sangat cocok dengan lingerie itu.


"Kenapa liatinnya begitu banget, sih." Ketusnya padaku.


"Muter." Titahku padanya, menyuruhnya berputar karena aku ingin melihatnya dari depan maupun belakang.


Lama aku memandangnya sampai dia merasa risih.


"Bisa mulai aja, nggak?"


"Hoo.. gak sabar, ya? Lagi pengen?"


Syahdu membulatkan matanya. "Enggak!"


"Kalau iya juga ngga apa-apa." Ledekku padanya.


Syahdu mendengus kesal. "Ya udah aku ganti aja!"


"Eeeh! Jangan."


Syahdu merengut dan wajahnya itu sangat cantik di mataku.

__ADS_1


"Jangan ganti. Gue mau ngerjain pekerjaan gue dulu. Lu duduk disitu, temenin gue." Aku langsung menuju tempat dimana laptop dan berkas-berkas berserak di atas sofa.


"Aku risih, Ga. Ini tuh, nggak nyaman."


Aku tak meresponnya dan memilih duduk memangku laptop. Syahdu pun dengan malas mengikutiku. Dia duduk di hadapanku dan memainkan ponselnya. Seolah hiburan, aku benar-benar mengerjakan tugasku sambil sesekali melirik ke arahnya.


Dia tampak tak peduli bahkan tak melirik ke arahku. Sesekali dia tersenyum entah melihat apa di ponselnya.


Aku tak bisa fokus. Syahdu yang diam saja sudah membuatku tergugah, bagaimana jika dia sedikit centil padaku? Aku pasti takkan tahan.


Aku berdiri di hadapannya, sudah tidak kuat lagi, akupun memilih untuk memulainya saja.


Syahdu mendongak, "Apa?"


Aku langsung menjatuhkan diri ke atas sofa, mengungkungnya diantara kedua tanganku di sandaran sofa.


Perlahan aku mencium bibirnya sambil tanganku meraba keseluruh tubuh Syahdu. Seperti biasa, tidak ada respon darinya. Mungkin harus menunggu beberapa waktu lagi sampai Syahdu mau meresponku.


Terus terang, aku agak berharap soal itu. Bagiku, berhubungan bukan hanya fokus pada satu pihak. Tapi keduanya harus merasa puas. Walau yang kurasakan adalah Syahdu yang hanya sekedar menjalankan kewajibannya saja. Berbeda sekali dengan perempuan yang biasa kusewa. Walau mereka juga menjalankan kewajiban, setidaknya mereka merespon dan menikmati apa yang kulakukan pada mereka.


Aku pernah berpikir untuk memberinya obat prangsang saja supaya dia yang meminta duluan dan meresponku. Tapi rasanya terlalu jahat. Aku membiarkannya saja, menunggu sampai dia melakukannya karena dia yang menginginkannya.


Syahdu langsung beranjak setelah permainanku selesai. Dia masuk ke dalam walk in closet untuk berganti. Sementara aku masih mengatur napas, memperhatikannya sampai ia keluar lagi dari sana. Dia naik ke tempat tidur, menelungkup sambil bermain ponsel, tertawa-tawa kecil entah karena apa.


"Aaak. Kak Wicaakk!"


Aku bisa mendengar itu meski terlalu pelan. Tapi aku sudah mengerti, apa yang membuat raut bahagianya sejak tadi muncul.


Aku merogoh tas untuk mengambil ponsel, tetapi tanganku menggapai satu kertas kecil, jadwalku manggung di salah satu night cafe. Aku berniat mengajaknya pergi besok malam. Apa dia mau, ya?


"Arga." Syahdu memanggil dari atas tempat tidur. "Besok sibuk, nggak?"


"Sibuk." Jawabku langsung. Memang benar, aku harus bertemu klien oma siang hari. Walau setelah itu tidak ada jadwal lagi sampai manggung di malam harinya.


"Enggg.. kalau gitu, besok pagi aku mau keluar. Aku bilang ini supaya kau tidak kecarian kaya tadi."


"Hm." Jawabku singkat. Apa dia pergi dengan pacarnya? Kalau iya, berarti besok dia juga tidak bisa datang ke acaraku.

__ADS_1


Ya sudah, biarkan saja. Toh, aku memang sedari awal membebaskannya untuk berpacaran. Lagi pula, dia tidak melakukan apa-apa sama pacarnya selama 7 tahun pacaran. Justru akulah orang pertama yang menyentuhnya. Bukankah aku pemenangnya?


TBC


__ADS_2