
Untunglah, sampai permainan selesai, tak ada suara apapun yang keluar dari mulut Syahdu.
Arga menghempaskan tubuhnya ke sebelah Syahdu. Dia merasa sangat letih, apalagi sudah lama sekali ia tidak melakukan itu pada Syahdu.
"Ga." Panggil Syahdu disebelahnya.
"Hm."
"Kamu... main sama perempuan lain juga?"
Arga mengambil napas sebelum menjawab. Dadanya masih sesak seperti habis melakukan lari cepat dua kilo meter.
"Enggak."
"Tapi yang tadi.."
"Udah lama banget, sebelum ketemu lo." Jawabnya dengan dada yang naik turun. "Kenapa. Lo cemburu?" Arga menoleh pada Syahdu.
"Enggak. Ngapain juga cemburu. Cuma.. kalau kamu gonta-ganti pasangan segs, bisa nularin aku penyakit."
"Hah? Hahaha." Arga malah tertawa. Dia menopang kepalanya menghadap Syahdu.
"Hei, denger, ya. Dulu emang gue beberapa kali lah, main diluar. Tapi gue selalu pake pengaman. Cuma sama lo gue ngga pake."
"Kenapa gitu?"
"Percuma dong, gue bayar lo kalo harus pake pengaman juga."
"Pake pengaman kan, biar ngga nularin penyakit atau hamil. Dari pada aku yang repot minum obat." Balas Syahdu.
"Ya bukan cuma itu." Arga menurunkan wajahnya lalu berbisik. "Rasanya beda."
Syahdu melirik sebentar, kemudian manggut-manggut. Iyain aja, biar cepat, pikirnya. Soalnya dia juga tidak paham karena menurutnya sama saja.
"Kata temen kamu waktu di acara reuni, kamu suka godain perempuan." Ujar Syahdu.
"Enggaklah. Cewek-cewek itu yang deketin gue. Mereka yang ngajak. Gue nggak pernah ngajak mereka duluan."
Syahdu menatap wajah Arga lekat-lekat. "Masa, sih?"
"Lo nggak percaya?" Arga meraih ponselnya di atas nakas lalu meletakkan kepalanya satu bantal dengan Syahdu, membuka ponsel dan menunjukkan ratusan chat di whatsappnya.
"Nih, lo baca. Arga sayang, kapan kita main-main di hotel?" Arga menirukan suara perempuan, membuat Syahdu menahan senyum.
"Ni juga. Arga, aku nungguin kamu lho. Ingin memanjakanmu diatas ranjang. Telpon aku, dong." Ucapnya dengan nada yang sama, dan berhasil membuat Syahdu mengeluarkan tawanya.
"Liat kan, gue yang dirayu-rayu."
"Kenapa nggak dibalas?" Tanya Syahdu.
"Buat apa. Gue udah ada lo." Jawabnya cepat dan Syahdu pun menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Jadi, kalau ngga ada aku, kamu terima?"
"Yaa.. tergantung mood."
"Berarti udah banyak ya, Ga. Seribu cewek, ada ngga?"
"Hah. Gila. Ya, enggaklah. Paling juga lima atau enam cewek, tapi berulang kali."
Syahdu menggeleng-geleng kepala. Ngeri juga hidup si Arga, pikirnya.
Kini mereka menatap langit-langit sambil bercerita.
"Tapi gue nggak pernah ngerasain perawan." Ucap Arga tiba-tiba. Membuat Syahdu menoleh padanya sambil berkata dalam hati, masa sih??
"Sumpah." Lanjutnya seperti tahu apa yang Syahdu pikirkan. "Gue ngerasai perawan cuma sama lo. Yang lain...." Arga menggelengkan kepalanya.
"Gue cuma lakuin itu kalau mereka yang mau dan ngajak gue duluan. Gue laki-laki normal, diajakin kaya gitu, ya gue ayo-ayo aja."
"Cuma cewek yang sering melakukan segs, yang akan berani ngajak duluan." Lanjut Arga lagi.
Syahdu hanya diam mendengarkan cerita Arga.
"Tapi.. semenjak sama lo, gue jadi ngga kepikiran perempuan lain, sih." Ucapnya sambil menatap Syahdu yang sangat dekat dengannya. Syahdupun menatap Arga. Dia merasa sedikit berbeda dengan tatapan lelaki itu.
Cup
Arga mencium kening Syahdu kemudian bangkit dari tempatnya.
"Gue mau keluar. Mau beli barang-barang buat mendaki besok. Lo istirahat aja dulu, soalnya gue mau lanjut lagi nanti." Arga menaik-naikkan alisnya pada Syahdu. Nampaknya suasana hati Arga sangat baik karena hasratnya telah tersalurkan.
"Mau gue beliin apa?" Tanya Arga sebelum membuka pintu. Benar kan, suasana hatinya bagus.
"Eng... nggak usah, deh."
"Yakin? Kalau ada yang lo pengen, chat gue aja, ya." Ucapnya lalu keluar dari apartemen.
Syahdu masih diam di atas tempat tidur. Dia menyentuh dahi yang dicium Arga tadi. Belum pernah Arga melakukan itu sebelumnya. Biasanya Arga hanya cium bibir, itupun saat akan melakukan segs. Diluar itu, tidak pernah.
Syahdu bangkit dan menuju kamar mandi. Dia harus menjaga pikirannya dari hal-hal lain. Yang seperti itu pasti biasa banget bagi Arga. Itu sebabnya Syahdu tak mau hal kecil itu mengusik pikirannya yang jelas-jelas tak berarti apa-apa bagi Arga.
~
Syahdu merasa bosan. Dia terus menggonta-ganti channel televisi dan tak ada satupun yang menarik baginya. Beberapa kali dia menguap, matanya mulai ngantuk padahal baru pukul 9 malam.
"Popi, kamu ngantuk, ngga?" Tanya Syahdu pada anjing kecil dipangkuannya. Tetapi anjing itu ternyata sudah tidur duluan.
Perlahan dia mengangkat Popi dan meletakkannya di kasur mungil milik anak anjing itu.
Syahdu tiba-tiba teringat dengan nasi goreng yang dia request dari Arga. Syahdupun segera meluncur ke dapur dan mendapatkan sepiring nasi goreng di atas meja.
Gadis itu duduk, mengamati nasi goreng yang dibuatkan Arga untuknya.
__ADS_1
'I-ini.. buatan dia?' Syahdu tertawa. Mungkin Arga mengira Syahdu seperti anak TK kali, ya. Sampe nasi goreng dibentuk seperti boneka beruang yang lucu dengan telor dadar imut seperti selimut bagi beruang itu. Makannya pun tak tega.
Syahdu memotret dan mengunggahnya di sosial media.
Sementara di tempat lain, Arga tengah tersenyum-senyum menatapi status Syahdu. Gadis itu menyukai buatannya, tentu membuat Arga senang. Tak sabar ingin pulang untuk menemui perempuan itu lagi.
~
Selesai makan, Syahdu malah semakin ngantuk. Dia duduk di tepi tempat tidur sambil meregangkan tubuh. Padahal baru makan, rasanya tak bisa langsung tidur dengan perut kenyang. Rasa bosan mulai menguasainya.
Tak ada pula novel disana, novel-novel yang waktu itu dia beli sudah habis terbaca. Nampaknya dia harus membeli lagi supaya tidak begitu terasa berjalannya waktu.
Untunglah ponselnya bergetar, Wicak meneleponnya. Dengan semangat 45 Syahdu bergerak meraih earphone dan berbaring di tempat tidur sambil menerima telepon Wicak.
'Syahdu, aku ganggu?' Tanya Wicak dari seberang.
"Enggak. Aku malah senang kakak nelepon. Suntuk." Jawabnya. Dia menarik selimut dan memiringkan tubuh, mengambil posisi yang nyaman.
'Besok jadi perginya?'
"Jadi. Rame-rame, kok."
'Hati-hati, ya. Awan bawa berapa tenda? Awas ya, jangan satu tenda dengan dia.'
Syahdu tergelak. "Enggalah, kak."
'Bukannya dulu kalian begitu? Rame-rame tidur satu tenda.'
"Itu kan, dulu. Oh ya, kakak udah pulang kerja? Capek, nggak?"
'Capek, kalau ada kamu pasti minta dipijetin.'
Syahdu terkekeh. Kalau bisa, dia ingin sekali melakukan itu.
'Bakalan ngga ketemu dua hari, ya.'
"Kan, kakak juga sibuk nyiapin Expo."
'Iya, sih. Tapi kalau bisa liat kamu sebentaaarrr aja, semangatku pasti naik lagi.'
Syahdu tergelak. Mereka pun terus mengobrol sampai beberapa jam hingga hanya keheningan yang mengisi diantara keduanya.
Arga yang baru masuk, meletakkan barang-barangnya di atas lantai dekat tempat tidur. Diliriknya Syahdu, gadis itu sudah terlelap dengan earphone di telinganya.
Arga tersenyum kecil. Lalu saat ingin mengambil ponsel Syahdu, dia terkejut mendapati panggilan telepon masih berlangsung.
Nama di layar jelas, itu kekasihnya. Untung saja Arga tidak ada bersuara sejak tadi.
Pelan-pelan Arga menempelkan earphone di telinganya untuk mendengar suara diseberang. Tetapi tidak ada, hanya suara napas teratur Wicak yang terdengar. Nampaknya mereka sama-sama tertidur.
Arga menutup telepon dan meletakkannya di atas nakas. Dia pun naik ke tempat tidur dan membuka selimut Syahdu.
__ADS_1
♡♡♡