
Aku menatapi leher Arga yang masih bebekas merah karena ulahku. Aku memejamkan mata kuat-kuat. Kenapa aku bisa sampai melakukan hal itu, sih. Aku heran dengan diriku sendiri walau aku sudah benar-benar ingat karena aku menganggap Arga adalah kak Wicak malam itu. Tapi, apa aku seagresif itu??
"Ngapain lo liat-liat leher gue?"
Suara ketus Arga membuatku menundukkan pandangan. Padahal aku udah minta maaf berkali-kali tapi tidak juga membuatnya lebih baik. Apa separah itu ya, aku?
Arga menyelesaikan makannya dan pergi begitu saja. Sementara aku membereskan semua yang ada di meja makan sambil berpikir cara yang tepat supaya mood anak itu membaik dan aku bisa pergi dengan kak Wicak hari jumat nanti.
Setelah selesai, aku melihat Arga duduk di balkon sambil merokok.
Aku menarik napas sebelum akhirnya ikut duduk di balkon dengan Popi yang mengikutiku dari belakang.
Arga menyesap rokoknya dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Dia terus menatap ke depan tanpa melirik ke arahku. Rasanya dia juga tengah berpikir karena matanya yang tak bergerak, terus menatap ke depan.
Popi kuelus diatas pahaku. Bayi mungilku itu cepat sekali akrabnya, padahal dia milik Arga.
"Ga, kamu masih marah? Aku kan, udah minta maaf. Lagi pula, aku ngga sadar."
Arga masih saja diam, menyesap rokok dan menghembuskannya perlahan.
"Tapi nih, ya. Setelah kupikir-pikir, bukannya yang kaya gitu sangat biasa? Kita juga sering melakukannya, kan. Toh, aku juga ingat kok, kamu yang duluan ngegas aku dan-"
"Pppffttt.."
Aku berhenti saat mendengar Arga terkikik disebelahku. Bahunya terguncang karena tawa yang ia tahan dengan tangannya.
"Kok ketawa?"
Aku memperhatikannya sampai ia selesai tertawa. Entah apa yang membuatnya tertawa sampai seperti itu. Biarkan saja, asal dia memaafkanku dan aku bisa pergi dengan kak Wicak.
"Udah siap ketawanya?"
Arga menoleh dengan sisa tawaan di wajahnya. "Lucu lo!" Tukasnya dan kembali mengesap rokoknya.
"Lucu apanya, sih?"
Arga malah diam dan kembali menatap ke depan. "Gue nggak marah. Lupain aja soal itu."
__ADS_1
Aku mengangguk lambat, baguslah kalau memang dia sudah memaafkan aku. Itu artinya aku udah bisa bilang soal aku yang akan pergi minggu ini.
"Bukan gue ngelarang lo buat dateng pas gue ngisi acara. Cuma lo harus hati-hati, apalagi di tempat kaya gitu. Nggak mabuk aja lo bisa ilang." Tukas Arga tiba-tiba.
"Ilang gimana?"
"Diculik om-om."
Hah? Aku bergidik, membayangkannya aja ngeri. Tapi masa, sih? Kayaknya dia ngerjain aku, soalnya dia tertawa tanpa suara. Yah, terserahlah. Yang penting suasana hatinya sudah membaik.
"Besok masuk siang, kan? Paginya lo harus temeni gue."
"Kemana?" Tanyaku penasaran.
"Ngga usah banyak nanya. Ikut aja."
Ya sudahlah, terserah padanya saja. Paling juga belanja kebutuhan. Soalnya kulihat, kulkas udah mulai kosong. Lalu, aku teringat sesuatu, tentang nenek yang perlahan sudah membaik.
"Arga, nenekku udah baikan." Ucapku memulai topik baru.
"Syukur, deh."
Arga hanya mengangguk-angguk tanpa menoleh padaku.
"Eng.. apa artinya.. aku juga ga perlu melayanimu lagi?" Tanyaku dengan hati-hati.
"Perlu gue bacain ulang isi kontraknya?" Jawab Arga secepat kilat.
Aku mencebik. Padahal udah tau jawabannya, kenapa aku pake nanya segala.
"Lo mau bebas dari kontrak itu?" Tanya Arga tiba-tiba dan sukses membuatku membulatkan mata.
"Mau, mau!" Jawabku cepat.
"Bayar denda. Murah, kok. Lo tinggal minta cowok lo itu bayarin dendanya, kan? Setelah itu, lo bebas." Jelas Arga dengan penekanan di ujung kalimatnya.
Haah. Nyesal aku berharap pada Arga. Memang mustahil dia melepaskanku secara cuma-cuma begitu. Dia juga tidak mungkin mau rugi, kan. Itu artinya, aku memang harus menjalani ini selama dua tahun lamanya.
__ADS_1
Ya sudahlah, toh selama ini tidak ada yang curiga denganku dan Arga. Arga juga baik-baik aja, malah nambah uang jajanku.
Setelah kurasa pembicaraan selesai, aku membawa Popi masuk ke dalam. Udara diluar sangat dingin sementara Aku hanya memakai kaos tipis yang lagi-lagi milik Arga. Katanya waktu itu, aku bebas pake baju dia yang mana aja.
"Pake kolor gue juga ga papa kalo lo mau." Hiiy, aku ngeri dengernya dari Arga waktu itu. Siapa juga yang mau make!
Begitu saja malam berakhir tanpa ada peregangan diatas kasur. Aku tidur dengan nyaman bersama Popi disebelahku. Tidak tahu apa yang terjadi pada Arga, yang jelas, tidurku sangat nyenyak sampai aku bangun pagi-pagi sekali sebelum Arga terbangun. Kali pertama hal ini terjadi.
Aku melihat Popi yang sudah bergeser tidur diatas pet bed yang dibeli Arga untuk Popi.
Masih gelap, aku memilih memejamkan mata lagi, melanjutkan tidurku yang nyaman ini. Tapi aku terkejut saat sesuatu memberatkan tubuhku. Aku membuka mata dan mendapati tangan Arga melingkar di pinggangku. Arga memelukku. Dia tiba-tiba saja menghadap ke arahku dan wajah kami benar-benar dekat.
Aku tidak bisa bergerak, bahkan bernapaspun aku takut. Padahal napas hangat Arga bisa kurasakan.
Aku memejamkan mata lagi saat Arga bergerak. Pura-pura tidur adalah jalan terbaik saat aku merasa malu jika dia bangun dan melihatku juga terbangun dengan posisi kami yang seperti ini.
Arga semakin mengeratkan tubuhku ke pelukannya dan itu membuatku semakin tak berkutik.
Setelah kurasa tak ada lagi pergerakan, aku membuka mata dan sudah berhadapan dengan dada lelaki itu.
Arga belum terbangun. Aku bisa mendengarkan dengkuran halusnya. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin melihat wajahnya. Aku mendongak, menatap wajah Arga yang berbeda saat tidur dan tersadar. Jika tidur, Arga terlihat saaangat tampan dengan wajah teduhnya. Jangan tanya jika bangun dari tidur. Sudah jelas wajah juteknya itu tidak bisa ditandingkan dengan apapun lagi.
Aku melihat hidung Arga yang mancung, alisnya yang tebal, kulit Arga yang emang mulus, lalu rambutnya. Kesan pertama yang aku lihat dari Arga adalah rambutnya yang terlihat halus dan sekarang, aku bisa menyentuhnya bahkan memakai satu shampoo yang sama dengannya.
Arga ini memang sangat tampan. Tapi tetap lebih tampan kak Wicak. Dia juga baik, aku bisa melihat perhatian tersembunyinya. Terbukti saat aku bilang menyukai susu coklat, dia terus mengisi kulkas dengan susu coklat. Dia juga lembut, kan. Arga ngga pernah kasar saat diatas ranjang. Eh, bentar. Tiba-tiba aja ucapan Awan waktu itu terngiang di telingaku.
Awan benar. Arga memang bukan orang baik, sih. Bagaimana bisa dikatakan baik, jika dia menjeratku seperti ini? Tapi, aku juga heran kenapa aku nggak benci sama sekali?
Arga bergerak, aku langsung memejamkan mata. Terasa sekali dia bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
"Bangun. Keenakan lo gue peluk?"
Duarr!!
Anjir! Dia sadarrr?? Jadi dari tadi dia sadarr?? Aku langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhku dengan mata yang tetap terpejam. Sialan, Arga! Jadi dia pura-pura tidur?? Aaaarrghhhhhh!!
Aku berteriak sambil mengumpat Arga dalam hati. Rasanya malu luar biasa. Tapi dia?? Santai masuk ke kamar mandi sambil bersiul tanpa beban dan itu semakin membuatku terpojok! Nyeseeelll! Tau gitu aku dorong aja badannya sampe jatoh dari tempat tidur! Sialan emang! Makiku dalam hati.
__ADS_1
(Arga dalam kamar mandi: Hehehehheehe)