
Syahdu berjalan dengan senyuman lebar di bibirnya. Sesekali dia melirik kesebelah, dimana Wicak berjalan sambil menggenggam erat tangannya.
Setelah masalah terselesaikan, beratnya beban di hati keduanya langsung menghilang. Perasaan mereka terasa lapang apalagi akhirnya saling bisa menerima masing-masing kekurangan satu sama lain. Tentu hal itu membuat Syahdu merasa sedikit lega walau khawatir tetap ada.
"Aku ngga kemana-mana, kok." Tukas Wicak tiba-tiba.
"Hah?" Syahdu tampak bingung.
"Dari tadi ngeliatin terus. Aku ngga akan ngilang. Tenang aja."
Syahdu terkekeh sekaligus malu. Pasalnya dia memang tengah memuaskan untuk menatap Wicak karena sudah beberapa hari tidak menatapnya dengan benar.
"Kakak tau, ngga. Aku sempat berpikir kalau perpisahan ini memang akan terjadi dan berusaha menyiapkan hati agar aku kuat saat kakak punya penggantiku."
Wicak hanya tersenyum kecil menatap kedepan. Dia membiarkan Syahdu mencurahkan hatinya selama ini.
"Tapi kak, aku benar-benar siap untuk itu."
"Jangan ngaco."
Syahdu menunduk. "Mungkin terdengar klise. Tapi aku merasa ngga masalah kalau kakak bisa dapetin yang lebih dari aku."
"Ngga usah dibahas lagi. Aku ngga mau sama perempuan lain kecuali Syahdu. Titik, ngga pake koma." Ucap Wicak dengan tegas sambil menatap Syahdu. "Apa aku kurang jelas??"
Syahdu merapatkan bibirnya, berusaha menahan senyum walau bola matanya tampak berbinar senang mendengar ucapan Wicak.
Mereka berjalan lagi sampai tiba di halte bus. "Disini aja?"
Syahdu mengangguk. Dia meminta Wicak hanya mengantarnya sampai halte. Dia akan menaiki bus yang lebih aman tentunya.
Wicak membawanya duduk sambil menunggu bis datang. Dia tak juga melepaskan tangan Syahdu dari genggamannya.
"Kamu udah liat isi tas?" Tanya Wicak.
"Tas? Tas aku?"
Wicak mengangguk.
"Belum. Aku belum ada nyusun barang sejak kepulangan kita."
"Sampai di rumah, cepat buka tas itu."
"Memangnya ada apa?" Tanya Syahdu.
__ADS_1
"Buka aja. Nanti juga tau sendiri."
Syahdu mulai penasaran dan tak sabar ingin membuka tas itu. Kenapa juga dia tidak buka, ya. Padahal seharusnya dia sudah menduga itu, kalau Wicak sering sekali mengisi hadiah di dalam tasnya.
Bus pun datang, Syahdu melambaikan tangan. "Jangan ikuti aku. Kakak pulang aja sana." Kata Syahdu yang tahu kalau Wicak bisa saja tiba-tiba mengikutinya dari belakang.
"Iya. Kabari kalau udah sampai. Hati-hati, sayang."
Syahdu mengangguk dan naik ke dalam bus. Dia duduk di dekat jendela, berdadah ria pada lelaki itu sampai bus berjalan meninggalkan Halte.
Syahdu berusaha menahan senyuman yang terus tergambar di wajahnya. Rasanya senyum itu tidak bisa pudar karena terlalu senangnya hati Syahdu.
Sesampainya di apartemen Arga, Syahdu langsung membuka pintu dan berlari kecil ke arah tasnya yang masih terduduk di bawah nakas.
Arga yang tengah memangku gitar pun merasa ada yang berbeda dari Syahdu. Gadis itu sudah tersenyum lebar saat membuka pintu sampai ia sibuk sendiri membongkar isi tasnya. Padahal jelas-jelas ia masih menangis sore tadi. Sekarang apa yang membuat Syahdu tersenyum sambil memeluk kertas putih? Seperti orang yang tengah jatuh cinta.
Syahdu pula tidak bisa menahan tawa. Hadiah dan ucapan ulang tahun dari Wicak ternyata ada di dalam tasnya. Lelaki itu pasti diam-diam memasukkan itu ke dalam tas.
...Happy birthday, cinta. Aku ga tau harus beri kamu apa sampai akhirnya aku pilih cincin ini. Semoga kali ini kamu suka ya, sayang. Aku mencintaimu♡...
Syahdu memeluk surat itu sambil terus tersenyum. Wicak jarang sekali memanggilnya sayang disaat bertemu. Ucapan seperti ini bagi Syahdu sangat bernilai karena Wicak memanggilnya dengan sebutan cinta. Sungguh membuat hatinya ingin meledak saking senangnya.
Syahdu membuka kotak cincin. Dia menganga, mendapati dua cincin couple berwarna silver dari Wicak. Syahdu memakaikan cincin itu lalu memotretnya dan mengirimkan ke Wicak.
Syahdu terus menatap jarinya yang tersemat cincin, dan tentu saja mendapat perhatian dari Arga. Lelaki itu sudah berdiri sejak tadi disampingnya, tapi Syahdu bahkan tidak memperhatikan sekitarnya.
"Seneng banget lo."
Syahdu menoleh, dia tersenyum lebar kemudian berdiri.
"Ga. Liat, deh. Ternyata ka Wicak nyelipin kado di dalam tas. Aku ngga tau, ternyata dia ngasih cincin ini. Bagus banget, kaaan.." Seru Syahdu kegirangan. Titik-titik keceriaan muncul di wajah Syahdu. Mendung beberapa hari itu lenyap dan sekarang menyisakan kebahagiaan.
"Ternyata yang kamu bilang bener, Ga."
Arga mengerutkan dahi. "Gue.. Bilang apa?"
"Kamu bilang, perasaan yang udah diatas cinta selalu bisa menerima kekurangan apapun itu, yang penting kita ada disampingnya. Ternyata ka Wicak kaya gitu ke aku, Ga. Aku seneng bangett." Jelas Syahdu sambil memeluk jarinya yang tersemat cincin.
Arga diam menatap gadis itu. Dia sendiri tidak ingat mengatakan itu pada Syahdu. Tapi baguslah, kalau Syahdu senang seperti itu, dia tidak perlu ikut kesusahan lagi karena melihat Syahdu menangis terus menerus.
Arga melirik ke atas tempat tidur. Dia meletakkan satu kotak besar hadiah untuk Syahdu tadi. Tapi nampaknya Syahdu tak sadar ada kotak sebesar itu diatas tempat tidur karena perhatian yang dia berikan hanya untuk kertas dan kotak kecil pemberian Wicak. Sebesar itu cintanya, sampai-sampai yang lain pun tak ia hiraukan.
"Jadi, lo dah balikan?" Tanya Arga memastikan.
__ADS_1
Syahdu mengangguk cepat. "Iya. Dia ngga mau pisah. Aku juga ngga mau pisah, sih. Aahh.. senangnya." Syahdu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa sengaja kakinya menyentuh kotak hitam berpita merah jambu.
"Eh, apa itu?" Syahdu kembali terduduk mendapati kakinya menyenggol kotak besar.
Syahdu mengambil kotak itu dan matanya terbelalak. "Ga, dari siapa?" Tanyanya saat melihat ada namanya di atas kotak itu.
"Gue."
"Hah?" Syahdu buru-buru membuka kotak hadiah itu dan terbelalak melihat isinya.
"Gaa.. ini.. buat aku??" Syahdu mengeluarkan sebuah tas berwarna hitam moka. Model tasnya simpel tapi terlihat berkelas. Syahdu bisa melihat bagusnya bahan tas itu dan pasti sangat mahal.
"Iya. Hadiah ulang tahun lu." Jawabnya sambil berjalan lagi ke arah sofa.
"Ga, serius? Ini pasti mahal, kan?"
"Hm. Banget." Jawabnya lagi.
Syahdu bangkit dari tempat tidur dan ikut berjalan ke arah dimana Arga duduk.
"Ga, tapi aku ngerasa ngga pantes pake ini."
"Pake. Udah gue beliin. Sakit mata gue liat tas lo itu-itu mulu." Jawabnya dengan nada yang kembali ketus. Arga memeluk gitarnya dan mulai memetik gitar.
"Tapi, Ga.. gimana aku balasnya.."
"Ulang tahun gue bulan depan. Balas disitu." Jawabnya cuek, dia menatapi lirik-lirik di atas kertas.
"Haah. Mana aku punya duit sebanyak ini." Keluh Syahdu. Dia merasa berat kalau harus membalas apa yang Arga berikan.
"Bales sepantasnya. Awas aja kalo lo ngga pake tas itu." Ancam Arga kemudian menyanyikan lagu yang ia ciptakan. Syahdu masih diam menatapi tas mahal di tangannya. Bukannya senang, Syahdu justru terlihat tertekan dengan kado yang diberikan Arga padanya. Menyebalkan. Batinnya.
TRING
Syahdu membuka ponselnya. Membaca balasan dari Wicak.
'Sama-sama. Besok pakein aku cincin itu. Istirahat sana. Love you so❣️'
Syahdu tersenyum kembali setelah membaca pesan Wicak. Beberapa saat kemudian matanya membulat.
Kapan dia memotret ini? Syahdu mengelus foto dilayar ponsel. Wicak mengganti foto profil mereka. Lucu sekali, batinnya.
__ADS_1
**Jangan lupa beri Vote, like, komen dan tap Fav yah🌼🌼🌼