
...PoV Syahdu Larasati...
Aku duduk melamun sambil pelan-pelan memakan bubur buatan Arga. Rasanya enak, tapi tidak sampai membuatku lahap karena pikiranku yang sedang kacau.
Aku sejak tadi menghubungi Arga, meminta maaf karena sudah membuatnya kerepotan dengan kissmark yang aku buat. Dia juga pasti kesal karena aku terlalu berlebihan dan mengajaknya berhubungan duluan. Aku tahu karena aku ingat kejadian tadi malam dan sungguh, rasanya memalukan.
Setelah bersiap, aku menuju kampus karena sebentar lagi akan masuk kelas siang.
Di kelas, Naya dan yang lain sudah berkumpul. Tak lama aku masuk, Awan ikut masuk dengan wajah bertekuk.
"Kenapa?" Tanyaku padanya yang masih berdiri diambang pintu.
"Ngantuk banget. Makanya ngga masuk kelas pagi tadi. Eh, tadi malam lo kemana, dah! Aman kan, lo?" Tanya Awan.
Aku mengangguk. "Aman."
"Ras, sini, deh!"
Aku berjalan ke arah Naya dan yang lain. Duduk disebelah Dina yang kosong.
"Jawab jujur deh, Ras."
Wah, pikiranku mulai merambat entah kemana ketika mendengar kalimat itu dari Naya.
"S-soal apa ya, Nay." Tanyaku gugup.
"Tadi malem, gue liat lo pergi bareng Arga. Dia kan, yang nganter lo pulang pas lo mabuk??"
DEG! Otakku langsung mencari jawaban apa yang tepat. Sial sekali, baru masuk sudah dibuat begini oleh Naya.
"Dia mabuk, Nay. Mana dia ingat." Tukas Alika.
Awan langsung menoleh dengan wajah terkejut ke arahku.
"Tapi gue liat, Al. Gue ngejer Arga yang tiba-tiba aja turun panggung. Dan tau-tau, Arga bawa masuk Laras ke mobilnya."
"Kamu salah kali, Nay. Aku ngga pulang bareng Arga. Aku pulangnya bareng Awan. Iya, kan, Wan?" Mataku melebar menatap Awan, supaya laki-laki itu mengerti maksudku.
Awan menatapku dengan tatapan menyelidik. Dia paham maksudku, hanya saja, dia juga meminta penjelasan.
"I-iya. Gue yang nganter. Kan, lo liat sendiri gue yang bawa dia pulang." Jelas Awan pada Naya.
"Masa, sih! Gue yakin, kok, sama apa yang gue liat!"
"Ya udah, sih. Mau Arga atau Awan yang nganter, emangnya kenapa?" Adina mulai berbicara. Untungnya dia menjadi penengah.
"Yaa, Ngga apa-apa, sih. Gue cuma penasaran, kok bisa Laras diantar Arga. Kan, mereka ngga deket. Trus, Arga juga ngga muncul lagi disana." Ungkap Naya dengan wajah lemas.
"Kali aja dia ada urusan lain, kan." Ujar Dina.
"I-iya, sih. Tapi, Ras. Sorry banget, ya. Gara-gara gue, lo jadi mabuk." Naya memilin jari-jarinya.
__ADS_1
"Ngga apa-apa. Aku juga kok, yang salah." Sahutku pada Naya.
"Gara-gara itu, gue jadi dimarahin sama Arga." Tukas Naya lagi dan berhasil membuatku mengerutkan alis. Dimarahin Arga?
"D-dimarahin gimana, ya?" Tanyaku bingung.
"Katanya gue keterlaluan udah buat lo mabuk. Padahal lo anak baik-baik yang ngga mau nyentuh alkohol. Gara-gara gue, lo jadi mabuk dan bisa rusak, gituuu.." Jelas Naya dengan nada yang sedih. Bukan karena merasa bersalah, Naya begitu karena dimarahi oleh Arga.
Aku diam, tak bisa berkomentar. Soalnya ini menyangkut Arga. Jika aku buka suara banyak, mereka bisa curiga. Tapi Awan, dia menatapku dengan alis yang berkerut. Dia pasti tengah menebak sesuatu dan sumpah, aku harus menyusun kalimat lagi supaya Awan tidak tahu soal hubunganku dengan Arga.
Tak lama, Arga dan Ibra masuk. Arga tak melihatku barang sedetikpun. Dia langsung duduk sambil memasang earphone di telinganya.
"Tuh kaaan, Arga marah sama gueee.."
Naya mungkin mengira begitu. Tapi yang aku tahu, Arga tak menyapa ke arah sini karena aku. Dia masih marah padaku. Aku benar-benar ceroboh. Aku akan meminta maaf langsung padanya nanti.
~
"Kamu baik-baik aja, kan?" Kak Wicak meletakkan telapak tangannya di keningku, mengeceh suhu tubuh secara langsung untuk hasil yang lebih memuaskannya.
"Aku baik-baik aja, kok, kak."
"Syukurlah." Kak Wicak mengelus lembut rambutku.
"Kak, nanti temani ke rumah sakit, ya?" Ajakku pada kak Wicak.
"Iya, nanti aku anter sekalian minta izin ke nenek untuk pergi jumat nanti."
Aku belum izin pada Arga. Jika laki-laki itu sekarang ngambek begitu, bagaimana cara izinnya? Dia pasti akan semakin marah, kan? Tapi mau bagaimana, perginya tinggal beberapa hari lagi dan sebelum Arga punya rencana sendiri, aku harus bilang secepatnya.
"Aku udah bilang, kan. Jangan berhubungan apapun sama laki-laki itu." Tukasnya langsung.
"Wan, aku ngga tau. Aku ngga bisa nolak waktu dia yang bawa aku." Elakku cepat.
"Lo dibawa kemana?? Ke rumahnya??"
"Gila! Ya nggak, lah. Dia bawa aku ke rumah. Aku masih setengah sadar, kok."
Sanggahanku nampaknya berhasil. Awan membuang wajah ke arah lain. Mungkin dia tidak suka karena aku berhubungan dengan Arga. Aku tahu, dia cuma mau melindungiku.
"Ya udah. Ayo, ke kelas."
Awan pergi duluan menuju ruang kelas. Aku masih berdiri memegang jantung yang sejak tadi berdegub lebih kencang. Mau sampai kapan aku membohongi orang-orang sekitarku? Untuk beberapa kali ini saja, aku akan berhenti setelah nenek sembuh. Apapun ceritanya, aku akan menghentikan kontrak bersama Arga setelah nenek sembuh.
...🍁...
Setelah dari rumah sakit, melihat keadaan nenek yang semakin membaik tapi belum diziinkan pulang, membuatku sedikit lega. Tinggal menunggu beberapa hari lagi saja. Tapi anehnya, nenek tadi mengaku betah disana karena tiba-tiba punya teman di ruang sebelahnya. Biarkan sajalah, yang penting nenek tidak stres dan bisa cepat pulih seperti sedia kala.
Aku berdiri di depan pintu apartemen Arga. Aku tidak tahu apa kembali kesini adalah keputusan yang tepat mengingat dia sedang marah padaku. Tapi aku perlu bicara padanya.
Aku menarik dan menghembuskan napas perlahan. Masuk saja dulu, kalau dia menyuruhku untuk pergi, baru aku akan pergi.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam, dan langsung spontan menjerit saat ada anjing kecil yang menggonggong berlari ke arahku. Membuat nyaliku ciut seketika.
Arga, dia membeli anjing??
Anjing itu mirip dengan yang pernah kutemukan bersama kak Wicak kemarin. Lucu. Aku langsung menggendongnya.
Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk di pundaknya. Dia melihatku sekilas, lalu masuk ke dalam walk in closet.
"Kamu beli anjing ya, Ga?" Tanyaku basa-basi tapi dia tidak menjawab.
"Lucu banget siihhh.." aku benar-benar gemas dengan anjing itu. "Namanya siapa, Ga?"
"Nggak tau." Jawab Arga dengan nada dinginnya seperti biasa.
Arga keluar dari walk in closet dengan sudah mengganti pakaiannya.
"Kamu belum ada nama, ya??" Ucapku pada si anjing mungil. Aku duduk di sofa. "Kalau gitu, aku memanggilmu..." aku berpikir sebentar sebelum akhirnya memutuskan. "Popi."
Guk!
"Wuaah. Kau setuju, ya? Ga, gimana? Aku panggil dia Popi aja, ya?"
"Terserah lu." Ucapnya menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan disana. Nampaknya Arga mau masak.
"Baiklah, Popi. Aku mau bantu ke dapur dulu, ya. Nanti kita main." Bisikku pada anjing kecil itu.
Aku meletakkan Popi dibawah dan mulai menuju dapur.
"Ada yang bisa kubantu?" Tanyaku pada Arga yang memotong-motong sayuran di atas tatakan.
"Ngga usah." Jawabnya masih juga cuek. Ya, dia biasanya juga begitu. Tapi kali ini, auranya berbeda.
"Arga, aku tau kamu marah."
Arga lagi-lagi diam. Dia terus memasak seperti tak menganggapku ada.
"Aku ngerti kamu marah karena aku udah buat kamu repot, kena pinalti, belum lagi merah-merah di leher kamu. Aku benar-benar minta maaf, Ga."
Arga berhenti sebentar. Terdengar helaan napasnya. Kemudian melanjutkan lagi memotong sayur.
"Aku ngga akan lagi ikut kalau kamu ngisi acara. Beneran." Aku mengacungkan dua jari tanda serius dan dia menatapku dengan kesal. Kenapa, sih? Padahal aku sudah minta maaf.
"Sana mandi lu!"
Hah. Aku membulatkan mata. Permintaan maafku ngga digubris dan dia malah menyuruhku mandi. Tapi aku menurut dan langsung melangkah menuju kamar mandi.
"Bodoh."
Aku menghentikan langkahku. Apa katanya? Bodoh? Dia bilang aku bodoh??
Ah, ingin rasanya aku memukul kepalanya pakai tatakan itu. Tapi kuurungkan karena, yaah, aku memang salah. Biarkan sajalah. Mudah-mudahan setelah ini mood-nya membaik supaya aku bisa izin untuk pergi dengan kak Wicak.
__ADS_1
TBC