SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Secercah Harapan


__ADS_3

"Selamat, minggu depan kamu tunangan, kan?"


Arga tak bisa menjawabnya. Dia juga tidak menyukai ucapan yang keluar dari mulut Syahdu itu.


"Aku... pengen liat kamu tunangan."


Arga meletakkan piring diatas nakas. Dia menggenggam tangan Syahdu.


"Aku lagi fokus supaya kamu semangat dan sembuh. Jadi, kita ga usah bahas yang lain-lain, ya."


"Aku malah senang kamu akhirnya mau menikah. Aku ga sabar mau liat kamu-"


"Aku terpaksa. Aku ga senang sama pertunangan ini jadi berhenti bahas ini. Oke?" Arga dengan wajah kesal mengambil lagi piring dan mulai menyuapi Syahdu makan.


Syahdu sebenarnya tidak sesenang itu. Dia sangat menyadari nasibnya sangat menyedihkan. Orang-orang yang dekat dengannya, semua pergi. Arga juga akan pergi dan dia tidak bisa menghalangi itu.


Tapi.. ada satu pertanyaan Syahdu pada Arga. Soal Wicak.


"Waktu itu... kak Wicak nemuin kamu, kan." Syahdu menunjuk sisa lebam di sudut mata Arga. "Itu.. kamu berantem sama kak Wicak?"


Arga menghela napas. Akhirnya Syahdu menanyakan soal malam itu, dimana Wicak menghajarnya dan dia kecelakaan tak jauh dari lokasi.


"Aku ga marah sama sekali, karena aku tau, aku salah. Waktu itu, aku memang dihajar habis-habisan. Kukira dia tidak mau menerimamu. Ternyata dia datang untuk bilang kalau dia sangat mencintaimu. Dia.. menerimamu dengan setulus hati."


Air mata Syahdu meleleh lagi. Bagaimana pun Wicak membuktikannya. Di akhir hidupnya, dia memang menunjukkan perasaannya yang luar biasa itu.


"Aku menyesal soal kemarin malam."


"Trus dia bilang apa lagi.." Tanya Syahdu. Kerinduan menguasai dirinya. Mendengar cerita Wicak sepertinya bisa membuatnya lebih baik.


"Dia..." Arga menatap Syahdu. Gadis itu tersenyum menanti cerita Arga dengan air mata di pipi.


Ingatan Arga langsung mengarah pada malam itu, dimana dia dan Wicak saling terduduk karena lelah berkelahi.


'Gue ga akan ninggalin Syahdu, itu yang harus lo tau!' Ucap Wicak di tengah napasnya yang memburu.


'Bagus, deh. Lo harus bisa tepatin ucapan lo itu.'


Wicak diam, dengan tersengal dia mencoba bangkit. 'Jangan pernah ganggu Syahdu lagi. Gue ga segan bunuh lo!' Ancam Wicak.


'Iya. Gue ga akan ganggu kecuali lo nyakitin dia.'


'Sampe mati pun, gue ga akan nyakitin dia. Lo perlu tau, cuma gue yang dia cinta.' tekan Wicak pada Arga yang dia tahu, lelaki itu juga mencintai kekasihnya.


'Iya. Gue percaya.' Jawab Arga dengan malas. Tapi dia memang benar-benar percaya, karena dia melihat sendiri bagaimana cintanya Syahdu pada lelaki itu.


Tapi gue peringatin. Kalo lo sampe nyakitin Syahdu, jangan nangis kalo gue rebut. Lo pikir, gue ga bisa buat dia beralih dari lo?'


Geram, Wicak langsung menghajarnya lagi sampai orang-orang datang dan melerai mereka.


Syahdu menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak mendengar apa yang Wicak katakan pada Arga. Arga memang menyampaikan apa yang dia ingat. Namun dia tidak menceritakan detail apa yang membuat Wicak murka, yaitu karena dirinya yang terus memancingnya.


Syahdu terisak karena rasa bersalah begitu besar dalam dirinya. Kalau saja dia tidak menceritakan itu, mungkin saja Wicak tidak akan menemui Arga dan kecelakaan itu tidak akan ada. Begitukah? Atau memang itu sudah menjadi garis tangan Wicak. Sekuat apapun Syahdu berusaha mengubah takdir, kematian Wicak tetap akan datang.


Tapi Wicak tak seharusnya mati. Dia harusnya bahagia dengan perempuan lain.


Lagi-lagi Syahdu tersedu-sedu. Rasa bersalah itu kini muncul kembali. Dia tidak bisa menebusnya, hanya penyesalan yang tersisa dalam dirinya.


Arga membiarkan Syahdu menangis. Gadis itu memang sangat terpukul dan Arga harus sabar, menunggu hati Syahdu terbuka untuk menerima seseorang dalam hidupnya lagi.


Siang itu berlalu dengan Syahdu yang terlelap hingga sore hari, gadis itu bangun dan langsung terduduk. Pandangannya mengarah pada Arga yang tengah mengerjakan tugas dengan laptopnya.


"Kenapa?" Tanya Arga yang melihat Syahdu bengong dengan mata yang bengkak.


"Mimpi nenek."

__ADS_1


Arga bangkit menuju Syahdu. Dia duduk di tepi tempat tidur.


"Nenek duduk di lorong kampus. Nunggu aku selesai belajar, persis kaya aku waktu Sd kelas satu dulu. Tapi saat kuhampiri, dia malah senyum dan pergi."


Arga mengelus kepala Syahdu dengan senyum kecil. "Itu artinya, nenek mau kamu lanjutin kuliah."


"Arga."


"Hm?"


"Ayo, ke rumah oma."


"Apa?" Lelaki itu menatap Syahdu lekat-lekat. Apakah Syahdu sadar atau masih bermimpi.


"Tadi oma telepon tapi aku ga angkat. Dia minta aku datang."


"Kalo kamu belum merasa tenang, mending tunda sampai besok aja."


"Aku udah ga apa-apa, kok." Jawabnya cepat.


"Ya udah. Siap-siap, gih. Aku tunggu disini."


Syahdu mengikat rambutnya, kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap menuju rumah Margareth.


...🍁...


Syahdu turun dari mobil, disambut oleh Margareth. Wanita tua itu tersenyum hangat menyambut gadis yang wajahnya kusut dengan mata yang masih bengkak, namun berusaha membalas senyum.


Margareth memeluknya dengan erat. "I'm really sorry to hear that. May he gets a beautiful place up there."


"Thank you, oma."


Syahdu mengeratkan pelukannya. Entah kenapa Margareth membuatnya nyaman.


"Ayo, masuk. Kamu makan malam disini, kan? Oma udah siapin." Margareth membawa Syahdu masuk, sementara Arga mengikuti dari belakang.


"Kamu perempuan kuat, oma yakin kamu bisa melewati ini semua."


Syahdu mengangguk-angguk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Syahdu.." wanita itu memiringkan tubuh untuk menggenggam tangan gadis disebelahnya. "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal disini. Oma akan biayai semua keperluan kamu. Kamu mau kuliah pun, oma akan kuliahkan. Oma tau ini permintaan yang berat. Oma cuma mau kamu punya temen disini."


"Makasih, oma. Syahdu akan pikirin nanti. Soalnya.. sekarang Syahdu belum tau harus gimana."


"Iya, oma ngerti, kok. Oma tunggu jawabannya, ya." ucap wanita itu.


Syahdu mengangguk, lalu pandangannya teralihkan pada setumpuk kertas undangan diatas meja. "Oma, itu.."


"Oh, itu undangan Arga sama Soraya."


Syahdu mengambil selembar. Dia melihat nama Arga dan Soraya ada didalamnya.


"Syahdu, kamu bujuk dong, Arga. Supaya dia mau menikah. Dia itu keras banget. Siapa tahu kalau kamu yang bilang, dia nurut. Dia itu yaa, ga peduli sama semua ini. Untung aja keluarga pihak perempuan ngga banyak protes. Kalau gak, oma bisa malu."


Syahdu tersenyum. "Iya, oma. Nanti Syahdu bantu bilangin."


"Iya. Bilangin, gih."


Syahdu menatap keatas, dia tergerak menuju kesana. "Syahdu keatas dulu, oma."


Margareth mengangguk, membiarkan Syahdu naik menuju kamar cucunya.


Margareth menatap punggung Syahdu. Dia merasa iba dengan gadis itu. Pasti hidupnya sangat berat. Apalagi kekasihnya itu, Margareth sudah dengar, bahwa gadis itu sebentar lagi akan menikah namun sayang, kekasihnya meninggal dunia.


Margareth tahu, gadis itu tidak punya perasaan pada cucunya. Itu sebabnya dia sengaja menyuruh Syahdu becampur tangan mengenai pertunangan Arga.

__ADS_1


Syahdu membuka pintu kamar, Arga duduk di tempat tidur sembari memetik gitar.


"Aku boleh masuk, Ga?"


Arga menghentikan petikannya. "Sejak kapan lo minta izin gitu?"


Syahdu diam sejenak. Sejak tadi padahal Arga sudah mulai lembut memanggil dengan aku-kamu. Sekarang berubah lagi.


Syahdupun masuk tanpa menutup pintu, dia khawatir orang-orang curiga.


"Tutup pintunya."


"Tapi-"


"Tutup." Sentaknya dan Syahdu akhirnya menutup pintu. Lalu duduk di dekat Arga. Dia menyerahkan kartu undangan itu kehadapan Arga.


"Buang aja bisa, nggak?" Wajah jutek itu menandakan bahwa ia tidak suka kertas itu ada di dekatnya.


"Gimana, ya, perasaan mbak Soraya, kalau tau kamu ogah-ogahan gini."


"Dari awal gue emang ga mau tunangan. Berkali-kali gue bilang kalau gue ga mau nikah. Emang orang-orang pada ga ngerti, heran." Gerutunya kesal. Dia meletakkan gitar diatas tempat tidur. Merampas kartu undangan lalu mengoyak-ngoyaknya menjadi beberapa bagian.


"Sebenarnya.. ngga ada salahnya kan, mencoba."


"Emang lo kira pernikahan buat dicoba-coba."


Syahdu menaikkan sebelah alisnya. Sekelas Arga ternyata paham juga soal itu.


"Iya, sih. Tapi Ga, menurutku... bukannya lebih baik kalau kita nikah sama orang yang perasaannya jauh diatas kita. Pasti lebih disayangi, lebih dicintai. Iya, kan?" Syahdu mulai menatap kosong kedepan. Lagi-lagi ia teringat Wicak.


Arga pula ikut menatap Syahdu yang melamun. Sesuatu perlu ia tanyakan pada Syahdu.


"Emang lo mau, nikah sama laki-laki yang lo ga cinta, tapi dia cinta sama lo?" Tanya Arga balik, membuat Syahdu menoleh padanya. Kini Syahdu tahu apa yang dimaksud Arga.


"Aku.." Syahdu menunduk. "Iya, sih. Kayanya ngga bisa."


Arga sedikit kecewa mendengarnya. Padahal kalau saja Syahdu mau, dia mungkin akan membawa Syahdu kabur bersamanya.


"Tu lo tau. Trus lo nyuruh orang buat ngelakuin itu??"


"Tapi.. bukannya kamu pernah bilang, kalau aku harus liat kamu tunangan. Liat kamu menikah. Itu kan, yang pernah kamu bilang?"


Ingatan Arga melayang ke masa dimana ia mengatakan itu untuk membujuk Syahdu supaya tidak melompat dari gedung. Ternyata kalimat itu sekarang menjadi bumerang untuknya.


"I-itu.."


"Jangan bilang kamu bohong supaya aku ga lompat dari gedung waktu itu."


"Engga, kok. Aku ga bohong."


"Padahal.. aku mengurungkan niat karena memang ingin melihatmu menikah." Syahdu tersenyum samar. Dia berbohong supaya Arga mau menikah dan dia tidak lagi direpotkan dengan ancaman ayah Arga.


Syahdu diam, berkutat dengan pikirannya. Begitu juga Arga. Apa benar yang diucapkan gadis itu barusan? Apa dia sengaja membatalkan niatnya supaya melihat dirinya bertunangan?


"Syahdu."


Gadis itu menoleh.


"Kalau aku menikah, kamu gimana?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Arga. Dia ingin melihat raut wajah Syahdu. Dia ingin lihat, apakah Syahdu sedih dan dia punya harapan atau malah sebaliknya.


Syahdu menatap kedua bola mata Arga, cukup lama sampai akhirnya ia tersenyum, lalu mengalihkan pandangan kedepan.


"Aku akan lanjutin hidupku. Aku akan kuliah. Kehadiran nenek dalam tidurku, buat aku jadi ingin lanjutin mimpi yang dulu ia pernah ucapkan. Dia ingin aku pakai toga." Jawabnya kemudian berdiri.


"Aku mau bantu didapur." Lanjutnya dan keluar dari kamar Arga.

__ADS_1


"Kamu merasa kehilangan kan, Syahdu. Aku bisa baca itu." Arga tersenyum kecil, dia merasa kalau dirinya punya secercah harapan dari diri Syahdu.


TBC


__ADS_2