SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Hamil, kali.


__ADS_3

"Eh, Ga, mau kemana?" Tanyaku dengan suara menekan. Mataku mencoba mengarah ke tenda kami dan mendapati teman-teman asyik bernyanyi dengan gitar. Kecuali Naya. Dia berdiri seperti mencari-cari ke arah kami. Untung saja gelap, tapi aku tetap takut jika perempuan itu melangkah mencari keberadaan Arga.


Arga menyandarkan tubuhku di sebuah pohon besar. Sebelah tangannya mengungkungku dan tatapan dinginnya membuatku ngeri.


Habislah aku. Dia pasti memarahiku karena aku terlalu lancang membawa-bawa tunangannya ke dalam permainan tadi.


Aku menunduk. Tahu akan kesalahan. Lalu aku harus bagaimana? Minta maafkah?


"Thanks buat perhatiannya."


"Hah?" Aku mengangkat kepala. Dia nggak marah dan malah ngucapin terima kasih. Apa karena soal sambel udang tadi?


"Makasih lo udah mau nukar makanan. Gue pikir lo ngga inget soal itu."


Kalau cuma bilang makasih, seharusnya bisa lewat Wa saja, kan?


"Kalau udah, aku pergi."


Saat bergerak, Arga menarik tanganku sampai aku tersandar lagi ke pohon itu.


"Gue belum selesai."


"Ga, disini ada temen-temen kita. Aku ngga mau sampai ada yang liat."


Arga menoleh sebentar ke samping dan menatap ke atas bukit. "Ngga akan ada yang tau."


"Tapi tetap aja. Aku takut ad-"


Aku mendadak merapatkan bibir saat Arga melekatkan bibirnya ke bibirku. Dia gila dan aku mendorong tubuhnya.


"Lo nolak gue?"


"Ga, Sorry. Tapi waktu ini tuh, nggak tepat." Aku langsung pergi dan berlari kecil, ingin segera menjauh dari Arga.


"Mbak..mbak.."


Langkahku terhenti saat merasa sedang dipanggil seorang laki-laki.


"Mbak yang tadi nyanyi disana, kan?" Lelaki itu menunjuk ke arah tenda kami berada.


"I-iya, mas."


"Wah, suara mbaknya bagus banget, lho. Kedengaran sampe sini. Orang-orang tadi sampe diem semua cuma dengerin mbaknya nyanyi."


Aku tersenyum kaku. "Makasih, mas."


"Mbaknya namanya siapa?" Tanya yang lain.


"La-laras." Jawabku seadanya.


"Oh, mbak laras. Ada akun Ige nggak, mbak."


"Halah, modus luuu.." lelaki itu mendapat sorakan dari teman-temannya.


"Maaf, mas. Saya permisi dulu." Ucapku berpamitan. Dia pun mendapat ejekan dari teman-temannya karena dianggap gagal. Entahlah, aku tidak peduli.

__ADS_1


Saat aku sampai, Arga sudah duduk disana bersama yang lain. Kecuali Awan.


"Oh, itu dia. Hey, siniii." Awan berteriak melambaikan tangan menyuruhku datang ke tempatnya.


Awan memeluk dua botol besar air meniral. Lalu menyuruhku bersalaman dengan tiga orang laki-laki yang ada di tenda itu.


"Nah, ini dia orangnya. Namanya Andrea, bang." Ucap Awan memperkenalkan namaku dengan nama lain. Tentu membuatku mengerutkan dahi padanya.


"Mbak Andrea kuliah dimana?"


Aku melirik Awan lagi. Dia tengah cengengesan sambil mengangkat sedikit dua botol di pelukannya. Tentu aku tahu maksudnya.


Awan menyuruhku bersantai disana sementara dia pergi meninggalkanku.


Satu-satu pertanyaan tiga laki-laki itu kujawab. Masih pertanyaan wajar, tapi yang membuatku geram adalah Awan. Karena dia dulu juga pernah melakukan ini saat diatas gunung.


Aku pamit pergi dan buru-buru kembali ke tenda kami, mendapati Awan tengah menuang air untuk Adina.


PLAK!


Spontan Awan meringis dan memegangi kepalanya yang kukeplak karena kesal. Hal itu tentu saja membuat yang lain menatap heran ke arah kami berdua.


"Aaah. Sakitt!"


"Gila, ya? Kau pikir aku apaan sampe dijual kaya gitu!!" Pekikku.


"Eh, siapa yang jual? Gue cuma minta minum doang sama mereka."


"Iya, kau minta minum tapi pake nama aku, kan??"


"Boleh ngga, mas, kenalan sama temennya.' Ya gue jawab aja boleh. Tapi gue bilang, gue butuh air. Eh, dikasih dong sama mereka. Itu makanya gue kenalin lo dan pake nama samaran. Kan, lumayan dapet dua botol air. Nooh.. air kita udah abis." Awan menunjuk deretan botol kosong di dekatku.


"Iya tapi nggak pake jual namaku segala!" Kataku masih kesal.


"Dimanfaatin dong, Du. Yang penting kan, lo ngga di apa-apain. Masih amanlah soalnya hadiahnya air minum, Hahahaha!" Awan malah tertawa lebar.


Tapi ucapannya membuatku teringat dengan diriku yang seorang perempuan sewaan. Diapa-apain dan hadiahnya cukup besar.


Akupun duduk karena merasa tidak punya tenaga lagi untuk berdebat.


Aku melirik Arga sekilas. Dia tengah menatap Awan dengan wajah tak suka.


"Nih, gara-gara lu." Tukas Awan.


"Kok, guee??" Naya menunjuk dirinya sendiri.


"Lo minum kayak kebo. Ngga mikirin orang lain. Untung jual nama tuh anak, laku." Katanya lagi sambil terkekeh. Bangsat emang, dia. Mana aku kesindir habis-habisan.


"Ib, gue mau nanya deh, sama lo." Alika tiba-tiba membuka topik baru.


Ibra menoleh pada Alika. "Apaan."


"Lo punya pacar ngga, sih??"


Ibra mendecak. "Perasaan yang lo tanya itu-itu mulu. Bosen gue jawabnya. Noh, tanya noh, si Arga yang ngga niat nikah."

__ADS_1


Semua mata tertuju pada Arga. Nampaknya dia juga sudah bilang pada Ibra soal prinsipnya itu.


"Serius, Ga??" Mata Naya melebar.


Arga hanya mengangguk saja.


"Kenapa, Ga? Menurut lo nikah ngga enak, ya?" Tanya Adina.


"Prinsip aja." Jawabnya singkat.


"Sayang banget.." bisik Naya dan aku bisa mendengar itu.


"Perempuan ribet, ya, Ga?" Tanya Alika ingin tahu dan Laki-laki itu diam sejenak.


"Bukan. Gue punya alasan tersendiri." Jawab Arga lagi.


"Apa itu artinya, lo ngga mau punya keturunan?" Tanya Naya.


"Begitulah.."


Naya mengangguk lambat. Ada gurat kecewa terlihat di wajahnya. Nampaknya Naya sudah menaruh harapan besar pada Arga.


"Jadi, lo nggaa..." Alika menjeda kalimatnya. Ingin bertanya, tapi ragu.


"Nggak, apa? Ngewee maksud lo?" Ceplos Ibra dengan suara keras.


"Anjir, mulut lo gue sumpel, ya! Pake toa sekalian!" Sungut Alika pada Ibra. Tapi lelaki itu tertawa saja. Perdebatan lagi-lagi terjadi antara dua orang itu, sementara aku mulai berbicara sendiri di dalam hati. Nggak ngewee katanya?


"Kalau itu tuh, bisa aja didapat. Nggak nikah, bukan berarti ngga bisa begituan. Ya nggak, Ga?" Ucap Ibra meminta dukungan dan Arga membalasnya dengan tawa pelan.


"Rugi banget yang jadi cewe lo kalo lo pake begituan tapi lo ngga mau nikahin. Bodoh juga iya, sih, tuh cewek." Adina mulai mengkritik dan aku mendengarkan. Lagi-lagi aku merasa Dina tengah mengatai diriku. Bodoh, Rugi? Aku memang merasakannya.


"Rugi apaan. Kan, sama-sama mau." Cetus Ibra.


"Walaupun begitu, kalo terjadi sesuatu, hamil misalnya. Trus lo nggak tanggung jawab?" Lanjut Adina lagi.


"Pake pengaman, dong. Gimana, sih." Awan malah ikut-ikutan. Mendukung sesama laki-laki.


"Itu nggak menjamin, tauuu.." Sahut Alika.


"Iyaa. Gimana kalau hamil? Hah? Masa lo nyuruh dia gugurin." Tandas Adina lagi.


Akhirnya mereka saling mendebat. Lagi-lagi aku merasa pusing sendiri. Dikatain Rugi dan bodoh oleh Adina secara tidak langsung membuatku merasa sedih, pikiranku berkecamuk dan perutku terasa mual.


"Hueek!" Aku menutup mulut saat tiba-tiba merasa agak pusing dan sakit perut.


"Eh, Ras, kenapa?" Adina berhenti berdebat dan memegangi pundakku.


"Sakit, ya, Ras? Wajah lo mendadak pucat." Kata Alika pula.


"Tiba-tiba mual gitu, hamil kali."


"Hah??" Ucapku dan Arga secara serentak, membelalakkan mata pada ocehan tak masuk akal Naya barusan.


Gadis itupun tampak kaget dengan reaksi kami berdua.

__ADS_1


__ADS_2