
Arga terbangun setelah tidur cukup lama. Dia sampe kaget melihat ruangannya yang gelap gulita padahal saat tidur, ruangan itu masih dimasuki cahaya dari jendela kamarnya.
Arga lebih kaget lagi saat mendapati ternyata dirinya sudah tidur 7 jam lamanya. Sekarang pukul 9 malam dan dia tidak menerima satupun pesan dari Syahdu. Nampaknya ia sangat khawatir pada neneknya sampai pesan Arga bahkan tak dibaca.
Arga bangkit menuju kamar mandi. Dia ingin ke rumah sakit untuk menemui Syahdu. Satu harian tidak melihatnya serasa ada yang kurang saja.
"Where are you going, honey?" Julia tengah duduk di ruang tengah bersama Margareth. Keduanya mengarah pada Arga yang sudah tampak rapi.
"Kamu belum makan, kan?" Tanya Margareth. Lalu kepalanya memutar kearah pelayan yang berdiri disebelahnya. "Siapin makanan buat cucuku."
"Ngga usah, oma. Arga mau keluar bentar."
"Kemana? Padahal mami disini, lho. Kamu ngga kangen apa, sama mami?" Julia mengerutkan dahi. Dia tadi ingin mengajak anaknya makan malam bersama, tapi pintu kamar sudah diketuk beberapa kali, tidak ada jawaban dari dalam.
"Iya. Kamu juga beberapa bulan ini udah ga pernah lagi tidur disini. Selalu saja tidur di apartemen." Sambung Margareth ikut-ikutan.
"Lho, kamu ngga pernah lagi tidur disini?" Tanya Julia heran.
"Enggak. Dia selalu di apartemen. Belakangan juga hampir tidak pernah liat mama. Anak kamu itu udah punya pacar, makanya tinggal di apartemen terus." Margareth mencebikkan bibir, merajuk pada cucunya.
"Bukan begitu, oma.."
"Dimana apartemen kamu?" Tanya Julia.
"Ngga akan dikasih tahu. Anakmu itu, semua dirahasiain." Sambung Margareth lagi.
"Oma, Arga juga punya privasi."
"Privasi apa sampe rahasiain alamatmu dari mami?" Tanya Julia.
"Kamu nyimpen perempuan, ya?" Celetuk Margareth dan membuat Arga terbelalak.
"Apaan, sih, Oma. Udah ah, Arga mau pergi dulu."
Kepergian Arga membuat Julia menggelengkan kepala. "Nggak anak, ngga ayahnya, sama aja."
Margareth mendelik. "Apa? Sama? Ya enggaklah. Arga itu cucu mama, dia sayang sama mama. Beda dengan menantu yang gila kerja itu. Menghalalkan apapun demi kekuasaan."
"Ma, Alex ngga sampai kaya gitu, kok." Bela Julia.
"Ngga sampe begitu, kamu bilang? Jelas-jelas kamu sendiri lho, tadi yang cerita. Kalau Arga akan dijodohkan sama anak partner bisnisnya." Seru Margareth dengan kesal.
"Awas, ya, kalau sampai dia berani mengusik cucuku, aku lawannya." Ancam Margareth, kemudian meletakkan majalah yang ia genggam sejak tadi dengan kesal dan berlalu pergi.
...🍁...
Syahdu tertidur di ranjang kecil khusus penunggu pasien. Sejak tadi dia menanti neneknya terbangun, tapi belum juga ada tanda-tandanya. Kemungkinan kata dokter, besok nenek sudah sadar.
__ADS_1
Ia merasa lelah. Pulang dari bukit malah disajikan kenyataan bahwa sang nenek harus sakit lagi. Padahal sebelum pergi, ia melihat nenek sangat bahagia bisa mengobrol bersama teman di kamar sebelahnya.
Tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur, namun Syahdu merasa ada sesuatu dibelakang tubuhnya.
Syahdu dengan mata yang masih sangat mengantuk, mencoba membalikkan badan, namun pinggangnya merasa berat.
Syahdu membuka mata perlahan dan iapun tersentak saat melihat bayangan seseorang ternyata tidur disebelahnya.
Dengan kuat Syahdu menendang seseorang itu -entah siapa- yang tiba-tiba saja ada di atas ranjangnya.
"Aaarrrghhh.." Suara rintihan terdengar saat orang itu terjatuh dibawah kasur.
Syahdu terbelalak saat mengenali suara milik siapa itu. Arga? Benarkah itu Arga?
Syahdu merangkak dan melihat kebawah, memastikan siapa orang yang terjatuh itu dan benar saja, Arga sudah terduduk sambil memegangi belakang tubuhnya.
"A-arga??"
"A-aduhh.. sakit banget!"
Syahdu buru-buru turun dan membantu lelaki itu naik ke atas tempat tidur. "Maaf, aku ngga tau itu kamu."
Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur dengan masih merintih.
"Lagian kamu ngapain tidur disini?"
"Berisik lo." Sungutnya dengan wajah jutek.
Syahdu melihat ke arah nenek, masih tenang diatas brankarnya walau suara berisik Arga seharusnya mengganggunya.
"Jam berapa ini?" Syahdu mencari-cari ponselnya, tapi tidak ketemu.
"Jam 12." Jawab Arga, melirik jam di tangannya.
Tok..tok..
Pintu terbuka, seorang perawat masuk dengan membawa beberapa keperluan medis.
"Permisi mbak Syahdu. Mau periksa nenek."
"Ah, iya, sus. Silakan."
Terlihat suster itu melirik ke arah Arga, lalu fokus melakukan pemeriksaan pada nenek.
"Mending kamu pulang deh, Ga." Bisik Syadu pada Arga. Tetapi lelaki itu tampak tak peduli.
"Mbak, cairan infus tinggal sedikit lagi. Nanti kalau udah mau habis, panggil saya, ya?" Suster menunjuk tombol kecil di dekat ranjang nenek, dan Syahdu pun mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih, sus." Ucap Syahdu saat suster menuju pintu ruangan.
"Hah, jadi bahan gosip baru, deh." Keluh Syahdu saat menyadari tatapan risih dari suster tadi.
"Gosip apaan." Tanya Arga.
"Ituu.. gara-gara kamu narik tangan aku tadi pagi, para perawat disini jadi gosipin kita." Tukas Syahdu dengan nada lemas. Selain mengantuk, kedatangan suster tadi juga membuatnya tak berdaya.
"Kamu, sih. Pakek acara tidur disini segala. Jadi makin nambah bahan ghibah perawat-perawat disini, kan."
Arga menyipitkan matanya. "Jadi, lo digosipin perawat disini? Sama gue,, gitu?"
Syahdu menghela napas berat. "Iya. Mereka bertanya-tanya ada hubungan apa kamu sama aku. Kok kamu sampe nyediain ini itu buat aku. Sampe banyak yang nebak kalau aku ini cewek simpenan kamu. Dan kedatangan kamu di jam segini membuat semuanya jelas." Tukas Syahdu, lalu duduk disebelah nenek, menatap tetesan cairan infus yang sebentar lagi akan habis.
Arga malah keluar begitu saja. Dia tak bilang apa-apa, tapi Syahdu merasa lega saat akhirnya lelaki itu pergi juga.
Tak butuh waktu lama, saat cairan infus mulai habis, Syahdu memanggil perawat untuk menggantikan botol infus yang baru. Tak banyak obrolan dengan suster itu. Dia tampak sungkan cenderung menjauh. Lalu keluar setelah selesai, tak seperti biasa dengan basa-basi terlebih dahulu.
Selang beberapa menit, Arga masuk lagi dengan banyak kantong plastik di tangannya.
"Loh, kamu nggak pulang??"
Arga meletakkan bawaannya di atas nakas. "Emang gue bilang kalau gue pulang? Gue beli makanan. Laper."
Dengan santai, Arga membuka bungkusan dan mengunyah ayam goreng tepung dengan lahap. Sementara Syahdu masih bengong di tempatnya.
"Kenapa? Mau?" Tawar lelaki itu.
Syahdu menggeleng pelan. Padahal dia berharap Arga pergi saja, dari pada pagi-pagi nanti para perawat sudah melihat ada Arga di ruangannya, pastilah itu menjadi berita heboh bagi mereka.
"Tenang aja, gue udah kasih Sp1 untuk semua perawat disini."
"Hah?"
"Pokoknya, kalo ada gosip-gosip lagi disini, bilang aja ke gue." Dengan santai lelaki itu melahap paha ayam dan menyeruput minumannya.
"Kok gitu, Ga? Ngga perlu lah, sampe kasih peringatan segala. Aku ngga apapa, kok." Syahdu mengerti. Pantas saja perawat tadi terlihat buru-buru menyelesaikan tugasnya tanpa basa-basi, ternyata Arga penyebabnya.
"Dih, siapa yang mikirin elo. Yang digosipin kan, gue. Sebagai pemilik rumah sakit, gue ngga suka lah, jadi bahan gosip mereka." Tukasnya lalu menggigit lagi ayam gorengnya.
Syahdu mengangguk lambat. "Iya juga.." gumamnya pelan. Kemudian ia duduk di dekat Arga dan membuka bungkusan lain.
"Eh, ngapain lo."
"Makanlah. Laper juga. Liat kamu makan jadi ikut selera." Ucap Syahdu dengan santai lalu menyantap makanannya, sementara Arga, dia membuang wajah, karena tak ingin Syahdu melihat ada senyum kecil tersungging di bibirnya.
__ADS_1