SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Ketahuan Wicak


__ADS_3

...PoV Adithya Wicaksana...


Hari ini kelas berakhir cepat karena dosen sedang tidak enak badan hingga akhirnya kami diberikan tugas yang mengharuskan aku sekelompok dengan Imel dan Cintya, dua perempuan yang pernah aku kenalkan dengan Syahdu saat pertama kali dia datang ke kampus ini.


"Wicaaakkk. Satu kelompok lagi, nihhh!" Imel mengacak rambut yang sudah kutata rapi tadi pagi. Dia memang begitu, selalu sembarang. Tapi karena kami memang akrab sejak semester satu, aku jadi memakluminya.


"Kapan nih, ngerjainnya?" Tanya Tya langsung duduk disebelahku.


"Sekarang aja, yukk!" Balas Imel.


"Cuma bertiga?" Tanyaku, karena setahuku satu kelompok terdiri dari 4 orang.


"Roni, tuh. Nggak dateng lagi dia."


Hah. Kenapa sulit sekali bertemu dengan anggota kelompok yang agak pintar dikit, ya?


"Di taman aja, yuk. Biar fresh dikit mata gue." Tya langsung berjalan keluar tanpa meminta pendapat.


"Ayo, buru." Ajak Imel yang masih melihatku duduk diam.


Aku dengan malas bergerak walau sebenarnya ingin menemui Syahdu. Dia juga sejak tadi tidak membalas chat-ku. Apa belum selesai kelasnya?


"Untung aja masih ada yang kosong." Kata Imel saat mendapati satu tempat kosong karena beberapa meja lainnya sudah diisi mahasiswa lain.


Kami duduk melingkar di salah satu kursi taman yang terbuat dari batu, yang memang disediakan buat mahasiswa yang mau berdiskusi kelompok.


"Outline lo gimana, Cak? Udah diterima?" Tanya Cintya.


"Udah."


"Enak banget ya, jadi elo. Mahasiswa kesayangan dosen." Ucap Imel dengan bibir manyun.


"Makanya, belajar yang bener." Balasku dan dia semakin manyun.


"Gue sampe muter otak buat ganti judul skripsi. Udah dua kali ditolak!" Keluh Cintya.


"Lo sama pak Bambang, kan?" Tanya Imel dan Tya mengangguk. "Servis dikit, dong, biar lancar."


"Anjir, lo kira gue cewek apaan!" Maki Tya sambil noyor kepala Imel yang tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Alaah, gaya lo. Sama cowok lo aja, cepet banget lo!"


Lagi, Cintya menoyor kepala Imel yang mulutnya terlalu ekstrem.


"Eh, itu mahasiswa yang ganteng itu, kan?" Tya menunjuk ke salah satu pemuda yang tengah berjalan cepat di lorong kampus.


"Iya. Gila tuh, jadi bahan pembicaraan cewek sekampus sakin gantengnya." Sambung Imel.


Aku ikut memperhatikan laki-laki itu. Setelah kulihat-lihat, sepertinya dia satu kelas dengan Syahdu. Waktu itu, dia juga ada bersama teman-teman Syahdu yang lainnya.


"Dia itu penyanyi." Kata Cintya.


"Iya, gue pernah nggak sengaja dateng ke nightclub tempat dia nyanyi. Siapa ya, namanya? Lupa gue." Celoteh Imel.


"Arga, kayaknya. Tapi sayang banget berondong, gue nggak suka sama anak-anak." Kata Tya lagi.


"Anak-anak apanya. Dia sebaya kita, kali." Sanggah Imel.


"Ah, serius?"


"Iya. Temen gue ada tuh, yang kenal sama dia. Katanya, dia tuh tiga tahun nunda kuliah. Ngelanjutin kerjaan nyokapnya kalau gue nggak salah denger." Jelas Imel pada Cintya yang wajahnya langsung terang.


"Wah, bisa dong, gue? Hahaha."


"Ehm! Jadi belajar nggak, nih??" Aku yang mendengar cerita dua wanita ini rada pusing. Bisa-bisanya membahas orang, bukan pelajaran.


"Yaelah, lo cemburu? Tenang, lo masih lebih ganteng." Ucap Imel sambil tertawa.


Mataku menatap ke arah dimana laki-laki itu menghilang tadi. Dua perempuan di depanku ini memuja-muji dia. Aku jadi khawatir dengan Syahdu. Maksudku, aku takut dia beralih karena laki-laki yang dianggap perfect di kalangan perempuan satu kampus ini.


Tapi aku menepis rasa kekhawatiranku, karena aku yakin Syahdu tidak seperti itu. Dia bukan tipe perempuan yang gampang tertarik dengan lawan jenis, aku sudah melihatnya selama 7 tahun ini.


Setelah kurang lebih satu jam berlalu, kamipun mengakhiri diskusi. Sudah jelas aku yang paling banyak membuat tugasnya karena dua perempuan ini selalu banyak alasan jika disuruh ini itu.


"Gue duluan, ya. Ada janji, soalnya." Cintya membereskan barang-barangnya. Tak lupa dia mengedipkan mata pada Imel yang sudah kupahami maksudnya.


Imel, aku tahu dia menyukaiku. Jika ada tugas atau kerja kelompok, dia akan melakukan berbagai cara supaya bisa satu kelompok bersamaku. Berkali-kali juga dia mengajakku pergi jalan-jalan, tapi berkali-kali itu juga aku menolaknya kalau hanya berdua.


Disetiap ulang tahunku juga, dia selalu memberi hadiah yang di mataku lumayan mahal. Tapi aku hampir tidak pernah memakainya, karena tak ingin membuat gadis itu berharap. Walau aku selalu cerita tentang Syahdu, tak membuat gadis itu mundur.

__ADS_1


Imel memang cantik, badannya juga bagus, terus terang sebagai laki-laki aku melihatnya sebagai perempuan yang nyaris sempurna untuk soal fisik. Tak sedikit pula laki-laki yang mendekatinya, tapi dia selalu menolak. Kenapa aku tahu? Karena dia selalu curhat padaku.


Tapi tetap saja, perasaanku pada Syahdu tidak bisa membuatku berpaling ke Imel. Syahdu memang tak secantik imel, tapi dia mempunyai ketertarikan tersendiri yang bahkan tidak ia sadari. Syahdu gadis baik, berhati halus, dan tentu saja cerdas. Menurutku, tidak ada perempuan yang seperti Syahdu. Yang paling membuatku menyayanginya adalah dia yang sangat pengertian dan tidak pernah memaksa maupun menuntutku melakukan ini itu untuknya. Kalau Imel, tentu saja aku mengenal keinginan besar dan keras kepalanya itu.


"Wicak, laper gue. Makan, yuk!" Ajak Imel.


"Gue ada janji sama Syahdu, makan siang bersama."


Aku mengecek ponsel dan belum ada notif dari Syahdu.


"Ck. Sesekali ama gue, dong. Lo nolak mulu kalau gue ajak berdua." Keluhnya.


"Gue nggak bisa, Mel. Ada Syahdu."


Imel tak lagi menjawab, dia pasti merasa kesal padaku.


"Cak, setia-setia banget juga nggak bagus, kali." Sambungnya.


Aku menoleh padanya, dia mengangkat kedua alis. "Cewek lo juga gue yakin nggak setia banget kayak elo."


"Maksud lo?"


Mata Imel mengarahkanku ke tempat dimana Syahdu bersama orang itu. Lelaki yang tadi dipuja-puji Imel dan Cintya.


Lelaki itu mengejar Syahdu yang tampak urung berbicara padanya. Berkali-kali pemuda itu mencoba menarik tangan Syahdu, tapi Syahdu menepisnya dengan wajah kesal. Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa Syahdu semarah itu padanya?


"Wah, kayaknya ada yang ngambek, tuh. Gaya-gayanya sih, kayak ngambeknya orang pacaran."


Suara Imel membuatku jadi curiga dan memikirkan hal buruk yang telah Syahdu lakukan. Gadis itu tidak pernah begitu pada orang lain.


"Apa mereka punya hubungan istimewa, ya? Kalau temen, sih, nggak mungkin sampe kaya gitu."


Ck. Aku kesal mendengar ocehan Imel yang sengaja memanasiku. Tapi melihat wajah laki-laki itu, entah kenapa aku yakin memang ada sesuatu diantara mereka.


Syahdu akhirnya pergi dan laki-laki itu tidak lagi mengejarnya. Dia diam disana, menatapi Syahdu yang pergi begitu saja.


"Gue sih, kasihan sama lo, kalau ternyata, pacar lo kepincut cowok perfect kayak Arga. Emang sih, kalau dipikir-pikir, perempuan mana yang nggak naksir sama Arga. Tampan, keren, jago nyanyi, kaya raya, dan yang gue denger nih, dia itu pintar dan juga pewaris tunggal perusahaan keluarganya."


Aku langsung bangkit, menyandang tas dan pergi ke arah Syahdu berlalu tadi. Tak lagi ingin mendengarkan semua api yang keluar dari mulut Imel yang dengan sengaja ia kobarkan supaya aku panas dan hubunganku bersama Syahdu retak. Aku sudah sangat tahu tujuannya. Sekarang, tinggal aku yang harus mendengar langsung penjelasan dari Syahdu.

__ADS_1



(Wicak Versi mahasiswa teladan. Sumber: Pin)


__ADS_2