
Dengan banyak sekali bujuk rayuan hingga janji manis, akhirnya Arga berhasil membawa Syahdu ke dokter. Walau syarat yang diajukan Syahdu cukup membuatnya bergetar.
Gadis itu meminta kebebasan. Ah, entahlah. Arga tak paham kenapa Syahdu meminta itu. Apa selama ini dia terkekang?
Syahdu bilang, dia ingin berkuliah tanpa adanya Arga disekelilingnya. Dia tak ingin dikawal, atau diintai oleh orang suruhan Arga. Dia ingin melakukan aktifitas seperti mahasiswa pada umumnya. Dia tak ingin di antar jemput Arga dan hanya ingin naik kendaraan umum.
Mengingat semua itu membuat Arga mengetuk-ngetuk jarinya di bundaran kemudi. Matanya menatap lampu merah, tapi pikirannya tidak disana. Bagaimana jika benar kata Arvian, bahwa Syahdu hamil? Tentu ini akan membuat gadis itu gagal kuliah.
Arga melirik Syahdu. Gadis itu memejamkan mata sembari melipat tangan. Nampaknya dia masih mengantuk. Belakangan Syahdu memang sering tertidur.
Arga sendiri tengah berdebar menantikan jawaban apakah benar Syahdu hamil. Sebab dia akan sangat bahagia jika itu terjadi. Walau ia ragu, apakah Syahdu juga akan sebahagia dirinya?
Mobil berhenti di depan klinik Arvian. Dia sudah membuat janji tadi, dan kini tinggal meyakinkan Syahdu untuk masuk kedalam ruangan Arvian.
"Udah sampe?" Syahdu menegakkan tubuhnya sembari menoleh keluar, membaca nama klinik yang mereka pernah singgahi sekali.
"Lho, kok kesini?"
Sudah Arga duga, Syahdu pasti akan curiga.
"I-iya. Kita kan, mau cek kondisi kamu."
"Tapi ini kan, klinik kandungan."
Arga diam sesaat, mencari alasan yang tepat.
"Kita masuk, ya. Biar Arvian cek kondisi kamu." Arga menggenggam tangannya. Dulu ia dan Syahdu juga pernah berdebat di dalam mobil sebelum masuk. Sekarang pun sama, Arga meyakinkan Syahdu lagi.
"Kamu.. mikir aku hamil, ya?"
"Sayang, aku ga tau soal itu. Makanya, kita cek, ya? Kamu jelasin ke Arvian soal kondisi kamu yang suka kram perut."
"Itu kan hal biasa, Ga. Minum jamu biasa aja udah sembuh, kok."
Arga sampai menghela napas. Dia tak tahu cara membujuk Syahdu.
"Syahdu.." Dia menggenggam kedua tangan Syahdu. "Aku udah sering bilang, kalau aku ga suka dengan sesuatu yang gak pasti. Aku khawatir sama kamu, makanya aku bawa kesini supaya Arvian bisa jelasin semuanya ke aku. Jadi, kita masuk dulu, ya. Soal kamu hamil atau enggak, biar Arvian yang jawab itu."
Terdengar helaan napas kasar dari Syahdu. Walau akhirnya ia mau menuruti Arga. Syahdu keluar memakai hoodie dan masker. Arga juga memakai topi dan maskernya. Ia tak mau ada yang melihatnya datang ke dokter kandungan bersama Syahdu. Tentu itu takkan baik untuk dijadikan berita.
Arga langsung menuju ruang Arvian yang sudah ditunggu oleh lelaki itu. Arga masuk dan mendapati Arvian tengah duduk di depan laptopnya.
"Wah, selamat datang." Sapa Arvian. Ia tersenyum menatap Syahdu yang kini datang untuk kedua kalinya. Namun kali ini berbeda, kalau dulu kedua orang itu masuk dengan gurat khawatir, kali ini ia melihat gurat tak sabar Arga.
Mereka berdua duduk berhadapan dengan Arvian. Basa-basi pun terjadi diantara mereka.
"Syahdu, lama tidak bertemu."
Syahdu tersenyum kecil. Ia masih ingat percakapan terakhir dirinya dan Arvian di pesta pertunangan Arga waktu itu.
"Aku ga nyangka, akhirnya kalian bertemu lagi. Padahal aku udah pesimis sama hidup Arga yang diujung tanduk itu." Celotehnya dan mendapat makian dari Arga. Arvian tertawa renyah, berbeda dengan Syahdu yang tampak diam.
Sejak dibawa Arga kesini, jantungnya jadi berdegub kencang. Dia mulai kepikiran apa benar dia hamil? Dia memang merasa ada yang berbeda dari dirinya.
Arvian meletakkan tabung urin di depan Syahdu, seolah langsung tahu apa tujuan mereka datang kesana.
"Silakan."
Syahdu diam cukup lama. Berat rasanya jika ternyata jawabannya positif. Gadis itu memilin jarinya dibawah meja. Rasanya belum siap, dia belum mau hamil dan itu sudah ia katakan pada Arga. Padahal ia yakin sudah terus minum pil kb.
Arga menggenggam jarinya. Perlakuan yang sama saat Syahdu juga ketakutan dengan jawaban dari tes ini.
__ADS_1
Syahdu mengambil tabungnya dan masuk ke toilet yang ada di ruang Arvian.
"Kenapa takut gitu? Bukannya kalian mau nikah bentar lagi?" Tanya Arvian ketika melihat raut bingung Syahdu.
"Dia.. belum mau punya anak."
"Hah, kenapa?"
Arga hanya mengangkat bahu.
"Tapi lo kayak gak sabaran gitu."
"Gue pengen punya anak dari Syahdu. Gue mau hidup sama tu cewek sampe gue mati. Gue cuma mau keturunan gue dari Syahdu. Makanya, gue bakalan seneng banget kalo dia hamil. Tapi gue juga bingung liat Syahdu yang kaya gini."
Arvian mengangguk paham. Dia menatap Arga dengan takjub. Pasalnya lelaki ini berubah total sejak bertemu Syahdu.
"Nggak ada ibu yang ga sayang sama anaknya. Kalo beneran hamil, Syahdu bakalan sayang sama anaknya." Terang Arvian meyakinkan Arga. "Eh, emang lo berdua nggak KB?"
"Minum pil aja dia. Kadang gue ngumpetin pil-nya supaya dia lupa dan hamil. Tapi banyak banget simpenannya. Emang ga niat hamil cewe gue." Keluh Arga pada Arvian.
Percakapan keduanya terhenti saat Syahdu keluar dari toilet membawa tabung berisikan urinnya.
Dia kembali duduk disebelah Arga. Lelaki itu menggenggam lagi tangannya. Dia bisa merasakan Syahdu yang tegang menunggu Arvian selesai dengan tesnya.
Arvian menatap testpack cukup lama, lalu menatap Arga dan Syahdu bergantian.
"Gimana?" Tanya Arga penasaran.
Arvian tersenyum. "Selamat ya, Syahdu positif hamil."
"Yess!" Arga menangkup kedua tangan ke wajah sebagai ucapan syukurnya. Lain hal dengan Syahdu yang hanya diam seribu bahasa. Dia tidak bisa menggambarkan suasana hatinya. Bukan dia menolak rezeki yang ada di rahimnya. Hanya saja, dia masih ingin berkuliah dan menjalani aktifitas layaknya mahasiswa. Jika ia hamil, itu artinya ia harus menunda kuliahnya.
Perawat mulai mengoleskan gel ke perut bawah Syahdu, lalu sebuah alat transducer mulai mengitari kulit perutnya.
Arga memfokuskan pandangannya ke layar besar di depan. Wajahnya sumringah melihat kantong rahim yang ada disana.
"Usia kehamilan baru 4 minggu."
"Mana sih?" Tanya Arga penasaran. Pasalnya ia tidak mengerti apa yang ia lihat.
"Itu, tuh. Masih kecil banget kayak biji toge." Jelas Arvian.
"Biji toge apaan, sih? Yang bener dong kalo kasi info."
Arvian berdecak. Pasiennya kali ini sungguh cerewet.
"Lo tau kacang ijo, nggak?"
Arga mengangguk-angguk. Jelas dia tahu.
"Nah, baru sebesar itu."
"Jadi, belum tau kelaminnya dong."
Arvian mendadak menoleh kearah Arga. "Lo itu bego atau apa, sih. Ngapain aja lo selama belajar di Inggris?"
"Lo pikir gue disana belajar biji toge? Mana gue tau!" Balas Arga.
Arvian menghela napas. "Belom. Usia 5-6 bulan baru keliatan. Tiap bulan harus cek kesini ya, Syahdu."
Syahdu mengangguk lambat, matanya ikut menatap layar. Hatinya berdebar melihat gumpalan kecil disana. Itukah janin yang ada di dalam rahimnya? Itu anak Arga.
__ADS_1
Setelah selesai, Arvian menuliskan vitamin yang perlu Syahdu minum untuk perkembangan janin.
"Bisa kasih ini ke apotek ditengah? Nanti balik lagi biar gue bantu jelasin."
Syahdu mengangguk dan keluar dari ruangan Arvian.
"Selamat ya, ga nyangka gue lo bakalan punya anak. Masih inget banget gue gimana kerasnya lo nolak pernikahan."
Arga juga tidak bisa menebak ini bisa terjadi. Janin yang dikandung Syahdu ternyata menjadi sesuatu yang ia tunggu-tunggu.
"Lo harus jaga Syahdu baek-baek. Inget, mood ibu hamil itu berantakan banget. Lo harus banyak sabar."
"Trus, gue harus apa lagi supaya Syahdu bisa nerima keadaannya yang sekarang?" Tanya Arga ingin mendapat masukan dari ahlinya.
"Ibu hamil gak jarang pengen ini itu. Lo harus turutin. Kalo bisa lo longgarin waktu supaya bisa terus ada di deket Syahdu. Cewek tuh, butuh itu. Pokoknya apapun yang buat Syahdu seneng, lo harus lakuin. Bini lo juga butuh pujian. Bilang kalau dia semakin cantik semenjak hamil."
Arga mengangguk-angguk. "Valid nggak, nih?"
"Valid-lah. Lo bisa kabarin gue kalo ada apa-apa."
"Sip-sip."
Tak lama, Syahdu kembali dengan beberapa jenis obatan. Arvian pun menjelaskan obat dan vitamin yang dibawa Syahdu. Setelah itu, mereka pun pamit pergi.
"Awas lo, ya. Kalo sampe ada yang tau Syahdu hamil, berarti itu dari lo." Ancam Arga sebelum menutup pintu.
"Yaelah kagak percayaan amat sama gua."
"Iya. Gue nggak percaya sama lo. Awas aja lo." Peringatan Arga tegas pada Arvian yang hanya terkekeh di mejanya.
~
Syahdu duduk merenung diatas tempat tidur. Sejak ia dinyatakan hamil, Syahdu jadi memikirkan masa depan yang sudah ia khayalkan. Semua itu harus dipendam lantaran ada yang harus diutamakan saat ini.
Arga datang dengan sebuah nampan di tangannya. Ia meletakkan nampan berisi susu dan roti diatas nakas.
"Kamu dari tadi belum makan. Nggak selera, ya? Atau mau aku masakin sesuatu, sayang?" Tanya Arga perhatian.
Syahdu menggeleng pelan. Dia melirik susu ibu hamil yang dibuatkan Arga untuknya.
"Mau susunya?"
Syahdu mengangguk, lalu meneguk segelas susu yang diberikan Arga.
"Anak ayah sehat-sehat di dalam, ya. Cepat gede supaya bisa keluar terus main sama ayah." Ucap Arga sembari mengelus perut rata Syahdu.
Mendengar ucapan Arga membuat Syahdu tersentuh.
"Ayah?"
"Iya, Ayah. Kenapa? Kamu ga suka sama panggilannya? Kalau gitu panggil apa, ya? Daddy? Papa? Atau Bapak? Ah, masa bapak." Arga tampak berpikir keras, lagi-lagi membuat Syahdu terenyuh.
"Ayah aja udah bagus, kok." Sahut Syahdu, dan langsung membuat Arga tersenyum lebar.
Dikecupnya kening Syahdu. "Makasih udah mau ngandung anak aku, Syahdu. Apapun akan aku lakuin supaya kamu bahagia. Sebentar lagi kita menikah, dan anak kita akan lahir. Aku akan carikan rumah yang bagus untuk kamu dan anak kita."
Syahdu memeluk Arga. Rasanya dia tak bisa mengeluh jika mendapat perlakuan yang luar biasa dari Arga. Lelaki itu juga sangat bahagia dengan kabar kehamilan ini. Jika kebahagiaannya adalah yang utama bagi Arga, maka seharusnya ia juga melakukan hal yang sama. Itu juga yang membuat Syahdu perlahan melemahkan keinginannya. Dia harus bahagia menerima kabar kehamilan ini demi kebahagiaan Arga dan tentu kebahagiaan dirinya juga.
Bersambung...
** Makasih Vote-nya ya. Jangan lupa cek Novel aku yang judulnya 'Something Between Us'**
__ADS_1