SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Masalah yang tak terselesaikan


__ADS_3

"Heh, asal lo tau, ya. Syahdu sahabat gue. Gue udah biasa satu tenda ama dia dan Elo..." Awan menunjuk Arga. "Lo bukan siapa-siapa. Ngga usah berlagak!" Pekik Awan geram.


Arga menatapnya dengan alis yang menyatu. Berang, dia sudah mengepalkan tangan sejak tadi. Melihat Awan yang terlalu banyak bicara membuatnya ingin menghabisi lelaki itu.


"Kenapa? Lo mau ngicip dia, Hah? Lo pikir gue nggak tau lo itu siapa. Lo itu terkenal PK! Perempuan mana yang lo nggak pernah pakek. Lo mau pakek Syahdu juga??" Terdengar tawaan dari mulut Awan. *PK adalah Penjahat Kelamin.


Arga menyipitkan mata. Siapa pula orang di depannya ini. Kenapa bisa mencapnya sebagai PK dan seolah sudah mengenalnya.


"Hah, bener kan, gue. Kalau lo pasti ngincer Syahdu. Lo gak akan bisa nyentuh Syahdu. Karena dia udah gue pakek! Jadi mending lo jauh-jauh sana!" Awan malah tertawa lebar mengejek Arga. Mendengengar ucapan tadu, tentu membuat Arga menuruti nalurinya.


"BRENGSEK!!"


Arga memberikan pukulan keras di wajah Awan sampai dia tergeletak di atas tanah, dan membuat Arga lebih leluasa menghajarnya dengan naik diatas tubuh Awan.


"Hei-hei.." Ibra yang baru datang dari buang air kecil langsung melerai keduanya dibantu beberapa orang yang langsung datang saat mendengar keributan.


"Tenang, man. Jangan buat keributan disini." Ucap Ibra menenangkan.


"Awan!" Syahdu keluar dari tenda dan membantu Awan.


"Awan, astaga. Hidungmu." Syahdu tampak panik, tentu saja membuat Arga ikut kesal pada gadis itu.


"Udah, ngga apapa, Du." Awan berdiri masih dengan memegangi hidungnya. Dia menatap tajam pada Arga.


"Mohon maaf, abang-abang, kakak-kakak sekalian. Ini cuma salah paham. Silakan lanjutkan istirahatnya. Maaf ya, semua." Ibra meminta maaf pada beberapa orang yang sampai keluar tenda karena mendengar perkelahian.


Syahdu menatap Arga kesal. Dia tak habis pikir kenapa Arga bisa memukuli Awan sampai seperti itu.


"Apa yang udah kamu lakuin ke Awan? Lihat ini. Dia sampe berdarah kayak gini! Memangnya ada apa, hah??" Syahdu sampai melihat Arga dengan tatapan benci tanpa tahu duduk perkara langsung membela Awan.


Dengan hati yang jengkel, Arga berjalan mendekatinya. "Lo tanyak aja dia!" Sungut Arga dan langsung pergi meninggalkan Syahdu. Dia tahu, Awan pasti tidak akan berani mengatakan alasannya.


Arga berjalan cepat menuju bukit sebelah. Dia hanya perlu menyebrang sedikit lalu naik ke atas bukit yang tak berpenghuni karena daerahnya yang lebih sempit. Tak terlihat apa-apa karena hari masih gelap.


Arga ingin sekali membawa Syahdu langsung pulang kalau saja ini bukan tengah berada di atas bukit. Entah kenapa melihat reaksi Syahdu yang khawatir pada lelaki bajingan itu membuatnya kesal setengah mati.


Apalagi ucapan Awan masih terngiang di telinganya. Sudah mengicipi Syahdu, katanya? Kalau saja bukan karena Ibra, lelaki itu pasti sudah mati di tangannya.


Bagaimana bisa lelaki seperti itu disebut sahabat? Berani dia melakukan itu pada Syahdu di dalam tenda, apa selama ini dia sering melakukan itu tanpa sepengetahuan Syahdu?


Ibra menepuk bahunya. Dia terkesiap dan langsung membuang napas kasar.


"Kenapa sih, lo sampe mukulin dia kaya gitu."


"Pengen aja." Jawab Arga enteng dan dia duduk di bebatuan.


"Pengen gimana. Kalian udah saling kenal ya, sebelumnya?"

__ADS_1


Pertanyaan Ibra membuat Arga ingat lontaran yang diberikan Awan. Kenapa dia bisa tahu soal dirinya yang sering main dengan perempuan?


"Enggak. Gue juga baru tau dia di kampus."


"Jadi, kenapa lo kayak dendam gitu ke dia?" Tanya Ibra lagi.


"Mukanya ngeselin. Jadi, gue tinju aja."


"Hahahah. Dasar gila." Ibra malah terkekeh mendengar alasan Arga.


Di tempat lain, Syahdu duduk di tepi bukit. Dia menatap danau yang gelap. Seberkas cahaya bulan terlihat memantul bulan di danau.


Dia mendesah pelan dan merapatkan jeketnya karena pagi semakin dingin. Entah apa yang terjadi sampai membuat Arga dan Awan berkelahi seperti tadi. Tapi pasti ada sesuatu yang membuat Arga sampai meninju Awan. Apa Arga mengungkapkan sesuatu pada Awan?Syahdu menutup matanya. Dia tidak bisa menebak apapun.


Syahdu duduk termenung disana sampai tak terasa pagi benar-benar datang. Hari mulai sedikit terang.


"Ras, lo sendirian aja?" Adina duduk disebelahnya. Dia mengucek-ngucek mata dan menguap. "Dingin banget nggak, sih? Gue sampe menggigil dan ga bisa tidur lagi."


"Kamu dengar sesuatu nggak tadi?" Tanya Syahdu mengabaikan ocehan Dina.


"Eng? Sesuatu? Emangnya ada apa?"


Adina tidak tahu. Berarti mereka tak mendengar perkelahian itu. Syahdu menatap tenda Awan, masih tertutup seperti tadi.


"Lo denger hantu, atau apa?"


"Hah??" Adina membelalakkan mata. "Berantem kenapa??"


Syahdu menggeleng lambat. Dia juga tak tahu apa-apa tapi sepertinya ini karena dirinya.


"Trus, gimana??" Tanya Adina sangat penasaran.


"Hidung Awan berdarah."


Adina menganga lebar. Apa benar hal itu terjadi? Dia bertanya-tanya dalam hatinya.


Tak lama, Naya dan Alika ikut keluar. Wajah mereka tampak kusut dan terlihat masih mengantuk.


"Nyesel gue bawa satu selimut." Naya duduk disebelah Syahdu lalu merebahkan kepalanya di bahu gadis itu. "Numpang, Ras. Ngantuk gue."


"Kenapa ngga tidur di dalam aja lagi?" Tanya Syahdu.


"Dingin banget. Kayak tidur diatas es."


"Iya, nih. Menggigil gue.." sambung Alika.


"Eh, kalian mau denger sesuatu yang buat panas, nggak?" Adina ingin memberi informasi yang juga baru ia dapatkan.

__ADS_1


"Apaan?"


"Arga dan Awan, berantem. Adu jotos."


"Whatt?? Serius?" Naya mengangkat kepala dan matanya pun membelalak.


"Yang bener lo? Kenapa? Ada apa??" Tanya Alika terkaget-kaget.


"Gue ga tau. Kenapa, Ras?" Dina melemparkan pertanyaan ke Syahdu.


"Ngga tau juga. Aku terbangun saat mereka berkelahi dua jam yang lalu." Jawab Syahdu.


"Eh, Arga tuh." Adina menepuk-nepuk paha Alika dan merekapun berdiri menghadap Arga yang datang sendirian.


Lelaki itu melirik Syahdu sebentar. Wajahnya masih ketus apalagi mengingat Syahdu malah membela Awan.


"Arga, ada apa? Kita denger lo berkelahi sama Awan." Adina dengan berani menanyakan soal itu.


Arga menatap ke arah tenda yang tertutup. "Iya." Jawabnya dingin melebihi udara pagi itu.


"Trus.. lo nggak apa-apa?" Tanya Naya dan Arga menggelengkan kepala.


Suara kancing dibuka dengan kasarpun terdengar. Awan keluar dengan menggendong tasnya.


Adina dan yang lain menganga melihat kondisi hidung Awan. Nampaknya Arga benar-benar menghajarnya.


"Wan, hidung lo.." Alika menunjuk hidung Awan yang masih berbekas darah.


Awan mengabaikan ucapan Alika. "Yang mau ikut gue pulang, cepat beresin barang." Mata Awan mengarah pada Syahdu. Dia mengajak perempuan itu pulang bersamanya.


Namun hanya keheningan yang tercipta. Tidak ada yang bergerak satu orangpun. Terutama Syahdu. Dia tengah bimbang menatap Arga dan Awan secara bergantian.


"Bisa nggak, kalian jelasin masalahnya apa?" Akhirnya Syahdu memberanikan diri untuk bertanya.


Baik Awan maupun Arga diam. Awan membuang wajah, sementara Arga menatap Awan dengan tajam.


"Yang mau balik bareng gue, Gue tunggu disana." Awan berlalu tanpa menjawab pertanyaan Syahdu. Jelas dia malu.


"Pulang aja, yuk." Bisik Alika pada Naya.


"Ih, kok pulang sama Awan."


"Gue serem liat wajah Arga. Kayak mau ngamuk gitu. Lo nggak liat hidung Awan sampe kekgitu." Bisik Alika. "Udah, yuk, lagian mobilnya juga ngga muat ntar." Alika menarik tangan Naya yang mau tak mau mengikuti Alika. Jelas dia ingin bersama Arga. Tapi melihat wajah lelaki itu juga dia sedikit ciut.


"Ras, kita gimana?" Bisik Adina pada Syahdu.


"Bareng gue." Jawab Arga cepat dan melangkah lagi entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2