SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Nasi Bekal


__ADS_3

Syahdu tengah fokus dengan pekerjaannya. Rambut gadis itu masih kelihatan putih walau sudah ia bersihkan sebagian.


Syahdu menata makanan di dalam sebuah kotak makan dengan 4 sekat. Pertama, dia mengisinya dengan black paper beef. Disebelahnya ada sosis saos tiram, lalu chicken fillet, dan nasi.


Arga memperhatikan gadis itu, menyusun dengan senyuman khas di bibir Syahdu.


"Kenapa tempatnya kecil banget? Sisanya ngga dibawa?" Tanya Arga.


"Bukan yang ini. Kalau ini khusus buat kak Wicak. Hehe. Aku mau pamer hasil masakanku." Syahdu menutup kotak bekal dan mengambil wadah makanan yang lain untuk dibawa ke pendakian.


Arga hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan Syahdu menuju kamar mandi.


Setelah selesai berberes, Syahdu memakai sepatunya.


Tiba-tiba saja, Arga meletakkan sepasang sepatu berwarna putih-merah jambu di dekat Syahdu.


Gadis itu mendongak, "Minta dipakein sepatu?" Tanya Syahdu yang berpikir bahwa Arga menyuruhnya memakaikan sepatu.


"Buat lo."


"Hah?" Syahdu menatap sepatu yang baru diletakkan Arga di dekatnya.


"Lo nggak bisa naik dengan sepatu kayak gitu." Ucapnya kemudian duduk disebelah Syahdu dan memakai sepatunya.


"Kok.."


"Nggak usah banyak nanya. Gue tunggu di depan." Arga keluar dari apartemennya dengan menggendong ransel besar. Sementara Syahdu masih melongo.


Diambilnya sepatu itu dan Syahdu membelalakkan mata melihat harganya.


"Lima juta? Sepatu gini doang?" Syahdu memperhatikan detail sepatu itu. Dia memang sangat menyukainya tapi Arga sengaja kan, tidak membuang tag harga supaya Syahdu tahu berapa jumlah uang yang Arga habiskan untuk dirinya?


"Hah. Paling aku disuruh mengganti." Syahdu menghela napas panjang walau akhirnya mengganti sepatunya.


Syahdu keluar dan mendapati lelaki itu tengah mengobrol santai dengan penjaga pintu lobi.


"Selamat siang, Mba." Sapa security itu.


Ya, semenjak keluar masuk apartemen Arga, Syahdu jadi sering bertemu security itu di depan dan sudah saling sapa walau tidak tahu nama.


"Kalau gitu, kami berangkat dulu, pak." Ucap Arga.


"Iya. Hati-hati, ya. Dijaga Mbaknya, jangan sampe jatoh." Pak Security cengengesan, lalu mempersilakan mereka pergi.


"Aku naik taksi online aja. Soalnya harus ke suatu tempat dulu." Ucap Syahdu saat Arga membuka pintu mobil.


"Kemana?"


"Kepo." Syahdu mengulurkan lidah lalu pergi begitu saja.


Arga kesal tetapi tidak bisa menahan Syahdu. Diapun langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan.


...🍁...


"Kak. Udah lama?" Syahdu menghampiri Wicak yang sudah duduk di salah satu meja. Lelaki itu tampak rapi seperti biasa.


"Baru juga, kok."


Syahdu meletakkan tasnya di bawah meja dan mulai mengatur napas.


"Lari?" Tanya Wicak.


Syahdu mengangguk. "Takut kakak nunggu lama."


Wicak tersenyum, dia memperhatikan wajah tanpa make up kekasihnya yang mengibaskan tangannya karena gerah.


"Jam berapa berangkat?"


"Jam satu, kak. Nggak apapa kan, kita ketemunya sebentar aja?"


"Ngga apa-apa. Yang penting bisa lihat kamu sebentar."

__ADS_1


Syahdu tersenyum. Dibilang seperti itu membuat hatinya meleleh. Sangat terlihat Wicak itu benar-benar mencintainya. Tentu senang rasanya bisa dicintai sebegitunya oleh seorang laki-laki terlebih seperti Wicak.


Wicak langsung memanggil seorang waiter untuk mencatat pesanan mereka.


"Eh, kak. Jangan pesen makanan dulu." Bisik Syahdu.


"Hm?"


"Aku bawa makanan buat kakak." Bisiknya lagi.


"Kalau gitu, wafel saus coklat satu dan jus jeruk 2." Pesan Wicak pada waiter.


Setelah waiter itu pergi, Syahdu mengeluarkan kotak bekal dan meletakkannya di depan Wicak.


"Aku masak sendiri, lho. Khusus buat kakak." Syahdu tersenyum manis saat Wicak mengambil garpu dan mulai mengambil satu potong daging.


Diperhatikannya daging itu. Teksturnya lembut dan tercium harum.


"Makan dong, masa diliatin aja."


Wicak memasukkan potongan daging ke mulutnya dan mulai mengunyah perlahan.


Mata Syahdu berbinar. Berharap Wicak menyukai makanan yang ia buat tadi.


"Enak?"


Wicak tak menjawab. Wajahnya juga datar. Tapi terus mengunyah dengan menatap Syahdu.


"Ngga enak, ya?" Wajah Syahdu mulai berubah. Apa makanan itu tidak cocok di lidah Wicak? Padahal saat dia mencobanya, rasanya enak banget.


Tapi Syahdu malah mengangkat sebelah alisnya saat Wicak mengambil satu potong lagi.


"Enak?" Tanya Syahdu lagi.


"Enggak." Jawabnya sambil terus mengunyah.


"Nggak enak kok nambah. Udah sini, balikin." Syahdu mulai kesal dan menarik kotak bekal. Tapi ditahan oleh Wicak.


"Jangan, dong. Katanya buat aku."


"Walau nggak enak, kan, bikinan kamu. Aku mau habisin." Ucap Wicak dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Nggak usah. Aku buang aja!"


Wicak langsung tertawa dan menggenggam tangan Syahdu. "Aku bercanda, sayang. Masakan kamu enak. Banget, malah. Aku suka. Nanti setelah nikah, sering-sering masakin aku, ya."


Syahdu masih manyun. Dia kesal karena dikerjain begitu.


"Uluhh. Cemberut terus. Pantesan rasa makanannya berubah jadi asam." Ledek Wicak. Dia mengelus lembut pipi Syahdu.


"Makasih, ya. Kamu udah nunjukin kalau kamu itu sangat pantas untuk menjadi seorang istri. Kamu banyak melakukan sesuatu untuk menyenangkanku. Makasih udah jaga hati dan perasaanmu untukku. Kamu perempuan sempurna yang pernah kutemui."


Mendengar ucapan Wicak bukan membuatnya senang, Syahdu malah merasa sedih. Tiba-tiba saja dia teringat apa yang sudah ia lakukan selama ini. Perempuan sempurna? Sama sekali tidak.


"Kak, aku ke toilet dulu." Syahdu langsung beranjak saat ia merasa matanya mulai perih.


Syahdu masuk ke satu bilik toilet. Tepat saat menutup pintu, air matanya langsung jatuh. Dengan cepat Syahdu menghapusnya.


Kenapa semakin kesini, dia merasa dirinya benar-benar tidak pantas untuk Wicak? Melihat ketulusan Wicak membuatnya semakin terlihat kotor dan rendah. Tapi apa yang harus dia lakukan? Dia juga tidak ingin ini terjadi jika bukan karena keterpaksaan.


Setelah dirasa tenang, Syahdu mencuci wajahnya dan kembali ke meja Wicak.


"Hp kamu bunyi, sayang."


Syahdu segera mengecek ponselnya. Ternyata pesan dari Adina, menyuruhnya untuk segera datang.


"Kamu makan dulu wafelnya, baru aku anterin ke tempat kumpul kamu sama temen-temen." Ucap Wicak dengan mulut penuh. Nampaknya dia benar-benar suka makanan yang dibuat Syahdu.


"Nggak usah, kak. Dekat kok."


"Justru karena dekat makanya aku ant-" kalimat Wicak terputus saat dia melihat wajah Syahdu.

__ADS_1


"Kamu nangis?"


"Hah? Engga kok. Tadi kelilipan makanya aku cuci muka."


Wicak meletakkan sendok, lalu menyentuh dagu Syahdu. "Mana? Udah baikan matanya? Masih sakit?"


Syahdu menggeleng. "Udah baikan, kok. Cepat makannya, hari ini kakak sibuk, kan?"


Wicak mulai menceritakan apa yang dia kerjakan bersama para panitia expo lainnya. Hal-hal yang membuat menarik dan tentu saja, Wicak menyukai kesibukan.


Setelah selesai, mereka berjalan sambil pegangan tangan. Wicak membawakan tas Syahdu dipunggungnya. Walau sudah berapa kali Syahdu katakan, tasnya tidak berat, tapi Wicak tetap memaksa.


"Berapa orang yang pergi?"


"Em.. cuma 7 orang, kok."


"Ingat, jangan satu tenda dengan laki-laki." Pesan Wicak.


"Iya. Aku satu tenda dengan teman cewek, kok."


"Udah bawa senter?"


"Udah."


"Jeket tebal?"


"Udah, kak."


"Powerbank? Itu yang paling penting karena aku akan terus mengawasimu."


Syahdu tergelak. "Udaah. Lengkap semua. Tenang aja, ini kan bukan kali pertama mendaki."


"Tetap aja, kamu kan, teledor."


"Makanya pasanganku kakak. Wicak si telaten. Hehehe."


Tak sadar, mereka sudah sampai di lokasi kumpul. Sudah ada beberapa orang disana. Dina, Alika, Naya, Ibara, dan tentu saja Arga. Lelaki itu tengah berpangku kaki dengan rokok sambil menatap ponselnya.


"Udah sampe, nih. Makasih, kak."


Wicak diam. Dia tengah memperhatikan seseorang disana.


Mata Syahdupun ikut melihat arah mata Wicak. Yaitu Arga.


"Kak."


Wicak terlihat biasa saja memang, hanya pandangannya lama pada Arga membuat Syahdu agak khawatir.


"Ya sudah, aku balik dulu. Kamu hati-hati, ya."


Syahdu mengangguk. Wicak mengecup puncak kepalanya dan berbalik arah menuju kafe tadi, karena motornya terparkir disana.


Syahdu menenteng tasnya dan melangkah mendekat.


"Ciee. Sebelum gerak, minta cium dulu sama ayang." Ledek Alika.


"Isi amunisi katanya. Biar makin semangat." Sahut Adina.


"Pantesan lama." sahut Naya ikut-ikutan.


Arga menatap ponselnya cukup lama, melihat status baru Syahdu. Sampai ia beralih menatap gadis itu.



Syahdu hanya tersenyum menanggapi teman-temannya. "Awan mana?"


"Ngga tau, tuh. Bisa-bisanya dia yang telat." Ucap Ibra.


"Eh, ini naik mobil Arga dan Awan, kan? Gue naik mobil Arga, ya." Celetuk Naya.


"Eh, gue juga!" Sambut Alika.

__ADS_1


Arga hanya diam sambil menyesap rokoknya. Matanya pula tak lepas dari Syahdu yang tak menjawab mau di mobil siapa dia berada.


To be Continued...


__ADS_2