
Suara dentingan jam di dinding mengisi keheningan malam. Sunyi dan senyap rumah itu seolah menunjukkan bahwa di rumah itu memang tengah berduka.
Syahdu berbaring miring diatas kasur. Dia melirik jam, sudah pukul 11 lewat saat ia mendengar suara motor Wicak dari depan. Disusul bunyi pintu yang terbuka lalu tertutup kembali.
Syahdu memejamkan mata. Sejak tadi ia tidak bisa tidur karena memikirkan kata demi kata yang akan diucapkannya pada Wicak. Dia akan jujur tentang apa yang selama ini ia lakukan pada lelaki yang akan menikahinya itu.
"Syahdu.." Suara lembut Wicak dan guncangan kecil di lengannya membuat gadis itu membuka mata.
"Aku bawa makanan. Kamu udah makan, belum?"
Syahdu menoleh kebelakang, melihat Wicak yang sudah duduk di tepi tempat tidur.
"Udah." Jawab gadis itu bohong. Sejak tadi dia belum makan kecuali beberapa suap masakan Arga.
"Ya udah, aku simpan buat besok aja, ya." Katanya dengan senyum hangat.
"Kak."
"Hm?"
"Ada yang mau aku bicarain."
"Nanti, ya. Aku mandi dulu. Bau keringat soalnya." Lelaki itu mengecup singkat kening Syahdu lalu melangkah menuju kamar mandi, sementara Syahdu menunggu Wicak dengan perasaan tak menentu. Tangannya mulai gemetar hanya dengan membayangkan kalimat yang akan menyerang hati Wicak nanti.
Setelah beberapa menit, Wicak masuk ke dalam kamar Syahdu. Harum maskulin lelaki itu terhirup di hidungnya.
"Mau bilang apa?" Tanya Wicak. Dia naik keatas tempat tidur, ikut memiringkan tubuh menghadap Syahdu.
Gerimis, diluar sedang hujan kecil dan ini sudah hampir tengah malam. Waktu yang sangat tepat untuk sekedar pillow talk bersama pasangan. Tapi percakapan kali ini bukan sesuatu yang menyenangkan untuk di bahas.
"Boleh peluk?" Pinta Syahdu dengan suara yang tercekat. Air mata sudah mengalir dan Wicak langsung menariknya dalam pelukan. Syahdu terisak-isak di dada Wicak. Lelaki itu dengan sabar mengelus Syahdu, menenangkan gadis yang belakangan tidak mau makan, banyak termenung dan menangis tiba-tiba. Pasti berat, Wicak memahami itu. Dan sebab itulah yang membuatnya ingin terus ada disamping Syahdu.
Setelah beberapa saat Syahdu menangis, dia mulai memberanikan diri membuka suara tanpa menatap Wicak. Kedua tangannya memeluk erat lelaki itu seperti tak ingin berpisah.
"Kak."
"Hm.."
Syahdu diam sebentar, mengatur debaran di jantung yang membuat seluruh tubuhnya bergetar.
"Aku..." Syahdu memejamkan mata kuat-kuat, berusaha sebisa mungkin mengeluarkan kalimat pertamanya.
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa, Syahdu? Kenapa nyembunyiin wajah gitu." Tanya Wicak sembari mengacak rambut gadis di dekapannya itu.
Syahdu semakin mengeratkan pelukannya. Dia takut lelaki itu juga akan meninggalkannya.
"Kak, aku... udah ga perawan." Syahdu menggit bibirnya. Dia bisa merasakan elusan Wicak di kepalanya terhenti.
"Aku.. ga bisa jaga kehormatan." Lanjut Syahdu dengan suara paraunya.
Hening. Tidak ada suara apapun kecuali isakan Syahdu di dada Wicak.
Lelaki itu tak bergerak. Dia diam karena tiba-tiba ingatannya kembali pada saat di rumah sakit waktu itu.
"Mungkin karena kamu jatuh. Jangan persoalkan itu." Jawab Wicak dengan suara berat. Dia tak mau membahas ini.
Syahdu semakin terisak mendengar jawaban Wicak. Apa dia menghentikan saja kalimatnya dengan pemikiran Wicak yang seperti sekarang ini? Dengan begitu Wicak akan terus ada disampingnya, sudah pasti. Tapi, ada rasa bersalah dalam dirinya jika ia tidak mengatakan dengan jujur walau Arga pernah bilang, yang seperti ini tidak perlu ia lakukan.
"Aku.. melakukan hubungan badan.. demi pengobatan nenek." Imbuh Syahdu lagi dengan suara terputus-putus.
Wicak mematung. Mendengar pernyataan Syahdu membuat tubuhnya seperti tertimpah bebatuan besar. Dadanya terasa sesak dan sulit bernapas. Apakah Syahdu mengatakan ini dengan keseriusan, atau bercanda untuk menguji hatinya?
"Maafkan aku, kak. Aku udah nyakitin kakak. Aku ngelakuin itu karena terpaksa.. hiks.."
Mata Wicak terasa perih tatkala ia menyadari bahwa apa yang keluar dari mulut Syahdu saat ini adalah sebuah keseriusan.
Wicak tidak diam, dia menegur para perawat itu karena sudah berani memfitnah Syahdu, walau terus terang hatinya tidak tenang saat itu.
Dia percaya pada Syahdu, tapi tidak dengan lelaki itu. Dia percaya saja saat Syahdu mengatakan bahwa lelaki itu menolongnya karena pertemanan. Namun sekarang, Wicak harus menelan kenyataan pahit bahwa memang tidak mungkin lelaki itu membantu Syahdu tanpa imbalan. Tapi, Wicak perlu memastikan itu. Apakah lelaki itu Arga, atau orang lain.
"Siapa.. laki-laki itu." Tanya Wicak dengan napas berat.
Syahdu tidak ingin memberitahunya. Dia sangat takut jika Wicak akan meninggalkannya. Apalagi lelaki itu pernah cemburu pada Arga.
"Kak.. aku.. kasih tau kakak soal aib ini karena kepercayaanku pada kakak." Syahdu bisa merasakan tubuh Wicak yang menegang. Debaran jantung lelaki itupun bisa ia rasakan dengan sangat jelas sekarang.
"Syahdu." Wicak menarik bahunya, ingin melepaskan pelukan tapi gadis itu menahan kuat pelukan, tak mau Wicak pergi darinya.
"Dengarkan aku sampai selesai, kak. Setelah itu buatlah keputusan karena aku sudah pasrah." Isaknya pada Wicak, semakin ia genggam kuat baju lelaki itu.
Mendengar itu, Wicak berhenti. Dia menarik napas berat. Rasanya tak bisa ia bayangkan apa yang selama ini Syahdu lakukan dibelakangnya. Begitu besar kepercayaan yang ia berikan, namun Syahdu memberikan duka bagi hatinya.
"Waktu itu.. nenek sekarat dan aku ga punya uang untuk operasi nenek. Aku.. hiks.. aku ga tau mau dapat uang ratusan juta dari mana."
__ADS_1
Gadis itu tersedu-sedu, sementara Wicak tak bersuara.
"Aku tahu aku salah, aku bodoh, aku ga mikirin perasaan kakak tapi akupun tersiksa." Syahdu berhenti, sakit dihatinya muncul saat tak mendengar reaksi apapun dari Wicak. Tangisnya semakin pecah.
"Aku terpaksa. Kalau engga, aku akan kehilangan nenek. Aku minta maaf, kak. Aku udah nyakitin kakak."
Sesegukan Syahdu membuatnya kesulitan melanjutkan kalimatnya, tapi dia harus mengatakannya.
"Setiap hari aku merasa bersalah, aku merasa jadi orang paling jahat. Itu sebabnya aku ikhlas kalau kakak pergi ninggalin aku. Aku sangat mengerti, aku paham."
Air mata Wicak mengalir melewati tulang hidungnya. Penjelasan Syahdu tentu tidak gampang ia terima. Perasaannya dihancurkan oleh Syahdu yang bertahun-tahun ia jaga kehormatannya. Bagaimana kerasnya dia menjaga Syahdu, bahkan dirinya sendiri menahan hasratnya. Tapi gadis itu...
"Aku ga maksa kakak untuk nerima aku. Aku akan ikhlas kalau kakak mau pergi dan ninggalin aku, karena ini memang salahku. Tapi kumohon, temani aku sekali ini aja. Tetap disini sampai pagi."
Baju Wicak basah karena air mata Syahdu yang tak ada hentinya.
"Aku sadar diri.. aku.. aku mengerti kalau kakak pergi. Aku mengerti..." Lirih Syahdu ditengah isakannya.
Malam itu begitu dingin dan terasa mencekam. Syahdu tak melepaskan pelukannya sedetikpun. Wicak juga tidak sanggup lagi berkata-kata. Mendengar Syahdu menjual dirinya demi pengobatan neneknya tentu bukan sesuatu yang kecil untuk bisa diterima. Apalagi Suriani akhirnya meninggal dan semua meninggalkan noda hitam.
Wicak terjaga sepanjang malam masih dengan posisi yang sama. Dia seperti orang bodoh selama ini. Syahdu, satu-satunya wadah dimana ia menuangkan cinta yang amat besar, ternyata tidak menganggap itu berharga.
Perlahan dia menyingkirkan tangan Syahdu yang sudah terlelap. Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Wicak duduk menatap wajah perempuan yang ia cintai. Tidak, perempuan itu baru saja menorehkan luka yang sangat-sangat dalam padanya. Sangat dalam.
Wicak keluar dari kontrakan Syahdu. Dia pulang meninggalkan gadis itu sendirian, melupakan janji yang sering ia ucapkan. Bagaimana pun pikiran Wicak tak pernah sampai pada Syahdu yang disentuh laki-laki lain.
Wicak sulit memahami kondisinya saat ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Syahdu dengan mudah tidur dengan laki-laki lain, sudah berapa lama ia melakukan itu, berapa kali, dimana, dan sejak kapan?
Tak bisa terjawab, ia bahkan tak sanggup mendengarkannya karena hatinya terlalu sakit.
Dalam dinginnya subuh, Wicak mengendarai motornya dengan air mata yang tak bisa ia hentikan. Duri yang tajam tertancap ke relung hati yang paling dalam, oleh orang yang paling ia sayang.
~
Suara cicitan burung membuat Syahdu terbangun. Detik saat matanya terbuka, ingatannya langsung menangkap tentang kejadian tadi malam. Syahdu seketika menangis, dia memendamkan wajahnya diatas bantal saat menyadari tidak ada Wicak disebelahnya.
Dia melepaskan jeritan saat tahu kini bukan cuma Suriani, melainkan Wicak juga pergi meninggalkannya.
Ya, sesuatu yang harus ia terima. Walau sudah ia tekankan dalam hatinya untuk menerima apapun keputusan Wicak. Namun kenyataannya, ia tak benar-benar siap kehilangan satu-satunya cinta yang tersisa untuknya.
TBC
__ADS_1
'Orang yang memiliki peluang paling besar untuk menyakiti kita adalah orang yang paling kita sayangi.'