
Kami memasuki pekarangan rumah yang cukup luas. Anak kecil tadi mengetuk-ngetuk pintu dengan suara keras, tak sabar memberitahu bahwa aku telah datang.
"Kaak.. kak Syahdu, buka pintunya."
Pintu itu terbuka bersamaan sebuah omelan yang kurindukan.
"Tarii. Kenapa teriak-teriak. Pintu ngga dikunci. Biasa juga masuk sendirii!"
Mata gadis itu naik menatap aku yang berdiri tak jauh dari anak yang bernama Tari. Spontan Syahdu membelalak kaget melihat aku dan Ibra yang sudah tiba di desanya.
Aku terdiam. Kuperhatikan wajah indah yang pucat itu. Suaranya juga serak hampir tak terdengar. Syahdu memang sedang sakit. Apa dia tidak pergi ke dokter?
"Hai." Sapa Ibra. Syahdu masih diam di tempatnya. Mungkin dia tak menyangka melihatku sudah ada di depan matanya. Padahal pagi tadi Ibra bilang bahwa jadwalku padat. Ya, padat karena aku akan bersamanya beberapa hari kedepan.
"Boleh aku masuk? Perjalanan kami panjang banget. Rasanya tulangku mau copot. Numpang rebahin badan, ya?"
Celotehan Ibra membuat Syahdu reflek mengangguk.
"Tari, tunjukin kamarnya, ya."
"Iya, kak." Tari kemudian beralih pada Ibra. "Mari kak, Tari tunjukin kamarnya.
Ibra masuk mengikuti Tari. Dan aku mulai merekahkan senyum saat pandangan Syahdu kembali kepadaku.
Akupun berjalan mendekati Syahdu yang masih berdiri diambang pintu.
"Aku merindukanmu." Ucapku padanya yang masih bergeming menatapku. Tidak bisa kuartikan diamnya Syahdu. Apakah dia tidak menyangka aku bisa sampai disini, atau dia tak suka dengan keberadaanku.
Melihatnya tak berespon, aku pun kembali bersuara.
"Maaf, aku bohong. Aku juga yang minta Ibra buat ga ngomong kalo kita hari ini berangkat kesini. Aku ga bisa lama-lama pisah."
Entahlah. Syahdu membuatku takut. Aku takut kalau dia marah. Aku takut kalau dia bersedih, aku juga takut kalau dia tidak bahagia bersamaku. Dan yang paling aku takutkan adalah, kalau Syahdu tidak lagi mencintaiku dan pergi meninggalkanku. Aku sangat-sangat tidak ingin itu terjadi. Oleh sebab itu, aku akan selalu berusaha menyenangkan hatinya. Aku akan melakukan apapun asal Syahdu mau bersamaku sampai tua nanti.
"Boleh peluk aku, Syahdu?" Tanganku merentang, memintanya untuk datang.
Syahdu melangkah dan memelukku. Aku senang karena dia tidak marah, tetapi aku bisa merasakan bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja saat ini. Gadis itu juga lesu, dia sampai merebahkan kepalanya, mencari kenyamanan di tubuhku.
"Ah, rasa lelahku hilang."
Syahdu melepaskan pelukannya. "Ayo, masuk. Aku akan buatkan teh."
Syahdu menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah yang kata Syahdu adalah panti asuhan. Kulihat memang banyak ruangan di dalam. Dan Ibra, entah dimana dia saat ini.
"Bunda lagi ada urusan. Tapi bentar lagi pulang, kok."
Aku mengangguk. Aku juga ingin bertemu bunda Syahdu untuk mengatakan bahwa aku akan melamar anak angkatnya ini.
__ADS_1
"Kamar kamu yang mana?" Tanyaku pada Syahdu.
Dia menunjuk satu kamar. "Yang itu. Aku buatin kamu teh dulu."
Selagi gadis itu menuju dapur, aku pun bangkit menuju kamarnya. Selama ini Syahdu tidur di tempat bagaimana? Aku ingin tahu.
Aku membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Kuperhatikan kamar yang sedikit berantakan itu. Lalu mataku menangkap satu kotak yang sudah terbuka tutupnya. Aku mendekat saat kulihat sebuah jeket abu-abu terlipat. Aku mengenal jeket itu. Milik mantan kekasih pacarku dulu. Dia pernah meletakkannya di lemari apartemen.
Aku mengambil jeket itu. Ternyata dia masih menyimpannya. Kenapa, ya? Apa Syahdu masih mencintai mantannya itu?
Tiba-tiba tubuhku terasa lemas. Apa benar begitu? Kemudian aku melihat ke dalam kotak itu. Kudapati foto-foto Syahdu dan Wicak berdua dan teramat mesra di mataku. Perhiasan itu juga, aku ingat dia pernah cerita kalau itu hadiah dari Wicak saat ulang tahunnya.
Ah, apa ini semua? Apa benar hati Syahdu masih untuk kekasihnya yang telah tiada itu? Apa dia hanya mengasihani aku? Berbagai macam kemungkinan muncul di benakku. Aku tidak ingin berpikir macam-macam sebelum mendengar semuanya dari Syahdu.
"Arga!"
Aku tersentak sampai menjatuhkan foto-foto yang kupegang. Syahdu menatapi semua foto yang berserak. Kulihat ada gurat kaget yang ia sembunyikan disana.
"A-aku cuma mau liat kamar kamu." Ucapku sembari mengutip foto-foto yang bertebaran diatas lantai. Tentu aku merasa bersalah karena sudah lancang membuka kotak itu.
Syahdu hanya mematung di ambang pintu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya sampai aku mendengar ia menghela napas panjang.
Syahdu masuk, dia lantas duduk di tepi ranjang dan memangku kotak itu.
Ia buka kembali dan mengeluarkan jeket yang sempat kulipat.
Lalu aku teringat dengan email yang masuk tadi malam. Apa benar Syahdu masih mengalami trauma?
"Aku mau berikan ini buat Bunda." Syahdu mengeluarkan sebuah buku tabungan dan kotak perhiasan, lalu matanya menatapku dengan sendu.
"Aku.. baru aja ambil kotak ini untuk aku pisahin isinya. Mana yang mau aku berikan ke orang lain, mana yang masih bisa aku simpan."
Gadisku itu terlihat takut. Apa dia khawatir padaku setelah melihat isi kotaknya?
"Aku bukan sengaja mau simpan ini.. bukan kaya gitu.."
Aku duduk lalu menggenggam tangannya. Syahdu masih tertunduk di tempatnya.
"Syahdu, sejak pertama kamu datang dan kita saling jujur tentang perasaan kita, aku udah sangat percaya padamu. I give you all my trust, one hundred percent. Kalaupun suatu hari aku denger cerita ngga enak dari orang lain, aku ngga akan percaya kalau itu bukan dari kamu. Satu-satunya yang aku cintai itu kamu. Rasa percayaku, hidupku, semuanya untukmu."
Kini, Syahdu menatapku dengan mata berkaca. Sedetik kemudian air matanya menetes.
"Arga.."
"Iya, sayang."
"Aku.. udah lupa perasaanku pada kak Wicak.. sejak beberapa tahun yang lalu." Katanya sembari memegang selembar foto dirinya bersama Wicak dengan senyuman lebar.
__ADS_1
"Sejak awal aku datang kesini, yang kubawa hanya rasa bersalah yang sangat besar. Setiap malam aku berdoa supaya Wicak memaafkan aku yang mengkhianatinya."
Aku mendengarkannya. Kulihat air matanya menetes di foto itu.
"Bertahun-tahun bersamanya dengan miliyaran kenangan lenyap gitu aja. Yang kuingat hanya saat-saat dirinya di rumah sakit, memohon padaku untuk ngga kutinggalkan."
Syahdu menatap kearahku. Pipinya sudah basah dengan air matanya yang mengalir tanpa henti.
"Waktu itu, tanpa berpikir lagi aku meng-iyakannya. Aku rela dan mau menerimanya. Aku mau menebus dosaku ke dia, Ga. Tapi dia udah ngga ada. Walau aku udah lebih baik sekarang, tapi tetap aja aku ngerasa bersalah."
Aku menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Inikah yang dikatakan orang asing itu, bahwa Syahdu memang perlu dibawa ke pskiater. Bertahun-tahun rasa bersalah bersarang di hatinya. Rasa bersalah yang seharusnya tidak perlu ada. Karena semua ini bukan salahnya.
"Apa kamu ngerasa.. kalo pertemuan kita adalah kesalahan, Syahdu?"
Pandangan gadis itu naik dengan cepat. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, namun matanya menyorot dengan sedikit keterkejutan.
"Aku tanya sekali lagi. Apa kamu ngerasa pertemuan kita adalah kesalahan? Lalu hubungan kita?"
Dia menggeleng lambat. Lalu menunduk lagi. "Maaf.."
Aku turun kebawah, berlutut sembari menggenggam tangannya. Kutatap mata sendu yang berair itu.
"Anggaplah pertemuan kita karena kesalahan, Syahdu. Anggap aja hubungan kita dimulai dari sebuah pengkhianatan. Tapi, Apa hubungan kita ngga bisa dilanjutkan? Apa kita ngga bisa mencoba untuk menjadi orang yang lebih baik dan memiliki hubungan yang sehat?"
Syahdu kini diam menatapku. Dia menghapus air matanya lalu mengangguk, membenarkan perkataanku.
"Kalau gitu, menikah denganku, ya. Aku ingin hubungan yang awalnya salah ini diawali dengan keseriusan dan komitmen yang kuat. Aku mau bersamamu, Syahdu. Sampai kapanpun, sampai kita punya anak, cucu, sampai tua. Aku mencintaimu." Aku membuka satu kotak cincin yang sudah kuambil dari saku jeketku sejak tadi.
Mata Syahdu membulat. Dilihatnya cincin silver yang kudesign khusus untuknya.
"Mau, kan?"
Syahdu menangis, sedetik kemudian dia mengangguk dengan senyuman lebar.
Aku diterima olehnya. Tentu aku sangat senang. Tanpa menunggu lagi, aku menyematkan cincin itu di jarinya, lalu kukecup.
"Terima kasih, sayang."
"Woaaa, yeaaayy.."
Aku menoleh seketika mendengar suara itu bersamaan tepuk tangan yang meriah. Ternyata Tari. Dia, si sialan Ibra malah merekam dengan ponselnya. Dan seorang perempuan paruh baya yang kutebak adalah bunda Nani. Sekarang, giliranku meminta izin pada orang tua Syahdu untuk mempersunting anak angkat kesayangannya itu.
...**...
...Hey, Karya baru aku udah keluar. Judulnya: Something Between Us. ...
...Ayo ramekan😁😁😁😁🫰...
__ADS_1