SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Cek ke Dokter


__ADS_3

Syahdu menutup pintu mobil. Baru saja ia memberikan obat tadi pada perawat. Kini mobil berjalan lagi.


Syahdu melirik Arga. "Makasih, yang tadi." Ucap gadis itu.


Namun Arga tak menjawabnya. Dia menatap lurus kedepan masih dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


Syahdu menyandarkan tubuh. Tiba-tiba saja kepalanya pusing. Perlahan ia menarik dan menghembuskan napas. Lalu mengurut dahinya supaya sakit di kepalanya menghilang.


"Kenapa?" Arga melirik Syahdu beberapa kali.


"Pusing."


"Kita ke dokter, ya."


"Pulang aja. Aku cuma mau tidur." Kalau dipikir-pikir lagi, Syahdu memang hanya tidur dua jam. Itupun terbangun karena kehadiran Arga disebelahnya tadi malam. Lalu tak lagi bisa tidur, terlebih nenek sadar jam tiga membuatnya terus berjaga.


"Udah makan, kan?" Tanya Arga lagi dan Syahdu diam. Dia belum ada makan. Bubur tiga suap yang dibawa Wicak tadi juga terbuang bersama muntahan yang keluar dari perutnya.


"Lo belom makan?" Arga menatapnya dan jalanan secara bergantian.


"Ngga bisa makan. Setiap makan aku muntah."


Arga diam. Kini pikirannya mulai kacau. "Lo ... udah haid?"


Syahdu menghela napas, lalu menggelengkan kepalanya.


"Nggak bisa. Kita harus cek ke dokter sekarang!"


"Aku nggak mau, Ga!"


"Tapi gue gak tenang!"


"Aku nggak hamil. Aku cuma masuk angin!" Tekak Syahdu.


"Lo nggak bisa mendiagnosa diri lo sendiri!"


"Tapi aku nggak ngerasa apa-apa!" Pekik Syahdu. Dia geram, Arga membuatnya jengkel padahal dia sendiri juga takut dan nggak berani menerima kalau ternyata dia hamil.


Arga pun diam. Sesekali dia mengklakson di depannya dengan kasar, efek yang dihasilkan dari marahnya ia pada Syahdu.


Terasa hening cukup lama, mereka berperang dengan pikiran masing-masing. Gurat khawatir juga terlihat di wajah Arga.


"Aku nggak hamil..." lirih Syahdu dengan air mata yang menggenang.


Arga hanya menatapnya. Dia juga tidak ingin ini terjadi tapi kalau tidak dipastikan, dia takkan tahu dan hanya menebak-nebak, membuatnya semakin frustrasi.


Mobil berhenti di sebuah gedung besar. Disana bertuliskan nama klinik persalinan yang membuat Syahdu membulatkan mata.


"Arga!"


"Turun. Gue nggak suka dengan sesuatu yang nggak pasti."


Syahdu menggelengkan kepalanya. "Aku.. aku takut."


Arga meraih tangan Syahdu dan menggenggamnya erat. "Dengar. Gue akan terus ada disamping lo. Gue juga akan ikut masuk nemenin lo ke dalam."


"Tapi, Ga.."


"Syahdu, please. Gue nggak bisa berpikir jernih sekarang. Kita harus tahu hasilnya, setelah itu baru kita pikirkan gimana langkah selanjutnya." Ucap Arga dengan nada yang lembut.


Syahdu menghapus air mata yang tumpah. Dia mencoba menenangkan dirinya.


"Oke?" Tanya Arga lagi, memastikan.


Syahdu mengangguk setuju, dan Arga langsung mengelus kepalanya dengan lembut.


"Ayo, turun."


Syahdu mengambil masker dan topi di dalam laci dashboard. Setelah memakainya, dia mengikuti Arga keluar dari mobil.

__ADS_1


Dia menjaga jarak. Berjalan lambat dibelakang Arga.


"Saya ada janji dengan Dokter Arvian Jayantara." Ucap Arga pada perawat yang berjaga di depan.


"Atas nama siapa, pak?"


"Arga."


Perawat itu menelepon sebentar, lalu memberi arahan pada Arga untuk memasuki sebuah ruangan disebelah kanannya.


Arga berjalan lagi, beberapa kali dia menoleh kebelakang, melihat dan memastikan Syahdu masih ada di belakangnya.


Arga berhenti di salah satu ruang yang bertuliskan dr. Arvian Jayantara, Sp.OG.


Arga mengetuk, lalu membuka pintu. Dia menyuruh Syahdu ikut masuk ke dalamnya.


Syahdu gemetar. Dia berdoa dalam hatinya, semoga saja hasilnya negatif karena dia benar-benar tidak mau hamil apalagi anak Arga.


"Hei, man. Apa kabar lo?" Sapa dokter itu pada Arga. Dia berdiri menyambut temannya.


"Baik. Lo sendiri gimana?" Tanya Arga balik.


"Baik, man. Eh, cewek baru? Kenapa? Hahaha. Gue tau ni masalah lo." Arvian tertawa-tawa, dia mengeluarkan sesuatu yang sudah ia duga permasalahannya. Bagaimanapun, Arga teman SMP-nya, jelas dia tahu watak dan karakter lelaki itu.


"Tes urin dulu, ya." Ucapnya seraya menyerahkan tabung urine pada Syahdu. "Itu kamar mandinya." Unjuknya lagi.


Syahdu dengan ragu menerima tabung itu. Dia menatap Arga sebentar, lalu melangkah menuju kamar mandi.


"Sewaan lo lagi?"


"Ck. Yang ini beda."


"Beda, makanya bisa hamil. Gitu, ya?" Sambung Arvian cekikikan.


"Brengsek lo. Gue nggak tenang ini."


"Hahaha. Semoga positif, deh. Gue pengen liat lo nikah."


Syahdu keluar dari kamar mandi, dan menyerahkan tabung berisi urinnya kepada Arvian.


"Duduk dulu." Ucapnya pada Syahdu.


"Ada nyeri bagian pyudara?" Tanya Arvian sembari ia melakukan tesnya pada sebuah testpack.


"Nggak ada." Jawab Syahdu pelan.


"Pusing dan muntah?"


"I-iya, dok." Jawab Syahdu lagi. Dia meremas jari-jarinya yang gemetar. Kakinya yang bergoyang dibawah kursipun diam saat sebelah tangan Arga menggenggam tangannya. Dia menatap Arga. Laki-laki itu hanya melihat Arvian yang membelakangi mereka, walau sebenarnya Arga juga takut mendengar jawabannya.


"Wah, menakjubkan." Arvian membalikkan badan, tersenyum menatap testpack di tangannya.


"Selamat.." Ucapnya pada Arga yang spontan menegakkan duduknya. Begitu juga Syahdu yang menahan napas.


"Hasilnya negatif. Hahaha."


"Bajingan!" Maki Arga, dia sampai berdiri ingin menghajar Arvian. Namun dia lebih memilih memejamkan mata, bernapas lega.


Arga melirik Syahdu, gadis itu masih menunduk, namun Arga tahu dia juga merasa lega. Dia bisa melihat itu dari Syahdu yang memegang dada.


"Hahaha. Pada tegang banget. Makanya, kalo ngga mau punya anak, jangan bikin anak!"


"Diam lo, brengsek!" Maki Arga lagi. Bisa-bisanya Arvian mempermainkan jantungnya.


"Mbaknya cuma kurang istirahat. Nanti saya kasih obat, ya." Ucap Arvian. Dia menulis sesuatu di kertas.


"Trus.. kenapa dia telat haid?" Tanya Arga penasaran.


"Yang paling sering sih, karena stres."

__ADS_1


Arga menatap Syahdu lagi disebelahnya. Gadis itu masih diam. Stres, ya? Arga berpikir, mungkin Syahdu memang tengah banyak fikiran. Terlebih soal neneknya.


"Gue saranin, mau, nggak?"


"Apa?" Tanya Arga balik.


"Pasang KB yang lebih aman. Ngga perlu repot minum pil." Saran Arvian.


"Boleh, deh." Jawab Arga tanpa diskusi dengan Syahdu.


"Kalau gitu, mbaknya baring ya." Arvian berdiri, mengambil satu alat kecil dari lemari.


"Diapain, tuh?"


"Dimasukin, lah."


Kening Arga berkerut. "Kemana?"


"Kelamin. Ini namanya IUD, atau spiral. Cara pasangnya ya di alat kelamin wanita."


"Hah. Jadi lo mau masangnya langsung? Gilak! Nggak." Tolak Arga seketika.


"Lho, katanya mau pasang KB. Gimana, sih."


"Ya masa lo mau masangin langsung." Tolak Arga dengan tegas, tak ingin Syahdu disentuh orang lain.


"Lah, kan gua dokternya. Udah biasa, kali." Ujar Arvian santai.


"Nggak, nggak." Tolak Arga lagi.


"Hahaha. Ya udah, bentar gue panggilin suster." Arvian memencet satu tombol di telepon gagang, dan meminta seorang perawat masuk.


"Tolong, ya." Ucapnya pada suster yang baru masuk. Perawat itu mengangguk.


"Mari, mbak. Ikut saya."


Syahdu keluar dari ruangan Arvian bersama suster tadi, Arga menatapnya sampai pintu tertutup.


"Wah-wah-wah.. ngga nyangka gue, selalu aja lo dapet yang cakep spek bidadari gitu." Arvian berdecak kagum.


"Lagi baek Tuhan ama gua." Jawabnya.


"Tapi, lo nemu dimana? Mukanya kayak anak baik-baik."


"Nggak sengaja. Diatap rumah sakit, lagi nangis mikirin biaya." Jelasnya sembari bersandar di kursi.


"Hah? Lo manfaatin anak baik-baik buat aksi bejat lo?"


Arga diam. Dia juga merasa menyesal sebenarnya. Tapi, dia tak ingin terlalu mengakui perasannya.


"Sianjing. Trus, lo jatuh cinta sama tu cewek, makanya ngga boleh gue pegang? Wah.. Berita besar, nih."


Arga menaikkan satu alis. Dia tak ingin Arvian sialan itu menyebarkan gosip dikalangan teman-temannya.


"Siapa yang jatuh cinta. Gue cuma nggak mau punya gue dipegang orang lain." Elaknya dengan wajah bertekuk.


"Pantes aja anak-anak pada bilang lo berubah. Udah ngga mau sewa perempuan, jarang ngumpul. Ternyata ini pawang lo." Arvian manggut-manggut, sementara Arga menggelengkan kepala tak terlalu memperdulikan ucapan Arvian.


"Gue jadi nggak sabar nunggu lo nikahin tu cewek." Ucap Arvian lagi.


"Nikah apaan. Nggak ada nikah-nikah di hidup gue. Ribet!" Sembur Arga.


"Bilang aja kalo lo cinta, ntar lo nyesel kalo dia pergi. Gue bisa liat kok, dari cara lo memperlakukan dia."


"Siapa yang cintaaa." Pekik Arga kesal. "Dia cuma pelacur pribadi gue. Ya gue baikin lah, supaya dia nggak lari."


"Hahaha. Sialan, nggak berubah juga si gila ini."


Mereka melanjutkan obrolan panjang, sementara Syahdu, tangannya masih menggantung di handel pintu. Posisi pintu yang tidak tertutup rapat membuatnya sangat bisa mendengar dengan jelas isi percakapan antara Arga dan dokter Arvian.

__ADS_1


TBC


**Jangan Lupa Like, ya. Semakin banyak Like, semakin semangat aku ngelanjutinnya**


__ADS_2