
Naya meletakkan tasnya diatas meja. Dia duduk tepat di depan Awan yang tengah menikmati minumannya. Lelaki itu tersenyum miring melihat kedatangan Naya setelah mengatakan akan memberitahu penyebab ia dan Arga bertengkar beberapa hari lalu.
Sementara Alika, duduk di dekat Awan. "Lagi?" Tanyanya saat melihat Awan sudah membuka dua botol alkohol.
"Hari ini lo nemenin gue sampe akhir, kan?"
Naya menatap Awan dan Alika bergantian. "Kemarin lo berdua...."
"Iya. Gue nemenin dia." Jawab Alika.
"Berarti lo udah tau, dong."
"Gue.." Alika menatap Awan.
"Dia udah tau dibagian part paling pentingnya." Sambung Awan, mengangkat alisnya ke Alika.
Naya menghela napas. "Langsung aja, deh. Katanya lo mau ngasih tau gue." Tukas Naya, tak ingin terlalu banyak basa-basi.
Awan meletakkan gelas kosong di depan Naya, lalu menuang minuman ke dalamnya.
"Jangan terburu-buru. Nikmatin aja dulu sebelum lo terkejut setelah tau semuanya."
Naya diam memperhatikan alkohol yang dituang Awan di depannya. Saat ini dia tak ingin minum, apalagi dia membawa mobil.
Awan, dia tak terlihat terlalu buruk untuk seorang yang frustrasi. Dia hanya sedikit sempoyong karena sudah meminum dua botol alkohol.
"Kalo lo ga mau cerita, gue pulang aja."
"Eits...." Awan menahan tangan Naya, menyuruhnya duduk lagi.
"Oke, oke.. gue akan ceritain ke lo." Awan menenggak minumannya sebelum mulai bercerita.
"Gue tau lo naksir Arga." Kata Awan sambil berseringai. "Sayang banget, Arga sialan itu nggak ngelirik lo sedikitpun."
Naya menoleh ke arah lain, lalu meneguk minuman di depannya.
"Trus, hubungannya sama lo adu jotos sama Arga itu apa?" Cetus Naya.
__ADS_1
"Gue mau cium Syahdu waktu itu. Tapi si brengsek Arga itu ngalangin gue, nonjok gue karena dia.. Nakair Syahdu." Jelasnya lalu terkekeh, entah kenapa.
"Lo gak terkejut gitu, lo udah tau, ya?" Tanya Awan lagi.
"Dia liat Arga dan Laras ciuman di kelas." Ungkap Alika dan Awan tertawa sampai menyemburkan alkohol yang hampir ia teguk sampai bajunya ikut basah.
"Lo tau, nggak, kalo nenek Syahdu dirawat di rumah sakit milik keluarga Arga." Awan menatap Naya sambil terus tertawa geli, merasa miris dengan mereka yang terlalu menganggap Syahdu polos.
"Waktu gue kesana, gue denger dari perawat disana kalo perawatan nenek Syahdu itu gratis."
Melihat reaksi Naya, Awan tertawa tanpa suara. "Lo tau kan, artinya apa, setelah lo liat mereka ciuman? Trus, lo masih anggep dia perempuan polos?" Awan semakin tergelak sampai kepalanya terdongak keatas.
"Sama aja. Ibu dan anak sama aja! Hahaha." Tawa Awan membuat Naya mengerutkan dahi.
"Maksud lo?" Tanya gadis itu.
"Maksud gue?" Awan menoleh pada Alika yang ada disampingnya. "Lo tanya aja sama dia."
Awan berdiri, mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya diatas meja.
"Gue cabut!" Katanya kemudian pergi dengan sempoyong, meninggalkan Naya yang menatap lurus ke Alika. Gadis itu meremas jari karena harus menceritakan apa yang kemarin baru dicaritakan Awan padanya mengenai Syahdu.
Awan melirik kesamping, dimana seorang perempuan cantik dan seksi berdiri menatapnya.
"Hai. Awan kan, teman masa kecil Syahdu?"
Awan menghembuskan asap dari mulutnya, tak menanggapi perempuan itu, apalagi mengaitkan dirinya dengan Syahdu.
"Aku Soraya, calon tunangan Arga. Ada yang ingin aku bicarakan. Bisa minta waktunya sebentar?" Pinta Soraya dengan senyum tersungging di bibirnya.
...🍁...
Pagi-pagi sekali, Syahdu sudah bangun duluan. Dia menatap sang nenek yang masih terbaring dengan jarum infus ditangannya.
Tangan keriput itu, Syahdu mengelusnya dengan lembut sambil berdoa supaya sang nenek segera sembuh dan dia bisa pergi dari kota ini. Dia tidak sabar untuk bisa lepas dari semua beban yang sudah lama sekali bersarang dipundaknya.
"Maafin Syahdu, nek.." lirihnya. Air matanya berlinang. Entah kenapa, sejak kejadian malam tadi, membuat pikiran Syahdu berubah lagi. Dia ingin pergi bersama nenek tanpa Wicak. Lelaki tulus itu, rasanya dia akan merasa bersalah jika Wicak terus bersamanya.
__ADS_1
Syahdu meraih ponselnya yang bergetar, dan tersenyum melihat nama siapa yang muncul disana.
Namun dia langsung meraih jeketnya yang berada diatas sofa saat Wicak mengabarkan bahwa dirinya tengah sakit.
"Mbak, mau kemana?"
Suster Dewi baru sampai di depan pintu, terkejut saat melihat Syahdu memakai jeket dan tas keluar dari ruangan.
"Sus, tolong jagain nenek, ya. Kak Wicak sakit. Tolong ya, sus."
"I-iya, mbak. Hati-hati, mbak!"
Syahdu mengangguk lalu berlari kecil di lorong rumah sakit yang masih sunyi.
Sementara di tempat lain. Arga, dia turun dari mobil dengan membawa makanan yang baru ia masak untuk Syahdu. Tadi malam setelah kejadian itu, dia melihat Syahdu ketakutan dan pasti sangat syok. Itu sebabnya pagi ini Arga memasakkan makanan yang enak-enak supaya membuat Syahdu membaik.
Sambil tersenyum, Arga berjalan di lorong rumah sakit. Dia tahu, Syahdu sangat suka makanan buatannya, pasti perempuan itu senang saat tahu dia membawa masakannya.
Di tengah lorong, Arga melihat Syahdu berlari kecil kearahnya. Wajah gadis itu juga tampak panik.
"Syahdu." Panggil Arga pada Syahdu yang hampir melewatinya. Nampaknya perempuan itu tak menyadari Arga ada di dekatnya.
Syahdu menoleh dan langsung berhenti. "Arga, kamu.. ngapain?"
"Ini.. guee, mau antar makanan ini buat lo." Arga mengangkat sedikit kantong plastik yang ia bawa. "Gue masakin lo sarapan."
Syahdu tampak bingung. Dia ingin membawa Arga masuk, namun dia sendiri ingin bertemu Wicak yang tengah sakit.
"Eee.. Ga, kamu masuk aja ke dalam, ya. Bisa nggak, letakin aja diatas meja. Soalnya aku buru-buru, kak Wicak sakit. Demam, Kayaknya dia kecapekan karena acara kemarin. Jadi, aku mau kesana liat dia. Maaf ya, Ga." Syahdu hendak pergi, namun ditahan Arga.
"Gue anter, ya."
"Ngga usah, aku naik ojek aja biar cepat. Aku duluan." Syahdu berlari lagi menuju pintu keluar.
Arga masih berdiri menatap Syahdu sampai perempuan itu menghilang.
Gadis itu pergi, terburu-buru karena kekasihnya tengah sakit. Wajahnya panik sekali, padahal lelaki itu hanya demam, bukan kecelakaan yang membuat tangan atau kakinya patah. Hanya demam, tapi sampai seperti itu, pikir Arga.
__ADS_1
Dia menatap bungkusan yang ada di tangannya. Dia sengaja memasak itu untuk Syahdu, supaya gadis itu merasa lebih baik karena makanan di rumah sakit pasti tidak enak. Tapi perempuan itu, dia bahkan tak melirik makanan ditangannya.
Arga menoleh kanan kiri, tidak ada siapapun orang yang bisa ia bagi. Lalu, ia meletakkan saja bungkusan itu di atas bangku tunggu, kemudian melangkah keluar dari rumah sakit, karena tujuannya sejak awal sudah tidak ada di tempat itu.