
Awan berdiri saat melihat Naya dan Alika berjalan ke arahnya. Hanya mereka berdua, tak ada Syahdu bersama mereka. Padahal gadis itulah yang ia harapkan. Tapi, kenapa Syahdu memilih Arga? Pertanyaan itu muncul bersamaan dengan keyakinan Awan bahwa Syahdu dan Arga punya hubungan dibelakang.
"Wan, kita ikut lo, ya?" Alika bergandeng tangan dengan Naya. Dia juga agak canggung di momen ini.
Awan diam sebentar karena sibuk dengan pikirannya. Dia khawatir jika Arga menceritakan apa yang terjadi tadi malam.
Awan kemudian mengangguk dan menyandang tasnya. Dia turun bersama dua perempuan itu meninggalkan puncak bukit. Padahal dia sudah berjanji pada Syahdu untuk membawa gadis itu turun dan menikmati danau bersama. Tapi itu hanya sebatas janji karena dia sendiri merasa perbuatannya memang salah. Hanya saja semua karena Arga. Untuk apa laki-laki itu masuk ke dalam tenda? Apa dia juga mau berbuat yang tidak-tidak? Entahlah, Awan juga merasa kesal dengan perempuan itu sekarang.
Sementara Syahdu merasa perlu mengatakan sesuatu pada Arga. Kejadian tadi jelas karena dirinya. Dia melihat Ibra muncul entah dari mana.
"Ibraa! Lo dari mana ajaa." Teriak Adina.
"Apaan, sih. Pake teriak-teriak segala."
"Eh, lo kasih tau kita dong, ada masalah apa antara Awan dan Arga." Adina juga masih penasaran.
"Nggak tau. Gue juga baru dateng pas Arga nonjok tu anak sampe bonyok. Tadi gue tanya katanya kesel liat wajah Awan. Aneh-aneh aja." Terang Ibra dan Adina malah manggut-manggut.
"Kayanya yang salah Awan, deh."
"Hah. Kenapa gitu?" Tanya Syahdu pada Adina.
"Soalnya tadi gue liat Arga kayak marah gitu natap Awan. Tapi Awannya ngga berani liat Arga dan cenderung buang wajah gitu." Adina menganalisa saat ia mendapati Awan yang tak berani menatap balik Arga dan berusaha melarikan diri.
Syahdu merenung sesaat. Dia juga tidak tahu kejadian apa, tapi dia terlihat jelas membela Awan tadi.
"Aku kesana dulu, ya. Aku pengen nanya soal itu ke Arga. Kalian jaga tenda, bisa kan?" Syahdu langsung menuju ke tempat Arga menghilang tadi. Dia mencari lelaki itu, tapi tidak ketemu.
Syahdu memandang ke bawah. Dia menyipitkan mata dan melihat Arga duduk di tepi danau sambil merokok. Pelan-pelan dia turun ke bawah, entah apa yang dilakukan Arga sampai kebawah sana padahal cukup jauh.
Beberapa menit Syahdu menuruni bukit hingga ia berhasil mendekati Arga. Lelaki itu sampai menurunkan alisnya sebelah saat melihat Syahdu datang dan mencoba mengatur napasnya yang terengah.
"Pagi-pagi udah buat polusi." Tukas Syahdu ditengah napas beratnya.
Arga menjatuhkan puntung rokok dan menginjaknya sampai padam.
"Ngapain lo kesini." Tanya Arga dengan ketus, seperti biasa. Diapun tak memandang ke arah Syahdu.
Syahdu duduk, dia diam sejenak memikirkan pertanyaan yang pas untuk suasana hati Arga sekarang.
"Kenapa kamu sampe buat hidung Awan berdarah gitu?"
"Ck. Males gue bahas itu." Arga beranjak, namun langkahnya tertahan karena Syahdu menggenggam tangannya.
Dia menatap gadis itu masih dengan napas yang sedikit terengah. Titik-titik keringat pun muncul di dahi Syahdu padahal pagi sangat dingin.
"Pintu tenda kebuka lebar, aku juga terbangun dengan selimut tebal. Apa terjadi sesuatu yang berkaitan denganku?"
"Menurut lo?"
"Iya, karena aku." Syahdu melepaskan tangannya dari Arga. "Makanya, ceritain ke aku supaya aku tahu."
Lelaki itu menghela napas sampai akhirnya memutuskan duduk lagi di batu besar depan Syahdu duduk.
__ADS_1
"Gue liat dia masuk ke dalam tenda lo. Si gila itu nggak nutup kancingnya dan gue bisa liat dia mau nyium lo. Makanya gue tarik dan tonjok aja dia." Ucapnya dengan rahang mengeras, rasa kesalnya masih menyangkut dalam dirinya.
Syahdu diam sejenak. Dia tengah berpikir kenapa Awan melakukan itu, apa alasan yang membuat Awan ingin menciumnya?
"Kenapa? Lo nggak percaya sama gue?"
Syahdu manggut-manggut. "Percaya, kok. Jadi, itu alasan yang buat kamu semarah itu ke Awan ya?
Pertanyaan Syahdu membuat Arga langsung menyadari sesuatu. Yaitu betapa tidak sukanya ia kalau Syahdu sampai disentuh oleh orang lain.
Apakah Syahdu menyadari sesuatu? Jantung Arga mulai tidak stabil karena kaget dengan apa yang ditangkap oleh gadis itu.
"Kamu marah karena itu, kan?"
"Heh, gue lagi nyelametin lo dari bajingan kayak dia. Emang lo nggak masalah apa, dipegang-pegang sama dia? Yang kayak gitu lo sebut sahabat? Selama ini lo udah diapain aja sama dia, hah?"
Syahdu merapatkan bibirnya. Daripada menjawab, dia lebih memilih diam.
"Seharusnya lo ngucapin makasih ke gue. Kalau bukan karena gue kasih tu orang pelajaran, dia bakal terus ngelecehin lo!"
"Tapi dia nggak sempat cium aku, kan?" Tanya Syahdu lagi. Lalu dia menghela napas. "Ga, sebenarnya kamu nggak perlu sampe mukul dia kayak gitu, kok. Kasih tau aja baik-baik, kan bisa. Kali aja sebenarnya dia mau bersihin wajahku?"
Arga sampai mendengus kesal mendengar ucapan Syahdu. "Nggak usah sok berpikir positif dan belain dia. Dia bilang ke gue, kalo dia udah pernah ngicip elo. Emang lo beneran udah pernah dipakek sama dia?"
Kali ini Syahdu mematung. Benarkah Awan berkata demikian? Seperti tidak mungkin, tapi untuk apa Arga mengarang cerita?
Melihat Syahdu diam, membuat Arga tersenyum miring. "See? Lo nggak tau apa-apa tentang sahabat lo itu. What a trash friendship!" Tukas Arga sembari melangkah pergi meninggalkan Syahdu.
Gadis itu pula masih melamun di tempatnya. Pikirannya penuh dengan keanehan Awan padanya jika apa yang dikatakan Arga benar. Dia juga harus mendengarkan cerita dari sudut pandang Awan supaya adil. Namun tetap saja, apa yang Arga katakan cukup membuatnya kepikiran.
"Duluan aja, Ga. Aku masih mau disini." Syahdu lebih memilih diam disana karena permasalahan ini membuatnya terkejut.
Bukannya pergi, Arga malah ikut duduk disebelah Syahdu.
Mereka saling diam cukup lama. Hanya suara daun tertiup angin saling bersentuhan yang terdengar.
Arga menatap Syahdu. Gadis itu masih diam menatap tenangnya air danau. Rambut Syahdu berserak tertiup angin tapi dia mengabaikannya dan malah menutup mata.
Syahdu berusaha berpikir tenang, dia tak mau karena kejadian seperti ini sampai membuat dia dan Awan bermusuhan. Nanti, dia akan menanyakannya langsung ke Awan soal itu.
"Ngga usah lo pikirin. Kalo lo mau, gue bisa ngabisin tu anak sampe ga bisa jalan sekalian."
Syahdu membuka mata. Dia menoleh pada Arga yang menggerutu dengan kejadian tadi. Padahal seharusnya Syahdu-lah yang marah, tapi kenapa Arga masih kesal sampai sekarang?
"Tempramen kamu itu yang buat masalah semakin runyam. Tau nggak, karena kamu, Awan nuduh kita punya hubungan khusus."
"Ya emang ada, kan?" Jawab Arga santai, membuat Syahdu mendengus.
"Kamu senang kalau orang-orang tahu aku ini perempuan sewaanmu? Perempuan yang ngga bener??"
"Siapa sih, yang nganggep lo perempuan ngga bener?"
"Gaa,, ayolah. Aku serius." Syahdu mendesah kesal.
__ADS_1
"Gue juga serius." Ucapnya pelan.
"Inget, Ga. Kalau sampai sekali lagi perbuatanmu memancing orang-orang berpikir buruk dan sampai tahu hubungan kita, kontrak selesai." Ancam Syahdu dengan wajah serius. Arga hanya diam menatapnya. Syahdu pernah bilang ini sewaktu Naya curiga tentang hubungan mereka beberapa waktu lalu.
"Heeii. Lama banget, ngobrolin apa, sih." Adina dan Ibra baru turun dan langsung mendekat.
"Kalian kesini? Siapa yang jaga tenda?" Tanya Syahdu mengabaikan pertanyaan Dina.
"Ada, kenalan gue. Tenang aja." Sahut Ibra yang tengah merendamkan kakinya di pinggiran danau.
"Sayang banget kan, kalau udah sampe sini tapi belum mandi di danau. Rugi, dong." Sambung Ibra lagi.
Adina mulai jahil. Dari belakang, ia mendorong Ibra sampai lelaki itu tercebur ke dalam danau.
"Sialan! Din, dingiiin. Gila lo!" Sungutnya berusaha bangkit. Adina tertawa-tawa sambil menyirami Ibra dengan air.
Ibra dengan cepat menarik tangan Adina dan ikut menceburkan gadis itu ke dalam danau.
Melihat kekompakan Adina dan Ibra membuat Syahdu senyum-senyum sendiri menatap mereka. Begitu pula dengan Arga yang matanya terkunci menatap senyum Syahdu.
"Ras, sini mandi. Seger bangeeettt.." suara Adina terdengar menggigil. Dia berkata demikian supaya ada teman kedinginan bersama.
"Ayo, dong, Ga. Cemen lu nggak berani masuk." Teriak Ibra ikut-ikutan.
"Nggak deh, dingin banget kayanya." tolak Syahdu sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Ssst. Mandi bareng?" Bisik Arga pada Syahdu.
"Gila kamu!"
Arga membuka kaosnya dan langsung membopong tubuh Syahdu. Spontan gadis itu kaget apalagi ada Adina dan Ibra.
"Argaa! Lepas! Turuninn." Syahdu memberontak sementara Arga langsung melompat dan menceburkan diri ke dalam danau. Hal itu mendapat tawa dari Adina dan Ibra.
Syahdu langsung memukul tubuh Arga saat kakinya berhasil menginjak dasar danau.
"Gila, ya! Dinginnn tau!!" Syahdu terus memukul Arga sementara lelaki itu tertawa saja dengan tingkah Syahdu.
"Biar basah barenglah. Sini gue bantu siram." Arga tampak berani mengatakan hal demikian, yang membuat mata Syahdu membulat sempurna.
"Mandi, Ayo.. Mandi.." Arga menyirami tubuh Syahdu. Gadis itu menjerit tak terima. Dia membalas Arga dengan siraman yang lebih banyak hingga membuatnya tertawa lebar.
Tentu saja aksi keduanya ditangkap Ibra. Dia menyenggol Adina, menyuruh gadis yang tengah asyik sendiri itu untuk memperhatikan Arga dan Syahdu.
"Tuh, liat." Bisik Ibra.
Adina menoleh. Dia malah tersenyum melihat keseruan dua orang itu yang tak pernah Adina lihat sebelumnya.
"Kayanya Arga naksir Laras. Kalau diliat-liat, Cocok, ya."
"Ish, Laras udah punya cowok, tahu." Tukas Adina.
"Halah, sekarang kan, lagi musimnya jagain jodoh orang." Balas Ibra.
__ADS_1
"Jangan dong, kasian tau. Lagian cowok Laras tuh, baik banget." Adina malah mendekat dan ikut menyirami Syahdu, membuat gadis itu kewalahan karena kini Ibra malah nimbrung menjadi tiga lawan satu.
"Eeh, kok kalian jadi nyerang akuu.." Teriak gadis itu yang kini pasrah dan hanya menutup wajahnya saja demi menghindari serangan.