SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Desas-Desus Rumah Sakit


__ADS_3

Syahdu mau tak mau mengikuti langkah Arga karena lelaki itu terus menarik tangannya menuju kafetaria rumah sakit.


Arga memesan makanan tanpa bertanya apa yang ingin dimakan oleh Syahdu. Dia juga memesankan minuman yang menurutnya sesuai dengan kondisi Syahdu.


Kini, Syahdu duduk berhadapan dengan lelaki itu. Sejak tadi Syahdu berupaya menghentikan air matanya, walau dia sendiri tidak bisa melakukan itu. Pikirannya selalu saja membayangkan bagaimana jika sang nenek meninggal dunia, meninggalkannya sendirian tanpa ada siapapun lagi. Syahdu memikirkan nasibnya yang akan menjadi sebatang kara.


"Dimakan, nanti dingin sotonya."


Syahdu menghapus air mata di pipinya, lalu mengaduk soto yang masih mengepulkan asap.


"Lo ngga suka soto, ya? Mau gue pesenin yang lain?"


Syahdu menggelengkan kepala.


"Kalau gitu, dimakan dong. Atau makanannya ga enak, ya? Enakan masakan gue? Gue tau kok, lo suka banget sama masakan gue. Apa gue masakin aja khusus buat lo." Arga tiba-tiba banyak bicara. Dia hanya berusaha menghibur Syahdu, walau dia sendiri tidak tahu cara menghibur perempuan itu.


"Aku.. ngga selera makan." Jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.


Sejenak Arga diam. Dia melihat Syahdu menunduk di tempatnya.


"Syahdu. Gue yakin nenek sembuh. Lo jangan risau, gue akan panggilin dokter terbaik di negara ini."


Syahdu mulai menggenggam sendoknya. "Ngga perlu sampai seperti itu kok, Ga. Dokter disini juga bagus-bagus. Makasih, ya. Aku ngga nyangka kamu baik juga." Setelah itu, Syahdu menyendokkan makanan ke mulut tanpa melihat ekspresi apa di wajah Arga.


Tentu lelaki itu menganga mendengar kalimat Syahdu. Apa selama ini di mata Syahdu dia begitu jahat? Mulutnya terbuka, dia ingin protes tapi tidak jadi karena situasi Syahdu yang tak memungkinkan.


"Kamu pulang aja, Ga. Kamu kan, belum ada tidur."


"Iya. Setelah operasi nenek, aku akan pulang." Jawab lelaki itu, tentu ia ingin menemani Syahdu disaat seperti ini.


"Ngga usah, kak Wicak nanti kesini, kok. Tadi dia bilang masih kerja. Kamu istirahat aja."


Arga mengangguk lambat. Sejenak ia merasa tak dibutuhkan, namun segera ia tepis rasa sedihnya saat menyadari posisi dirinya yang sebenarnya.


"Hhwwuekkk.."


Syahdu kembali mual. Dia menutup mulut dan memegang perutnya.

__ADS_1


"Syahdu.." Arga membelalak, seketika ia teringat dengan ucapan Naya. Apa benar Syahdu hamil?


"Ngggak.. aku nggak apapa." Syahdu seperti tahu apa yang dipikirkan Arga. "Beneran. Perutku cuma mual karena masuk angin."


Walau berkata demikian, Syahdu sebenarnya juga ketakutan. Dia meremas jari dibawah meja. Dia pula tidak merasa tanda-tanda menstruasi akan muncul padahal seharusnya kemarin ia sudah menstruasi.


"Yakin?"


Dengan cepat Syahdu mengangguk. Dia memanggil pelayan, meminta untuk membungkuskan makanannya.


"Kamu pulang aja. Makasih makanannya, akan aku habiskan nanti. Aku masih belum berselera." Syahdu berdiri setelah menerima bungkusan kecil makanannya tadi.


"Maaf, aku ngga bisa antar. Aku mau balik ke ruang nenek." Syahdu menatap Arga sebentar. Laki-laki itu hanya diam, wajahnya juga tak biasa. Ada sorot panik terlihat dari mata Arga.


Tanpa kata lagi, gadis itu meninggalkan meja dan berlari kecil menuju ruangan icu. Dia panik. Bagaimana kalau ternyata dia benar-benar hamil?


Syahdu menghembuskan napas perlahan. Saat ini, dia hanya ingin sedikit tenang. Kabar buruk dari nenek saja sudah membuat hatinya tersayat-sayat, apalagi jika sampai ia benar-benar hamil.


Syahdu berhenti sebentar di koridor untuk mengatur napas. Entah kenapa lari sedikit membuat perutnya nyeri.


Ketika mencoba berjalan lagi, langkah Syahdu tertahan saat mendengar nama Arga terucap dari beberapa orang di dekatnya.


Syahdu diam. Dia merasa tak asing dengan cerita itu.


"Tuan Arga memfasilitasi semuanya, bahkan mengambil pengobatan termahal."


Syahdu terdetak. Dia mengintip sedikit dan mendapati empat orang perawat tengah bergosip disana.


"Apa mereka pacaran?"


"Aku rasa enggak, kok. Mbak Syahdu kan, punya pacar. Itu loh, yang tinggi dan tampan. Siapa ya, namanya. Nenek juga pernah cerita."


"Kalau gitu, apa mbak Syahdu berselingkuh?"


"Ah, gila kalian. Nenek pernah cerita, katanya tuan Arga dan mbak Syahdu satu kelas. Wajar kan, kalau dibantu."


"Mana mungkin berteman tapi dibantu sampai ratusan juta begitu. Tadi kamu nggak liat, mbak Syahdu digandeng sama tuan Arga. Mereka makan di kantin atas. Mesra lagi."

__ADS_1


"Iya, aku juga liat tuan Arga langsung turun tangan ke ruangan dokter Fahri. Sampe dokter Fahri lho, yang mengoperasi. Dokter terbaik disini."


"Aku jadi penasaran. Ada hubungan apa ya, mereka? Apa benar kata anak-anak kalau Mbak Syahdu kekasih simpanan tuan Arga?"


"Bener. Tuan Arga gosipnya kan, nggak mau menikah."


"Bisa jadi, sih. Soalnya tuan Arga itu.. ya ampuuun, ganteng bangettt. Kaya lagi. Aku aja nih, kalau diajak selingkuh sama dia, pasti aku mau."


"Heh, ingat suamimu di rumah."


"Tapi mbak Syahdu itu kayaknya orang baik-baik, lho. Kayanya ngga mungkin macem-macem."


"Alah, zaman sekarang itu ngga ngeliat orang dari wajahnya. Banyak yang wajahnya baik-baik, keliatan alim, nggak taunya.."


"Hush, udah ah, jangan dibahas. Kalian nggak takut ketahuan atasan karena sudah berani menggosip pemilik rumah sakit?"


Mereka langsung diam dan mulai mengerjakan lagi tugas masing-masing. Sementara Syahdu merasa syok. Seketika kepalanya terasa pusing.


Sejurus kemudian rasa malu menguasai dirinya. Sekarang dia menjadi bahan gunjingan lagi, di rumah sakit pula. Sebagian orang-orang itu secara tidak langsung menganggap dirinya murahan. Sama seperti saat ia digunjing di kampungnya sendiri.


Syahdu mematung disana. Bagaimana ia bisa bersikap wajar diantara para perawat rumah sakit saat ia tahu ternyata selama ini dia menjadi bahan gunjingan mereka?


Sebuah tepukan di bahu Syahdu membuat gadis itu terperanjat kaget. Dia langsung memegang jantungnya yang berdegup kencang.


"Kenapa? Kok melamun disini?"


Wicak berdiri dengan sebuah kantong plastik di tangannya. Lelaki itu tersenyum melihat Syahdu yang sudah dua hari tidak ia temui.


Syahdu menghela napas. Ia sempat mengira itu Arga. Untunglah. Kalau tidak, maka akan ada bahan gunjingan baru untuk para perawat itu.


Disaat bersamaan Syahdu menangkap Arga dari belakang tubuh Wicak. Lelaki itu tengah berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Sekilas Arga menoleh padanya dengan senyum kecil, kemudian berjalan lagi sampai tubuhnya tak lagi terlihat.


"Syahdu?"


Lagi-lagi ia terkesiap. "Oh, kak. Iya, eee.. aku baru dari kantin." Syahdu mengangkat plastik kecil di tangannya.


"Kakak kenapa disini? Bukannya tadi katanya kerja?"

__ADS_1


"Aku izin. Nenek mau operasi, kan? Aku akan temanin kamu disini. Ini, aku bawakan makanan kesukaanmu." Wicak menunjuk plastik di tangannya.


"Ayo, dimana nenek?" Wicak merangkul Syahdu sambil mendengarkan cerita gadis itu tentang kondisi nenek saat ini. Mereka pun berjalan diantara para perawat, seolah ingin mematahkan apa yang telah tersebar diantara mereka.


__ADS_2