
"Itu Wicak, kan?" Imel menunjuk ke satu arah dimana seorang laki-laki duduk berdua bersama perempuan yang mereka kenali wajahnya.
"Iya. Sama pacarnya? Bukannya udah putus?" Tanya Cintya balik.
Mereka memperhatikan interaksi keduanya yang tampak sangat bahagia. Tertawa dan bercanda bahkan sesekali Wicak mencium tangan Syahdu yang ada didalam genggamannya.
"Balikan itu, mah." Kata Cintya dengan yakin setelah melihat dua orang itu bermesraan di bangku lorong kampus.
"Ck. Gimana, sih. Bukannya kemarin udah putus, ya? Kok balikan lagi." Gerutu Imel.
"Disaat galau kemarin, harusnya lo tuh ada disampingnya."
Imel mendesah kesal. Dia menendang kecil kerikil yang ada di dekat kakinya. "Gue deketin dia, kok. Padahal gue juga udah maksimal banget kemaren. Tapi Wicak ngga ngelirik gue sama sekali!"
"Emang apa sih, yang lo harepin dari cowok yang pacaran selama tujuh tahun? Lo ngga liat foto profilnya juga udah berubah alay gitu?" Cintya membuka ponselnya dan menunjuk status Wicak tadi malam.
Imel melirik ke ponsel Cintya sekilas. "Iya. Gue dah liat juga. Sebel banget gue."
"Udahlah, Mel. Saran gue, cari aja cowok lain. Banyak banget yang ngajak lo jalan. Noh, si Ben. Ganteng, kaya lagi. Udah berapa kali dia ngajak lo jalan. Sesekali terima, lah."
Imel menggelengkan kepalanya. "Ngga bisa, Yak. Gue tuh, suka banget sama Wicak. Dia itu pinter, pembawaannya juga lakik banget pokoknya."
Cintya mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Imel. "Tapi dia kan, ngga suka sama lo."
"Iiissh, ngeselin banget!" Imel menghentakkan kakinya dan langsung pergi saat melihat Syahdu mencubit kedua pipi Wicak yang hanya pasrah dengan kekasihnya. Tentu itu membuat Imel panas dan enggan melihat lagi ke arah keduanya.
"Ngga masuk kelas?" Tanya Syahdu pada Wicak yang sejak tadi bertopang dagu menatapinya.
"Bentar lagi." Jawabnya sambil terus menatap Syahdu.
"Ini udah masuk jam kelas kakak. Kok jadi males sekarang?"
"Haah. Iya. Kenapa males banget, ya?" Wicak menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rasanya ingin pergi aja dengan Syahdu, jalan-jalan entah kemana asal berdua.
"Tuh, kan. Udah, sana masuk!" Syahdu mendorong tubuh Wicak supaya berdiri dari tempatnya.
"Iyaa. Iya. Aku masuk. Nanti hubungi aku, ya." Wicak mengelus lembut kepala Syahdu. Kini cincin silver itu juga tersemat di jari tengah Wicak.
"Iya." Syahdu mencium tangan Wicak lalu melambaikan tangan padanya.
"Wah, udah balikan, ya?" Alika tiba-tiba muncul dari belakang, membuat Syahdu menoleh dan tersenyum malu. Sementara Naya sudah duduk disebelah Syahdu.
"Gitu, dong. Masa iya pacaran udah kayak kredit rumah tapi selesai di tengah jalan."
"Ngeledek lo, ya!" Celetuk Naya sambil tertawa mendengar ucapan Alika tadi.
Syahdu hanya tersenyum menanggapi candaan kedua temannya itu.
"Dina mana, ya?" Tanya Syahdu saat tak melihat teman dekatnya.
"Ke toilet kayaknya tadi. Eh, iya, Ras. Gue mau nanya, nih." Naya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Ini punya lo bukan, ya?" Tanya Naya dengan mengeluarkan ikat rambut merah jambu di tangannya.
"Bukan." Jawab Syahdu cepat. Dia menggoyangkan kakinya yang gemetar. Untung saja Arga udah jauh-jauh hari mewantinya soal ini.
"Yakin?"
Syahdu menyipitkan mata, dia benar-benar tidak nyaman bersama Naya. Perempuan itu terlalu menaruh curiga padanya.
"Aku nggak punya ikat rambut warna itu." Syahdu memutar kepalanya, menunjuk ikat rambut sederhana berwarna hitam miliknya.
"Oh, iya. Soalnya tadi kita liat jatuh dibelakang lo, sih. Makanya kita pikir punya lo." Sahut Alika.
Syahdu menggeleng lagi. Kini dia tahu, Alika juga ikut mencurigainya.
"Hei, pada kumpul disini." Sapa Awan yang datang bersama Dina.
__ADS_1
"Eh, sekalian gue mau kasih kabar soal mendaki." Lanjut Awan lagi.
"Oh iya, gimana tuh? Gue nggak sabar banget." Sambar Naya.
"Sabtu kita naik. Gimana, bisa kan?"
"Bisa-bisa aja gue." Sahut Dina.
"Iya. Setuju aja, sih." Kata Alika.
"Kalau gitu, ntar gue infoin tempat dan waktu buat ngumpulnya, ya."
"Siiipp!!"
...🍁...
Syahdu mulai menyusun baju dan barang-barang yang akan dibawa naik. Dia sudah tahu apa saja yang perlu ia bawa, karena bukan pertama kali baginya untuk mendaki.
"Mau kemana lu?" Tanya Arga yang baru muncul dari dapur dengan segelas kopi di tangannya.
"Pergilah. Memangnya mau kemana lagi." Sahut Syahdu tanpa menoleh.
"Pergi? Lo mau lari dari tugas? Lo ngga inget ada kontrak yang buat lo harus disini?"
Syahdu melongo. Kenapa nih, si Arga? Batinnya.
"Hei, jawab gue."
"Mandi deh, sana. Berisik." Balas Syahdu sambil melipat pakaian.
Arga yang kesal meletakkan kopinya diatas nakas lalu menggenggam kuat lengan Syahdu.
"Lo mau kemana, hah? Memangnya lo punya duit untuk ganti dendanya? Lo mau ninggalin gue gitu aja?"
"Apaan, sih. Sakit, tau!" Desis Syahdu sambil berusa melepas cengkraman Arga.
Arga menaikkan kedua alis. Mendaki maksudnya?
Krik..krik..
Arga memperhatikan barang-barang Syahdu yang berserak diatas tempat tidur. Memang perlengkapan mendaki. Arga langsung tersadar sesuatu. Tadi dia bilang apa pada Syahdu, ya? Apa ada kata-kata yang memalukan? Kenapa dia seperti takut ditinggal?
Arga merenggangkan cengkramannya. Rasanya deg-degan, ingin lari cepat ke atas rooftop dan melompat sambil berteriak saking malunya. Atau.. bisakah dia menghilang saja sekarang?
"Kamu ngga packing?"
Pertanyaan Syahdu membuyarkan lamunan Arga. Dia mengambil lagi kopi diatas nakas.
"Nggak." Jawabnya ketus sambil menutup pintu apartemen dengan keras. Membuat Syahdu mengedik karena kaget. Sempat berpikir ada apa dengan Arga, sejurus kemudian dia mengangkat bahu tanda tak peduli.
Diluar, Arga masih memegangi handel pintu. Dia sendiri bingung kenapa keluar apartemen. Mungkin itu reaksi tubuhnya yang merasa malu pada Syahdu. Kenapa juga dia pakai drama begitu? Ah, sial. Lagi-lagi rasa malu meluap.
Setelah menimbang-nimbang, Arga masuk lagi ke dalam. Dia melihat Syahdu masih memasukkan barang ke dalam tas dan tidak memperdulikannya.
Fyuh..
Dia Mengelus dada lega lantaran Syahdu tak menanggapi serius soal tadi.
"Ga, ini apa?" Syahdu mengangkat sebuah wadah kecil bulat yang dia ambil diatas nakas.
Arga yang duduk di sofa mengangkat sedikit kepalanya ke arah Syahdu.
"Masker."
"Masker wajah, ya? Aku pake, ya?"
"Boleh. Pakein gue dulu tapi."
__ADS_1
Syahdu langsung melangkah ke arah dimana Arga duduk.
"Baringan, gih. Biar diolesin." Syahdu mulai membaca petunjuk di wadah itu. "Cuci muka dulu katanya." Oceh Syahdu.
"Halah, Lama. Buruan." Arga berbaring dan memejamkan matanya.
Pelan-pelan Syahdu merapikan rambut Arga kebelakang supaya tidak mengganggu saat diolesi masker ke wajahnya.
Namun itu justru membuat Arga membuka mata lantaran merasa ada sentuhan lembut yang membuat hatinya berdebar.
Syahdu menghentikan itu saat Arga membuka mata. Mereka beradu pandang beberapa detik sampai Arga sedikit terbatuk karena lupa bernapas.
"Cepetan." Arga memejamkan matanya lagi.
Syahdu mengambil spatula kecil dan mulai mengolesi wajah Arga perlahan. Tanpa ia sadari, matanya menatap wajah mulus Arga yang tampak begitu tenang saat memejamkan mata.
Dia mengolesi kebagian pipi, lalu hidungnya yang bak perosotan anak Tk. Spatula itu berjalan lagi ke arah dahi, turun ke rahang dan dagu panjangnya. Mata Syahdu pula menangkap bibir merah Arga. Walau lelaki itu terlihat merokok, tak membuat bibirnya menghitam. Sungguh membuat Syahdu iri dengan kecantikan wajah Arga yang seperti perempuan.
"Ngapain lo liati bibir gue."
Syahdu langsung berbalik badan, meletakkan wadah masker diatas meja.
"Mau? Kangen sama ciuman gue?" Celetuk Arga.
"Nggak." Jawab Syahdu cepat dan beranjak dari sofa untuk melanjutkan beres-beresnya.
Sementara Arga berusaha kuat menahan tawa supaya maskernya tidak retak.
"Oi. Mau kemana? Ngga mau gue maskerin?" Arga berusaha berbicara tanpa terlalu membuka mulut. Khawatir maskernya pecah.
Syahdu kembali lagi. Dia duduk disebelah Arga dan menyandar di sofa sudah dengan bando lucu supaya rambutnya tidak berantakan ke wajah.
"Baringan aja."
"Nggak. Ntar lain-lain, lagi." Jawabnya dengan memejamkan mata. Membuat Arga merapatkan bibir supaya tidak tertawa.
Arga mulai mengoleskan masker ke wajah Syahdu. Arga tidak bisa menahan senyuman saat menatap wajah Syahdu. Dia tipe perempuan yang wajahnya benar-benar menenangkan. Nama yang diberikan sangat sesuai dengan wajahnya. Syahdu.
"Udah belom?" Tanya Syahdu yang merasa tidak ada pergerakan lagi di wajahnya.
"Sabar." Arga mengolesi lagi sampai selesai.
"Udah." Kata Arga.
Mendengar notif ponselnya, Syahdu langsung beranjak.
"Eh, Ga.. Tolong fotoin aku." Syahdu menyerahkan ponselnya pada Arga.
Dengan heran, Arga mengarahkan kamera ke Syahdu. Gadis itu berpose centil dengan tangan yang dibuat bentuk hati. Melihat itu, Arga langsung tahu kepada siapa foto itu dikirim.
"Udah." Arga melempar ponsel Syahdu ke pangkuannya.
"Iiih udah apanya. Ngga ada yang baguss." Syahdu mengusap layar ponselnya, mengecek foto yang ditangkap Arga semuanya burem.
"Dasar ponsel lo aja yang ngga bagus." Cibir Arga.
"Lagi, sekali lagi." Syahdu menyerahkan lagi ponselnya dan mulai berpose.
Dengan malas Arga memotret Syahdu sampai sebanyak-banyaknya supaya gadis itu puas.
"Dah. Capek gue." Tukasnya sambil melempar ponsel Syahdu lagi dan lanjut berbaring memejamkan mata.
Sesekali dia mengintip kearah Syahdu, gadis itu senyam-senyum menatapi ponselnya. Dia sibuk berchat ria dengan sang kekasih yang meminta potret dirinya.
TBC
__ADS_1