SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Keputusan Syahdu


__ADS_3

"Riska.."


Gadis itu menoleh dan terkejut mendapati Syahdu berdiri di belakangnya.


"S-syahdu.."


Riska mengedarkan pandangan. Dia mencari orang yang mungkin ia kenal selain Syahdu. Barangkali Awan. Sebab Syahdu tidak mungkin datang sendiri.


"K-kenapa lo ada disini??" Tanya gadis itu gugup. Matanya masih mencari seseorang disekitarnya.


"Kamu sendiri kenapa disini?" Tanya balik Syahdu.


"A-aku? Aku liburan."


"Sama ayah Awan?"


Pertanyaan Syahdu membuat mata Riska membelalak. Dia langsung menarik tangan Syahdu, mencari tempat yang cocok untuk bercerita.


"Syahdu, plis lo jangan kasih tau Awan soal ini." Katanya dengan wajah memohon. Tangannya masih menggenggam tangan Syahdu.


"Gue tau lo baik dan bisa jaga rahasia. Plis jangan bilang siapa-siapa." Ucapnya lagi.


"Tapi Ris, itu ayah Awan.."


"Iya, iya. Gue tau itu ayah Awan."


"Jadi, kamu punya hubungan sama ayah Awan? Bukan dengan Awan?" Tanya Syahdu memastikan. Kemarin Awan sampai stres karena putus dengan Riska dan menyangka Riska berselingkuh. Tapi tahu-tahu Riska malah jalan dengan ayah Awan.


"Gimana ya, gue jelasinnya sama lo." Riska menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Simpelnya gini, gue butuh duit."


"Tapi Awan kan, juga bisa kasih kamu duit, Ris. Dia nggak sepelit itu."


"Ya nggak sebanyak bapaknyalah, Du. Dia aja dapet duit dari bapaknya. Ya gue mending sama sumbernya langsung." Jawabnya cepat.


"Tapi Ris, ayah Awan kan, mengenal kamu dari kecil. Gimana bisa dia merayu anak perempuan yang sebaya dengan anaknya, pacar anaknya lagi." Tanya Syahdu tak kuat memikirkan hal seperti itu. Jelas dia, Riska, Awan teman satu kampung dan besar bersama. Bahkan mereka sering main di rumah Awan, Ayah Awan sendiri jelas tahu mereka dari kecil. Tapi kenapa..


"Ga paham gue. Pokoknya bokap Awan tuh sekarang pengusaha, Du. Kaya raya dia."


"Tapi ini ngga bener, Ris."

__ADS_1


"Halah. Siapa yang peduli sih, benar atau salah? Sekarang gue tanya sama lo, gue butuh duit untuk bayar utang. Kalau nggak rumah lo disita dan keluarga lo terancam hidup di jalanan. Untuk dapetin duit banyak, lo harus ngapain? Kerja apa untuk cari seratus juta dalam satu malam?" Tanya Riska dengan nada yang mulai terdengar parau.


Syahdu merasa pertanyaan Riska mencubit dirinya. Karena dia ternyata juga melakukan hal yang sama dengan Riska. Dia rela menjadi perempuan sewaan Arga demi biaya rumah sakit neneknya. Apa yang membuat beda? Syahdu merasa malu karena telah mengatakan perbuatan Riska salah, tapi ternyata dia juga tidak ada bedanya.


"Gue hidup sendiri disini, Du. Kebutuhan gue banyak. Noh, emak di kampung minta duit mulu. Dia kira kerja di kota enak, apa."


Yang Riska katakan ada benarnya, "Tapi Ris, kalau Ibumu tau kamu sama pak Anton, keluargamu akan malu."


"Ya karena itulah gue minta sama lo untuk ngga cerita, Du. Lo ngerti gue, kan? Gue lakuin ini juga demi kehidupan gue dan keluarga gue. Gue terpaksa. Bukan keinginan gue."


"Kalau gue ngga gini, duit gue dikit dan ngga bisa bayar utang bokap, biayain adek-adek gue, biaya kehidupan gue disini. Berat, Du."


Ucapan Riska membuat Syahdu diam. Dia sempat lupa kalau dia juga demikian. Dia juga sama seperti Riska.


"Du, lo ngga bisa ngerasain apa yang gue rasain. Karena lo ada kak Wicak dan nenek yang selalu bantu lo. Kalau gue? Gue berjuang sendiri. Ngga akan ada orang yang paham kalo gue butuh uang banyak untuk nyambung hidup. Omongan orang-orang di kampung nggak ngenyangin lo. Lo pasti udah tau itu."


Syahdu diam lagi. Kini dia paham situasi Riska. Karena dia juga mengalaminya.


"Du, lo pasti ngga percaya kalau gue ceritain. Gimana beratnya hidup gue disini. Gue juga awalnya nolak banget yang gini-gini. Tapi setelah gue pikir-pikir, ngga ada cara lain yang bisa buat gue dapet banyak duit."


"Aku ngerti."


"Aku ngerti. Aku bisa rasain apa yang kamu rasain."


Riska mengerutkan dahi, apa maksud Syahdu bisa merasakan? Merasakan apa maksudnya?


"Soal Awan, dia frustrasi kamu putusin. Dia minta aku temenin kemarin malam. Tapi ternyata hp-nya malah dijambret waktu dia lagi baca chat darimu."


"Oh. Itu.. itu ayah Awan yang ngetik."


Benar kata Awan. Dia tahu itu bukan Riska, tapi dia nggak tahu kalau itu perbuatan ayahnya.


"Gue sayang sama Awan, Du. Dari dulu gue suka sama dia. Tapi, itu aja ngga bisa ngidupin gue. Jadi, gue lepasin Awan karena menurut gue, dia berhak dapetin yang jauh lebih baik dari gue. Kasian dia ntar dapet perempuan kotor kaya gue."


Syahdu menunduk. Dia merasa tertampar dengan ucapan Riska. Perempuan kotor? Iya, dia memang sudah kotor.


Syahdu ingin menangis. Dia dan Riska ternyata sama dan yang membedakan hanya satu. Riska melepaskan Awan dan membiarkan lelaki itu mendapatkan yang lebih baik. Sementara Syahdu, malah dengan egoisnya menginginkan Wicak untuk tetap di hidupnya.


"Sayang!" Ayah Awan memanggil. Riska menahan kedua bahu Syahdu supaya gadis itu tidak menoleh ke belakang. Dia tak ingin ayah Awan tahu kalau ada temennya yang sekampung mengetahui hubungan mereka.

__ADS_1


"Iya, aku datang." Teriak Riska.


"Udah, ya. Gue percaya lo bakalan tutup mulut." Riska berjalan cepat. Menghampiri Ayah Awan dan menggandeng tangan lelaki tua itu.


Wicak yang baru datang, terus menatap ke arah dua orang yang mencari tempat duduk di dalam kafe untuk bersantai.


"Itu.. bukannya teman kamu di kampung?"


Syahdu mengangguk.


"Itu.. pak Anton?"


Syahdu melihat kebelakangnya. Dimana Riska dan pak Anton duduk di sebuah kafe membelakangi mereka. Terlihat Riska menyuapkan makanan ke mulut pria tua itu.


"Syahdu, jangan berteman lagi sama orang itu. Bisa-bisanya dia kaya gitu sekarang. Sama pak Anton, lagi."


Syahdu tak menjawab. Dia menatap nanar ke arah dimana Riska dan pak Anton bermesraan. Kenapa dia merasa mual? Apa seperti itu juga yang orang-orang rasakan jika tahu dia juga menjadi wanita sewaan laki-laki?


Mereka pun pulang. Sepanjang jalan Syahdu hanya diam. Berkali-kali Wicak mengajaknya mengobrol tapi Syahdu hanya menjawab sekenanya.


Syahdu menyandarkan kepalanya di kaca jendela kereta. Tidak ada pemandangan karena hari sudah gelap. Dia terus teringat ucapan Riska tadi. Benar-benar menyinggung dirinya dan membuat perasaan Syahdu menjadi kelabu, terlebih kepada Wicak.


"Syahdu, apa ada sesuatu yang buat kamu marah sama aku?"


Pertanyaan Wicak membuat Syahdu menoleh. Dia tidak marah, Wicak salah menyangka.


Gadis itu menyentuh dan mengelus lembut pipi Wicak, memandang wajah yang sekarang tengah mengkhawatirkannya.


"Ngga ada. Aku cuma ngga mau kehilangan kakak." Ucap Syahdu dengan suara parau. Dia tengah menahan tangisnya.


"Aku ngga akan ninggalin kamu."


Syahdu mengangguk. Lalu tersenyum kecil. "Aku tau."


"Kamu capek, ya. Ya udah, istirahatlah." Wicak menuntun perlahan kepala Syahdu untuk bersandar di bahunya.


Perempuan itu memeluk lengan Wicak dan bersandar. Dia menangis dalam diam. Setelah bertemu Riska, memang benar apa yang ia pikirkan belakangan ini. Dia harus putus dengan Wicak. Semua itu dia lakukan supaya laki-laki itu mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik darinya. Bukan perempuan kotor sepertinya.


__ADS_1


TBC


__ADS_2